<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Kecil &#187; SMA</title>
	<atom:link href="http://ceritakecil.wordpress.com/tag/sma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritakecil.wordpress.com</link>
	<description>Episode Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Sep 2009 00:20:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ceritakecil.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/75f64b6fe2a732483b1bfba30e468135?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cerita Kecil &#187; SMA</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sulaiman Jatuh Cinta (#4)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2009/09/28/sulai-jatuh-cinta-4/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2009/09/28/sulai-jatuh-cinta-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 20:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Surat Pak Bahtiar
Siang itu, matahari berdiri tegak di atas kepala memancarkan sinar kemarahan pada makhluk dunia. Bayangan hitam terpatri di bawah kaki dan hanya siluet tubuh bulat terpeta di permukaan.  Langit biru jernih bermahkota awan putih yang berjalan beriringan mencari teman-temannya yang tak kunjung menjelma menjadi hitam tanda hujan. Nun jauh di sana terlihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=195&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Surat Pak Bahtiar</strong></p>
<p>Siang itu, matahari berdiri tegak di atas kepala memancarkan sinar kemarahan pada makhluk dunia. Bayangan hitam terpatri di bawah kaki dan hanya siluet tubuh bulat terpeta di permukaan.  Langit biru jernih bermahkota awan putih yang berjalan beriringan mencari teman-temannya yang tak kunjung menjelma menjadi hitam tanda hujan. Nun jauh di sana terlihat pepohonan merintih kehausan dan terpaksa merontokkan rambut demi menghemat air yang diminumnya.  Sementara rumput-rumput menguning melambai lesu memohon ampun pada matahari garang .  Dalam suasana terik ini, setiap makhluk enggan menantang kekuatan matahari yang sombong, bahkan semutpun lebih memilih tidur di dalam sarangnya yang sejuk dan lembab.</p>
<p>Pak Erwandi baru saja keluar dari kelas kami ketika Awet masuk dengan wajah muram menyimpan kekesalan. Tidak perlu seorang ahli untuk mengetahui apakah Awet sedang kesal atau tidak sebab wajahnya yang tidak seberapa itu memang gampang ditebak. Walaupun usia kemarahannya seperti usia embun di pagi hari, gampang hilang tertelan sinar matahari yang hangat sekalipun. Awet dipanggil salah seorang anak kelas dua biologi untuk menghadap guru ketika Pak Erwandi sedang asyik mengajar, dan kupikir dia dipanggil oleh Pak Sunardi, mengingat hubungan antara Awet sebagai ketua OSIS dan Pak Sunardi sebagai kepala sekolah sangat erat. Bahkan walaupun tidak memiliki SIM A, dia diperbolehkan membawa mobil kesayangan beliau. Ah, Awet emang jagonya kalau merebut hati orang, cuma hati calon mertua saja yang paling sulit dia rebut.</p>
<p>Aku baru saja memasukkan buku Fisika ke dalam tas kainku ketika dia menghentak tempat duduk kami. Mulutnya masih tertekuk dan mata agak nanar. Aku tahu ada masalah yang sedikit rumit &#8211; tidak serumit masalah OSIS.</p>
<p>“Kenapa Wet?”, tanyaku sambil mengambil buku Geography. Pak Budi guru funky sedikit sableng sebentar lagi akan mengisi pelajaran itu.</p>
<p>“Habis dipanggil Pak Bahtiar, nanyain Sulai”</p>
<p>“Lho, emang ada apa dengan Sulai?”, tanyaku tidak mengerti. Aku memang jarang melihat Sulai di sekolah dalam beberapa hari ini, tapi aku tidak menyangka bisa sampai seserius itu. Mungkin dia sedang masuk angin (biasalah penyakit anak masjid), lagipula menurut anak-anak, Sulai memang sedang sakit. Aku tahu tak satupun menjenguknya di rumahnya atau di rumah sakit. “Besok juga sembuh sendiri”, pikir mereka, “Lagipula ayahnya yang bekerja di apotek Rumah Sakit Timah, jadi stok obatnya tidak terbatas”</p>
<p><strong>“Dia sudah tidak masuk hampir tiga minggu!”</strong></p>
<p>“Hah?!”, Aku terkejut mendengarnya. “Dia tidak sekolah sudah selama itu? Aku pikir dia cuma sakit beberapa hari saja”</p>
<p>“Tidak kalau melihat absensi”</p>
<p>“Jadi gimana?”</p>
<p>“Aku sebagai ketua kelas harus mencari dan menyampaikan surat dari beliau ke Sulai”</p>
<p>“Mungkin ada anak-anak ada yang tahu dia dimana”, ujarku komentar seadanya. Kalau dipikir-pikir memang berat jadi ketua kelas, apalagi bagi Awet menjadi ketua kelas karena populer. Sebagai seorang selebritis sekolah dia memang luar biasa populer. Masalahnya, dia memimpin kelas yang berisi kaum Adam dan tidak tahu aturan. Ada cewek pun sedang dalam proses mutasi menjadi cowok, untung saja cuma dua tahun, hingga proses mutasi bisa segera terhenti.</p>
<p>“Iya, juga”, dia bergegas menuju ke depan kelas. “mumpung Pak Budi belum masuk”</p>
<p>“PERHATIAN!”, teriaknya. Anak-anak yang sedang asyik bercengkrama sambil menunggu pak Budi masih belum mendengar dan menggubris. Awet mangambil penggaris kayu berwarna kuning dengan panjang satu meter dan memukul-mukulkan ke atas meja seperti Pak Jack sedang mengajar, hingga seluruh mata tertuju ke arahnya di depan.</p>
<p>“Kawan-kawan”, sambungnya. “Teman kita Sulaiman sudah hampir tiga minggu tidak masuk sekolah!”<br />
Suasana riuh membahana ke seluruh kelas. Ada yang kaget ada pula yang tertawa kecil, seolah hal itu memang sudah biasa. “Ada yang tahu keadaannya?”</p>
<p>Anak-anak menggeleng, suara gumam mengisi ruangan bagai suara kumbang yang berjumlah ribuan. Namun semuanya tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan Awet di muka kelas.</p>
<p>“Paling juga dimasjid, udah jadi pak kiyai kali”, celetuk salah satu anak di dekat dinding, disambut tawa kecil beberapa anak di dekatnya.  Awet tidak mengindahkannya, demikian juga yang lain. Namun setelah beberapa saat menanti, tiba-tiba pak Budi tampak di depan pintu sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang mulai rontok. Awet mengangguk kecil dan segera kembali ke tempat duduknya di sampingku.</p>
<p>“Fi, kamu harus bantu aku mencari Sulai.  Pesan dari pak Bahtiar harus disampaikan hari ini”</p>
<p>“Beres Boss!”, ucapku sambil mulai melihat pak Budi melucu di depan kelas.</p>
<p>“Suratnya harus langsung ke tangan Sulai”, ujar Awet lagi.</p>
<p>“Lho koq mesti gitu?”</p>
<p>“Aku mencium masalah sama anak itu”</p>
<p>“Jadi..kita harus nyari Sulai sampai dapet donk”</p>
<p>“Iya!”</p>
<p>“Wadduh, mudah-mudahan saja masih hidup”, ujarku terkekeh-kekeh.</p>
<p>“Tenang, dia masih idup. Kalau tidak, kita pasti tidak akan dapat masalah”, Awet mulai bisa senyum sedikit.</p>
<p>Sebagai teman baik memang kadang-kadang kami sangat keterlaluan. Lucu memang, teman tidak masuk sekolah selama tiga minggu tidak terasa, namun kalau tidak ada pesta dalam dua minggu sangat terasa. Tapi Sulaiman memang unik, dia bisa rajin sekolah, sering juga hilang seperti hantu kapan dia mau. Yang pantas diacungi jempol dia memang terkenal di masjid Jamik, sebagai markas besarnya. “Jangan-jangan dia diangkat jadi Imam besar di sana”, ujarku ke Awet sambil senyum nakal.</p>
<p>“Imam besar apanya?”</p>
<p>“Emang Sulai besar apanya?”, balik aku yang bertanya ke Awet. Kami berdua menahan tawa kuatir pak Budi yang sedang asyik bercerita di depan mendengar. Sebab walau funky, kalau sudah marah kemarahannya lebih gawat daripada singa marah.</p>
<p>“Udah ah, ntar aja kita cari”</p>
<p>“Oke, abis itu kita makan mie di deket bioskop Gunung Tajam oke?”, tanyaku.</p>
<p>“Beresss”</p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>Masih ada beberapa anak berseragam putih biru berjalan di bawah terik matahari siang ketika kami sampai di masjid Jami&#8217;. Masjid tampak sepi, yang ada hanya segelintir manusia beribadah dan beberapa diantaranya ada yang duduk beristirahat menghilangkan lelah atau menghindar dari panas matahari yang membakar sambil berkipas menggunakan peci lusuhnya.  Kuperhatikan satu per satu, tak terlihat sosok Sulai di antara mereka. Lalu kukelilingi tempat wudu di bawah, sekalian mengambil wudu, masih saja batang hidung anak satu itu tidak nampak.  Aku kembali ke atas, melakukan sholat sejenak kemudian melangkah naik ke arah balcon. Aku tahu, Sulai seringkali nongkrong di atas dalam mencari inspirasi atau hanya untuk tidur sejenak sebelum sholat jumat tiba,  namun sayang sekali, sehelai rambut keriting Sulai yang selalu dibanggakannya karena mirip dengan rambut Rhoma Irama sang pujaan tidak nampak juga.</p>
<p>“Hh&#8230; anak itu kemana ya?”, tanyaku pada diri sendiri.</p>
<p>“Wet!, dia gak ada di sini”, ucapku ketika berada di dekat Awet yang menunggu di dekat masjid dibawah pohon yang agak rindang.</p>
<p>“Udah rata semua tempat?”</p>
<p>“Udah. Pengurus masjid nya gak ada”, ujarku. “Gimana kalau kita coba rumahnya saja?”</p>
<p>“Rumahnya?”, tanya Awet ragu. Memang agak riskan kalau menanyakan keberadaan Sulai di rumahnya jam segini. Kalau orang tuanya curiga gimana, kami masih pakai baju seragam sekolah, kan seharusnya bertemu di sekolah.</p>
<p>“Kita bikin alasan lain saja”, ujarku memecah keraguan Awet. “Pokoknya jangan sampai orang tuannya curiga”</p>
<p>“Hm&#8230;oke. Kamu yang ngomong”, ujar Awet kepadaku.</p>
<p>“Gak masalah”, jawabku.</p>
<p>Aku meloncat ke atas sepeda motor dan kami berdua terbang ke rumah Sulai yang tidak terlalu jauh dari komplek Masjid Jami&#8217;.</p>
<p>“Permisi&#8230; ”, ucap kami ketika sampai di rumah Sulai pelan. Rumah terlihat sepi dan yang ada hanya beberapa anak bermain diteras. “Dek, ada bang Sulai?”, tanya Awet ke salah satu anak di sana.</p>
<p>“Barusan keluar bang!”, jawab salah satu anak yang berpakaian coklat kusam sambil terus bermain.</p>
<p>“Aduh! Kita nyari di mana lagi Fi?”, gumam Awet kesal.</p>
<p>Kami berdua diam sejenak berpikir di sela-sela perut yang mulai bernyanyi lagu lama. Aku semakin merasa berdosa sama ketidaktahuan kami. Aku baru sadar tenyata kami tidak banyak mengenal dunia Sulai. Kami hanya tahu dia memiliki dua dunia yakni masjid dan musik dangdut. Mencari Sulai di kala siang seperti ini lebih rumit dibandingkan mencarinya di malam senin – malam pentas dangdut. Tetapi kami tidak mungkin menunda hingga malam senin tiba dan Pak Bahtiar tentu tidak terima jika tugas yang diberikan kepada kami tidak segera terselesaikan. Apa harus kami tunggu sampai malam tiba? Ah, kalau ada pekerjaan yang tidak tuntas masih saja terasa kurang enak menjalani hidup. Tapi kami harus kemana?</p>
<p>Sesosok remaja tanggung keluar dari rumah hanya mengenakan kaos singlet. “Mencari Sulai Wet?”, tanyanya.</p>
<p>“Iya Ded. Ada?”</p>
<p>“Oh!, dia baru keluar pake sepeda”, ujar Deddy . “Katanya dia ke Tanjungpendam”</p>
<p>“Apa?? Panas-panas begini ke Tanjungpendam?”</p>
<p>“Kamu tahu kan Sulai?. Agak aneh, selalu mencari inspirasi”, ujar Deddy sambil tersenyum penuh arti.</p>
<p>“Yah&#8230;Oke deh Thanks”, ucap Awet. “Kami akan mencarinya ke sana”</p>
<p>“Oke”</p>
<p>
Untung saja Deddy tidak curiga, atau yang memergoki kami bukan orang tua Sulai. Bayangkan apa yang harus kami jawab jika ditanya, tentang Sulai. Bohong sama orang tuanya? Kalau terpaksa gimana lagi?<br />
Kami berdua bergerak menuju ke Tanjungpendam, tempat pengasingan Sulai. Tanjungpendam memang tempat yang cocok untuk mencari inspirasi, atau berduaan dikala dilanda asmara – yang tentu bukan Sulai &#8211; daerahnya sepi dan penuh dengan pohon – pohon rindang. Di tanjungpendam ini ada sebuah lapangan luas yang baru saja dibuka dan ditanami pohon-pohon kecil namun sudah cukup untuk tempat nongkrong dan memang kami seringkali bolos ke sana. Kalau sore, aku dan Ivan sering datang ke sini untuk mengabadikan keindahan pantai di saat sore atau saat hujan baru saja reda.</p>
<p>Kami hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk sampai di tanjungpendam, dan kami langsung menuju tempat kami biasa nongkrong. Tapi tidak ada, kami coba mengintari lapangan luas ini di bawah terik matahari dan keadaan lapar namun sesosok manusia tidak nampak. Bahkan orang bugispun tidak ada.</p>
<p>“Dimana lagi ya Fi?”</p>
<p>Aku terdiam sejenak berpikir tempat lain yang cocok untuk orang seperti Sulai. Di tanjungpendam ini banyak tempat nongkrong yang asyik, tapi kalau siang dengan panas terik membakar seperti sekarang ini, tempat nongkrong itu manjadi lebih sedikit. Tempat – tempat seperti pinggiran pantai berpasir akan ramai orang ketika menjelang magrib saja. Tempat lainnya hampir sama, bahkan tempat kami nongkrong pun tak layak menjadi tempat berteduh di siang bolong seperti ini. Namun&#8230;</p>
<p>“Aku tahu Wet!”, ujarku semangat. “Dia di depan Wisma Timah!”</p>
<p>“Ya!, bener”, ujar Awet penuh sukacita. “Yuk kita kesana!”</p>
<p>Beberapa menit kemudian kami tiba di tempat sebuah batu setinggi rumah. Di bawah batu besar itu terdapat banyak pohon – pohon rindang bahkan ada pohon tumbang sehingga cocok untuk tempat duduk dan berteduh dikala terik. Dari kejauhan kulihat Sulai sedang duduk tafakur di puncak batu tinggi dan dipayungi oleh pohon berdaun lebat, bertingkah bagai pujangga menanti inspirasi dari sang pencipta.</p>
<p>“Wet! Tuh dia di atas!”, ujarku menunjuk ke arah Sulai yang sedang duduk.</p>
<p>“Iya..yuk kita naik”</p>
<p>“Lai!”, kami naik bebatuan sambil berteriak. Sulai menoleh dengan mata kosong tak bergairah.  Awet senang seperti anak yang baru mendapatkan hadiah.</p>
<p>“Kamu kemana aja, udah tiga minggu tidak masuk? Pak Bahtiar nanyain tuh!”, ujar Awet dengan nada kesal sambil duduk di sebelah Sulai.  Dia mengambil amplop dan diserahkan ke tangan Sulai.</p>
<p>“Ah&#8230; Pak Bahtiar”, ujarnya lirih tak peduli, matanya masih menatap laut di kejauhan. “Aku lagi menunggu jawaban cinta dari Melati, Wet. Waktu sehari serasa telah sewindu, rasa hati penuh dengan rindu, namun&#8230;”</p>
<p>“Oops, Oke! Lai. Aku mau cabut dulu bareng Syaifi”, ujar Awet memotong pembicaraan. Dia sudah tahu tanda-tanda Sulai akan mulai membacakan ratusan puisi cinta, dan dia tidak dalam suasana ingin mendengarkan puisi itu di hari yang panas terik seperti ini dengan perut yang keroncongan. “Besok kamu ditunggu di kantor guru”.  Awet bangkit, “Yuk Fi, kita cari Mie, laper nih.!”</p>
<p>“Tancap&#8230;”</p>
<p>Kami berlari turun dari batu besar itu, dan langsung menaiki sepeda motor hitam menuju ke Bioskop Gunung Tajam. Kami tinggalkan Sulai dalam kesendiriannya memimpikan cinta yang kini berada diambang matanya. Aku tahu dia memang sedang jatuh cinta. Walaupun dalam hidupku hingga kini aku hanya mengenal satu cinta yang telah pergi, namun aku masih bisa membedakan antara mata jatuh cinta atau mata elang seperti Dicky.  Diam-diam aku berdoa, “Semoga kali ini kamu beruntung teman&#8230;”</p>
<p><strong>bersambung menuju akhir&#8230;</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=195&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2009/09/28/sulai-jatuh-cinta-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sulaiman Jatuh Cinta (#3)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/21/sulaiman-jatuh-cinta-3/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/21/sulaiman-jatuh-cinta-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 13:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan Kedua
Sulai duduk termangu di balkon masjid, menanti sang dambaan hati dengan sebuah amplop merah muda di tangan. Sudah beberapa hari dia duduk sendiri berteman sunyi bersama buku tulis dan beberapa majalah sebagai penghilang rasa jenuh di hati. Sesekali dia turun ke ruangan masjid untuk berbincang dengan orang-orang yang singgah dan akan kembali ke peraduannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=168&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Pertemuan Kedua</strong></p>
<p>Sulai duduk termangu di balkon masjid, menanti sang dambaan hati dengan sebuah amplop merah muda di tangan. Sudah beberapa hari dia duduk sendiri berteman sunyi bersama buku tulis dan beberapa majalah sebagai penghilang rasa jenuh di hati. Sesekali dia turun ke ruangan masjid untuk berbincang dengan orang-orang yang singgah dan akan kembali ke peraduannya di lantai II jika saat break belajar tiba.  Selama pengintaian ini, dahaga kerinduannya beberapa kali terpuaskan walau sejenak saat Melati berjalan menuju perpustakaan bersama beberapa temanya. “Dia memang sempurna, cantik dan cerdas”, puji Sulai. “Cara berjalan seperti puteri raja, dan saat rambutnya berkibar keharuman rambutnya semerbak hingga tercium dari sini”</p>
<p>“Kemarin dia sempat melemparkan senyum terindahnya padaku. Dan kini kunanti senyum itu merekah kembali hanya untukku seorang. Kutunggu dirinya, berharap bibir dan mata mendendangkan lagu yang indah sebagai tanda hari baru bagiku yang akan kuisi dengan kebahagiaan di setiap waktunya”</p>
<p>Sebagai salah seorang siswa terbaik yang pernah singgah di SMP satu, Sulai tentu mengenal seluk beluk almamaternya itu. Waktu masuk, istirahat dan pulang sekolah sudah menjadi bagian dari nadinya dan setiap aliran darahnya menjadi penunjuk waktu yang lebih tepat daripada arloji di tangannya. Tempat-tempat berkumpul pada saat-saat tertentu – seperti perpustakaan dan kantin Bu Roso, sudah dikenal seperti dia mengenal ruangan di rumahnya.  Sayang kantin bu Roso tidak dapat terlihat dari arah balkon masjid karena terhalang oleh perpustakaan.  “Ingin kunantikan Melati di sana, tetapi tentu akan menjadi pertanyaan yang besar mengapa aku berada di sana saat-saat belajar seperti ini”, Sulai menarik nafas panjang. Dia berpikir tentang hutang yang belum terbayar walau sudah dua tahun tidak duduk di sekolah itu, hal itu membuatnya ngeri dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk nongkrong di sana.</p>
<p>Sejak bolos bersama Dicky beberapa hari yang lalu, Sulai tidak pernah menginjakkan kakinya di sekolah. Dia tidak peduli dengan pelajaran sekolah yang akan terus melangkah maju meninggalkannya, dia tak lagi peduli dengan absensi yang akan menumpuk dan jadi bahan evaluasi Pak Bahtiar. “Semoga Pak Bahtiar mengerti arti cinta yang kini melanda diriku. Tak mungkin aku bisa belajar jika cinta ini terus merenggut kesadaranku. Diriku tidak jauh berbeda dengan kondisi Dicky yang tidak pernah memperhatikan pelajaran. Hanya saja Dicky memelihara begitu banyak cinta di hatinya, sedangkan aku hanya satu saja”</p>
<p>Kini, hari – hari Sulai terisi dengan jantung yang berdetak riang. Setiap waktu mendekati pukul tujuh pagi, Sulai mendatangi masjid sambil membawa atribut sekolahnya, lalu duduk tenang di balkon. Pada saat-saat tertentu dia akan turun sebentar dan akan kembali ke tempat peraduannya ketika waktu yang dinanti telah tiba. Dia berkelakuan seperti seorang sufi yang duduk tenang mengharap setetes cinta Ilahi, hanya saja Sulai mengharapkan setitik cinta dari Melati.</p>
<p>Sudah berlembar-lembar puisi yang digubahnya, semuanya berisi nada-nada cinta semerbak wangi bunga – mengingat Melati adalah nama bunga.  Begitulah memang, cinta adalah suatu anugerah yang membuat orang bisa melakukan apapun untuk meraihnya, menjadi apapun yang diinginkannya. “Akan kuberikan segalanya padanya, sebagai tanda begitu besar cintaku untuknya”, gumamnya suatu kali.</p>
<p>Dibukanya amplop wangi berisi lembaran surat cinta yang telah dipersiapkan tadi malam. Ditulis di atas kertas aroma strowberry berwarna pink – terpaksa dibelinya di Toko Ramai – dan berhiaskan tinta biru pena parker palsu miliknya. Semuanya dalam bahasa sajak yang menggambarkan perasaan cinta yang demikian dalam – setidaknya begitulah menurut dia.</p>
<p>Sulai membaca surat itu untuk ke sekian kalinya, agar tidak ada tulisan yang salah atau kurang tepat yang akan membuat cintanya ditampik, dan berharap ada kata-kata di dalamnya bisa meluluhkan hati sang bidadari. Kemudian diciumnya keharuman kertas itu seperti seorang ibu mencium kening anaknya, meresapi dan membayangkan sebuah tangan halus memegang lalu membaca dengan penuh rasa cinta. Perasaan damai kembali menyelimuti hatinya. “Semoga dia mengerti segala yang tertuang di lembaran cinta ini”</p>
<p>“Namun&#8230;”, Sulai berhenti sejenak dan berpikir keras. ”Bagaimana caraku menyerahkan surat ini? Aku ingin surat ini langsung jatuh di tangan Melati. Aku tidak bisa menitipkan lewat salah seorang temannya, karena bagiku itu akan berbahaya dan dia akan jadi bahan olok-olok. Lagipula tidak ada rahasia antar teman &#8216;kan?”</p>
<p>“Apakah aku harus mengirimkah lewat POS? Ahh&#8230; Surat yang masuk biasanya akan diumumkan dan belum tentu surat akan langsung sampai ke tangan Melati. Masalah yang sama akan terjadi jika bukan Melati yang mengambilnya”, Sulai menarik nafas panjang&#8230;panjang sekali. Alisnya menyatu dan beberapa kali dia mengusap hidung dan mulutnya menandakan dia sedang berpikir.</p>
<p>Tiba – tiba lonceng break berbunyi, telinga Sulai meninggi dan lehernya memanjang seperti leher kura – kura menjulur keluar dari cangkang.  Detak jantung bertambah kencang, semangat meningkat dan mata berbinar mengiringi seringai kecil saat mendengar nada indah lonceng tanda istirahat itu. Terlihat anak-anak SMP berhamburan keluar kelas dengan tingkah beragam, ada yang memilih hanya duduk di depan kelas sambil melihat tanaman hijau, menuju kantin Bu Roso dan ada pula yang memilih perpustakaan sebagai tempat melepas kejenuhan belajar. Semua wajah mereka menyiratkan rasa lega dan menggambarkan keceriaan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.</p>
<p>Sesosok tubuh mungil dengan rambut sebahu dan berjalan ringan bagai peri terlihat melenggak menuju ke perpustaan sekolah bersama seorang temannya sambil berkelakar tentang sesuatu dan sesekali tertawa renyah. Sulai memperhatikan anak yang sedang berbicara dengan Melati, dan dia yakin mengenal anak itu. “Mungkin aku bisa meminta tolong padanya”, pikirnya “tapi&#8230;tak ada rahasia antar teman?. Ahhh&#8230;.”</p>
<p>“Andai aku masuk ke perpustakaan”, ujarnya pada diri sendiri, “Mungkin aku bisa menyerahkan surat ini langsung kepadanya”. Wajah Sulai menampakkan keceriaan seperti ketika archimedes menemukan hukum fluida– eureka! &#8211; dan mulai bergerak bangun dari peraduannya. Dia sangat yakin telah menemukan cara terbaik memberikan surat kepada sang terkasih, “Deddy?&#8230;.Ahh sudahlah apapun katanya aku tidak akan menyurutkan langkah hari ini, dan ini cara yang terbaik”</p>
<p>Diambilnya sebuah buku tulis kumal dan amplop yang sedari tadi dipegangnya, diselipkan di dalamnya. Sulai tersenyum dan dunia terasa berada di pihaknya kini. Dengan langkah gagah bagai seorang tentara yang akan berperang, Sulai berjalan menuju sekolah paling top di kota Tanjungpandan itu. Dia merasa mendengar musik mars mengiringi langkahnya, dan senyum tak lepas dari bibirnya yang tipis. Namun, tak urung detak jantungnya semakin kencang dan lututnya agak gemetar tak beraturan walaupun sudah ditutupi dengan langkah yang dibuat seolah-olah tegap.  Perjalanan ke gerbang SMP seperti perjalanan ke tiang gantungan para terpidana, dan waktu bergerak serasa sangat lambat dan jarak yang ditempuh serasa jauh sekali. “Seharusnya aku masuk ketika belum istirahat seperti ini”, Dia menyesali tidak bertindak lebih dulu. “Kadang-kadang ide hebat datangnya terlambat”</p>
<p>Sesampai di gerbang, wajah Sulai serasa bertambah tebal 3 sentimeter, dan senyum sumringah berubah menjadi senyum kecut, mengingat perjalanan dari gerbang menuju perpustakaan membutuhkan mental baja. Memang perjalanan hanya tinggal beberapa meter saja, tetapi tantangan lebih berat daripada langkah awal menuju gerbang tadi. Melewati sebelah kelas 3 adalah tantangan terberatnya – Deddy kelas 3 – dan semua anak – anak kelas tiga mengenalnya dengan baik. Bagaimanapun dia adalah ketua OSIS saat anak – anak itu kelas satu. “Deddy, semoga dia berada di kantin bu Roso”, ujarnya berharap.</p>
<p>Langkah gagah berubah langkah cepat setengah berlari. Keringat dingin menetes di keningnya dan mata Sulai jelalatan kuatir Deddy atau guru yang memergokinya sedang menuju perpustakaan.  Dia takut bertemu Bu Mala yang cantik, manis dan judes – rasa sakit cubitannya seperti sengatan kalajengking dan akan terus bertahan selama beberapa minggu – yang akan mencegahnya masuk.</p>
<p>“Lai!, ngapain kamu ke Sini?”, tanya Ali, salah seorang adek Awet. Sulai kaget. “Ini nih yang seharusnya dia hindari”</p>
<p>“Mau ke perpustakaan Li, ada tugas”, jawab Sulai cepat, merasa terganggu. “Lagi ngapain?”</p>
<p>“Biasa istirahat. Lai, Ngomong-ngomong&#8230;”</p>
<p>“Aku duluan ya!”, potong Sulai segera.</p>
<p>“Oke deh”, kata Ali menjauh dan kembali ke teman – temannya. Sulai lega dan berharap Ali tidak melaporkan kejadian ini kepada Deddy.</p>
<p>Jarak perpustakaan hanya tinggal beberapa meter saja. Sulai merasa seperti seorang Atlit yang hendak sampai di garis finish, matanya berbinar melihat pintu perpustakaan yang terbuka seakan – akan di sanalah segala kehidupannya bermula. Dia melangkah lebih lebar lagi, mengharap tiba di perpustakaan hanya beberapa langkah saja.</p>
<p>Seperti di SMA Negeri, nasib perpustakaan di sini tidaklah berbeda jauh. Pengunjungnya selalu saja lebih sedikit dibandingkan dengan pengunjung kantin, dan isinya orang-orang tertentu yang mungkin tidak punya uang untuk berbelanja di kantin sekolah. Sulai lebih sering menghindar dari perpustakaan daripada berteman dengannya, karena bau buku perpustakaan membuatnya pusing apalagi membaca isinya, dan kini dia harus sedikit toleransi dengan aturannya sendiri, demi seutas tali cinta yang akan dijalinnya.</p>
<p>Sulai melangkah pelan masuk menghampiri penjaga yang duduk di sebelah kiri pintu. Matanya menerawang ke seluruh ruangan terutama ruangan Ibu Atik – salah seorang guru penjaga perpustakaan – yang dikhawatirkan melihatnya lalu mengajaknya ngobrol. Bu Atik memang salah satu guru yang menjadi penggemarnya, dulu.</p>
<p>“Bang Rahman”, ujar Sulai menyapa penjaga pintu masuk perpustakaan ramah. “Apa kabar bang?”</p>
<p>“Ahh&#8230;Sulai. Baik Lai”, jawab Bang Rahman tak kalah ramah. Beliau mengenal Sulai dengan baik dan baginya Sulai adalah seorang anak yang sangat menyenangkan. “Gimana kabarnya Lai?”</p>
<p>“Biasalah bang”, jawab Sulai. “Banyak tugas dari sekolah”</p>
<p>“Namanya juga sekolah Lai. Apalagi kalau bukan tugas dan PR. he&#8230;he&#8230;he&#8230;”</p>
<p>“Ya gitu deh bang. Saya mau lihat – lihat buku di sini boleh kan?”</p>
<p>“Oh&#8230; Silakan, Orang luar saja boleh apalagi kamu yang lulusan sini. Tapi sayang tidak bisa minjem”</p>
<p>“Tidak apa – apa. Terima kasih bang”, ucap Sulai. “Kalau begitu, saya masuk ya bang. Maaf bang, kita belum bisa ngobrol lama. Lain kali ya”</p>
<p>Bang Rahman mengangguk tersenyum dan Sulai melangkah mendekati barisan buku – buku yang terletak di rak-rak berwarna coklat. Suara degub jantung yang bertambah keras sekeras suara gendang orkes melayu. Rasanya setiap orang di perpustaakan melihatnya dan memandangnya dengan ganjil, seolah – olah dia seekor makhluk yang bermata satu dan mengeluarkan asap dari mulutnya. Sulai menerawang seluruh ruangan sambil menjaga jarak dari ruangan guru yang hanya dibatasi dengan kaca.</p>
<p>Ruangan perpustakaan tidak terlalu besar, seluruh dindingnya berisi rak-rak buku dan di tengahnya terletak meja-meja panjang tempat anak – anak membaca. Beberapa siswa telah duduk dengan tenang asik membolak-balik halaman buku yang ada di depannya. Sebuah rak buku menyisip di tengah di antara meja membelah ruang baca menjadi dua bagian. Sulai melangkah, menerawang dan mencari sesosok wajah yang amat dinantinya, dengan hati penuh harap dan jantung bergemuruh.</p>
<p>Sinar cerah matahari yang menyilaukan seolah bersumber dari sudut ruangan perpustakaan saat Sulai menemukan satu wajah yang dirindukannya. Detak jantungnya serasa seperti deburan ombak malam di pantai tanjung tinggi dan kakinya serasa menginjak perahu oleng yang terbawa arus. Keringat dingin menetes bagaikan tetesan air di dahan sehabis hujan dan sejenak kesadarannya hilang terbawa angin dan ruangan serasa sepi tanpa manusia selain dirinya dan sang bidadari.</p>
<p>Tanpa sadar Sulai mengambil sebuah buku terdekat yang bisa diraihnya tanpa melihat judul ataupun warna, lalu menyisipkan amplop pink ke dalamnya – terlebih dahulu mengambil dari dalam buku tulisnya. Dia berjalan pelan mendekat sang mentari yang sedang melihat buku. Deburan ombak di jantungnya kini semakin ketara dan perahu di kakinya serasa semakin oleng disebabkan oleh ombak itu.</p>
<p>“Hai&#8230;”, sapa Sulai gemetar lemah dengan senyum yang paling manis yang dimilikinya sambil berusaha menutupi detak jantungnya.</p>
<p>“Oh, bang Sulai!”, ujar Melati terkejut melihat Sulai di perpustakaan yang dikhususkan untuk anak-anak SMP satu. “Mencari buku bang?”</p>
<p>“Yah&#8230;gitu deh. Ada tugas dari sekolah”, katanya sambil pura-pura memilih-milih buku di rak. “Aku dulu pernah melihat salah satu buku bagus di sini”, ujarnya dengan sedikit bumbu kebohongan. “Kamu lagi mencari buku apaan?”</p>
<p>“Cari buku untuk baca-baca aja bang. Tidak ada yang spesial”</p>
<p>“Sukanya buku apa?”</p>
<p>“Macem – macem”</p>
<p>“Novel, Sastra, majalah, atau&#8230;?”</p>
<p>“Ya&#8230;kalau ada yang menarik. Kenapa tidak?”, Melati tersenyum sambil melirik ke arah Sulai.</p>
<p>Sulai merasa berada di atas angin. Senyum menyejukkan itu kini berada dekat denganya dan dia bisa melihat gigi – gigi putihnya yang berderet rapi. Matanya berbinar seperti sinar bulan purnama. Sempurna!.</p>
<p>“Coba saja buku yang ini”, ujar Sulai sambil menjulurkan buku di tangannya. Dadanya seolah membengkak dan kakinya serasa berpijak pada angin dan kulit wajah bertambah tebal.</p>
<p>“Pengantar Elektronika?!”, ujar Melati dengan mata penuh tanda tanya. Sulai terkejut melihat buku yang tidak sengaja diambilnya.</p>
<p>“Sial!, mengapa aku tidak melihat judulnya?. Mati aku”, pikirnya.</p>
<p>“Ini yang abang cari?”, tanya Melati kembali.</p>
<p>“eh&#8230;eh&#8230;”, Sulai gugup. “Yah&#8230;ya&#8230;e&#8230;tugas dari Pak Jack. Lihat aja isinya”</p>
<p>“hm&#8230;?”, Melati membuka buku elektronika itu dengan setengah hati. “Laki – laki seperti bang Sulai mungkin menganggap buku ini menarik”</p>
<p>Tiba – tiba amplop yang terselip di dalamnya jatuh, serta – merta Melati mengambilnya dari lantai. Jantung Sulai seolah berhenti berdetak, bumi serasa berhenti berputar dan waktu berhenti berjalan. Kini kakinya serasa hilang separoh dan kesunyian perpustakaan seperti kesunyian kuburan di waktu malam.</p>
<p>Kini, surat cinta itu telah berada di jari-jari mungil Melati yang memandang dengan curiga. Dia membalik surat itu, mencari alamat sang pemilik surat itu, dan dengan mata terbelalak tak percaya Dia membaca setengah berbisik:</p>
<p style="text-align:center;"><em>Untukmu<br />Bunga  tercantik yang pernah kujumpa – Melati</p>
<p></em></p>
<p>Wajah Melati memerah dan secara tak sadar dia menoleh ke arah Sulai dengan sinar mata curiga, dan Sulai hanya bias berdiri tegak bagai patung <i>mannequin</i> di pertokoan. Mulutnya terkunci rapat, kakinya kaku tak dapat bergerak, pikirannya buntu tak tahu akan berbuat apa. Seluruh raganya serasa beku dan semua orang seolah – olah memandang dan rasa malu tak tertahankan menerpa bagai angin ribut dikala hujan.</p>
<p>“Jadi&#8230;”, Melati memecah kesunyian di antara mereka – dengan gemetar pula dan bertanya. “Surat ini untuk Melati, Bang?”</p>
<p>“Yah&#8230;”, jawab Sulai terbebas dari rasa beku dengan suara lemah. Wajahnya masih setebal dinding perpustakaan dan matanya berair menahan malu. “Itu memang untuk kamu. Maaf”</p>
<p>“Terima kasih bang Sulai, dan&#8230;maaf saya harus segera masuk kelas”, Melati berlalu sambil tertunduk tak berani menatap. Dia memasukkan surat itu ke dalam kantong depan roknya yang berwarna biru tua. Suara lonceng memang telah memanggil siswa untuk kembali ke kelas, dan seperti anak ayam yang dipanggil induknya, mereka berkelompok menuju kelas masing-masing.</p>
<p>Kini, kesunyian menyelimuti perpustakaan. Sulai tercenung sendiri memandang melati yang lenyap di balik pintu bersama siswa yang lain. Ada rasa lega yang menghias hatinya, setelah suara hatinya telah tersampaikan. “Paling tidak, dia telah mengetahui semuanya”, ujarnya. “Semoga dia mengerti dan membalas perasaanku itu”.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian, Sulai keluar menuju masjid dengan perasaan yang bercampur aduk antara rasa suka cita dan takut. Suka cita karena semua ganjalan di hati telah terangkat, takut sebab mungkin cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.</p>
<p><strong>Maaf nyambung lagi&#8230;</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=168&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/21/sulaiman-jatuh-cinta-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sulaiman Jatuh Cinta (#2)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/13/154/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/13/154/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 06:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Balkon Masjid Jami&#8217;
“Wet!, kamu kenal Melati anak baru SMP satu?”, tanya Sulai ketika kami sedang break pertama sambil melahap tempe goreng Bu Darno yang masih panas. 

Saat – saat break seperti ini merupakan saat yang selalu dinanti oleh anak – anak, karena mereka dapat bercengkrama, bercanda dan melupakan pelajaran yang berat di kelas. Bagi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=154&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Balkon Masjid Jami&#8217;</strong></p>
<p>“Wet!, kamu kenal Melati anak baru SMP satu?”, tanya Sulai ketika kami sedang <i>break</i> pertama sambil melahap tempe goreng Bu Darno yang masih panas. </p>
<p>
Saat – saat break seperti ini merupakan saat yang selalu dinanti oleh anak – anak, karena mereka dapat bercengkrama, bercanda dan melupakan pelajaran yang berat di kelas. Bagi yang memiliki pasangan, mereka akan mencari tempat yang teduh seperti di bawah rindahnya pohon kelapa untuk memadu kasih &#8211; walaupun cuma beberapa menit saja. Untuk yang <i>bokek</i>, terpaksa harus gigit jari atau minta traktir temannya yang tajir, dan&#8230;Sulai sepertinya cocok untuk kategori ini.  </p>
<p>
“Nggak, aku gak kenal Lai. Emangnya kenapa? ”, jawab Awet sambil mengunyah bakwan. </p>
<p>
“Gak apa-apa. Cuma nanya aja”, ujar Sulai tanpa bisa menyembunyikan nada lega. Setidaknya satu saingan berat sudah tersingkirkan, dan Sulai berharap akan tetap seperti itu.  Dia heran juga kalau Awet tidak mengenal gadis secantik Melati, karena Awet dikenal sebagai seorang yang memiliki reputasi luar biasa dalam menaklukkan bunga-bunga belia. </p>
<p>
“Cewek baru ya Lai?”, tanya Awet penuh curiga. Awet mengenal Sulai sejak duduk di bangku SMP kelas I, dan mengetahui setiap langkah perjalanan romantismenya. Awet masih ingat ketika Sulai menaruh hati pada Netty dan membuat Awet pusing mendengar syair <i>dunia masih berputar</i> yang diulang-ulang dengan suara seperti kaset rusak – karena Sulai tidak bisa memainkan gitar.  Masih tergambar jelas di kepalanya ketika Sulai menuliskan ratusan puisi hanya karena dia naksir Widya, dan diam selama dua minggu saat dia tidak diajak mencari <i>kijing</i> ketika dia naksir Ame. Belum lagi gadis – gadis lain, seperti Yanti, Vista, Ayu, Noni yang selalu saja pada akhirnya akan menyisakan kepedihan yang dituangkan ke dalam syair puisi atau nyanyian lagu yang memilukan &#8211; bukan karena putus tetapi karena ditolak atau terlambat.  Dan itu semua terpaksa dinikmati Awet sebagai sahabatnya. </p>
<p>
“Yah&#8230; begitu deh”, Sulai tersenyum sumringah dan membuat kumisnya sedikit terangkat serta hidungnya mengembang, terlihat bulu hidungnya sedikit berkibar. Dia paling suka kalau teman-temannya menggapnya sudah memiliki pacar. Apalagi seorang cowok keren seperti dirinya, rasanya tidak mungkin ada cewek mampu menolak pesonanya.  Ditambah suaranya yang merdu semerdu suara Mansyus S, saat menyanyikan lagu irama padang pasir.  Sulai merasa lebih berhak menjadi penyanyi utama group musik dangdut idolanya – Orkes Melayu Kencana.</p>
<p>
“Kenal di mana Lai?”, tanya Dicky</p>
<p>
“Dia temennya Deddy. Ceweknya manis banget. Sempurna buat aku”, ujar Sulai dengan semangat membara. </p>
<p>
“Ceweknya Deddy kali?”, celetuk Atuk yang sedang melahap bakso pedasnya sambil mendesis.</p>
<p>
“BUKAN!. Beberapa hari yang lalu, dia ke rumahku mau pinjem buku Deddy, dan yah&#8230;kita ngobrol banyak”, ujar Sulai bercerita dengan wajah penuh sinar kebahagiaan, “dan aku yakin sekali dia belahan jiwaku” </p>
<p>
“Udah ngomong belum?”</p>
<p>
“Rencanaku, besok mau mengajak dia  jalan dan ngomong”</p>
<p>
Mudah – mudahan kali ini nasib Sulai berubah, pikir Awet pesimis. Siapa tahu, kali ini akan berakhir dengan bahagia dan Sulai tidak akan mengganggunya lagi. Tapi Awet merasa tetap harus mempersiapkan diri untuk menjadi tumpahan kesedihan Sulai saat merana kembali mendera hatinya. Memikirkan hal itu, Awet bergidik sendiri. “Hh&#8230;.”, Awet menarik nafas panjang.</p>
<p>
Suara bell masuk berbunyi memekakkan telinga dan semua siswa terpaksa berhamburan keluar kantin kecil yang sempit itu. Beberapa diantaranya segera membayar makanan yang telah dilahapnya dan Sulai dengan cepat menghilang seperti hantu– Sulai tidak pernah merasa memesan makanan dan apa yang dimakannya pasti milik temannya. Atuk, seperti biasa selalu terlambat menyelesaikan santapan bakso yang menjadi makanan favoritnya, dan selalu menjadi orang yang terakhir keluar dari kantin. </p>
<p>
Selama pelajaran sejarah, Sulai lebih banyak melamun daripada mendengarkan apa yang diajarkan hari itu. Syukurlah Pak Amran tidak terlalu memperdulikannya. Toh memang hampir semua anak-anak tidak memperhatikan dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Sejarah memang tidak pernah menjadi pelajaran favorit di Kelas II Fisik dan Pak Amran juga bukan merupakan guru yang dipuja. Sesekali Sulai menarik nafas panjang membayangkan Melati bersamanya menghabiskan waktu di Tanjungpendam dan berjalan-jalan sore mengelilingi kota Tanjungpandan. </p>
<p>
Pertemuan pertama telah membuat Sulai tidak berdaya melupakan bidadari itu. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak bahkan di toilet pun tidak tuntas, well walaupun tidak pantas rasanya mengingat wajah seseorang ketika di toilet. Yang diingatnya hanyalah sebuah wajah mungil dengan rambut sebahu yang beberapa waktu lalu mulai mengisi kekosongan hatinya. Bahkan Wangi tangannya pun masih terasa hingga saat ini. Hhhh&#8230;., sekali lagi Sulai menarik nafas panjang. </p>
<p>
“Kalau saja aku bisa melihat nya sekali saja”, pikirnya dengan kalimat yang puitis. “Cukup kiranya untuk mengobati penyakit rindu yang kuderita”</p>
<p>
Masalahnya, hingga kini wajah itu tak pernah muncul lagi di pintu rumahnya, walaupun setiap sore Sulai menanti penuh harap dengan berdebar di teras rumah. Alamat rumahnya, hobby, warna kesukaannya, semua tentang Melati, Sulai tidak tahu. Ingin rasanya dia bertanya kepada Deddy tetapi perlu pemikiran yang lebih matang cara bertanya, karena Deddy selalu mengejek jika tahu dia naksir salah seorang temannya. Ingin rasanya dia langsung masuk ke SMP I dan menatapnya walau hanya sedetik saja, namun dia sadar, hal itu akan membuat Melati menjauhinya. Haruskah dia menantinya di gerbang hingga sang pujaan keluar? Akankah itu akan membuat Melati malu di antara kawan-kawannya? </p>
<p>
“Andai ada sebuah tempat yang sangat strategis” pikirnya lama. ”Mungkin aku harus menunggunya di dekat Masjid Jami&#8217; sambil menunggunya pulang. Tidak ada seorangpun tahu dan akan menertawakanku”</p>
<p>
“Aha! Aku akan mengamatinya dari balkon masjid yang tidak pernah ada orang. Ya, ide yang brilliant. Setiap saat aku bisa mencari dan walaupun cuma sedetik sehari aku akan melihatnya dan melepaskan rasa rindu”, wajah suram Sulai berubah menjadi ceria seperti matahari yang bersinar setelah hujan yang panjang.  Kerinduan tak tertahan akan terobati. Wajah manis Melati kini menari – nari di pelupuk mata, menggoda. </p>
<p>
Tak berapa lama kemudian, suara lonceng mengisi siang yang panas terik, tanda istirahat kedua telah tiba. Mata – mata ngantuk kembali terang seterang mentari di pagi hari. Suara – suara lega dan canda segera menggantikan suasana sunyi, sepi dan rasa bosan. Anak-anak segera berhamburan keluar menuju kantin Bu Darno, mengkhawatirkan tempe dan bakwan enak buatan Bu Darno yang biasanya ludes dengan cepat oleh mulut-mulut rakus yang kelaparan. </p>
<p>
“Dick, pulang yuk!”, Sulai mengajak Dicky bolos pelajaran terakhir sesaat sebelum Dicky keluar kelas. Dia harus bisa membujuk Dicky untuk bolos agar bisa sampai di masjid dengan cepat. Sulai tidak pernah merasakan kemewahan dengan memiliki kendaraan sendiri, selalu saja ada teman yang baik yang menjemput atau mengantarnya pulang. Namun kali ini, memiliki kendaraan sendiri rasanya merupakan ide yang terbaik agar dia bisa pulang kapan saja dia mau. </p>
<p>
“Hmm&#8230;”, Dicky berpikir sejenak. Sebenarnya tidak sulit membujuk Dicky untuk membolos, toh di kelas Dicky tidak pernah memperhatikan pelajaran apapun juga. Sulai kadang-kadang bingung dengan sikap Dicky yang tak acuh pada pelajaran dan entah apa jadinya dia nanti.  </p>
<p>
“Ayo dong. Kamu tahu Pak Jack yang super cuek. Pelajarannya ngabisin waktu saja”</p>
<p>
“Tapi.. aku udah beberapa kali bolos pelajaran Pak Jack”</p>
<p>
“Alah&#8230; nanti kita urus itu. Cuma Pak Jack. Gampang dah”, ujar Sulai memaksa.</p>
<p>
“Iya juga ya. Oke deh”, ujar Dicky luluh. Dia mengulurkan tasnya ke arah Sulai, ”Kamu tunggu aku di seberang lapangan bola, nanti kujemput di sana. Jangan lupa bawa tasku”</p>
<p>
Cahaya kemenangan terpancar di wajah Sulai ketika bujukan mautnya mengena. Senyum sumringah kembali menghiasi wajahnya dan kini terasa semua beban telah terangkat dari dadanya. Memang, kalau ada niat selalu saja ada jalan, pikirnya. </p>
<p>
Sulai harus menunggu beberapa saat sampai semua guru masuk ke ruangan guru, untuk memulai dosanya di siang itu. Dengan mengendap – endap sambil membawa tas Dicky, Sulai berlari menuju seberang lapangan sepak bola, yang berbatasan dengan rumah-rumah penduduk. Siang yang terik seperti ini, tak seorang guru pun yang rela berpatroli mengintai anak – anak  liar seperti Sulai. Terlihat dari balik pagar, Awet, Allyn dan kawan – kawannya baru saja masuk ke kantin Bu Darno. Beberapa anak kelas 3 melihat ke arahnya, tak peduli dan lalu meneruskan aktifitasnya masing-masing. Panas terik terasa menyejukkan bagi Sulai, mengingat beberapa saat lagi dia akan mengobati rasa rindu yang begitu dalam. </p>
<p>
Beberapa saat kemudian, Dicky muncul dengan sepeda motornya yang gagah. Sepeda motor Dicky memang paling bagus di antara seluruh sepeda motor yang dikendarai anak-anak. Dicky selalu bersikap seperti film <i>Catatan Si Boy</i> dan menganggap dirinya adalah pemeran utama film itu di kehidupan nyata. </p>
<p>
“Ayo Lai!”, teriak Dicky dan serta merta Sulai melompat ke belakang Dicky yang langsung tancap gas menuju ke jalan pulang.<br />
Perjalanan yang ditempuh terasa lama dan melelahkan. Panas terik tak kunjung berbelas kasihan dan  perjalanan menjadi sangat menyiksa. Beberapa kali Sulai melirik ke speedometer dan Sulai tidak bisa melakukan protes karena Dicky mengendarai motor sudah seperti di arena balap motor. Hanya saja, setiap putaran roda, serasa seperti putaran roda sepeda atau langkah kaki kakek  &#8211; kakek tua. Dan jarak yang ditempuh serasa seperti menuju ke Desa Sijuk yang berjarak 40 kilometer.</p>
<p>
“Dick, Aku diantar ke Masjid Jami&#8217; aja yah. Ada perlu nih”, ujar Sulai setelah melihat sosok kokoh bangunan masjid dari jauh.  Dicky mengangguk dibalik helmnya. </p>
<p>
Senyum Sulai semakin mengembang sejalan dengan makin dekatnya jarak masjid. Nyanyian hatinya semakin riang sejalan dengan gambar masjid yang semakin terang. Jantungnya semakin berdegub sejalan dengan niatnya yang akan terwujud. Matanya semakin cerah secerah mentari sinar mentari yang menuju tengah hari. </p>
<p>
“Thanks ya Dick”, ujar Sulai setelah turun dari sepeda motor, sambil mengulurkan tas ke arah Dicky.</p>
<p>
“Oke Lai, aku cabut”, Dicky mengambil tasnya dan langsung kabur entah kemana dengan kecepatan penuh. </p>
<p>
Sulai melirik jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul dua belas kurang beberapa menit saja. “Masih cukup banyak waktu”, pikirnya girang. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju tangga naik ke lantai II masjid yang disebutnya balkon.  Sebuah tempat yang cukup sempurna untuk mengamati tingkah laku anak – anak SMP Negeri satu. Dari balkon ini, seluruh lapangan bisa terpantau walaupun beberapa tempat ditutupi oleh pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan raya. </p>
<p>
Sulai segera memandang ke arah SMP Negeri satu. Terlihat beberapa guru dan siswa SMP yang sedang di luar dan berjalan terburu – buru masuk ke kelas. Tetapi kesunyian menyelimuti almamaternya itu. Hanya suara angin dan beberapa kendaraan yang lalu lalang menandakan hari masih siang. </p>
<p>
“Ah.. anak-anak masih belajar di kelas”, ujarnya sambil melirik arloji di tangannya. “Aku akan menunggu hingga mereka bubar sekolah” </p>
<p>
Sesekali Sulai berteduh di dalam mesjid menghindari panas yang menyerang, tanpa melepaskan pandangan dari lapangan SMP satu, berharap sang kupu-kupu keluar dari sarangnya. Sayang hanya beberapa gelintir manusia lain yang selalu muncul, dan bukan sang pujaan. Kebosanan menanti tidak terasa, yang ada hanyalah rasa rindu yang harus diobati di hatinya. </p>
<p>
Samar-samar terdengar suara radio korpri menyanykan lagu <i>I Just Can&#8217;t Stop Loving You </i>yang dinyanyikan <i>Michael Jackson</i>. Sulai merasa lagu itu lebih buruk dibandingkan dengan lagu <i>Ani</i> yang dibawakan Oma Irama. Oma Irama lebih mengerti dengan suasana hatiku sekarang ini dibandingkan dengan Michael Jackson, pikirnya sambil bersenandung – yang tentu saja nama Ani diubah jadi Mlati.</p>
<p>
<i>Mlati..Mlati&#8230;<br />
Kucinta padamu&#8230;<br />
Kusayang padamu&#8230;</i></p>
<p>
Sesekali diliriknya Arloji dan waktu berjalan sangat lambat. Satu detik seperti satu hari lamanya dan setiap menit serasa seperti berminggu-minggu. Siksaan rindu telah memuncak. Dan tiada jawaban lain selain menunggu di sini. Sulai menanti&#8230;, menanti&#8230;, dan menanti&#8230; hingga akhirnya Adzan menggema memekakkan telinga. Saatnya sholat dhuhur dan penantiannya pun harus berhenti sejenak.</p>
<p>
Sesaat Sulai berada di ambang keraguan, antara menanti sang pujaan atau segera manghadap sang Kuasa. Menanti, berarti dia harus menunda urusan pada yang kuasa dan itu sangat riskan, karena kini dia berada di rumahNya dan semuanya berada di bawah kekuasaannya. Bisa – bisa aku tidak akan dijodohkan dengan Melati kalau begini, ujarnya. Memilih mengikuti panggilan, bearti harus mengorbankan penantian yang tinggal selangkah lagi. Ah&#8230; suatu pilihan yang sulit sekali, antara idealisme dan rindu.</p>
<p>
“Ya, udah deh. Aku sholat aja dulu”, ujarnya mengalah pada panggilan sholat dengan lesu. “Yah.. Kuharap SMP belum bubar setelah aku selesai sholat”</p>
<p><b>Bersambung lagi </b></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=154&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/13/154/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sulaiman Jatuh Cinta (#1)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/10/sulaiman-jatuh-cinta-bag-1/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/10/sulaiman-jatuh-cinta-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 07:39:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan Pertama
Senja memerah, angin sejuk menerpa menjadikan suasana penuh kedamaian, hingga ketenangan pun menyelimuti hati orang – orang yang sedang duduk santai menanti magrib tiba. Suara ramai cicit anak ayam yang mengikuti induknya ke kandang mengalun indah di sore itu. Tawa canda anak – anak yang kembali segar, menyiapkan diri untuk mengaji di masjid. Ah.. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=146&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Pertemuan Pertama</strong></p>
<p>Senja memerah, angin sejuk menerpa menjadikan suasana penuh kedamaian, hingga ketenangan pun menyelimuti hati orang – orang yang sedang duduk santai menanti magrib tiba. Suara ramai cicit anak ayam yang mengikuti induknya ke kandang mengalun indah di sore itu. Tawa canda anak – anak yang kembali segar, menyiapkan diri untuk mengaji di masjid. Ah.. masa kanak-kanak memang masa yang tidak mengenal beban kecuali kesenangan.</p>
<p>Di suasana sore seperti ini, tegil pabrik es – begitu orang menyebutnya – ramai dengan anak-anak SMA yang tertatih mengayuh sepeda di tanjakan curam itu. Kadang-kadang ada yang terpaksa turun dan menarik sepedanya hingga tanjakan habis, tentu sambil bercanda dengan kawan-kawan satu sekolah. Tak sedikit pula anak-anak SMA yang mengendarai motor lalu lalang sambil menggoda gadis – gadis belia yang tengah kesusahan. Berharap salah satu dari mereka ada yang mengajaknya bercengkrama dan bercanda.</p>
<p>Beberapa meter dari jalan raya menanjak itu, ada sebuah rumah sederhana berwarna putih kusam dimakan cuaca dengan cat yang telah terkelupas di sana-sini. Rumah itu memiliki teras yang luas hingga sering digunakan untuk bersantai keluarga atau arena bermain bagi anak-anak. Kadang-kadang digunakan untuk pertemuan kecil warga sekitar. Dipinggir teras itu berdiri batas yang dibuat dari beton setinggi pinggang orang dewasa yang diatasnya dibuat sedemikian rupa supaya dapat diduduki.</p>
<p>Sulaiman – temanku &#8211; tinggal di rumah sederhana berteras luas itu. Di sore indah seperti ini, biasanya dia sudah mulai menyiapkan diri untuk ke mesjid jami&#8217; yang letaknya memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sulai – panggilan keren Sulaiman- salah seorang yang aktif di kegiatan remaja mesjid terbesar di kota Tanjungpandan itu, yang diresmikan oleh Pak Sudarsono saat menjabat wakil presiden. Berbekal ajaran yand didapat di pengajian mesjid, Sulai acapkali berceramah di depan kami, hingga aku merasa Sulai melebihi usia yang seharusnya dia miliki. Dengan bakat juara pidato ketika masih SMP, sulai memang seorang orator yang unggul di antara kami semua, yah.. cocok jadi seorang politikus atau ustadz.</p>
<p>Sore ini, Sulai mengenakan baju muslim hijau kusam karena sering dipakai dengan peci hitam kecoklatan kebanggaan di kepalanya. Kesegaran sore terpancar di wajahnya yang tampak selalu tersenyum sore yang sejuk ini. Beberapa kali dia mencoba memperindah kumis tipis yang hanya mengandung beberapa lembar bulu dengan menarik-nariknya ke arah mulutnya dan sesekali di sisir jenggotnya yang hanya selembar itu, berharap tumbuh banyak seperti jenggot Oma Irama penyanyi kesayangannya. Rambutnya yang ikal hitam tertutup oleh peci kusam kecoklatan, menambah kesan sifat kesalehan yang dimiliki oleh Sulai, mirip seperti film si Pitung atau Jaka Sembung. Kembali Sulai tersenyum puas sendiri, menatap dirinya di cermin. “Aku memang Oke juga”, katanya memuji dirinya sendiri.</p>
<p>“Permisi&#8230;”, sebuah suara merdu memecah konsentrasi Sulai saat mengagumi dirinya sendiri. “Ah.. selalu saja ada yang mengganggu. Waktu sudah menuju magrib seperti ini, masih ada saja tamu yang berkunjung. Apakah mereka tidak mengerti bahwa kita semua harus sholat saat magrib tiba? Yang sering lupa waktu seperti ini biasanya adalah teman-teman Deddy!”, gerutu Sulai dalam hati sambil melangkah ke arah pintu. Deddy adalah adik laki-laki Sulai yang sekolah kini duduk di SMP kelas 3.</p>
<p>“Maaf bang&#8230; Deddy ada?”, suara manis itu kembali mengisi telinga Sulai. Namun kali ini suara itu menjadi lebih merdu daripada kicau burung di pagi hari dan lebih merdu dari gemercik air di gunung tajam, bahkan lebih sejuk daripada angin sore ini. Sesosok gadis cantik yang mungil sedang memegang sepedanya, sambil menarik nafas kelelahan karena harus mengayuh melawan tanjakan.</p>
<p>Sulai terpana, dan merasakan adanya sesuatu yang ingin segera meloncat dari dadanya. Matanya tak bisa lepas dari gadis berwajah bidadari yang berdiri kelelahan di depannya.  Dengan rambut hitam sebahu, kulit putih dan mata jernih bercahaya bagai mata bayi. Bibir mungil dihiasi dengan gigi-gigi putih berderet rapi seperti untaian mutiara. Hidungnya bangir menyempurnakan seluruh sosok cantik di depan rumahnya.</p>
<p>“Bidadari ternyata memang ada”, batin Sulai.</p>
<p>“Bang?&#8230; Deddy ada di rumah”, suara sehalus sutera kembali meluncur dari bibir mungil di depannya. Sulai tersadar dari lamunannya dan dia melepas peci yang baru saja dikenakannya. Dia tidak ingin gadis di depannya ini menganggapnya seumur dengan ayahnya. Lagipula peci itu sudah kusam sehingga akan memperburuk penampilannya.</p>
<p>“Oh&#8230;. mm&#8230; Ada”, ujar Sulai gagap. “Tunggu sebentar ya, Deddy lagi di kamar mandi”.</p>
<p>“Baik bang”</p>
<p>“Mari masuk”, Sulai mempersilakan sang dewi untuk masuk dan duduk di kursi teras.</p>
<p>“Terima kasih” gadis itu melangkah masuk ke teras setelah terlebih dahulu menambatkan sepedanya. Dengan gugup Sulai masuk dan menuju kamar Deddy.</p>
<p>“Ded!”, panggil Sulai pelan, saat melihat adiknya Deddy baru saja berganti pakaian. Deddy menoleh. “Ada cewek tuch diluar nyari kamu. Cakep banget Ded!. Kalo ada temen cakap, bagi-bagi donk”</p>
<p>Deddy melangkah ke arah jendela dan mengintip dari jendela,“Oh.. cewek itu namanya Melati”, ujarnya.  Namanya sesuai dengan keindahan melati yang mungil dan putih, pikir Sulai. “Ntar aku kenalin deh”. Deddy segera masuk ke dalam kamarnya, dan Sulai segera keluar tanpa menunggu Deddy.</p>
<p>“Tu..Tunggu bentar ya”, ujar Sulai segera mengambil duduk. “Saya Sulaiman, abangnya Deddy. Panggil saja Sulai”, ujarnya sambil mengulurkan tangan, tanpa menunggu ijin dari Deddy. Tak peduli dengan Wudlu yang akan batal jika menyentuh wanita. Ah Wudlu bisa diambil lagi saat mau sholat sedangkan kesempatan bersalaman dengan cewek cakep seperti yang di depannya ini sangat langka. Semoga Tuhan mengampuninya atas kelancangannya saat ini.</p>
<p>“Melati”, sang bidadari pun mengulurkan tangannya. Dengan segera Sulai menyalaminya dan merasakan kehalusan tangan seorang gadis belia. Diresapinya kehalusan kulit itu dan kini Sulai tenggelam ke dalam ketenangan jiwa yang selama ini selalu dicarinya.  Segera Melati menarik tangannya, wajahnya memerah malu.</p>
<p>“Sekelas sama Deddy ya?”, tanya Sulai sekenanya. Dia sudah tahu jawabannya, tapi yang penting saat ini dia harus mulai membuka pembicaraan. Bagaimanapun komunikasi awal dari hubungan yang lebih jauh.</p>
<p>“Iya. Bang Sulai di SMA Negeri ya? Deddy sedikit cerita”, ujar Melati.</p>
<p>“Sialan! Deddy udah cerita apa saja? Jangan-jangan dia cerita yang bukan – bukan tentang Aku”, kembali Sulai berbicara dalam harinya.</p>
<p>“Ya. Abang di SMA Negeri kebetulan sekarang masuk kelas <em>Fisik</em>”, kata Sulai dengan menekankan kata Fisik. Memang di kelas Fisik berkumpul orang-orang yang pintar walaupun tidak semuanya. Paling tidak bagi orang umum, Kelas Fisik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki otak cemerlang. Mudah – mudahan Melati mengetahui hal itu.</p>
<p>“Kalo begitu, sekelas dengan Bang Awet donk”, ujar Melati menarik kesimpulan. Awet! Memang nama itu sudah menjadi legenda di kalangan civitas SMP satu, padahal sudah hampir dua tahun mereka tidak lagi sekolah di SMP itu, sisa-sisa kejayaannya masih saja dikenang. Jangan-jangan Awet&#8230;</p>
<p>“Ya!. Dia temen baik abang di SMA”, Sulai berusaha membuang jauh pikiran buruk itu dan berusaha memanfaatkan situasi yang ada. “Kayaknya kamu baru di sini ya?”</p>
<p>“Iya bang”, ujar Melati. “Kami baru saja pindah ke sini. Biasalah Ayah kerjaannya pindah-pindah terus”</p>
<p>“Oh.. begitu. Enak donk ya, bisa mengenal daerah – daerah yang ada”, ujar Sulai berusaha menangkap pembicaraan biar nyambung. “Kalau dia masih baru di sini, berarti dia belum punya cowok donk. hm.. masih ada kesempatan nih, sebelum di ambil si Awet atau si Deddy. Tidak terbayang kalau Melati jadian dengan Deddy, Aku cuma bisa gigit jari sambil menangis menyesali diri”</p>
<p>“Nggak jugalah bang. Kalo kita sering pindah-pindah begini, mata pelajaran seringkali ketinggalan. Apalagi kita susah mendapatkan teman baik atau sahabat”</p>
<p>“Iya juga sih. Tapi kita lihat sisi baiknya saja. Kalau begitu, sebentar lagi ujian donk ya”</p>
<p>“Begitulah kira-kira. Makanya Melati mau pinjem catetan sama Deddy, biar nggak ketinggalan dan mampu ngerjain soal ujian nanti”</p>
<p>“Bang Sulai bisa membantu kalo Melati mau”, ujar Sulai mencoba memancing lebih jauh. Yang namanya usaha harus dilaksanakan segera sebelum diambil orang lain. Sulai tidak mau mengulang kesalahan yang sama ketika dia naksir Netty dulu, hingga sempat merana sebulan penuh dengan menyanyikan lagu &#8216;dunia masih berputar&#8217; hanya untuk menghibur dan menyadarkan dirinya bahwa dunia itu masih berrotasi.</p>
<p>“Ah.. bang Sulai baik sekali”, ujar Melati. Sulai merasa sangat tersanjung hingga hidung berserta bulunya melambai-lambai karena bangga. “Tapi.. terima kasih deh Bang. Melati tidak mau merepotkan”. Bulu hidung yang berkibar kembali melemah mendengar penolakan halus itu.</p>
<p>“Ah.. nggak juga koq. Tapi&#8230; oke deh. Bang Sulai siap membantu kapan saja Melati mau. Lagipula abang Sulai sudah SMA kelas dua, mungkin bisa membantu lebih banyak dibandingkan dengan kawan-kawan sekelas Melati”, Sulai berusaha main halus supaya tidak ketara bahwa dia sangat menyukai gadis di depan matanya ini. Cewek biasanya tidak suka kalau cowok main terlalu kasar. Dan niat membantu menjadi alasan yang tepat untuk saat ini.</p>
<p>“Terima kasih banyak deh bang Sulai”, ujar Melati. “Nanti kalau Melati butuh bantuan abang, Melati akan titip pesan ke Deddy”</p>
<p>“Ini abangku Mel”, ujar Deddy tiba-tiba, dia membawa sebuah buku tulis. “Sialan!, aku belum apa-apa sudah main potong aja si Deddy” gumam Sulai.</p>
<p>“Udah kenal kan?”, tambah Deddy.</p>
<p>“Ya! Barusan saja”, Melati bangun dari tempat duduknya. “Jadi mana catatannya?”</p>
<p>“Nih!”, Deddy menyerahkan catatannya yang disambut antusias oleh Melati. “Catatan ini dulu ya!. Yang lainnya nanti aja, pas di sekolah”</p>
<p>“Thanks Ded”, ujar Melati. “Kalo gitu aku pulang dulu ya! Udah mau magrib nih”</p>
<p>“Iya&#8230;deh, mau dianter?”, ujar Deddy.</p>
<p>“Gak deh. Thanks atas bukunya. Aku balikin di kelas besok lusa ya?”</p>
<p>“Oke!”</p>
<p>“Bang Sulai Melati pamit dulu. Sampai jumpa lagi”, Melati melangkah ke luar teras dan mengambil sepedanya. Sulai mengikuti seluruh gerakan gemulai Melati tak melepaskan sedetikpun. Kata Pak Ustadz kalau memandang wanita cukup pada pandangan pertamanya saja, karena itu adalah rejeki. Kalau yang kedua sudah berupa nafsu. Karena itulah Sulai tidak pernah melepaskan pandangan pertamanya, setidaknya begitu.</p>
<p>Sulai masuk ke dalam rumah mengulang Wudlunya yang sudah batal karena bersalaman dengan Melati. Pikirannya berkecamuk dalam merasakan gejolak yang ada di hatinya.  Tidak pernah dia merasakan seperti  ini, jatuh cinta pada pandangan pertama. Perjumpaan pertama ini telah meyisakan kesan yang dalam yang patut dipertahankan. Wajah Melati dengan mata bagai bayi dan gigi berderet rapi masih terbayang hingga Adzan magrib memanggil.</p>
<p>“Melati&#8230;”, sekali lagi Sulai berucap dengan kata dan pandangan kosong.</p>
<p><strong>Bersambung&#8230;</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=146&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/10/sulaiman-jatuh-cinta-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bu Vonny yang Terbuang (#4 &#8211; Tamat)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/19/bu-vonny-yang-terbuang-bag-4-the-end/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/19/bu-vonny-yang-terbuang-bag-4-the-end/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 02:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Kemenangan bagi Semua
Kasak – kusuk penggantian guru Biologi di kelas kami terdengar mulai santer semenjak Pak Dian masuk ke kelas kami beberapa hari lalu. Anak-anak kelas 3 sepertinya mulai khawatir mendapat limpahan Ibu Vonny sebab mereka belum pernah diajar oleh Ibu Vonny sebelumnya, sedangkan kami merasa di atas angin walaupun bagiku hal itu masih terlalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=12&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kemenangan bagi Semua</span></strong></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kasak – kusuk penggantian guru Biologi di kelas kami terdengar mulai santer semenjak Pak Dian masuk ke kelas kami beberapa hari lalu. Anak-anak kelas 3 sepertinya mulai khawatir mendapat limpahan Ibu Vonny sebab mereka belum pernah diajar oleh Ibu Vonny sebelumnya, sedangkan kami merasa di atas angin walaupun bagiku hal itu masih terlalu dini. Guru – guru pun mulai membicarakan dengan nada yang kurang enak didengar, mungkin merasa dikalahkan oleh muridnya yang masih belia atau dominasi mereka yang terjaga selama ini merasa terganggu. Anak-anak kelas lainnya memandang kelas kami dengan pandangan iri karena kekompakan kami yang luar biasa. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Cuaca yang sejuk di sabtu ini, membuat kami bersemangat belajar dan sudah tentu menyambut malam minggu. Masri and the gang sudah menandai malam minggu ini dari beberapa hari sebelumnya dengan melihat jadwal pentas musik dangdut Kencana, sedangkan Aku dan kawan-kawan sudah mendapat undangan pesta ulang tahun di rumah salah satu teman kami anak SMA PGRI. Hanya Anton sang professor yang menganggap malam minggu sama seperti malam lainnya, malam belajar. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Tak terasa lonceng tua SMA kami kembali berbunyi merdu dan segera anak-anak berteriak gembira bergegas berjalan ke luar kelas. Dicky berjalan paling di muka, Agus Lempek dengan rambut yang selalu basah dan lepek sibuk mencari orang-orang untuk nebeng pulang. Biasanya Aku diantar Awet ke rumahku untuk berganti pakaian kemudian kami kembali ke rumahnya untuk berkumpul dengan kawan-kawan lainnya, menghabiskan sabtu sambil menunggu malam minggu.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Wet, kamu dipanggil Pak Sunardi”, kata salah seorang teman kami dari kelas A3.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Awet menoleh ke arahku dengan tatapan penuh tanya, aku pun mengangkat bahu tidak tahu apa sebab dia dipanggil oleh Pak Sunardi kepala sekolah kami. “Ok, thanks”, jawab Awet sambil melambaikan tangannya. Kami terlalu banyak hutang dan janji kepada Pak Sunardi.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kamu ikut aku ke ruangan Pak Sunardi, kalau nanyain tentang Ibu Vonny, kamu bisa menjelaskan”, kata Awet kepadaku.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kalau nanya soal Taman yang disuruh?”, tanyaku. Pembuatan taman sekolah adalah salah satu janji kami kepada Pak Sunardi yang belum kami penuhi. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Biar kita cari alasan nanti”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Ok”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kami berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Kami masih bertanya-tanya apa gerangan yang akan disampaikan oleh Pak Sunardi kali ini. Perkiraanku Pak Sunardi akan bertanya kepada kami tentang mosi kami terhadap ibu Vonny, karena sudah hampir dua minggu kami tidak melihat Pak Sunardi di Sekolah ini. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kalian berdua silakan masuk”, ujar Pak Sunardi hangat, ketika melihat kami di depan pintu kantor beliau.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Terima kasih pak”, kami masuk dan duduk di depan meja beliau yang terbuat dari kayu dan tertata rapi.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Baiklah, silakan cerita apa yang telah terjadi”, ujar beliau bijak sambil meletakkan genggaman kedua tangan di depan mulutnya. Kami tahu arah pertanyaan beliau, dan saatnya kami mengulang kembali cerita sepuluh hari lalu.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Menurutku, Pak Sunardi adalah kepala sekolah yang paling ideal yang pernah kami miliki. Selain pintar beliau juga bijak dalam menjalankan managemen sekolah. Kami merasa beruntung memiliki kepada sekolah seperti beliau, sayang beliau hanya singgah sejenak menjadi kepala sekolah setelah ditinggalkan Pak Jahasan. Mungkin untuk memberikan dasar-dasar managemen sekolah yang baik demi kelanjutan sekolah yang lebih baik. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Cerita Awet mengalir seperti air, sementara itu Pak Sunardi mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mengusap wajah. Air muka yang tenang dan teduh membuat kami enak bercerita tentang permasalahan ini. Beberapa kali beliau mengangguk untuk menghibur hati kami, dan kulihat Awet tersenyum puas melihat itu, sampai akhirnya Awet menyelesaikan ceritanya yang penuh semangat.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kalian tidak menyukai Ibu Vonny itu terlalu berlebihan”, ujar Pak Sunardi setelah mendengar uraian kami berdua. “Tidak ada kelas lain yang keberatan seperti kelas kalian, itu artinya kelas kalian yang bermasalah”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Tapi pak, kami sekelas merasakan seperti itu. Kami tidak tahu apakah kelas lain seberani kami dalam menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada Ibu Vonny”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Bisa jadi, tetapi selama tidak ada bukti dan laporan dari kelas lain, bapak anggap kelas kalian bermasalah. Mungkin tidak seluruh anggota kelas yang memiliki pendapat seperti kalian, tetapi mereka terpaksa memberikan tanda tangan”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Tidak ada yang memaksa mereka menandatangani petisi ini pak!”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Saya mengerti, dan saya tahu bagaimana rasanya jadi siswa. Saya bisa merasakan posisi kalian dengan seorang guru yang tidak mengenakkan”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Saya pernah bertanya pada Ibu Vonny”, tambah beliau. “Dan ibu Vonny menceritakan bagaimana kelakuan kalian yang sering bertanya diluar konteks pelajaran yang diajarkan saat itu. Hal itu tidaklah buruk, tetapi kalian harus fokus pada pengetahuan yang diajarkan dulu, barulah kalian bisa bertanya diluar konteks untuk menambah ilmu. Jika tidak dijawab bisa jadi Ibu Vonny lupa, dan hal itu adalah manusiawi bukan?”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kami berdua terpaksa mendengarkan ceramah pak Sunardi yang panjang lebar itu, tetapi kami tahu Pak Sunardi tidak marah. Kami sadar bahwa Ibu Vonny tidak akan digantikan dengan orang lain. Seperti yang kuperkirakan sebelumnya, Pak Dian hanyalah angin segar di musim panas yang hanya singgah sementara untuk menyejukkan hati anak-anak kelas A1. Itu berarti aspirasi kami sebagai siswa tidak ditampung oleh Kepala Sekolah yang merupakan pemimpin sekolah kami. Apakah kami harus menyingkirkan kepala sekolah juga agar Ibu Vonny hengkang dari kelas kami? Pak Sunardi merupakan seorang Kepala sekolah yang kami cintai, tidak mungkin kami akan berbuat seperti itu hanya demi Ibu Vonny. Tetapi dengan adanya Ibu Vonny di kelas, semangat anak-anak dalam belajar biologi akan terganggu kembali.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Jadi keputusan mosi kami bagaimana pak?”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Masih saya pikirkan. Butuh pemikiran yang panjang untuk membuat penyelesaian ini. Saya sebagai Kepala Sekolah tidak bisa memihak, berarti saya harus mencari solusi yang terbaik agar kalian mendapat belajar dengan baik dan Ibu Vonny tidak kehilangan muka” , ujar Pak Sunardi, “Awet sebagai ketua kelas harus mengerti posisi dan pilihan yang saya miliki. Jika solusi yang ada tidak bisa memenuhi keinginan kalian sepenuhnya, Awet harus memberikan pengertian kepada teman-teman sekelas, jangan sampai mereka berbuat yang kurang terpuji dan gagal hanya karena satu guru yang tidak disukai.”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Pak Sunardi berhenti sejenak dan mengambil air putih yang terletak di depan meja, “Keputusannya akan diumumkan oleh Pak Bahtiar hari senin nanti, dan terima kasih atas informasi yang kalian sampaikan kepada saya selaku kepala sekolah. Selamat bermalam minggu, Have Fun!”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Pak Sunardi mengakhiri pembicaraan kami dengan kalimat yang masih mengambang disertai senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Kami sadar akan posisi Pak Sunardi sebagai kepala sekolah yang mengayomi kepentingan dan keinginan semua pihak serta menjaga salah satu pihak agar tidak merasa dirugikan. Itulah resiko menjadi seorang pemimpin dan aku yakin dengan kebijaksanaan yang dimiliki beliau Pak Sunardi akan menyelesaikan masalah ini dengan baik.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kami bangkit dari tempat duduk dan bersalaman dengan Pak Sunardi, kemudian melangkah keluar ke arah parkiran pohon kelapa. Sekolah sudah sepi yang ada hanya segelintir anak-anak yang sedang bercengkrama di dekat laboratorium Bahasa.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Menurut ku Ibu Vonny tidak jadi diganti”, kataku memecah keheningan</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Tidak tahu, bisa jadi”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Tapi kita lihat saja gimana perubahan yang ditawarkan jika ibu Vonny tidak jadi diganti. Posisi Pak Sunardi memang berat, dan kita harus memahami hal itu. Mudah-mudahan anak-anak mengerti, akan kekalahan kita. Aku sendiri sebagai penggagas, tidak bisa menerima kekalahan ini, tapi kalau itu demi kebaikan sekolah dan ada perubahan positif yang diberikan kepada kita sebaiknya kita setuju”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Tugas Pak Bahtiar cukup berat untuk menjelaskan anak-anak”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Sudah ah kita lihat aja nanti, kita pulang dulu. Bersiap untuk pesta ntar malam”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Ok”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Awet menarik gas motor dan kami melaju ke rumahku membuang masalah Ibu Vonny dari kepalaku dan menyambut malam minggu yang selalu ceria bagi kami. Senyum renyah bersungging di bibir kami, hati ceria pun menyelimuti sabtu ini dan semoga keceriaan itu akan terus terbawa ketika pengumuman hari senin nanti.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">&#8212; </span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;">Setelah upacara rutin hari senin, </span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;">Aku dan Awet tidak me</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;">nyempatkan diri pulang sarapan bubur di rumah Awet seperti yang biasa kami lakukan, karena kami tak sabar menunggu pengumuman dari Pak Bahtiar tentang kelanjutan mosi dan perubahan apa yang ditawarkan demi perbaikan kualitas belajar kami. Tadi pagi sebelum upacara dimulai, awet memberikan sedikit petunjuk kepada Allyn, Ivan dan kawan-kawan lainnya tentang pembicaraan kami dengan Pak Sunardi. Dan mereka juga menunggu momen penting ini. </span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Menurut kamu apa yang akan diumumkan oleh Pak Bahtiar?”, tanya Alok kepada Ivan.</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Aku harap Ibu Vonny dicopot!”, jawab Ivan.</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Menurutku, Ibu Vonny tidak akan dicopot. ”, ujar Awet</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Trus kalo tidak dicopot, apa yang ditawarkan ke kita? Masak cuma segitu aja?”, tanya Allyn</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Kita lihat saja nanti”</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Pak Bahtiar melangkah masuk dengan baju kebanggaan yang berwarna biru lusuh. Senyum yang tersungging menampakkan gigi depannya yang agak gingsul. Rambut keritingnya sudah acak-acakan walaupun baru pukul sembilan pagi, mungkin beliau tidak sempat untuk menyisir tadi pagi. </span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Selamat pagi”, kata Pak Bahtiar. Beliau tetap berdiri di depan kelas memandang ke setiap sudut ruangan.</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Pagi Pak”, suara anak-anak menyambut salam Pak Bahtiar.</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"> “</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Hampir dua minggu lalu, saya menerima kertas yang berisi tanda tangan kalian semua, tentang penolakan kalian terhadap Ibu Vonny”, kata Pak Bahtiar memulai pembicaraan. “Kemudian hal itu bapak bicarakan dengan kepala sekolah kita, dan telah terjadi diskusi yang alot antar guru yang akhirnya memutuskan agar kalian menerima kembali Ibu Vonny untuk mengajar kalian”</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Suara kecewa anak-anak terdengar lirih memecah keheningan. Mereka merasa sudah cukup menghadapi Ibu Vonny dan tidak bisa menerima lagi kehadiran Ibu Vonny di depan kelas kami mengajar biologi tidak becus sama sekali. Aku bisa menerima kehadiran ibu Vonny di depan kelas kami, setelah menerima masukan dari Pak Sunardi hari sabtu lalu, tentu dengan beberapa syarat yang bisa kuterima dengan akal sehat, jika tidak kami bersiap pada perjuangan langkah kedua.</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Saya tahu kalian kecewa”, sambung pak Bahtiar. “Sebagai guru kami meminta maaf jika tidak bisa meluluskan keinginan kalian, kami hanya meminta kalian memberikan sedikit ruang bagi Ibu Vonny”. </span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Lalu bagaimana dengan kami nanti Pak? Apakah Ibu Vonny bisa bersifat obyektif dan berubah cara mengajar supaya lebih baik”, tanya Allyn. Semua siswa setuju dengan pertanyaan Allyn.</span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">“</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Hal itu akan diawasi kita semua. Pak Sunardi akan melihat perkembangan kalian, dan mengevaluasi Ibu Vonny secara berkala”<span style="background:transparent none repeat scroll 0;"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;">, ujar Pak Bahtiar menjawab pertanyaan Allyn. “Dan Pak Sunardi berjanji, Ibu Vonny tidak akan mengajar kalian setelah kalian naik ke kelas 3 nanti”</span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Kata penutup dari Pak Bahtiar membuat anak-anak berteriak gemuruh gembira tanda menyetujui usulan pak Bahtiar, walaupun menurutku itu hanyalah kompromi yang ditawarkan oleh Pak Sunardi. Senyum kemenangan tampak di wajah Allyn, Ninit, Ivan, Alok dan anak-anak lainnya yang memang menghendaki berakhirnya konflik ini. Awet merasa lega dan aku pun merasa siap menghadapi pelajaran Ibu Vonny dengan arif, tidak seperti dulu lagi. Hari Senin ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan. Pak Bahtiar tersenyum melihat anak-anak didiknya bisa menerima tawaran Pak Sunardi yang bijaksana yang tidak memihak. Kulihat wajah Pak Bahtiar lebih ceria, dan kali ini senyuman beliau bisa kami terjemahkan dengan gamblang. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">“</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">I Love This Monday”</span></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">The End</span></strong></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">catatan penulis</span></strong></span></span></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><em><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Cerita ini kupersembahkan dengan sisipan maaf kepada Ibu Vonny yang telah mengajarku di kelas satu dan kelas dua. Kelakuan kami selama ini mungkin menjengkelkan ibu dan ketika kami lulus pun kami belum sempat meminta maaf dan berterima kasih, kinilah saatnya melakukannya.</span></span></span></em></p>
<p style="margin-top:.2in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;"><em>Episode kecil ini hanyalah cerita masa lalu yang tidak perlu diungkit lagi keburukannya dan hanya perlu dipelajari demi kebaikan kita semua di masa depan.</em> </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=12&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/19/bu-vonny-yang-terbuang-bag-4-the-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bu Vonny yang Terbuang (#3)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/18/bu-vonny-yang-terbuang-bag-3/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/18/bu-vonny-yang-terbuang-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 19:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Interrogasi

Sejak melakukan penolakan terhadap Ibu Vonny dengan cara mengumpulkan tanda tangan, kelas kami mendapat sorotan tajam baik dari siswa kelas lain maupun guru-guru. Sikap guru pun terpecah menjadi dua, ada yang mendukung terutama guru – guru yang sudah makan asam garam di sekolah ini dan ada pula yang mendukung Ibu Vonny terutama guru satu almamater [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=10&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Interrogasi<br />
</strong></p>
<p>Sejak melakukan penolakan terhadap Ibu Vonny dengan cara mengumpulkan tanda tangan, kelas kami mendapat sorotan tajam baik dari siswa kelas lain maupun guru-guru. Sikap guru pun terpecah menjadi dua, ada yang mendukung terutama guru – guru yang sudah makan asam garam di sekolah ini dan ada pula yang mendukung Ibu Vonny terutama guru satu almamater dengan beliau. Hampir seluruh siswa di SMA ini mendukung kami, mereka menganggap kami sebagai pejuang dalam mendobrak dominasi guru terhadap murid. Tapi tak sedikit pula mencemooh kelas kami sebagai kelas yang tidak tahu diuntung, dan tidak bisa diatur. Kami memiliki alasan sendiri, sedangkan pendapat orang lain kami anggap hanyalan angin sepoi yang baik untuk dinikmati dan dibuang.</p>
<p>Setelah membuat tandatangan mosi tak percaya tersebut, kelas kami semakin kompak. Mungkin karena anak-anak merasa nasib mereka sama, sehingga mereka harus bersatu dalam menghadapi konsekwensi yang akan terjadi akibat dari perbuatan kami. Guru – guru yang mendukung kami tidak perlu kami takuti, tetapi guru – guru yang mengambil sikap sebaliknya sangat kami kuatirkan, terutama terhadap nilai yang akan kami terima dalam pembagian rapor nanti.</p>
<p>“Kalian berhak memilih pengajar yang lebih baik”, begitulah salah satu guru yang memilih sikap pro terhadap kami.</p>
<p>Hari ini, seminggu sudah waktu berlalu, sejak kami melakukan mosi tak percaya pada Ibu Vonny. Keputusan yang kami tunggu tidak kunjung tiba, apakah memihak kepada kami atau Ibu Vonny, bahkan kami belum mendapatkan bocoran sama sekali. Sikap Ibu Vonny terhadap kami berubah total, walaupun sikap itu bagi kami sama saja dengan sebelumnya. Tapi kini kami merasa tegang ketika melihat Ibu Vonny, terutama ketika berpapasan di koridor sekolah atau tempat lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana detak jantung kami berdegub saat pelajaran Ibu Vonny akan berlangsung sebentar lagi. Kuharap Ibu Vonny tidak masuk kelas hari ini, dan berharap beliau tidak punya nyali untuk mengajar hari ini. Untuk menghilangkan rasa tegang, anak – anak bercengkrama dan sesekali melihat ke arah pintu, dengan harapan Ibu Vonny tidak muncul.</p>
<p>“Aku bingung, berapa lama lagi kita mesti menunggu?”, Kata Dicky yang kemampuan otaknya sedikit di atas monyet dan setingkat dibawah chimpanze.</p>
<p>“Gak tahu nih. Pak Bahtiar tadi pagi mengatakan menunggu dari Pak Sunardi, Hhh”, jawab Awet menarik nafas panjang lalu tertunduk lesu dengan hati kecewa bercampur takut.</p>
<p>“Trus ntar gimana?”, Allyn menimpali. Sudah bukan hal yang aneh kalau Allyn paling takut nilainya turun. Kalau perjuangan kita kalah, berarti Allyn akan terpuruk. Allyn lebih takut nilainya jatuh daripada ketemu Hantu. Mungkin karena Hantu sering lari lebih dulu kalau melihatnya.</p>
<p>“Udah, kita liat aja nanti”, ujarku. “Toh kita sudah menentukan sikap. Kebersamaan kita tidak akan tergoyahkan oleh sikap Ibu Vonny nanti”</p>
<p>“Iya sih, abis bagaimana lagi?”</p>
<p>“Kalo gitu aku bolos ah”, ujar Dicky. “Biar gak diomelin!”</p>
<p>“Alah itu memang maunya kamu. Tante mana lagi yang manggil?”, tanya Allyn.</p>
<p>“Diem Ah!”, ujar Dicky cepat. “Aku lagi tegang nih”</p>
<p>“Udah kalo mau bolos, keluar sana”, ujar Awet. “Lewat belakang aja, biar gak ketahuan”</p>
<p>“Aku tahu! Motor ku udah di sono koq”</p>
<p>“Dasar Niat!”</p>
<p>Dengan tersenyum nakal penuh kemenangan Dicky segera meninggalkan kami, dan segera lari ke arah belakang sekolah dengan mengendap-endap kuatir ketahuan guru. Keluar dari belakang berarti melompati pagar pembatas sekolah. Dan hal itu sudah lumrah bagi siswa yang doyan membolos seperti Dicky.</p>
<p>“Sikap kita ntar gimana?”, tanya Ninit, mengulangi pertanyaan Allyn.</p>
<p>“Biasa aja. Kita anggap tidak ada. Kalau diminta untuk bertanya, jangan merespon”, jawabku.</p>
<p>“Kamu sih enak jarang ditanya, lha Aku?”, kata Allyn.</p>
<p>“hehehehe&#8230;”, aku tersenyum.</p>
<p>Pembicaraan dengan tema yang sama juga terjadi pada kelompok – kelompok lainnya. Wajah tegang, bingung dan takut bercampur baur seolah menyesali perbuatan mereka minggu lalu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, bagiku perjuangan untuk bebas dari Ibu Vonny sudah dimulai dan membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya. Sikapku terhadap Ibu Vonny tidak berubah. Apalagi beberapa hari lalu, kami sempat dipanggil oleh Ibu Vonny berkaitan dengan masalah kami.</p>
<p>Waktu itu aku, Awet, Allyn dan Ninit ke sekolah di sore hari dalam rangka kegiatan ekstrakurikuler yang bejibun.Selain belajar, kami juga menjadi anggota PMR, pengurus OSIS, pengurus majalah sekolah, dan segudang kegiatan lainnya. Apalagi kami sekarang sudah kelas II yang merupakan kelas paling diandalkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan kami adalah biangnya. Awet merupakan ketua OSIS dan aku sendiri ketua editor majalah sekolah monumen. Baru saja kami melangkah dari pintu sekolah, kami bertemu Ibu Vonny.</p>
<p>“Kalian berempat menghadap saya dulu!”, ujar beliau saat itu, ketika melihat kami masuk. “SEMUA! Mulai dari Jenita, yang lainnya menunggu di luar”</p>
<p>Kami saling menoleh dengan hati gundah. Wajah Allyn makin tidak karuan, terbayang diwajahnya nilai biologi yang menodai rapor semester nanti. Aku sendiri bingung dengan permainan Ibu Vonny yang seperti ini. Bermain dengan Intimidasi yang menurut aku tidak terhormat. Sama seperti para politikus yang kalah, kemudian melakukan intimidasi terhadap lawan, agar mundur. Wajah Ninit yang berwarna gelap terlihat memutih sedikit karena pucat. Matanya berputar ke arah kami meminta dukungan moril, sayang kami tak bisa memberikan dukungan yang dibutuhkannya.</p>
<p>“Baik bu!”, jawab Ninit dengan suara yang agak serak. Dengan ragu dia melangkah mengikuti Ibu Vonny. Kami memilih duduk di teras sekolah seperti pasien menunggu panggilan dokter, sesekali kami mencuri dengar dengan menempelkan telinga di dinding kantor guru.</p>
<p>“Duduk!”, dinginnya suara Ibu Vonny menusuk seperti pisau tajam. Ninit duduk dengan rapi di kursi yang terletak di depan Ibu Vonny.</p>
<p>“Kamu orang dari suku mana?”, tanya Ibu Vonny lebih dingin lagi.</p>
<p>“Orang Asli Belitung Ibu, saya lahir di sini”</p>
<p>“Pantas!”, ujar beliau sengit. “Kalian semuanya manusia tidak tahu sopan santun, tak berguna!”</p>
<p>“Apa alasan kamu dengan tanda tangan itu?”, tambah beliau</p>
<p>Ninit terdiam tak bisa menjawab. Dia hanya bisa tertunduk bingung tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia tidak menyangka akan mengalami situasi seperti ini. Kasihan dirimu Jenita.</p>
<p>
“Kamu pikir saya suka mengajar kalian?”, lanjut Ibu Vonny. Selanjutnya kata – kata yang dikeluarkan oleh Ibu Vonny sudah mulai kabur, tak terdengar oleh Ninit. Baginya dalam posisi seperti ini sangat menyulitkan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi seorang siswa kelas 2, walaupun badannya termasuk bongsor, Ninit bukanlah orang yang berani. Ninit hanya bisa menunduk lesu seperti seorang anak dimarahin oleh orang tuanya.</p>
<p>Sepuluh menit kemudian, dengan langkah gontai dengan wajah tersenyum getir keluar dari ruangan guru. Kami bertiga mulai gemetar, menunggu giliran dipanggil. Panggilan selanjutnya jatuh pada Allyn, lalu Awet dan tentu akhirnya giliranku akan tiba menghadap interrogasi bu Vonny.</p>
<p>Mendengar cerita Ninit dan Allyn &#8211; bagaimana interrogasi Ibu Vonny berjalan &#8211; aku memikirkan strategi yang tepat untuk menghindar dari cercaan Ibu Vonny. Siapa yang dikagumi Ibu Vonny bahkan siapa dihormati Ibu Vonny aku harus mengetahui dan berpikir keras untuk itu. Aku bisa membaca bahwa Ibu Vonny tidak terlalu menghina Allyn, mungkin dikarenakan Allyn adalah anak yang pintar di kelas kami, atau bisa jadi karena dia bukan asli orang Belitung. Belum sempat saya berpikir mendapatkan cara yang tepat dalam menghadapi Ibu Vonny, Awet sudah muncul di pintu dengan wajah yang tersenyum pahit.</p>
<p>
“Fi, kamu dipanggil”, katanya, sebenarnya tidak perlu karena aku tahu bahwa masa persidanganku telah tiba. Dengan lesu dan takut aku masuk ke dalam ruangan guru, tanganku terasa dingin, wajahku pucat dan jantungku terasa berdetak lebih cepat. Kulihat ibu Vonny duduk sendirian di ruangan ini seperti seorang eksekutor yang mengerikan. Guru-guru lainnya sedang mengajar sehingga ruangan menjadi sepi, sesuai dengan tempat interrogasi seperti yang kulihat di film-film detektif.</p>
<p>“Duduk!”, suara dingin ibu Vonny menusuk jantungku. Ingin rasanya kuberlari dari depan Ibu Vonny. Aku lebih memilih soal ulangan yang berat daripada bertemu Ibu Vonny seperti ini. Aku duduk di depan Ibu Vonny dengan santun, mudah-mudahan beliau tidak terlalu marah padaku.</p>
<p>“Saya lihat, kamu salah seorang yang menandatangani”, ujar beliau “Kenapa?”</p>
<p>“Tanda tangan itu adalah kesepakatan kami satu kelas ibu”, kataku memberanikan diri dengan suara bergetar “Tidak bisa kita lihat secara perorangan, tetapi satu kelas”</p>
<p>“Mengapa tidak dibicarakan dulu dengan Ibu tentang sikap kalian itu? Ibu tahu beberapa dari kalian tidak menyukai ibu, mungkin dari cara mengajar atau yang lainnya. Ibu tahu kalau ibu sering dipermainkan dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang bertujuan menyudutkan. Termasuk pertanyaan dari kamu. Padahal ibu hanya ingin membatasi tema pelajaran jangan sampai keluar dari batas, sebab kalau keluar dari batas, kalian semua nanti tidak akan belajar dengan benar sesuai dengan kurikulum”, ucapan Ibu Vonny. Astaga!, Ibu Vonny tahu kalau sering kupermainkan dengan pertanyaan konyol. “Gawat! Aku harus membela diri”, pikirku.</p>
<p>“Tapi bu, jika kita hanya mengikuti kurikulum pelajaran Ibu jadi tidak menarik, tidak ada tantangan dan menurut saya pelajaran tersebut bahkan tidak akan menunjang masa depan saya nanti. Saya bersumpah tidak akan mengambil pekerjaan yang berkaitan dengan biologi”</p>
<p>“Fi, kita harus mengikuti kurikulum yang diberikan pemerintah, supaya kalian lulus. Kita tahu bahwa kurikulum memang tidak menarik, tetapi yang penting semua itu adalah dasar dari pelajaran berikutnya. Kalau kamu nanti mau mengambil kedokteran, kamu harus mempelajari struktur sel. Jika kamu mau mengambil pertanian pun kamu harus mempelajari biologi tanaman”</p>
<p>“Masalahnya bu kami&#8230;”</p>
<p>“Satu hal lagi!”, Ibu Vonny memotong dingin. “Pelajaran Ibu akan mendukung kenaikan kelas bagi kamu. Jika kamu gagal, maka kamu akan tinggal kelas, sepintar apapun kamu”</p>
<p>Aku sudah tidak bisa berbicara lagi. Kata – kata terakhir merupakan ultimatum dan secara tidak langsung beliau menyatakan bahwa pelajaran yang diajarkannya sama pentingnya dengan pelajaran yang lainnya, seperti matematika, fisika atau bahkan kimia. Ceramah Ibu Vonny yang lainnya tidak kudengar lagi. Aku sudah tahu bahwa ibu Vonny tidak akan menyerahkan kekuasaannya kepada guru lain. Dan jika hal itu terjadi, aku bersumpah tidak akan mengalah. Aku akan terus memperjuankan supaya ibu Vonny tidak berdiri dengan gagah lagi di depan kelas kami. Aku harus mencari cara lain lagi agar tujuan kami tercapai. Aku tidak perduli dengan kurikulum yang harus diikuti oleh Ibu Vonny, yang penting bagi kami adalah bebas dari Ibu Vonny.</p>
<p>“Katanya kalian ke rumah Ibu Taty kemaren, Ada apa?”, tanya Alok membuyarkan lamunanku.
</p>
<p>Ibu Taty adalah salah satu guru yang mendukung terhadap perjuangan kami. Beliau juga merupakan guru senior yang dikagumi oleh anak-anak kelas kami, walaupun kadang-kadang menyebalkan terutama jika sudah menyangkut kedisiplinan.</p>
<p>“Biasa saja beliau bertanya dengan kita, alasan apa yang membuat kita melakukan hal itu”, jawab Awet, “Kita ceritakan apa adanya saja”</p>
<p>“Menurut beliau, Ibu Vonny memang memiliki sikap dan kelakuan yang tidak terpuji dari hari pertama masuk ke SMA ini. Menurut bu Taty &#8211; ibu Vonny sudah menanyakan meja kerjanya dengan cara yang angkuh, sejak pertama kali masuk ke kantor guru”</p>
<p>“Siapa saja yang ikut ke sana?”</p>
<p>“Ivan, Ninit, Aku, Syaifi, Fara, Allyn dan Adi”</p>
<p>“Tapi beliau masih mendukung &#8216;kan?”</p>
<p>Tanpa kami sadari, Pak Dian masuk kelas dengan wajah senyum dan bersahabat, aku terhenyak gembira, doaku terkabul agar ibu Vonny tidak mengajar kami hari ini. Pak Dian adalah guru Biologi kelas 3 dan merupakan salah seorang guru senior di SMA ini. Aku dan Alok segera bergerak ke arah tempat dudukku sambil tersenyum hormat kepada Pak Dian. Kulihat wajah anak-anak sumringah menunjukkan kemenangan akan perjuangan kami. Aku sendiri belum yakin jika belum mendapat kabar dari Pak Bahtiar secara langsung nasib petisi kami, dan aku tahu bahwa Pak Dian masuk kelas ini hanya sementara waktu saja. Bisa jadi hari ini Ibu Vonny ada halangan, atau melahirkan lagi – kuharap beliau segera melahirkan – atau bisa jadi telah terjadi pembicaraan yang alot di ruangan kepala sekolah mengenai nasib Ibu Vonny selanjutnya. Yang jelas bagiku, masuknya Pak Dian bukan berarti perjuangan telah selesai. Yang kutahu, kabar yang jelas belum ada dari Pak Bahtiar, berita tentang penggantian Ibu Vonny masih gelap gulita.</p>
<p>“Hari ini kita tidak bisa belajar banyak, karena ibu Vonny tidak memberikan bahan terakhir yang akan dibahas, atau ada masukan?”, kata Pak Dian, setelah basa-basi dengan percakapan ringan. Tidak ada sedikitpun menyinggung tentang penggantian Ibu Vonny, walaupun secara implisit beliau mengatakan hal seperti itu.</p>
<p>“Kita ulangi pelajaran yang lalu aja pak”, ujar Allyn seperti biasa untuk mengambil hati guru.</p>
<p>“Boleh, mulai dari bab berapa Allyn”</p>
<p>“Bab 4, pak”, ujar Allyn cepat. Allyn memang seorang siswa yang pintar, menurutku lebih pintar lagi mengambil hati guru.</p>
<p>“Baiklah, kita mulai dari bab 4, silakan buka buku bab 4 dan ajukan pertanyaan jika belum mengerti”</p>
<p>Pelajaran hari ini lebih baik daripada sebelumnya ketika diberikan Ibu Vonny, semangat belajar biologi anak-anak lebih terasa. Mungkin karena Pak Dian lebih memahami jiwa remaja seperti kami, atau bisa jadi Pak Dian adalah seorang guru yang pengalaman, atau karena hanya karena perubahan yang baru terjadi. Aku masih membawa buku dari perpustakaan umum, tapi tidak berusaha membuat pertanyaan di luar konteks pelajaran. Pertanyaan yang memojokkan sudah tidak perlu bagi saya, lagi pula yang memegang kelas hari ini adalah Pak Dian, seorang guru yang kuhormati. Anak-anak memberikan pertanyaan yang segera dijawab dengan baik oleh Pak Dian sebagai bukti bahwa beliau sangat menguasai bahan pelajaran. Dengan memberikan contoh dan analog pak Dian memberikan pemahaman yang sangat kami dambakan dari seorang guru. Aku sadar bahwa Ibu Vonny sebenarnya menguasai pelajaran yang dia ajarkan kepada kami, hanya cara mengajar yang membosankan dan seringkali sikap sombong beliau yang membuat kami muak terhadap ibu Vonny. Kami semua berharap Pak Dian akan menggantikan Ibu Vonny secara permanen, yang menunjukkan kemenangan kami melawan Dominasi Ibu Vonny.</p>
<p><strong><em>Bersambung Bag. 4 Kemenangan Bagi Semua</em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=10&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/18/bu-vonny-yang-terbuang-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bu Vonny yang Terbuang (#2)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/15/bu-vonny-yang-terbuang-bag-2/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/15/bu-vonny-yang-terbuang-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 02:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[After School
Setiap pelajaran Biologi aku selalu membawa buku referensi diluar buku pelajaran yang kupinjam dari perpustakaan umum milik pemerintah. Tujuanku hanya satu, mempermalukan Ibu Vonny dengan memberikan pertanyaan yang tidak ada di buku pelajaran. Dengan begitu, aku bisa memberikan bukti pada anak – anak bahwa Ibu Vonny pada dasarnya adalah sarjana yang tidak tahu apa-apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=8&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>After School</strong></span></span></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana,sans-serif;">Setiap pelajaran Biologi aku selalu membawa buku referensi diluar buku pelajaran yang kupinjam dari perpustakaan umum milik pemerintah. Tujuanku hanya satu, mempermalukan Ibu Vonny dengan memberikan pertanyaan yang tidak ada di buku pelajaran. Dengan begitu, aku bisa memberikan bukti pada anak – anak bahwa Ibu Vonny pada dasarnya adalah sarjana yang tidak tahu apa-apa dan membuatku puas telah mempermalukan beliau di depan kelas. </span></p>
<p>Hari ini, ada lima pertanyaanku di bidang biology pertanian yang tak terjawab. Ibu Vonny tidak merasa bodoh, karena pertanyaan kami memang tidak ada di buku pegangan biology kelas dua. Tapi aku merasa menang mutlak, karena anak – anak semakin yakin akan kualitas seorang guru bernama Ibu Vonny. Seorang sarjana dengan pengetahuan sebatas buku pelajaran SMA</p>
<p>Selama dua jam pelajaran Ibu Vonny menjadi bulan – bulanan kami. Penjelasannya tidak kami dengarkan, tetapi ketika diberi kesempatan bertanya, kami bertanya hal – hal di luar konteks yang diajarkan, yang membuat Ibu Vonny gelagapan dalam menjawab. Kami hanya tersenyum sinis melihatnya di depan dan menjadi permainan kami semua walaupun beliau tidak menyadarinya. “Sebentar lagi Ibu, dirimu akan hilang dari kelasku. Kemerdekaan kami sudah diambang mata, tinggal menunggu satu fajar lagi”, pikirku dengan seyum kemenangan.</p>
<p>Lonceng tua sekolah kami tiba – tiba berbunyi tanda sekolah selesai hari ini. Anak-anak dengan riang berlarian keluar kelas, tidak peduli dengan Ibu Vonny yang masih berbicara menutup pelajaran. Memang, bagi kami Ibu Vonny tidak pernah ada. Sikap beliau selama inilah yang membuat kami muak. Wajah cantik berkulit putih pucat itu tampak seperti nenek sihir yang harus kami hindari. Aku, Ivan, Alok, Awet, Allyn, dan beberapa anak lain yang peduli tetap dikelas dan  mulai menyusun rencana. Kami menunda kepulangan kami demi kebebasan yang sebentar lagi kami nikmati.</p>
<p>Siapa yang menghadap Pak Bahtiar!”, tanya Allyn dengan wajah memelas supaya tidak ditunjuk. Dia paling kuatir kalau disuruh menghadap Guru membawa permasalahan seperti ini, Allyn lebih senang menjaga image di depan para guru. “Penyakit murid teladan”, pikirku.</p>
<p>&#8220;Awet!”, kataku menoleh ke arah Awet,“Kamu ketua kelas”. Awet melotot, tapi dia tahu bahwa aku benar, sebab dia dipilih jadi ketua kelas bukan untuk senang-senang saja.</p>
<p>&#8220;Kita menghadap berdua Fi!”, katanya, membalasku sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku terkejut sejenak.</p>
<p>&#8220;Ok deh&#8221;</p>
<p>Kami berjalan ke ruang guru dan melihat Pak Bahtiar sedang duduk di meja beliau yang terletak di tengah, membelakangi jendela. Beberapa guru nampak masih sibuk merapikan meja mereka masing-masing, Ibu Vonny masih ada di tempat duduknya sambil membereskan buku-bukunya. Beberapa guru berjalan keluar untuk makan siang sebelum memulai aktifitas pekerjaan rutin mereka, mengajar pada sesi kedua nanti. Kami menunggu Bu Vonny keluar ruangan, karena kami tidak ingin kehebohan terjadi ketika kami masih di dalam ruangan. Kami ingin Pak Bahtiar melakukannya dengan kepala dingin dan berpikir untuk masa depan anak didiknya. Kami mengerti jika beliau membutuhkan waktu yang cukup untuk melaporkan ke Pak Sunardi, kepala sekolah kami.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, kami lihat Ibu Vonny keluar dari ruangan guru. Jantungku seperti meloncat melihat beliau, karena saat yang kutunggu telah tiba. Suasana menegangkan terasa seperti suasana menunggu hasil ujian akhir. Allyn gelisah, Awet apa lagi, Aku sendiri khawatir Pak Bahtiar akan menolak tandatangan kami, yang akan menyebabkan langkah awal perjuangan kami akan mengalami hambatan serius, di lain pihak kebencian kami terhadap Ibu Vonny sudah memuncak hingga di ubun-ubun.</p>
<p>Pak Bahtiar adalah guru wali kelas kami sekaligus guru matematika. Berpenampilan sederhana tidak banyak maunya dan seingatku bajunya selalu berwarna biru kehijauan sedikit putih lusuh karena sering dicuci pake deterjen. Rambutnya yang kriting tidak pernah disisir apalagi menggunakan minyak rambut dan sehingga tampak seperti rambut Albert Einstein, dan kupikir pak Bahtiar memang jenius seperti professor pencipta teori relativitas itu. Sebagaimana kebanyakan orang jenius, saat mengajar pak Bahtiar sering tersenyum dan tertawa sendiri walaupun kami tidak mengerti apa yang ditertawakannya. Mungkin lelucon beliau adalah lelucon orang brilliant, sehingga otak kami tidak mampu mencerna lelucon yang membuat beliau tertawa.</p>
<p>Aku dan Awet masuk ke ruangan guru dan pelan-pelan kami mengetuk pintu. “Permisi pak”, kata awet ketika pak Bahtiar memandang kami berdua.</p>
<p>&#8220;Masuk Ferry”</p>
<p>&#8220;Terima kasih pak”</p>
<p>Kami berdua melangkah ke arah pak Bahtiar. Sementara Allyn, Ivan dan yang lainnya mengintip dari Jendela, dengan jantung yang bergemuruh.</p>
<p>&#8220;Bisa minta waktu sebentar, pak ?” tanya Awet.</p>
<p>&#8220;Ya, silakan”</p>
<p>&#8220;Begini pak, tadi siang kami mengadakan rapat kecil mengenai Ibu Vonny. Rapat tersebut dimulai dengan adanya usulan salah seorang anak dan kemudian kami membicarakannya. Usulan tersebut adalah&#8230;”, awet menceritakan kronologi kejadian hingga kami mengumpulkan tandatangan anak-anak kelas A1 untuk mempertegas niat kami. Kulihat sedikit perubahan expresi pak Bahtiar yang berusaha ditutupi untuk menjaga wibawa. Rambutnya yang kriting semakin acak-acakan ketika mendengar cerita Awet yang baru kali ini dihadapinya sebagai seorang wali kelas. Selama mengajar di SMA ini, tidak pernah terjadi hal yang memusingkan seperti masalah yang diceritakan Awet.</p>
<p>&#8220;Baiklah, bapak terima laporan kalian, akan bapak bicarakan dengan kepala sekolah”, ujar beliau penuh diplomatis, setelah mendengar penjelasan Awet dan sedikit tambahan sana-sini dariku. Aku sendiri tidak puas akan ucapan pak Bahtiar, apa daya begitulah aturan yang ada. Aku menginginkan hasil yang segera dapat dirasakan untuk seluruh kelas. Yang membuat kami sedikit lega hanyalah diterimanya kertas &#8216;mosi tak percaya&#8217; yang berisi tandatangan seluruh siswa kelas A1. Bola tersebut telah berada ditangan pak Bahtiar, kami hanya bisa menunggu perkembangan selanjutnya.</p>
<p>&#8220;Terima kasih pak”, ujar Awet lagi. “Kalau begitu, kami permisi pulang pak”</p>
<p>Dengan wajah lega bercampur lapar kami melangkan keluar dari ruangan guru. Demikian pula anak-anak yang menunggu di luar dengan pertanyaan yang masih berkecamuk di benak mereka. Tentu mereka ingin mendengar respon apa yang diberikan oleh Pak Batiar. Segera setelah kami melangkah keluar dari pintu ruangan, kami langsung dihadang, seperti anak ayam yang menghadang induknya.</p>
<p>&#8220;Kita menunggu kabar selanjutnya dari Pak Batiar, beliau akan membicarakan dengan Kepala Sekolah”, Awet berbicara seperti seorang politisi. Wajah anak-anak sedikit kurang puas dengan jawaban itu, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, sebab keputusan besar memang harus dipikirkan matang-matang.</p>
<p>Kami bersama melangkah ke tempat parkiran motor di bawah pohon kelapa sebelah kiri sekolah. Kulihat hanya kendaraan kami yang ada menunggu dengan sabar, sedangkan kendaraan lainnya telah pulang bersama tuannya masing-masing. Dengan pikiran yang penuh dengan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, kami pulang dan menutup hari melelahkan ini. Memang, hari ini sangat melelahkan.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;font-size:x-small;" align="justify"><strong><em>Bersambung Bag. 3 Interrogasi</em></strong></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=8&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/15/bu-vonny-yang-terbuang-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bu Vonny yang Terbuang (#1)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/12/bu-vonny-yang-terbuang/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/12/bu-vonny-yang-terbuang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 19:56:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Bu Vonny adalah guru yang manis, cantik, berkulit putih sedikit pucat dengan bentuk wajah mirip pemain utama film Escrava Issaura. Perutnya yang besar berisi janin yang tak sabar ingin merasakan nikmatnya dunia, membuat Bu Vonny melangkah seperti anggota kelompok marching band pembawa bass drum menuju kelas kami sambil mengapit beberapa buah buku mata pelajaran Biology [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=6&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Bu Vonny adalah guru yang manis, cantik, berkulit putih sedikit pucat dengan bentuk wajah mirip pemain utama film </span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span>Escrava Issaura</span></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">. Perutnya yang besar berisi janin yang tak sabar ingin merasakan nikmatnya dunia, membuat Bu Vonny melangkah seperti anggota kelompok marching band pembawa bass drum menuju kelas kami sambil mengapit beberapa buah buku mata pelajaran Biology di tangan kanannya. Guru cantik itu momok bagi kelas kami.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Seharusnya kami bangga diajar oleh Bu Vonny, salah seorang guru yang berpendidikan setingkat sarjana di sekolah kami, yang mau mengabdikan dirinya di pulau kecil yang tidak nampak di peta Indonesia, saat TVRI selesai menayangkan berita jam 7 malam. Di sini &#8211; SMA Negeri Tanjungpandan &#8211; hanya segelintir saja guru yang berpendidikan setinggi Bu Vonny, kebanyakan adalah Diploma 3 baik lulusan jawa maupun Palembang. Tapi sikap kami tidak sebangga itu, karena kami memiliki penilaian sendiri terhadap beliau, dan penilaian itulah yang membuat kami melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Seingatku, Bu Vonny hamil setiap tahun, entah karena cantik atau di Belitung tidak ada hiburan lain yang lebih menyenangkan, yang jelas menurutku Ibu Vonny lebih cocok kalau hamil. Aku seringkali terenyuh ketika melihat seorang ibu muda yang cantik seperti Bu Vonny membawa beban di rahimnya sambil mengajar anak-anak yang bandel dan tidak tahu terima kasih seperti kami. Membawa buku tebal, menulis di papan tulis sambil berteriak-teriak menjelaskan ilmu biologi kepada kami, sementara kami tidak peduli dengan ilmu yang penuh dengan tulisan latin yang susah dibaca, apalagi diingat.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Sepuluh Menit Sebelumnya</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Hari ini menggembirakan, suasana sejuk dengan tiupan angin sepoi – sepoi  dari halaman kelas yang ditumbuhi rerumputan hijau dan pepohonan akasia. Taman kelas pun ditumbuhi bunga-bunga yang cantik menawan, dipelihara oleh tangan-tangan gadis Kelas 1.1 yang masih bersemangat untuk berbakti kepada SMA yang baru mereka nikmati. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Kelas satu adalah kelas siang yang terpaksa berbagi ruangan dengan kelas dua. Jumlah ruangan  <span>di sekolah kami hanya sebelas, sementara jumlah kelas yang hanya ada 16</span><strong>,</strong> tentu jumlah ruangan kelas tidak mencukupi untuk masuk sekaligus dipagi hari. Dengan adanya pembagian kelas seperti ini, anak-anak kelas dua sering saling berkirim surat dengan kelas satu yang duduk satu bangku dengan mereka. Kebetulan Kelas A1 berbagi kelas dengan Kelas 1.1 dan pemeliharaan taman kelas diserahkan kepada kelas yang lebih junior. Enaknya jadi senior.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Aku duduk bersama Alok, temanku yang kukenal sejak SD Regina Pacis, dan menjadi sahabat sejak aku duduk di bangku SMP. Duduk dekat jendela kaca sangat menyenangkan, jika pelajaran membosankan &#8211; seperti pelajaran Ibu Vonny &#8211; aku bisa memandang keluar, ke arah bunga-bunga kuning yang cantik di halaman kelas, melihat anak-anak kelas lain yang berolahraga di lapangan sepak bola, atau melihat beberapa anak yang bolos berlarian ke arah kantin sekolah. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Ibu Vonny belum nampak menuju kelas kami. Anak-anak kelas A1 masih saling bercanda, suaranya cukup keras sehingga bisa di dengar hingga ke kelas lain. Untunglah kelas kami berada di sebelah perpustakaan, sehingga tidak terlalu mengganggu kelas tetangga. Dicky – gigolo A1 – sedang bercanda dengan Allyn, Farah, Ninit dan Awet. Masri and the gank – anak penggemar dangdut – sedang berbicara serius, mungkin membicarakan jadwal Musik Group Kencana malam ini. Ema dan Merry sedang diskusi sesuatu yang pasti bukan pelajaran. Semuanya sibuk dengan aktifitas dan pembicaraan masing-masing.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Aku, Ivan dan Alok – Geng dari SMP – sedang berbicara tentang Ibu Vonny, yang menjadi momok di kelas kami sambil sesekali melirik ke arah ruang guru. Kami tidak suka cara ibu Vonny mengajar dan kami sering membuat pertanyaan yang diambil bukan dari buku pegangan, tentu saja ibu Vonny tidak bisa langsung menjawab, dan kami simpulkan beliau tidak bisa apa-apa. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Sebenarnya ketidaksenangan kami pada Bu Vonny didasarkan pada sifat superior beliau seolah – olah kami adalah orang jajahan yang kasar, bodoh dan tidak tahu sopan-santun, <span>sebagai orang Belitung</span>. Dengan mulut cantiknya Ibu Vonny sering mengeluarkan kata-kata yang menyinggung hati, sehingga kami merasa harus berjuang demi kebebasan dari cengkraman Ibu Vonny yang ganas itu. “Kita harus Merdeka!!”, begitulah kira-kira suara hati kami bertiga – terutama aku dan Ivan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Gimana caranya supaya kita bebas dari Bu Vonny?”, tanya Alok</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Tenang!, kita panggil Awet!”, kataku menenangkan Alok, sambil bergerak berjalan menuju Awet dan Allyn.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Awet – ketua kelas kami – adalah sahabat baikku. Orangnya menyenangkan, tajir, supel dan merupakan pujaan para gadis – walaupun menurutku aneh. Dengan wajah pas-pasan seperti Awet, banyak bicara, berani dan sedikit punya otak adalah modal utama menggaet para gadis. Dia termasuk orang yang dewasa prematur, sebab sejak SMP sudah mulai mengincar para gadis, walaupun masih menggunakan celana pendek berwarna biru di sekolah. Namanya ada dua – sebagaimana orang non pribumi jaman Rezim Soeharto – yakni A Kwet disingkat Awet dan Ferry. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Wet!”, kataku sambil memegang pundaknya pelan dan berbisik. “Aku mau bicara, sebentar”.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Ada apa Fi?”, tanya Awet penasaran</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Kita bicara di belakang dengan Ivan dan Alok”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Gak bisa di sini?”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Bentar aja!”, kataku memaksa.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Ok!”, jawabnya “Sorry Lyn aku ke Syaifi dulu”, tambahnya berpamitan dengan Allyn dan Farah. Kami menuju ke arah Alok dan Ivan yang sedang menunggu dengan wajah yang serius seperti orang yang menunggu antrian toilet sekolah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Begini Wet!”, kata Ivan segera setelah Awet duduk di bangku, “Anak-anak tidak menyukai Bu Vonny”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Awet terhenyak sejenak, terkejut atas pernyataan Ivan, dan segera aku tambahkan supaya dia tidak sempat berpikir “Menurut kamu gimana?” </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Iya sih. Cara ngajarnya gak enak, bikin ngantuk!”, katanya. Kulihat wajah Ivan tersenyum dan antena di telinganya kembali bergerak-gerak, tanda dia senang akan jawaban yang diberikan oleh Awet. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Gimana kalau kita demo supaya bu Vonny tidak mengajar kita lagi?”, tanyaku. Alok mengangguk – angguk tanda setuju. Dia memang lebih pendiam dibandingkan temanku yang lain. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Coba tanya anak-anak</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"> yang</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"> lain. Allyn pasti setuju”, Ivan manambahkan. Wajah Awet mulai kelihatan bersemangat ketika kami berlindung dengan nama Allyn yang merupakan panutan di kelas kami. Sorry Lin, kami sering memanfaatkan kamu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Ok!, aku mau bicara di depan kelas!”, kata Awet, “Kita lihat respon anak-anak”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Dengan tergesa Awet melangkah ke depan kelas, dan segera mengetok papan tulis berwarna hitam dengan penghapus kapur sambil berteriak,“PERHATIAN!”. Awalnya anak-anak tidak menggubris dan terus asyik dengan kegiatan mereka masing-masing kecuali Allyn dan Farah yang duduk paling depan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">PERHATIAN!”, suara Allyn menggelegar memenuhi ruangan kelas. Seperti suara anak ayam lapar yang baru mendapatkan gabah, kelas mendadak sunyi. Setiap wajah menghadap ke depan kelas, melihat Awet yang ingin menyampaikan sesuatu. Sejenak kesunyian menyelimuti, menunggu apa yang akan disampaikan oleh sang ketua kelas, dengan hati penuh tanya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Kita tidak menginginkan Ibu Vonny masuk ke kelas kita lagi. Setuju?”, ujar Awet seperti seorang politisi sedang rapat di Dewan Perwakilan Rakyat.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Setuju!!!”, suara koor anak-anak sekelas membahana merdu di telinga kami. Ivan, Alok dan Aku merasa menjadi seorang politisi yang sukses mendapatkan suara di pemilu. Suara kemenangan melawan cengkraman Ibu Vonny. “MERDEKA!”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Ok!”, kata Awet, “Allyn akan menentukan mekanismenya. Silakan Lin”. Dengan ragu Allyn melangkah maju. Wajahnya masih tidak yakin akan tindakan kami yang berani. Mungkin, khawatir nilai biologi-nya turun. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Kami bertiga semakin percaya bisa menyingkirkan Ibu Vonny dari kelas ini. Tugas kami hanya sampai di sini, mempengaruhi anak – anak untuk membebaskan kelas dari jajahan Ibu Vonny. Kami hanyalah pemantik, dan tugas pemantik selesai ketika api telah menyala. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Kita akan kumpulkan tanda tangan, lalu kita serahkan dengan Pak Bahtiar!”, ujar Allyn di depan Kelas, dia mulai yakin akan keputusan anak-anak. Anak – anak  makin bergemuruh mendengar perkataan Allyn, juga membicarakan tindakan kami semua.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Dengan sigap, Ninit membuat kertas tanda tangan. Sementara Haryono, berjaga di depan pintu, kalau – kalau Ibu Vonny datang lebih cepat. Kertas berjalan dari satu tangan ke tangan lain hingga akhirnya seluruh kelas telah menandatanganinya kecuali satu orang. Aku tidak tahu apa alasan dia tidak mau tandatangan, walaupun wajahnya mengingatkanku<strong> </strong>dengan wajah preman pasar, tapi hatinya ternyata penakut. Tapi aku tak perlu berpikir lama, suara yang kami dapatkan, cukup untuk membuat ibu Vonny bertekuk lutut di hadapan kami. Luar Biasa!</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Beberapa detik sebelum ibu Vonny masuk, tanda tangan telah terkumpul di dalam genggaman Awet. Anak – anak masih membicarakan tindakan kami barusan, dan apa yang akan dilakukan oleh pak Bahtiar nanti.  Proses selanjutnya kami tunda hingga pelajaran biologi selesai hari ini. Detik – detik kematian Ibu Vonny sudah dekat, yang kami perlukan hanyalah sedikit kesabaran untuk menerima pelajaran biologi dari beliau hari ini. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">MERDEKA!”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><em><strong>bersambung ke bag 2 &#8211; After School</strong></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=6&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/12/bu-vonny-yang-terbuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>