<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Kecil &#187; Masa Kecil</title>
	<atom:link href="http://ceritakecil.wordpress.com/tag/masa-kecil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritakecil.wordpress.com</link>
	<description>Episode Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Sep 2009 00:20:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ceritakecil.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/75f64b6fe2a732483b1bfba30e468135?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cerita Kecil &#187; Masa Kecil</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Deklamasi Kemerdekaan (#4)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/07/01/deklamasi-kemerdekaan-bag-4/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/07/01/deklamasi-kemerdekaan-bag-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 03:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Deklamasi

Saat – saat pementasan sudah di pelupuk mata. Panggung besar dan luas berdiri gagah di depan sekolah, dihiasi dengan spanduk dan backdrop berisi kalimat suka cita menyambut hari kemerdekaan dan doa demi masa depan Indonesia. Sementara itu pohon pinang sudah berdiri tegak agak jauh dari panggung, sayang hadiahnya belum digantung dan lapisan pelicin pun belum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=56&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Deklamasi</b>
<p>
Saat – saat pementasan sudah di pelupuk mata. Panggung besar dan luas berdiri gagah di depan sekolah, dihiasi dengan spanduk dan backdrop berisi kalimat suka cita menyambut hari kemerdekaan dan doa demi masa depan Indonesia. Sementara itu pohon pinang sudah berdiri tegak agak jauh dari panggung, sayang hadiahnya belum digantung dan lapisan pelicin pun belum dioles. Menurut Pak Udin, pohon itu akan dioles dan dihias hadiah setelah upacara agustusan biar tidak rusak, dan siap sebelum acara pentas seni dimulai. Garis pembatas rute perlombaan balap karung pun sudah dibuat menggunakan tali rapia, demikian pula tali tambang untuk pertandingan tarik tambang pun sudah disiapkan.</p>
<p>
Aku grogi dan tidak bisa diam sejak pagi. Puisi yang akan kubawakan nanti sore berkali-kali kubaca dan selalu saja ada yang salah. Memang aku bukan orang yang suka menghapal. Emak mengerti keadaanku, tetapi beliau tidak bisa banyak membantu selain memberikan semangat yang sudah kudengar berulang kali. Sore ini, emak tidak bisa menonton dan kuharap bapak akan melihatku penampilanku, walaupun aku tidak terlalu yakin beliau bisa datang. </p>
<p>
Beberapa kali teman sekampungku mengajak bermain sepak bola dan terpaksa kutolak karena aku harus bersiap untuk acara nanti sore. Aku lebih suka di rumah latihan berpuisi supaya tidak ditertawakan penonton dan membuat aku malu. Berkali-kali ku coba mempraktekkan gaya berpuisiku di depan kaca dan menurutku selalu saja ada tidak sempurna. </p>
<p>
Pada jam dua sore aku sudah siap dengan pakaian pelautku yang sudah diambil emak beberapa hari lalu. Rambut kucelku di beri minyak supaya rapi dan baunya membuatku mau muntah hanya karena acara pentas seni aku harus rela rambutku diolesi minyak rambut. </p>
<p>
“Nanti kalau tampil harus berani ya. Kalau takut jangan lupa baca bismillah”, ujar emak sambil menyisir rambutku. </p>
<p>
“Iya mak”, ujarku. “Tapi aku belum hapal”</p>
<p>
“Tenang saja. Baca pelan-pelan dan pahami apa yang kamu baca”</p>
<p>
“Sudah dicoba mak, tapi tidak ada yang nyangkut di kepala. Lupaaa semua.”</p>
<p>
“Nanti juga bisa”, ucap emak sambil merapikan pakaianku dan membuant beberapa benang yang masih menempel. “Nah selesai, kamu segera berangkat.”</p>
<p>
“ &#8216;Kan masih lama mak”</p>
<p>
“Satu jam tidak lama. Nanti kamu harus lapor ke ibu guru dulu dan ibu guru akan mempersiapkan pementasannya. Kamu harus melihat kapan kamu tampil”</p>
<p>
“Tapi mak&#8230;”</p>
<p>
“Sekalian kamu menonton orang lain tampil. Biar kamu tahu”, emak memotong apa yang akan kuucapkan. “Pergi sana!”</p>
<p>
Dari kaca kulihat rambutku rapi mengkilat seperti orang malam mingguan nonton dangdut. Baju pelaut yang kubanggakan berwarna putih dengan strip hijau di lehernya yang lebar hingga ke belakang mirip dengan baju popeye sudah terpasang rapi. Sepatu lebaran berwarna hitam sudah mengkilat disemir menggunakan semir bapak. Jantungku semakin tegang dan tanganku kembali menjadi dingin.</p>
<p>
“I..iya mak”</p>
<p>
Aku melangkah ke luar rumah dan berjalan menuju sekolah. Kali ini aku tidak mau lama – lama di jalan, sebab aku harus terus bersiap-siap dan menghapal bait – bait puisi yang akan kubaca nanti, sehingga aku memilih jalur singkat melalui jalan setapak di sebelah kiri rumah besar. Kuharap anjingnya tidak menggongong padaku apalagi mengejarku. </p>
<p>
Di perjalanan kulihat Kumang dan Ambo tidak jadi bermain bola. Mereka ingin ikut denganku dan tentu dengan senang hati aku mengabulkannya. Kuharap kalau anjing rumah besar mengejar, anjing itu akan memilih mengejar mereka daripada mengejarku.</p>
<p>
Kumang dan Ambo adalah teman baikku yang tinggal di sebelah. Mereka tidak sekolah TK seperti aku, orang tua mereka akan menyekolahkan mereka langsung ke Sekolah Dasar. Menurut ibunya, sekolah TK tidak ada gunanya dan menghabiskan biaya. Kami bertiga adalah sahabat baik dan sering membuat kapal-kapalan dari dahan pohon sagu dan menambatkannya itu di parit belakang rumah. </p>
<p>
“Hati-hati, rumah itu ada anjing galak”, ujarku kepada Kumang dan Ambo ketika melewati rumah besar. Mereka terdiam sebentar dan kami melangkah pelan ke arah rumah yang berwarna putih itu. Kumang dan Ambo bersiap mengambil batu-batu kecil di jalanan. Mereka akan melempar batu ke arah anjing itu jika berani mengejar kami. Hal itu cukup menghibur walaupun aku lebih memilih tidak dikejar anjing sama sekali. Di tengah rumputan ilalang pendek kami berjalan pelan-pelan dan berhati-hati. Sebenanya ada orang lain yang berjalan menuju ke sekolah dan mereka tidak takut sama sekali. “Mungkin mereka tidak tahu betapa galaknya anjing itu”, pikirku. Aku yang tahu harus berhati-hati supaya tidak dikejar dan terkencing di celana dan membuat acara deklamasiku bubar dan tidak mendapatkan hadian dari bu Tini.</p>
<p>
Dari balik pagar tanaman yang membatasi rumah dengan jalan setapak ini, aku mengintip ke dalam sambil terus berjalan dengan pelan. Langkah kami semakin hati-hati dan pelan sekali, hingga tiba – tiba ”GUK&#8230;.GUK&#8230;GUK”, kami mendengar suara anjing mengonggong. Aku segera berlari sekencang-kencangnya tak menoleh ke kiri atau ke kanan, menyelamatkan diri dari anjing itu. Kumang dan Ambo langsung membuang batu di tangannya ikut berlari bahkan lebih cepat dari aku. “Apa gunanya batu di tangan kalau tidak untuk mengusir anjing”, pikirku. Beberapa kali aku hampir jatuh, tapi untunglah aku bisa menjaga keseimbanganku hingga baju pelautku tidak terlalu kotor. Aku ketinggalan di belakang, sementara suara anjing mengonggong masih terdengar, walaupun sudah mulai samar. Orang-orang melihat kami bertiga berlarian dan menganggap kami bermain kejar-kejaran. Aku terus berlari hingga akhirnya sampai di depan sekolah. Tidak kulihat seekor anjingpun yang mengejar kami, walaupun suara gonggongnya masih terdengar. Rupanya anjing itu hanya menggonggong tidak mengejar kami, karena terikat dengan rantai dekat kandangnya. Untunglah aku tidak terkencing di celana. “Hhhhhhhhhhhhhh&#8230;”, aku menarik nafas panjang, demikian pula Kumang dan Ambo. Kami pun tertawa lucu menertawakan kelakuan kami sendiri. Saatnya berkonsentrasi pada acara.</p>
<p>
Para penonton dan peserta sudah padat memenuhi lapangan sekolah kami. Orang-orang yang berjualan pun ikut berpesta menjajakan dagangannya. Penjual rokok keliling telah duduk di depan kotak rokoknya, dan tak lupa pedagang bubur tahu nongkrong lebih dekat dari biasanya. Banyak yang mengerubuti penjaja tahu itu, karena tahunya enak sekali. </p>
<p>
Aku melapor kepada ibu Tini bahwa aku sudah datang, dan sebuah permen lolipop disodorkan kepadaku. Kami diminta berkumpul di belakang panggung menunggu panggilan pembawa acara yang berarti harus berpisah dengan Kumang dan Ambo. Permen lolipop kuberikan kepada mereka berdua dan mereka pergi menyelinap ke depan panggung. </p>
<p>
Acara pentas seni diawali dengan acara seremonial yang membosankan. Pidato pak Lurah diikuti dengan laporan ketua panitia acara dan acara sambutan lainnya. Kami yang ada di belakang panggung menunggu dengan perasaan yang tidak karuan. Jantung berdebar dan tangan yang kembali dingin menjadi bagian dari kami. Aku, Nasri dan Agus berusaha menghilangkan rasa ini dengan cara bercanda. </p>
<p>
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba, dan membuat jantungku berdetak lebih kencang dan telapak tanganku menjadi lebih dingin dari biasanya. Acara inti dimulai dengan menampilkan Andri yang membawakan lagu LSD, diteruskan dengan nyanyian anak-anak lainnya yang dikombinasikan dengan tarian. </p>
<p>
“Acara berikutnya akan diisi oleh Syaifi yang membawakan Deklamasi Tukang Pos, tepuk tangan”, suara pembawa acara membahana ke seluruh lapangan.</p>
<p>
Aku terkejut merasa tidak siap dan langsung melarikan diri ke toilet di belakang sekolah. Aku tidak akan mampu berdiri di atas panggung ditonton puluhan bahkan ratusan pasang mata serta berbuat kesalahan di atas sana. Aku tahu aku sudah mati-matian menghapal isi deklamasi itu, tetapi aku tidak mampu membacakannya di atas panggung. Aku takut dan tidak peduli dengan hadiah. Aku akan bersembunyi di tolet kami yang bau dan tidak pernah disiram.</p>
<p>
“Adik Syaifi, silakan naik ke pentas”, kudengar pembawa acara masih memanggilku agar aku berani naik ke atas. Aku terus bersembunyi menunggu panggilan berhenti.</p>
<p>
Setelah beberapa kali memanggil dan tidak berhasil, akhirnya merekan menyerah kalah dan melanjutkan ke acara berikutnya yang diisi dengan pembagian hadiah hiburan kepada penonton yang berani tampil ke atas pentas. Aku lega dan keluar dari tempat persembunyianku dengan tenang.  </p>
<p>
“Aman&#8230;”, pikirku.</p>
<p>
Aku kembali ke belakang panggung, dan menghirup udara kebebasan. Dari jauh kulihat beberapa temanku memperebutkan hadiah dari bu Tini, aku segera berlari dan ikut dalam perebutan itu. Tiba-tiba bu Tini berkata:</p>
<p>
“Nah ini dia Syaifi. Kemana saja kamu ?”, tanya bu Tini. “Sekarang kamu naik pentas ya, nanti baru dikasih hadiah”</p>
<p>
Aku terkejut dan merasa tidak aman lagi, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. tanganku ditarik dan dibawa ke atas panggung ketika acara pembagian hadiah selesai. Dari atas pentas, kulihat penonton berdesakan ingin menonton lebih dekat. Kumang dan Ambo temanku berada di barisan paling depan, berdiri sambil tersenyum. Telapak tanganku dingin kembali, jantungku berdetak lebih kencang dan sekujur tubuhku gemetar. Kulihat Bang Latif – abang sepupuku – menontonku dengan senyum mengembang memberi dukungan dan aku sedikit lebih tenang. </p>
<p>
“Sekarang mari kita dengarkan adik kita Syaifi membawakan deklamasi yang berjudul Tukang Pos”, ujar pembawa acara diikuti dengan tepuk tangan para penonton.</p>
<p>
Aku terdiam, bibirku kelu tak bisa berbicara dan membisu di atas panggung. Orang-orang menungguku membuka mulut, sementara bang Latif memberikan semangat melalui matanya yang hangat. Aku menjadi lebih berani.</p>
<p>
“Tukang Pos”, mulutku mulai berbicara</p>
<p><em>Tukang Pos<br />
Aku tukang pos<br />
Pergi pagi pulang petang<br />
Membawa surat dan juga barang<br />
Bila ku datang banyak yang senang<br />
Namun ada pula yang jadi meradang</p>
<p>Aku tukang pos<br />
Kuantar surat sampai tujuan<br />
Pamrih dan imbalan tak kuharapkan<br />
Senyum dan terima kasih yang kudapatkan<br />
Bagi diriku itu sudah membahagiakan</em></p>
<p>Selama membaca puisi itu, aku memandang bang Latif yang terus memberikan dukungan dengan sesekali mengacungi jempol. Dukungan itu merupakan obat mujarab bagiku, dan membuatku lancar membaca puisi singkat itu. Setelah selesai, aku segera turun dari panggung tak memperdulikan tepuk tangan penonton. Kini hatiku lega dan gembira membayangkan hadiah yang akan diberikan ibu Tini.</p>
<p>
“Ini hadiahnya sayang”, ujarnya sambil menyodorkan sebuah kotak berisi hadiah mainan. Kuambil hadiah itu dengan suka cita. “Aku bisa bermain dengan Hindun”</p>
<p>
Aku berjalan ke arah depan panggung mendekati Kumang dan Ambo, rasanya semua mata mengikuti langkahku dan membuatku tersipu malu. Kulihat Kumang dan Ambo masih berdiri di depan panggung, menonton acara selanjutnya, yang sebentar lagi akan berakhir. </p>
<p>
“Mang, main bola yuk!”, ujarku.</p>
<p>
“Gak nonton yang lain? Panjat pinang &#8216;kan belum mulai”</p>
<p>
“Lomba anak-anak tidak ada. Semuanya untuk orang dewasa. Jadi kita tidak punya kesempatan”</p>
<p>
“Ok deh. Yuk kita panggil yang laen. Kulihat Fajar juga ada di sini tadi”</p>
<p>
Kami bertiga melangkah ke luar kerumunan dan mencari teman-teman kami untuk diajak bermain bola di lapangan dekat rumah. Acara agustusan makin seru dan beberapa teman kami tidak mau kami ajak pulang. Akhirnya kami bertiga tidak jadi pulang dan ikut terus menikmati acara hingga selesai saat magrib tiba.</p>
<p><b>The End </b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=56&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/07/01/deklamasi-kemerdekaan-bag-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Deklamasi Kemerdekaan (#3)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/29/deklamasi-kemerdekaan-bag-3/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/29/deklamasi-kemerdekaan-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 05:53:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Emas untuk baju pelautku

Dua minggu sudah sejak surat ibu guru kuberikan pada Emak. Anak-anak sudah banyak yang telah mengambil baju pelaut yang kemudian menggunakannya ke sekolah sehingga membuat aku iri dan malu. Agus pun pernah menggunakan baju itu dan membanggakannya di depan kami. Hanya aku dan Nasri yang belum bisa menggunakan baju pelaut, karena orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=44&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Emas untuk baju pelautku</b>
<p>
Dua minggu sudah sejak surat ibu guru kuberikan pada Emak. Anak-anak sudah banyak yang telah mengambil baju pelaut yang kemudian menggunakannya ke sekolah sehingga membuat aku iri dan malu. Agus pun pernah menggunakan baju itu dan membanggakannya di depan kami. Hanya aku dan Nasri yang belum bisa menggunakan baju pelaut, karena orang tua kami belum bisa mengambil baju pelaut itu.</p>
<p>
“Kapan baju kalian akan diambil?”, tanya bu guru.</p>
<p>
“Nanti bu”, jawabku sekenanya. Aku tidak tahu apakah baju pelaut bisa diambil sebelum pentas seni atau tidak. Aku hanya bisa menjawab seperti itu. </p>
<p>
Beberapa kali Andri membuat kami cemburu dengan baju pelaut itu, dan mengejek kami karena belum mengambilnya hingga membuat Nasri menangis karena tak berdaya. Aku jadi geram sekali tetapi aku tidak berani memukul Andri. Hanya Agus yang membela kami saat Andri mengejek kami berdua.</p>
<p>
“Kapan diambil baju pelaut nya mak ?”, hampir setiap hari pertanyaan itu kusampaikan pada emak. Dan dengan senyum dipaksa emak menjawab, “Nanti ya sayang, emak belum sempat”. Dan itulah jawaban yang selalu kudengar setiap kutanyakan, hingga kini.</p>
<p>
“Teman-teman sudah memakainya semuanya Ma&#8217;”, ujarku. “Aku &#8216;kan malu diejek Andri”</p>
<p>
“Iya sayang, sabar ya.. nanti kalau emak sempat emak pasti ambil. Sebelum pentas seni kan?”</p>
<p>
“Iya mak jangan lupa ya”</p>
<p>
Tetapi emak tidak pernah sempat mengambil baju pelautku. Aku hanya bisa menunggu dengan harapan yang makin lama semakin kosong. Ketika Andri dan yang lainnya mengenakan pakaian pelaut, aku hanya bisa menangis menahan dengki dan malu di hatiku. Untunglah anak-anak tidak menggunakan saat bersamaan, sehingga aku tidak terlalu merasa kecil.</p>
<p>
Aku tidak berani bertanya kepada bapak karena takut dimarahi. Bapak mudah sekali marah karena hal-hal sepele, apalagi hal yang menyangkut uang. Jadi yang kurongrong hanyalah emak dan semakin hari jawaban emak makin tak pasti. Aku bertambah khawatir baju pelautku tidak akan pernah terbeli.</p>
<p>
Aku mengisi hari-hari penantian ini dengan menghafal puisi yang akan kubawakan dengan bimbingan ibu Tini agar bisa melupakan baju pelaut. Nasri dan Agus pun sibuk dengan latihan mereka. Mereka menari tarian hasil kreasi ibu guru yang bertemakan tentang pelaut diiringi dengan tape recorder.  Demikian pula teman-teman yang lainnya, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.</p>
<p>
Sementara itu panggung di depan sekolah sudah mulai berdiri. Panggungnya luas dan tinggi sekali tetapi masih belum dihias dengan kertas berwarna-warni. Tenda yang terbuat dari kayu sudah pula didirikan sedangkan lapangan permainan dewasa mulai disiapkan. Pohon pinang sudah dirikan hanya menunggu hadiah yang akan digantung dan lumuran pelumas agar sebagai pelicin. Hatiku semakin menkhawatirkan baju pelautku yang belum juga diambil hingga beberapa hari sebelum acara pentas seni.</p>
<p>
Hingga suatu hari emak berkata padaku, “Fi, hari ini kamu ikut emak, ya”</p>
<p>
Aku baru saja sampai ke rumah dan berganti pakaian. Aku tahu emak akan pergi karena beliau sudah berdandan rapi hingga memancarkan aura kecantikannya. Adikku, Hindun sudah dititipkan beliau ke rumah Nek Dasimah. Emak menggunakan baju hitam bergaris-garis kecil memanjang ke bawah yang merupakan satu-satunya baju terbaik yang emak miliki. Setiap keluar rumah menghadiri acara penting atau berfoto, emak selalu menggunakan pakaian tersebut.</p>
<p>
“Mau ke mana mak?”, tanyaku</p>
<p>
“Sudah ikut saja. Hindun sudah di rumah nenek”</p>
<p>
“Ke mana sih mak? Ke pasar?”</p>
<p>
“Ke gedung nasional!”</p>
<p>
“Hore&#8230;”, aku berteriak gembira. Gedung nasional adalah gedung tempat acara yang mengasyikkan di kota kami. Letaknya sangat jauh dari rumahku dan aku tidak mungkin ke gedung nasional sendirian. </p>
<p>
Sebenarnya gedung nasional itu hanyalah gedung pemerintah tempat pameran atau acara – acara tertentu berlangsung. Letak gedung itu untuk anak seusiaku sangat jauh dari rumah, walaupun bagi orang dewasa dekat. </p>
<p>
“Udah, ganti baju sana. Pakai baju lebaran!”</p>
<p>
“Iya mak”, aku berjingkrak-jingkrak kegirangan karena diajak emak jalan-jalan. Hindun tidak diajak karena seringkali rewel dalam perjalanan. Aku mengambil baju lebaran dua tahun lalu yang berwarna hijau dan masih bagus dengan bahan yang tebal dan kerah yang lebar.</p>
<p>
“Udah mak. Kita berangkat sekarang?” tanyaku. Kulihat emak juga sudah siap membawa dompet butut kecil di tangannya dan botol minuman yang berisi air putih di tangannya. </p>
<p>
“Ayo, sebelum keburu siang. Ini kamu yang bawa” ujar beliau sambil menyodorkan botol minuman itu padaku. </p>
<p>
“Jangan lupa pakai sepatu”</p>
<p>
Aku dan emak keluar rumah, menuruni tangga batu dengan hati-hati. Sebelum berangkat emak mengunci pintu walaupun rasanya itu tak perlu karena penduduk kampung kami sering berjaga satu sama lain. Mereka akan segera mengetahui jika ada penduduk baru, apalagi kalau ada pendatang yang tidak diinginkan. </p>
<p>
Kami berjalan kaki pergi ke gedung nasional. Emak hanya mengunakan slop biasa dan bukan hak tinggi seperti ibu-ibu gedongan, dan itu menguntungkan beliau karena tidak perlu sakit kakinya. Aku menggunakan sepatu sekolah dan berjalan lambat. Siang itu agak panas, walaupun waktu baru menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Matahari memancarkan sinarnya dengan garang hingga peluh mengucur di seluruh tubuh. Kulihat emak beberapa kali mengelap keringat yang ada di dahinya menggunakan sapu tangan. Pakaianku yang agak tebal dan tidak menyerap keringat karena terbuat dari bahan murahan, membuatku tambah panas. </p>
<p>
Dua puluh menit perjalanan menuju gedung nasional, rasanya seperti seharian. Sesekali kubuka minuman yang dibawa dari rumah dan meminumnya sambil jalan. Hingga akhirnya perjalanan yang melelahkan itu berakhir dan sampai di wilayah sekitar gedung nasional. Kuliat dari jauh gedung nasional sangat sepi. “mungkin acaranya ada di dalam”, pikirku.</p>
<p>
“Kita belok sini” ujar emak di pembelokan terakhir menuju sebelum sampai di gedung nasional yang tampak sepi itu. Jalan itu menurun landai.</p>
<p>
“Koq belok sini mak?, katanya ke gedung nasional”</p>
<p>
“Nanti, kita harus ke kantor pegadaian dulu”</p>
<p>
“Pegadaian?”</p>
<p>
“Iya. &#8216;kan kamu mau ngambil baju pelaut bukan?”</p>
<p>
“Tentu dong mak. Kapan? ”</p>
<p>
“Nanti sore emak baru sempat. Hari ini kita ke pegadaian dulu ngambil uangnya.”</p>
<p>
“Jadi uang emak ada di sini?”</p>
<p>
“Iya. Ayo!”</p>
<p>
Kami masuk ke dalam lingkungan kantor pegadaian yang di halamannya penuh bunga melati kecil. Kulihat sudah banyak orang yang antri mengambil uang di kantor ini. “Jadi di sinilah emak menyimpan uangnya”, pikirku, “Pantas emak tidak pernah sempat mengambil baju pelaut soalnya tempat mengambil uangnya jauh”</p>
<p>
Kantor pegadaian berawarna putih kusam dengan dilengkapi beberapa counter pelayanan. Satu persatu orang yang datang untuk mengambil uang dilayani dengan baik. Pegawainya yang ramah dan sopan – bagiku – membuatku betah dan senang melihat mereka, dan menunggu bukanlah sebuah pekerjaan yang membosankan.</p>
<p>
Tak lama kemudian giliran emak tiba. Emak mengeluarkan sebuah amplop putih bergaris-garis merah biru di pinggirnya dan disodorkan kepada petugas pegadaian. Aku berdiri di atas kursi panjang di depan counter itu.</p>
<p>
“Mau menggadaikan apa ibu?”</p>
<p>
“Ini pak. Kalung emas”, emak menyerahkan amplop itu kepada petugas.</p>
<p>
“Berapa gram bu”, petugas mengambil dan mengeluarkan isinya. Kulihat kilauan kalung emas yang diwariskan oleh Nenek Rudiah sedang dipegang oleh petugas pegadaian. </p>
<p>
“Lima gram pak”</p>
<p>
“Ini emas asli ya bu?”</p>
<p>
“Iya dong pak. Bapak bisa memeriksanya. Saya sudah menggadaikan kalung ini beberapa kali di sini.”</p>
<p>
“Baiklah ibu, saya periksa dulu. Kami harus hati-hati siapa tahu sepuhan” petugas kemudian memeriksa buah kalung emak dengan cara mengikis menggunakan alat kecil seperti kikir.</p>
<p>
Dikejauhan kulihat seekor capung sedang hinggap di bunga melati di halaman pegadaian. Aku sangat menyukai capung dan biasanya aku menangkap capung bersama teman-teman sekampung. Kata mereka capung adalah obat mujarab untuk orang yang suka ngompol dengan cara membuat capung mengigit udel orang itu. Aku ingin sekali adikku mencoba obat mujarab ini, supaya dia tidak ngompol lagi. Aku turun pelan-pelan dari bangku panjang dan mendekati capung itu untuk mencoba menangkapnya. Mengendap-endap kucoba dekati capung itu, kemudian kujulurkan tanganku dengan hati-hati, dan hop!&#8230; tertangkaplah capung malang berekor merah itu.</p>
<p>
“Horeeeee!!!”, aku berteriak-teriak kegirangan. “Aku dapat capung&#8230;aku dapat capung”. Hari ini akan kupaksa Hindun berobat menggunakan capung supaya tidak ngompol lagi.</p>
<p>
“Fi&#8230; kita pulang!”, ujar emak. Sepertinya emak telah selesai mengambil uang untuk baju pelaut. “Buang capung itu. Kasihan”</p>
<p>
“Tapi mak, ini untuk obat Hindun”</p>
<p>
“Nanti kita cari lagi di dekat rumah. Sekarang kita pulang saja”</p>
<p>
“Tidak jadi ke gedung nasional? Katanya mau ke gedung nasional”</p>
<p>
“Gedung nasional nya sedang tutup, kata bapak yang tadi. Jadi lain kali saja kita ke sana”</p>
<p>
“Ahhhhh&#8230;”, aku kecewa tidak bisa ke gedung nasional. Kulepaskan capung yang ada di tanganku dan dengan cepat terbang menjauh. Lain kali akan kudapatkan obat untuk Hindun.</p>
<p>
“Katanya mau beli baju pelaut”, ujar emak menghiburku.</p>
<p>
“Sekarang Mak?”</p>
<p>
“Nanti sore &#8216;kan kita ke tempat ibu guru untuk mengambilnya”</p>
<p>
“Horeeeee&#8230; baju pelautku jadi diambil&#8230; hore!” </p>
<p>
Aku senang sekali akhirnya baju pelaut yang jadi impianku akhirnya bisa diambil. Aku tidak perlu malu lagi dengan teman-teman yang lain. Besok akan kupakai langsung, biar Andri tahu kalau aku sudah punya baju pelaut, “Horeee!”</p>
<p><b>Bersambung ke bag. 4 </b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=44&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/29/deklamasi-kemerdekaan-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Deklamasi Kemerdekaan (#2)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/28/deklamasi-kemerdekaan-bag-2/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/28/deklamasi-kemerdekaan-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 01:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Surat dari Bu Guru

Rumahku tidak jauh dari sekolah hingga kalau aku pulang cukup berjalan kaki. Jika ingin lebih cepat sampai di rumah, aku harus mengambil rute singkat lewat jalan setapak di sebelah rumah besar, dengan resiko dikejar anjing. Lebih baik mengambil jalan agak jauh dan memutar daripada dikejar anjing sampai terkencing bukan?

Dikejauhan, kulihat rumahku yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=32&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Surat dari Bu Guru</b>
<p>
Rumahku tidak jauh dari sekolah hingga kalau aku pulang cukup berjalan kaki. Jika ingin lebih cepat sampai di rumah, aku harus mengambil rute singkat lewat jalan setapak di sebelah rumah besar, dengan resiko dikejar anjing. Lebih baik mengambil jalan agak jauh dan memutar daripada dikejar anjing sampai terkencing bukan?</p>
<p>
Dikejauhan, kulihat rumahku yang terbuat dari kayu dan beratap seng, berdiri di atas duabelas batu penyangga. Pintu depan yang berwarna biru muda terletak di tengah-tengah rumah dilengkapi tangga semen. Warna rumahku sudah kecoklatan, dengan atap seng yang bolong-bolong membuat rumah kami lebih terang di siang hari dan lebih sejuk di malam hari, kecuali saat turun hujan yang membuat kami tidak bisa tidur tenang, karena harus menampung tetesan air yang turun dari atap.</p>
<p>
Saat aku pulang, biasanya Ema&#8217; – panggilanku kepada ibu – sedang memasak di dapur, sambil mengasuh adik kecilku yang manis, Hindun. Adikku berumur tiga tahun, berbeda dua tahun dari aku dan sering menghisap ibu jari. Ibuku sering memarahinya agar tidak menghisap ibu jari yang kotor itu, tetapi kebiasaan itu tidak mudah dibuangnya. Perawakannya yang gempal dan wajahnya yang menggemaskan membuat Hindun disukai oleh tetangga-tetangga kami, sayangnya kalau tidur selalu ngompol. Saat kami menginap di rumah Nek Dasimah, Hindun tidak diperbolehkan tidur di atas kasur. </p>
<p>
“Ma&#8217; aku pulang!”, ucapku ketika masuk ke rumah. Aku langsung berlari ke dapur dan kulihat Ema&#8217; sedang memasak ikan tumis tongkol yang sering jadi menu sehari-hari kami. Ema&#8217; yang cantik hanyalah ibu rumah tangga biasa, menikah ketika umur duabelas tahun dan memiliki aku ketika beliau berumur delapan belas tahun. Wajah beliau seperti wajah orang cina berbentuk bundar dan mata agak sipit. Rambutnya hitam panjang agak ikal dan senyumnya yang tidak lepas dari bibirnya membuatku tenang dan tenteram berada di dekatnya. Mungkin setiap anak akan berpikiran seperti aku. Ema&#8217; jarang sekali marah, dan kalau marah, memukul dengan lembut. </p>
<p>
“Ah.. anak Ema&#8217;, gimana hari ini?”, ucapnya sambil mencium pipiku. </p>
<p>
“Baik saja Ma&#8217;, kami bermain kasti dan kelompok kami menang”, ujarku sambil mengambil surat dari tas kecilku dan menyerahkan pada Ema&#8217;. “Ma&#8217;, ini ada surat dari ibu guru”</p>
<p>
“Terima kasih”, Ema&#8217; mengambilnya dari tanganku.</p>
<p>
“Ma&#8217; pada acara pentas seni nanti, aku disuruh deklamasi”, ujarku. Ema&#8217; membuka surat pelan-pelan seolah sebuah surat yang sangat berharga. Walaupun termasuk orang tua angkatan orde lama, Ema&#8217; bisa membaca dengan lancar sebab beliau sempat mengenyam pendidikan SR – Sekolah Rakyat. Kata bapak, Ema&#8217; pintar sekali saat di sekolah dulu, sayang beliau tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.</p>
<p>
“Bagus!, harus berani ya. Sekarang kamu makan dulu ya, lauk udah masak kamu ambil sendiri, Ema&#8217; mau baca surat dari bu guru dulu”</p>
<p>
“Baik Ma&#8217;”</p>
<p>
Aku mengambil nasi yang terletak di meja dan mengambil lauk langsung dari  penggorengan. Aku tidak berani mengambil ikan yang banyak, Ema&#8217; sering memarahi aku kalau makan ikan terlalu banyak, “Nanti cacingan”, kata beliau memperingatkanku, walaupun aku tidak tahu apa hubungannya antara makan ikan dengan cacingan. Mungkin karena orang memancing ikan menggunakan umpan cacing, hingga telur cacing nyangkut di tubuh ikan.</p>
<p>
Ema&#8217; baru selesai membaca surat dan kulihat beliau menarik nafas panjang. Dengan hati-hati, surat dari bu guru dilipat kembali kemudian disimpan di dalam lemari di bawah pakaian. Kami tidak memiliki tempat penyimpanan lain selain lemari pakaian usang. Uang, akte kelahiran atau surat yang kami anggap penting selalu kami simpan di bawah pakaian dalam lemari.</p>
<p>
“Kata ibu guru, kami semua menggunakan seragam baju pelaut Ma&#8217; ”, ucapku sembari mengunyah makanan. Hindun yang hendak menghisap ibu jari, ditepis oleh Ema&#8217;.  Hindun menangis keras.<br />
“Iya, tentu donk. &#8216;Kan kalau pakai baju pelaut kamu jadi gagah”, ucap Ema&#8217; sambil berusaha membuat Hindun diam. “sssssss&#8230;.sssss&#8230;.sssss”</p>
<p>
“Baju pelautnya cepet diambil ya Ma&#8217;?”</p>
<p>
“Iya. Nanti kita bilang bapak”</p>
<p>
“Bener Ma&#8217;? Kapan kita ambil? ”</p>
<p>
“Nanti, kalau bapak pulang makan siang, Ema&#8217; tanya”</p>
<p>
“Masih lama bapak pulang Ma&#8217;”</p>
<p>
“Sebentar lagi”</p>
<p>
Bapak bekerja sebagai petugas keamanan (Polsus) di Perusahaan Tambang Timah Belitung. Sebagai pegawai PT. Timah, kondisi ekonomi kami bisa dikatakan pas-pasan untuk kehidupan sehari-hari. Selain gaji bulanan, setiap pegawai diberi tunjangan sembako, seperti beras, gula, minyak goreng, daging kaleng dan beberapa kebutuhan lainnya yang dibagikan setiap bulan. Ema&#8217; kadang-kadang harus menjual beras dan gula tersebut ke warung untuk mencukupi kebutuhan keuangan kami. </p>
<p>
Dalam keadaan pas-pasan seperti itu, kami bertahan dengan makan seadanya. Daging sapi atau ayam adalah menu istimewa yang dihidangkan hanya saat – saat tertentu seperti saat lebaran. Ikan dan nasi putih dan sayuran seadanya adalah makanan harian kami terutama ikan tongkol, itupun aku hanya boleh mengambil seperempat potongan kecil. Pakaian baru hanya dibeli setahun sekali saat lebaran, sedangkan pakaian bermain dan pakaian tidur tidak ada bedanya. Pakaian kami hanya dibedakan dengan kategori pakaian sekolah, pakaian rumah dan pakaian lebaran. Untuk menambah pakaian lain di luar lebaran &#8211; seperti baju pelaut &#8211; Ema&#8217; dan Bapak harus berjuang mencari tambahan uang, baik dengan cara menjual sembako tunjangan perusahaan atau meminjam uang dari tetangga atau teman dekat mereka.  </p>
<p>
Setelah dua jam aku menunggu, kulihat bapak pulang dengan mengendarai sepeda. Aku sangat mengagumi bapak karena pergaulan beliau yang luas. Postur tubuh yang tegap dan gagah membuat orang segan dan hormat pada beliau. Selain itu, bapak termasuk orang yang berani disebabkan beliau telah merantau sejak usia belasan tahun. Karena itu pulalah bapak memiliki watak yang keras dan pemarah. Pernah pistol mainanku yang baru dibeli dibanting oleh bapak dan patah karena telah membuat beliau marah. </p>
<p>
Sesampai di dalam, dengan sabar ibu menggantungkan baju bapak dan menyiapkan makanan untuk makan siang. Kalau makan, Bapak lahap sekali, jika tidak ada lauk pauk bapak bisa makan hanya dengan air garam sebagai kuah penyedap. Untunglah hari ini ibu sudah memasak tumis ikan tongkol, sehingga bapak istirahat makan dengan kuah air garam. </p>
<p>
“Bagaimana sekolahnya hari ini Fi?”, tanya bapak sambil mengambil piring di meja.</p>
<p>
“Baik pak. Kami main kasti dan kelompok kami menang”</p>
<p>
“Bagus!, hebat”</p>
<p>
“Pak, pentas seni nanti saya berdeklamasi”, aku tak sabar ingin memberikan berita bagus ini.</p>
<p>
“Hm.. bagus”</p>
<p>
“Nanti bapak nonton ya?”, ucapku. </p>
<p>
“Iya”, ucap bapak sambil mengunyah. </p>
<p>
“Fi!, sudah. Biarkan bapak makan dulu”, ibu melarangku bertanya lebih banyak. Aku mengangguk dan mendekati Hindun mengajaknya bermain didekat meja tamu. Kami bermain kelereng dengan hati-hati kuatir jatuh ke dalam kolong rumah, karena lantai papan rumahku sudah bolong-bolong.</p>
<p>
Beberapa saat kemudian bapak selesai makan dan beliau beristirahat dengan merokok dan meminum kopi sementara Ema&#8217; membereskan piring – piring kotor. Sebentar lagi bapak akan berangkat kerja dan pulang sore pukul empat, dan dalam waktu istirahat seperti ini, aku gunakan waktu untuk bercengkrama dengan bapak. Hindun jarang dipangku bapak, bahkan kulihat Hindun agak takut mendekati bapak. Aku tidak tahu mengapa bisa seperti itu, padahal wajah Hindun mirip dengan kakak bapak yang ada di Bawean. </p>
<p>
“Bapak Syaifi”, Ema&#8217; memecah kesunyian suasana. Ema&#8217; memanggil bapak dengan sebutan Bapak Syaifi dikarenakan aku anak pertama. Ema&#8217; dan bapak masih ada talian persaudaraan dan sebelum menikah Ema&#8217; memanggil Bapak dengan sebutan Paman. Setelah menikah, Ema&#8217; agak canggung mengganti panggilan sebelumnya sehingga lebih memilih kata Bapak Syaifi. Entah bagaimana cara beliau memanggil sebelum aku lahir.</p>
<p>
“Ada apa Ha ?”, tanya bapak kepada Ema&#8217; dengan panggilan nama.</p>
<p>
“Ada surat dari ibu guru”, jawab Ema&#8217; sambil menyodorkan surat yang baru diambilnya dari lemari pakaian. Bapak membaca surat sejenak, lalu melipatnya sambil menarik nafas panjang. Suasana hening dan membisu beberapa jenak.</p>
<p>
“Jadi bagaimana Pak?”</p>
<p>
“Aku masih belum tahu Ha, tapi tetap harus dibayar &#8216;kan?”</p>
<p>
“Ya&#8230;h”, Ema menjawab sambil menarik nafas. “Kasihan Syaifi kalau tidak dibayar”</p>
<p>
“Ada beras yang bisa dijual?” tanya bapak. </p>
<p>
“Hanya cukup sampai akhir bulan saja”, ujar ibu sambl menggeleng-gelengkan kepala. Bapak kembali menarik nafas panjang, kali ini panjang sekali hingga suasana rumah jadi sunyi dan terdiam seperti kuburan. Hanya asap rokok yang menyebar ke seluruh ruangan.</p>
<p>
“Baiklah, nanti bapak cari pinjaman dari kawan di Pos”, ucap bapak akhirnya.  </p>
<p>
“Iya, Ema&#8217; coba lagi mencari apa yang bisa dijual, atau kita hemat”</p>
<p>
Suasana sunyi kembali menyengat. Bunyi kelereng yang kumainkan bersama Hindun menambah suasana menjadi lebih sunyi. Sesekali terdengar suara derik kumbang pohon yang sedang mencari sarang. Angin sepoi – sepoi yang bertiup memainkan musik sunyi yang telah kami nyanyikan. </p>
<p><b>Bersambung</b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=32&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/28/deklamasi-kemerdekaan-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Deklamasi Kemerdekaan (#1)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/24/deklamasi-kemerdekaan/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/24/deklamasi-kemerdekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 23:24:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Sekolah kecil di kampungku
Di tengah kampungku &#8211; Kampung Parit, Tanjungpandan – berdirilah sekolah kecil semi permanen berdinding putih kusam terkelupas dimakan cuaca, ditutupi atap kayu sirap yang sudah retak di sana-sini, membuat cahaya masuk dari celah-celahnya dan membentuk bulatan kecil bagai koin emas bertebaran di lantai kasar tak berubin. Dinding semen bagian bawah yang compang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=14&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sekolah kecil di kampungku</strong><br />
Di tengah kampungku &#8211; Kampung Parit, Tanjungpandan – berdirilah sekolah kecil semi permanen berdinding putih kusam terkelupas dimakan cuaca, ditutupi atap kayu sirap yang sudah retak di sana-sini, membuat cahaya masuk dari celah-celahnya dan membentuk bulatan kecil bagai koin emas bertebaran di lantai kasar tak berubin. Dinding semen bagian bawah yang compang – camping dan di beberapa tempat terlihat luka menganga menampakkan bata merah yang sudah  kecoklatan, sehingga orang dapat menebak usia bangunan itu sebenarnya. Maklum saja sekolah itu adalah sekolah yang didirikan atas swadaya kelurahan.</p>
<p>Sekolah kecil itu memiliki hanya memiliki dua ruangan ditambah satu ruangan guru,  dilengkapi teras bermain yang sempit dengan lantai yang kasar. Orang gila yang bernama Bo&#8217;en sering berteduh di teras itu saat hujan dan membuat anak-anak ngeri dengan ocehan-ocehannya yang tidak menentu. Di dalam kelas, terlihat dinding berwarna putih kekuningan dihiasi poster-poster usang yang ternoda oleh kotoran kelelawar yang  menempel di sana-sini menyebarkan bau yang tidak sehat. Tulang kayu penyangga bangunan, telah lapuk dimakan rayap dihiasi lobang-lobang kecil tempat kumbang kayu bersarang. Sementara itu meja dan kursi kecil berwarna-warni kusam tertata apik tempat duduk anak-anak TK yang tak mau diam. Letak meja dan kursi itu akan berubah setelah aktifitas berlajar dan ibu guru harus merapikan lagi untuk dirusak lagi keesokan harinya.</p>
<p>Di depan sekolah itu, terdapat sebuah lapangan yang luas, tandus dan berdebu. Saat anak-anak berlarian, debu beterbangan dan menempel di pakaian mereka. Tak ada fasilitas selayaknya sebuah sekolah Taman Kanak-kanak di kota besar. Anak-anak harus memikirkan sendiri permainan yang akan mereka mainkan dan petak umpet, bola kasti dan lompat karet untuk anak perempuan yang menjadi permainan favorit.</p>
<p>Di sebelah kanan sekolah terdapat rumah besar berpagar kayu milik orang Cina yang anjingnya selalu menggonggong dan menakutkan anak-anak. Tak seorang pun berani mendekati rumah besar itu, sejak seorang anak lari tunggang-langgang sambil menangis dan terkencing di celana karena dikejar-kejar anjing pemilik rumah saat mencoba mengambil bola kasti yang nyasar masuk ke halamannya. Di sebelah kanan rumah itu terdapat jalan setapak menuju sekolah arab – istilah madrasah bagi kami – yang dimiliki oleh Pak Dahlan, salah satu tetangga kami yang tinggi hati dan selalu minta dipuji.</p>
<p>Jalan aspal berlobang terletak di sebelah kiri sekolah ini, berjarak lima meter dan dibatasi dengan pagar kayu yang renta menahan usia. Jalan itu sangat sepi kecuali di pagi hari, saat orang-orang berangkat kerja mengendarai sepeda atau jalan kaki. Sedangkan siang hari hanya segelintir orang yang lewat menuju pasar dekat. Sedangkan di belakang sekolah terdapat sebuah rumah permanen yang sejuk berhias bunga-bunga pot di terasnya, ditambah pohon sirsak yang kami sebut nangka belanda di halamannya. Walaupun tidak setinggi dan selebat pohon beringin, pohon itu sering dijadikan tempat bermain dan beraktifitas saat terik matahari menyengat ketika istirahat sekolah.</p>
<p>Di seberang jalan beraspal, terdapat sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggal pemiliknya sehingga rumput liar bebas hidup di halamannya. Orang Cina penjual bubur tahu keliling sering nongkrong di depan rumah kosong itu sambil menunggu anak-anak TK keluar main – istirahat &#8211; dan membeli bubur tahu yang nikmat itu. Walaupun sederhana, bubur tahu itu adalah bubur tahu yang paling disukai anak-anak, selain murah juga menyehatkan. Kecuali mangkoknya yang tentu dicuci seadanya, dan anak-anak tentu tidak pedulikan hal itu.</p>
<p>Aku merupakan salah seorang murid di sekolah kecil ini. Rambut kucel, kulit gelap dan tak bisa duduk tenang itulah ciri-ciriku. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku masih kecil baru berumur tiga tahun, namanya Masita dipanggil Hindun. Sahabatku Nasri anak seorang buruh pelabuhan yang tinggal di kampung kumuh dan sering banjir di sebut Amau. Kulit Nasri lebih putih dibandingkan denganku, tetapi dia lebih cengeng terutama kalau berantem dengan Andri anak Ibu Guru yang nakalnya bukan main. Pernah suatu hari Perut Nasri ditendang Andri hanya gara – gara sebuah kelereng untung ada Agus yang membelanya, tetapi tak ayal selama satu minggu Nasri mengeluh sakit perut dan tidak berani mendekati Andri.</p>
<p>Sahabatku yang lain bernama Agus, anaknya juga berkulit gelap seperti aku, perawakannya lebih gempal dibandingkan aku dan lesung pipit pemanis di pipinya. Rambut pendeknya yang hitam berdiri seperti bulu landak. Jalannya sedikit membungkuk, dan jika teman-temannya diganggu, dia yang akan maju segera membela. Rumahnya lebih jauh daripada rumah Nasri, dan kalau pulang dia selalu dijemput orang tuanya, naik sepeda.</p>
<p><strong>Tujuh Belasan</strong></p>
<p>Seperti tahun-tahun sebelumnya, kelurahan kami akan mengadakan pentas seni dan perlombaan dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pentas drama, tarian, nyanyian dan puisi yang dibawakan oleh anak-anak TK sudah menjadi bagian rutin setiap tahun. “Anak-anak harus berani tampil ya”, ujar pak Lurah lembut beberapa waktu lalu ketika berbicara di depan kelas. Dan kami sepakat menjawab kata &#8216;Iya Pak&#8230;&#8217; dengan suara yang panjang khas anak TK, walaupun kami tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh beliau. Sementara itu, panjat pinang, makan krupuk, lari karung dan perlombaan yang mengasyikkan lainnya hanya untuk orang-orang dewasa. Seingatku, perlombaan itu tidak berubah dari tahun – ketahun, aku yakin sekali tahun-tahun ke depan akan dibuat acara yang sama.</p>
<p>Pada acara pentas seni, Nasri dan Agus mendapat bagian menjadi penari. Awalnya Nasri ngotot menolak menjadi penari, “Itukan untuk anak perempuan!”, katanya bersikeras. Setelah bersusah payah akhirnya Ibu Tini dapat membujuk Nasri,  walaupun dari wajahnya, kulihat belum menerima dengan lapang dada. Kasihan dirimu Nasri.</p>
<p>“Fi, Kamu deklamasi ya?”, ujar ibu Tini kepadaku.</p>
<p>“Ha?!”, aku terkejut dan terdiam. Terbayang dibenakku berdiri sendiri di atas panggung di depan penonton yang ramai. Setiap pasang mata menatapku, menertawakanku dan mengadiliku jika aku salah. Mendadak tanganku dingin, jantungku berdetak lebih kencang. “Jangan itu dong Bu, yang lain aja!”, ujarku menolak. Lebih baik menari daripada membaca puisi yang berarti tampil di panggung sendirian tanpa kawan.</p>
<p>“Kamu &#8216;kan suaranya lantang, jadi kamu cocok membaca puisi”, ujar Ibu Tini memuji dengan lembut, “Abis deklamasi, nanti dikasih hadiah mainan deh”</p>
<p>“Mainan?!”, aku mulai berubah, terbayang sebuah mainan mengasyikkan yang jarang kudapat dari orang tuaku, “I&#8230;iya deh bu”</p>
<p>Anak-anak lainnya mendapat perannya masing-masing. Kelas kami menjadi lebih heboh dari hari biasanya. Anak-anak bercerita sendiri-sendiri apa yang akan mereka gunakan saat acara pentas seni. Ada yang akan menggunakan sepatu baru, ada  mau mengajak orang tua, bahkan ada yang mau membeli baju pada acara itu.  Nasri masih terduduk lesu, sepertinya belum puas dengan tugasnya sebagai penari, kudekati dia dan menghiburnya.</p>
<p>”Nanti kita akan dapat hadiah dari Ibu Tini” ujarku riang dan menghibur.</p>
<p>“Bener nih?”, tanyanya dan kujawab dengan mengangguk. Airmukanya berubah menjadi senang. “Mudah-mudahan saat acara tiba, Nasri tidak ngambek”, pikirku.</p>
<p>“Perhatian anak-anak!”, tiba-tiba kudengar ibu Tini berbicara. Anak-anak masih berbicara sendiri hingga, Ibu Tini terpaksa memukul meja dengan penghapus.</p>
<p>“ssst&#8230;ssttt&#8230; diam&#8230;diam”, Andri keras memperingatkan teman-temannya untuk diam, dan mendengarkan ibu guru berbicara. Anak-anak lebih takut terhadap ancaman Andri daripada ibu guru.</p>
<p>“Terima kasih Andri”</p>
<p>“Acara pentas seni nanti, kita semua harus menggunakan baju pelaut”</p>
<p>“Yahhhh&#8230;&#8230;..”, gemuruh suara anak-anak tidak setuju.</p>
<p>“Koq begitu bu?”</p>
<p>“Supaya kalian seragam, sama semuanya!” ujar Ibu Tini, “Baju pelautnya harus dibayar sebelum pentas seni ya. Tolong diberikan surat ini kepada orang tua kalian ya”. Bu Tini meminta Andri yang duduk di depan untuk membagikan surat yang ditujukan kepada orang tua kepada kami.</p>
<p>“Baik Ibu Guru”</p>
<p>“Sebelum pulang, kita bernyanyi lagu Hymne LSD &#8211; Lembaga Sosial Desa, kemudian kita akan menyenyikan lagu sepatu gelang”, ujar Bu Tini sambil bertepuk tangan mengiringi kami bernyanyi. Andri masih terus membagikan surat kepada anak-anak yang sedang bersemangat  bernyanyi. Lagu itu menandakan kelas segera usai, dan kami bisa pulang ke rumah dan bermain bersama teman-teman di sebelah rumah. Temanku, Ambo dan Kumang pasti sudah menunggu.</p>
<p>“Hore!”<br />
<strong><em>Bersambung ke Bag. 2 &#8211; Baju Pelautku</em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&blog=3893095&post=14&subd=ceritakecil&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/06/24/deklamasi-kemerdekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>