Kisah Adi dan Ayu (#3)

•Juli 26, 2008 • & Komentar

Beberapa saat Adi berada di udara malam yang masih muda, terbang menuju Tiban dengan kecepatan penuh. Mencari Tiban dari udara ternyata sulit sekali, karena patokan yang tidak jelas selain arah mata angin, yang selama ini tidak pernah diperhatikan Adi. Mungkin hanya seorang pilot yang bisa mencari dengan cepat. Pergi ke Nagoya dari Sei Ladi lebih mudah dibandingkan menyusuri Tiban dari Nagoya. Perumahan yang terlihat kecil dan sama dari atas udara, tidak membantu sama sekali. Akhirnya mereka mengambil route sama seperti jalan raya yang ada di bawah mereka. Sesekali Adi mengambil terbang rendah di atas mobil sedan.

Martuani tidak banyak membantu dan hanya mengekor kemana Adi pergi. Dia tidak tahu tempat tinggal Ayu, dan mencoba bertanya kepada Adi. Sayang Adi hanya sibuk dengan pikirannya sendiri dan dengan kesal akhirnya Martuani menyerah. “Hhhh.. ini semua hanya gara-gara si Umar”, pikirnya. Umar adalah adik kecilnya, dan dia sedang berusaha menebus kesalahan Umar terhadap Adi.

Setelah beberapa lama mereka berada di udara malam yang dingin dengan perjalanan yang penuh liku, akhirnya mereka sampai di rumah Ayu. Itupun setelah meneliti satu per satu perumahan yang banyak terdapat di daerah Tiban. Dari atas udara, tempat tinggal Ayu tampak berbeda. Lampu terasnya sudah menyala, dan sepeda Iwan – adik Ayu yang baru kelas 2 SMP – masih tergeletak di luar rumah. Perumahan ini cukup ramai, tetapi walaupun begitu keadaan selalu sepi, terutama ketika magrib tiba. Anak-anak yang biasanya bermain di halaman tidak terlihat, yang ada hanya satu dua orang yang berjalan entah kemana.

Perlahan Adi turun ke teras rumah Ayu, dengan lembut Adi mendarat tepat di depan pintu pagar, di susul Martuani yang memilih bersembunyi di kegelapan. Pelan tapi pasti Adi melangkah ke arah pintu rumah. Masih cerah ingatan Adi ketika mereka berdua bercengkrama di teras cinta ini. Sesekali pak Ridwan – ayah Ayu – mengintip mereka dari dalam, dan membuat mereka berdua tertawa lucu. “Ah.. dimanakah dirimu Ayu?”

Sesampai ke depan pintu Adi mencoba mengetuk, tetapi suara ketukan tak terdengar sama sekali. Segera dia sadar bahwa dia tidak bisa menyentuh benda padat. Ingin rasanya dia menerobos masuk, tetapi rasanya tidak sopan. Dia mencoba mengetuk sekali lagi dan kembali gagal. Martuani yang melihatnya dari kegelapan tidak sabar, dan dengan segera dia mendekat.

“Kenapa tidak langsung masuk aja sih?”, keluh Martuani.

“Jangan ngagetin donk!”, Adi terkejut. “Apa kamu tidak bisa jalan”

“Kamu kan bisa menembus benda keras. Kenapa harus mengetuk pintu?”

“Tidak sopan tahu!”

“Alahhhh… ayo masuk!”

“Gak! Kamu ketuk pintu aja”

“Kalau kita mengetuk pintu orang akan ketakutan”

“Ajarin aku untuk supaya aku bisa mengetuk pintu”, ujar Adi yakin. “Mereka bisa melihatku karena aku masih hidup”

“Kamu harus mengumpulkan butiran air di jarimu dan bekukan agar menjadi es batu kecil-kecil. Kemudian kamu ketukkan ke pintu.”

“Gimana cara mengumpulkan butiran air, Apa aku harus ke kamar mandi?.”

“Udara malam mengandung kadar air lebih padat dibandingkan dengan siang. Karena itulah para roh gentayangan seperti kita lebih menyukai malam dibandingkan siang. Kita bisa mengendalikan air yang ada di udara.”

“Oh…gitu. Caranya?”

“Konsentrasikan kekuatan ke ujung jarimu. Awalnya mungkin sulit tapi setelah latihan lama akan lebih gampang”, ujar Martuani. “Tetapi sekarang biar aku yang mengetuk pintu”

“Tok…tok…tok…”, pintu berbunyi.

“Siapa?”, terdengar suara anak yang baru memasuki masa pubertas dari dalam. Adi tahu bahwa Iwan ada di dalam. Yang lain dimana ya?

“Aku, Adi”, jawab Adi. Martuani tahu bahwa jawaban Adi itu sia-sia karena pendengaran manusia jauh dibawah frekwensi suara roh halus seperti mereka. Hanya hewan seperti anjing yang bisa mendengar suara mereka.

“Siapa?”, pertanyaan yang sama terdengar kembali, kali ini dibarengi dengan langkah ringan menuju ke arah mereka berdua. Martuani segera hilang dan bersembunyi di tempat gelap.

“Ini aku Wan, Adi”

Beberapa saat kemudian, pintu mulai terbuka kecil. Terlihat Iwan mengintip dari sela-sela pintu dan melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak melihat ada orang yang berdiri, kemudian pintu dibukanya lebih lebar.

“Siapa? Hallooo”, Iwan mencoba mencari orang yang mengetuk pintu. Tetapi tak satu batang hidungpun tampak. Udara di teras lebih dingin dibandingkan tempat lainnya. “IIIHHHHHHHH”, Iwan jadi seram sendiri dan dengan tergopoh-gopoh dia lari ke dalam rumah, memperbesar volume suara televisi.

Adi yang sedang memasang wajah termanis yang dimilikinya menjadi heran melihat Iwan tak melihatnya berdiri di depan hidungnya. “Mungkin kemampuan menghilangku memang hebat”, pikirnya. “Aku harus belajar ilmu menampakkan diri”

Dia menoleh ke arah Martuani yang sedang berlindung di kegelapan dan mengajaknya masuk. Martuani mengisyaratkan untuk tetap di luar dan dia menyuruh Adi masuk ke dalam rumah dengan segera.

Adi menerobos masuk, dan dipandangnya suasana rumah yang sepi ini. “Ayu ada dimana ya?”, pikir Adi. “Mungkin ada di kamarnya”, ujar Adi sambil berjalan berjingkrak ke kamar Ayu melewati Iwan yang sedang menonton televisi sambil makan martabak. Iwan merasakan bulu kuduknya merinding dan ruangan tamu menjadi dingin. Ia mengambil remote control dan memperbesar lagi volume televisi sehingga suaranya menyebar ke seluruh ruangan, untuk menghilangkan rasa takut yang menyergapnya. Adi menerobos masuk pintu kamar Ayu, dan berharap wajah sang kekasih ada di sana. Tetapi yang ditemukannya hanyalah keheningan dan suasana dingin yang menyelimuti kamar Ayu. Semerbak wangi bedak dan parfum yang biasa Ayu pakai tercium menerawang. “Ayu, kemanah kamu?”, bisik Adi. Dia melihat sekeliling kamar indah ini. Beberapa hadiah yang diberikan Adi masih tersimpan rapi dan terawat. Terlihat sebuah foto saat mereka berdua berlibur ke Pantai Marina bersama kawan-kawan di atas meja rias. Adi tersenyum mengenang saat itu.

Adi mencoba meraih photo itu tetapi sayang dia tidak bisa mengangkatnya. Dia mencoba ilmu yang diajarkan Martuani dan berkonsentrasi mengumpulkan udara agar lebih padat di sekitar tangannya dan kemudian dia mencoba lagi meraih photo itu, tetap tak berhasil. Sekali lagi dicobanya, kali ini dia berkonsentrasi lebih keras dan mencoba menyentuh photo itu dan “PRANK……”, photo itu jatuh dan pecah.

“BUNDAAAAA….!!! ADA HANTUUUUUUUUUUUU………!!!.”, terdengar Iwan dari luar kamar dan berlari ke halaman rumah sambil berteriak, membuat tetangganya gempar. Adi mencoba menyusul dan mengatakan bahwa dia bukan hantu, tapi Iwan telah sampai di luar rumah, membiarkan televisi menyala dengan nyaring dan pintu terbuka lebar.

“Ada apa Wan?”, tanya salah seorang tetangganya yang sering mereka panggil Tante Rina. Menurut Ayu, Tante Rina adalah orang yang baik terhadap keluarga mereka dan sudah dianggap saudara mereka sendiri. Orangnya memiliki perawakan subur dan pintar memasak.

“DI KAMAR KAK AYU ADA HANTU TANTE”

“Ah kamu ada – ada aja”, celetuk tetangga lainnya.

“BENER!. Tadi ada suara mengetuk pintu, waktu Iwan buka ternyata orangnya tidak ada. Iwan pikir itu cuma suara angin. Tapi Iwan merasa merinding juga. Eh tiba-tiba ada bunyi sesuatu yang jatuh dan pecah di kamar kak Ayu. Iwan takut tante.”

“Sudah. Kalau begitu Iwan di rumah tante aja. Sebelumnya kita matikan televisi dan tutup pintu”, ujar tante Rina bijak sambil menggiring Iwan ke arah rumahnya.

“Temenin ya tante”

“Iya tenang ya. Bunda dan ayah masih di rumah sakit?”

“Iya tante. Nanti pukul sembilan baru pulang”

“Kalau begitu Iwan di rumah tante sampai Bunda dan Ayah datang”

Tante Rina dan Iwan menutup pintu dan mematikan televisi. Tak lupa mereka mengintip ke kamar Ayu, dan terlihat photo Ayu dan Adi jatuh dan pecah di lantai. Wajah Iwan menampakkan rasa takunya, dan Tante Rina pun terkejut, dan berusaha menenangkan hatinya sendiri sambil berkomat-kamit. Para tetangga yang tidak percaya berusaha membuat penilaian lain. “Mungkin karena angin yang bertiup atau karena suara televisi yang telalu besar”, ujar mereka. Mereka kemudian membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing, dengan pertanyaan yang tertinggal di benak mereka.

Sementara itu Adi dan Martuani sedang berlindung di kegelapan. Suasana kembali sunyi hanya nyanyian jangkrik yang mulai terdengar menemani mereka. “Apakah Ayu sedang sakit?”, tanya Adi dalam hati. “Ataukah dia bersama orang tuanya sedang mengunjungi orang sakit? Atau dia sedang keluar bersama kawan-kawannya?” Pertanyaan itu berkecamuk di dalam diri Adi. Adi tidak bisa menjawab semua itu selain menunggu kabar dari orang tuanya. Dia tidak ingin menakuti Iwan, yang dilakukannya hanyalah menunggu sampai kedua orang tua Ayu pulang dan memberikan kabar tentang Ayu pada dia.

“Mar, aku harus menunggu kabar Ayu di sini. Mungkin Ayu sedang sakit”, ujar Adi kepada temannya. Martuani memandang Adi dengan mata iba, karena tahu Ayu memang sedang sakit. Tetapi dia tidak bisa memberi tahukan hal ini kepada Adi, karena itu berarti akan mengungkapkan rahasia Martuani.

“Iya. Aku akan tetap menemani kamu, lagi pula sebagai roh aku tidak memiliki banyak kegiatan. Aku cuma minta kamu jangan membuat orang kaget lagi. Sudah kukatakan kepadamu kalau kamu adalah roh gentayangan bukan manusia super”

“Aku masih hidup Mar. Aku masih belum mati. Cuma karena aku baru memiliki kemampuan ini, aku belum bisa mengendalikan kekuatan ini, itu saja”, ujar Adi keras kepala.

“Terserah kamu deh. Yang penting jangan membuat orang ketakutan lagi. Janji?”

“Oke Guru”, ujar Adi sambil bercanda.

Waktu berjalan bagai kura-kura. Malam mulai mendekati remaja, dan suasana sunyi semakin senyap. Cuaca mulai dingin dan malam gelap tanpa bulan, membuat Adi dan Martuani semakin merasa aman bersembuyi di balik dinding rumah Ayu. Sesekali Adi mengintip ke depan, sayang orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.

“Ayu, dimana kamu?”, Adi mendesah penuh rindu.

Samar-samar suara sepeda motor menggerung mendekat. Adi sangat mengharapkan agar suara itu adalah suara sepeda motor orang tua Ayu sehingga penantian mereka tidak memakan waktu lebih lama lagi. Suara gerungan semakin mendekat dan berhenti tepat di depan rumah. Dengan sigap Adi melompat ke atas atap rumah yang gelap, dan dari atas dilihatnya wajah letih orang tua Ayu yang sedang memasukkan motornya ke dalam teras rumahnya.

“Gimana dengan nasib Ayu ya Yah??, sudah hampir satu minggu dia di rumah sakit. Tidak ada perubahan sama sekali.”, terdengar suara Bunda bernada sedih. Adi terkejut, “Ternyata sudah hampir satu minggu Ayu menginap di rumah sakit. Selama itukah aku tidak menjumpai Ayu? Mengapa aku bisa lalai dan tidak tahu keadaanya?”

“Entahlah Bunda. Dokter sudah berusaha dan mereka tidak memberikan kabar yang menggembirakan. Ayu tetap tidak sadarkan diri”, suara lirih terdengar.

“Bagaimana kalau Ayu kita bawa pulang saja Yah?” tanya Bunda. “Biaya pengobatan semakin membengkak saja, dan pelayanan mereka pun tidak memuaskan. Dasar rumah sakit pemerintah” suara bunda menggerutu.

“RUMAH SAKIT PEMERINTAH?!”, Adi terhenyak. Salah satu genteng berderak ketika Adi meloncat menuju persembunyian Martuani. “Mar, mari kita ke Rumah Sakit Otorita Batam! Ayu ada di sana. Dia sedang dirawat”

“Oke”

“Thanks Mar”

Mereka berdua melompat dan terbang tinggi menuju rumah sakit otorita batam. Terbayang wajah Ayu terbaring lesu di atas dipan. Membayangkan itu, hatinya teriris dan merasa bersalah.

“Maafkan aku sayang, karena telah melalaikanmu”, ujar Adi lirih.

Kisah Adi dan Ayu (#2)

•Juli 23, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Ayu!”

Adi terbangun dari tidurnya, dan mendapatkan dirinya sedang berdiri di pinggir jembatan Sei Ladi menikmati senja. Dengan penuh tanda tanya, dia menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan, dan dia tetap tidak mengerti mengapa bisa sampai di tempat ini secara tiba-tiba. Adi menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dirinya tidak berada dalam dunia mimpi, tetapi pemandangan di hadapannya tetap sama. Di sebelah kanan dan kirinya banyak orang berkumpul melihat pemandangan Sei Ladi yang disinari matahari kuning keemasan di sebelah barat.

“Ayu…”

Adi mencari-cari sebuah wajah yang selalu menghiasi mimpinya selama ini, tapi sayang wajah itu tidak ada di kerumunan orang – orang ini. Dia tidak habis pikir mengapa bisa sampai di tempat ini tanpa Ayu. Adi berjalan menyusuri jembatan Sei Ladi dari ujung yang satu ke ujung dengan perlahan mencari wajah kekasihnya itu, namun tetap tak ditemukan. “Mungkin aku memang tidak bersamanya hari ini”, guman Adi menyerah. “Aku nikmati saja senja bersama orang-orang asing ini dan akan kuajak Ayu suatu saat nanti. Pasti!”

Adi memandang matahari yang memerah di sebelah barat. Sungai tenang memantulkan cahaya indah matahari senja membuat orang terbawa keindahan anugrah yang kuasa. Di kejauhan terlihat beberapa orang memancing ikan sambil bercanda. Sementara di pinggir jembatan ini, beberapa pasangan sedang bercengkrama dihiasi siraman cahaya cinta di antara mereka yang membuat Adi menyesal tidak membawa serta Ayu menikmati suasana romantis ini. Hanya segelintir orang yang datang dalam kesendiriannya, seperti Adi saat ini yang membuat Adi tambah menyadari bahwa Ayu adalah belahan jiwanya.

“Selamat bergabung, Mas”, sebuah suara menyapanya dengan sopan dari belakang Adi. Adi segera menoleh dan dilihatnya seorang pemuda sebaya dengan dirinya. Pakaiannya bersih berwarna putih tanpa noda seperti terlihat pada iklan detergen yang ditayangkan di televisi. Adi membalas senyum lelaki itu.

“I…iya”, ujar Adi. “Terima kasih, Mas…?”

“Martuani”, jawab lelaki itu memperkenalkan diri, “panggil saja begitu”

“Namaku Adi. Sore yang indah”, tambah Adi mencairkan suasana sambil berjabat tangan. “Aku tidak pernah menyadadri keindahan senja jembatan Sei Ladi seperti ini.”

“Hari ini memang indah sekali. Udara sejuk dan matahari senja adalah pasangan serasi yang serasi untuk dinikmati”

“Mungkin saya harus lebih sering ke sini. Memang kadang-kadang kita tidak bisa menikmati keindahan yang telah ada di sekitar kita. Kerap kita mencari sesuatu yang jauh padahal di pelupuk mata ada yang lebih Indah”

“Ya, bener sekali. Ngomong-ngomong kamu ke sini sendirian?”

“Iya begitulah kira-kira, aku pun bingung mengapa bisa ada di sini.”

“Oh itu biasa, bagi orang-orang baru seperti kamu. Aku ketika pertama kali sampai ke dunia bagian ini bingung juga, seperti meloncat dari suatu tempat yang jauh dan berakhir di sini.”

“Tepat Sekali. Aku merasakan hal itu sekarang. Bahkan aku tidak tahu dimana saya parkirkan kendaraan saya”

“Kamu tidak memarkirkan kendaraan Adi, kamu adalah orang yang baru saja meninggal Adi”

“Hah! Apa maksudnya Mar?”

“Ya! Kamu adalah roh yang gentayangan Adi”

“Ah! Tidak mungkin Mar. TIDAK MUNGKIN!”, Adi bersikeras.

“Perhatikan sekeliling kamu”, ujar Martuani dan Adi memandang sekelilingnya, menurutnya tidak ada suatu pun yang aneh.

“Pakaian yang kita gunakan hanya berwarna hitam dan putih bukan?”

Memang benar kata Martuani, pakaian mereka berwarna hitam atau putih. Adi pun mengenakan pakaian berwarna putih, yang tidak pernah dimiliki oleh nya. “Mungkin aku pernah memberli baju putih ini dan lupa mengenakannya”

“Coba kamu lihat ke ujung jembatan, kamu akan lihat perlahan-lahan orang akan hilang dari pandangan”, Martuani menambahkan sambil menunjuk ujung jembatan.

Adi memperhatikan ujung jembatan, dan dilihatnya beberapa orang meninggalkan jembatan ini hingga menghilang di kejauhan. Tidak ada yang aneh, dan Adi menggelengkan kepalanya karena hal itu merupakan hal biasa. Pandangan manusia memang ada batasnya karena jalan raya setelah jembatan ini tidak rata, dan tentulah orang tidak akan kelihatan dari kejauhan.

“Coba kamu pegang jantungmu, rasakan detaknya”

Adi meletakkan telapak tangannya di dadanya dan membiarkannya sejenak untuk mencari detak tanda kehidupan. Tapi Adi tidak bisa merasakan detak itu, Adi mulai merasakan hal yang tidak biasa dan mencoba memegang urat nadi di tangannya di sana pun tidak dirasakan aliran darah. Adi mulai cemas kuatir perkataan Martuani adalah kenyataan yang dihadapinya sekarang ini.

“Ada detaknya?”, tanya Martuani, Adi mengggelengkan kepala dengan mata tak percaya.

“Itu tandanya kamu sudah mati”

“Tidak…tidak…tidak mungkin”, Adi tidak percaya. “TIDAK MUNGKIN!”

“Terimalah kenyataan. Kamu sudah meninggal”

“Tidak….!”, Adi berlari menjauh dari Martuani dan menyeberang jembatan. Sebuah mobil sedan melaju dengan kencang dan Adi terjebak di tengahnya. Adi berusaha menghindar tapi tidak sempat karena sedan itu terlalu dekat. “Kali ini aku benar-benar mati”, pikirnya. Sedan pun menabrak Adi, tetapi Adi sama sekali tidak merasakan apa-apa kecuali angin lalu yang terasa menandakan sedan sudah melewatinya. Adi jadi terkejut, matanya melotot dan mulutnya ternganga tak percaya. “Aku masih hidup dan aku memiliki bakat baru, Hebat!” Adi melompat-lompat kegirangan. Dia yakin dia masih hidup dan memiliki kemampuan di luar batas manusia biasa. “HEBAT!”

“Kamu sudah meninggal Adi”, ujar Martuani lagi mendekati Adi yang sudah sampai di seberang jembatan.

“Jangan katakan itu lagi. Aku masih hidup, aku memiliki kemampuan baru. Dengan kemampuan ini aku akan mencari Ayu”

“Kamu terlalu banyak menonton Film. Aku juga memiliki kemampuan yang sama dengan kamu karena kita sudah mati. Bahkan orang-orang yang dipinggir jembatan itu juga”, Martuani menunjuk orang-orang yang berdiri di sekeliling mereka.

“Dengan kemampuan ini, aku bisa pergi kemana saja tanpa takut celaka. Aku mau mencoba terbang seperti Superman”, Adi tidak mendengarkan ucapan Martuani dan dia meloncat dan … dia terbang ke angkasa. “Aku bisa terbang!”

Adi berputar-putar di atas Sei Ladi memandang ke bawah. Dia sangat menyukai kemampuan super yang baru saja dimilikinya. “Aku manusia super! Cihuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…”

“Adi!”, Martuani menyusul terbang. “Kamu bukan manusia super, tapi manusia yang sudah mati!”

“Kalau mati seperti ini enaknya, aku memilih mati saja!”, Adi terbang menjauh dari Sei Ladi menuju Nagoya. Ia ingin melihat Nagoya dari atas. Martuani menyusul dengan cepat, dia mengkuatirkan Adi.
“Ngaco kamu!. Adi! Kita tidak boleh ke daerah Nagoya dan Jodoh”

“Kenapa? Kita manusia super, tidak perlu takut apapun”

“Ini wilayah Romo Suryo, Raja Jin yang menguasai perjudian, pelacuran dan preman di daerah ini”

“Kamu kalau jadi orang jangan percaya sama Jin. Kita adalah manusia yang memiliki kemampuan luar biasa. Kita tidak akan celaka di sini, tidak ada yang bisa menyakiti kita”, mereka berputar-putar di atas Nagoya dan Jodoh. Adi tidak peduli dengan apa yang dikatakan Martuani.

“Hhhhh…”, hampir putus asa Martuani menjelaskan. Kalau saja dia bukan karena adiknya, dia tidak akan ambil peduli dengan pemimpi keras kepala yang satu ini. Dikejarnya Adi dan ditariknya untuk menjauh dari darah Nagoya dan Jodoh.

“Kamu tidak mengerti! Kamu sudah mati dan roh kamu gentayangan. Kalau kamu bertemu dengan Romo Suryo, kamu akan dibuat menjadi salah satu anak buahnya. Kamu akan gentayangan hingga akhir jaman nanti. Dan itu menyakitkan!”

“Aku suka jika seperti sampai akhir jaman. Aku Immortal”

“Sembarangan kamu”

“Memang Romo Suryo sejahat apa sih sampai kamu takut seperti itu”

“Dia adalah Raja Jin yang datang dari Jawa dan menguasai lokasi kekuatan jahat di daerah sini. Daerah Nagoya dan Jodoh merupakan sarang Komplotan Romo Suryo, tidak seorangpun berani menentangnya”

“Emang bentuknya seperti apa sih?”

“Romo Suryo memiliki dua tanduk di kepalanya, wajahnya berbentuk banteng bermata merah dengan dengusan nafas panas yang selalu menghembus dari hidungnya. Badannya tinggi dan kekar dan tangannya yang memiliki tentakel seperti tentakel gurita”

“Hah?!”, ucap Adi. ”“Memang kita tidak bisa melawannya?”

“Romo Suryo adalah jin yang dipuja oleh manusia – manusia sesat. Kehidupannya tergantung pada puji-pujian dari manusia sesat itu”, ujar Martuani. “Semakin banyak orang yang memujinya, semakin kuat posisinya di kalangan Jin”

“Aku tidak takut!”

“Kamu harus takut. Jin itu bisa memaksamu menjadi hambanya seumur hidup, sama seperti manusia yang menghambanya. Manusia yang selama ini menghamba Romo Suryo dan kemudian mati, akan langsung menjadi budaknya hingga kiamat tiba”

“Bukankah kita harus melawan Romo Suryo?”

“Tidak bisa!”

“Kenapa?”

“Sebagai roh yang gentayangan, kamu tidak memiliki waktu banyak di dunia persinggahan ini. Nikmatilah, jangan sampai kamu menjadi salah seorang pasukan kejahatan Romo Suryo”, Martuani menasehati, “Lagipula, kamu harus berpamitan dengan kekasihmu”

“Ayu?!”, Adi tersentak sebentar, tersadar bahwa dia harus mencari Ayu dengan segera. Dengan kemampuan seperti ini dia bisa terbang langsung ke rumah Ayu. Tanpa pikir panjang Adi melaju ke rumah Ayu di Tiban. Martuani mengiringinya, sementara itu malam mulai tiba.

Sebagai manusia yang memiliki kemampuan khusus seperti ini, Adi merasa bebas untuk pergi kemana saja dan kapan saja. Martuani, teman barunya yang sudah memiliki kemampuan yang sama lebih dulu akan menjadi pembimbingnya dalam mempelajari anugrah yang diberikan padanya. Adi memikirkan proses mendapatkan kekuatan seperti ini, tapi tak satupun yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Ah andaikan Ayu tahu dia memiliki kekuatan seperti ini, akan dibawanya Ayu terbang tinggi melihat kota dari atas awan, tentu menggunakan mantel tebal supaya tidak masuk angin. Alangkah indahnya…

Kisah Adi dan Ayu (#1)

•Juli 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari menunjukkan pukul 12 malam, Kota Batam mulai sepi kecuali tempat hiburan yang masih dikunjungi oleh para penikmat malam. Pedagang asongan menjajakan dagangannya hingga pagi mengais rejeki yang tak seberapa demi hidup di esok hari. Sebuah discotique terkenal di daerah jodoh mulai dialiri darah segar dan tak ketinggalan pengunjung Pub dan Cafe sekitar Nagoya pun meramaikan suasana romantis malam minggu. Hanya bioskop yang mulai tampak sepi ditinggal penonton film terakhir.

Dua anak manusia – Adi dan Ayu – baru saja pulang dari bioskop. Dikeremangan lampu jalan, mereka mengendarai sepeda motor merah membelah malam. Jalanan terlihat sepi, hanya segelintir orang beraktifitas di persimpangan lampu merah, menjajakan dagangan. Tak lupa pula waria nakal menggoda para lelaki yang sedang menunggu lampu hijau.

“Aku mencintai kamu Ayu”, ujar Adi ketika mereka berhenti di lampu merah Simpang Jam. Adi sengaja mengambil jalan memutar agar bisa lebih lama sampai di rumah Ayu. Sejak pertemuan pertama dengan Ayu, Adi sudah merasakan getar kasih sayang dan cinta yang tidak terbendung hingga kini. Kunjungan Adi ke rumah Donny saat itu ternyata membawa berkah pertemuan dengan Ayu yang berwajah bagai putri khayangan sesuai dengan nama yang disandangnya. Sesaat Adi terpesona dan membeku ketika melihat sosok sempurna yang ada di hadapannya.

“Aku juga sayang kamu Adi”, jawab Ayu dengan rona yang bahagia yang tak ketara tertutup gelapnya malam. Ayu merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia saat ini. Walaupun pertemuan pertama mereka tidak terlalu mengesankan, pertemuan – pertemuan selanjutnya merupakan momen yang tidak terlupakan, hingga mereka sepakat merajut tali kasih di antara mereka setahun lalu. Ayu sudah bulat akan menjadikan Adi lelaki terakhir dalam hidupnya, dan dia sangat yakin jika Adi akan menjadikannya wanita terakhir dalam hidup Adi.

“Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa kamu”, Adi berkata jujur. Setiap langkah yang diambil oleh Adi selalu membayangkan langkah yang seiring dengan Ayu. Dalam tidur, Ayu selalu berada di dalam kisah episode mimpi Adi. Mereka berdua memang tidak terpisahkan.

“Aku bahkan membayangkan kamu di setiap kedipan mataku”

“Aku lebih memilih mati daripada berpisah dengan kamu, sayang”

“Kematian tidak akan memisahkan kita”

“Ya!, kematian akan menjadi awal keabadian kita bersama”

“Sayang, lampu sudah hijau”

Adi menjalankan sepeda motornya dengan santai. Dia tidak ingin cepat berpisah dengan Ayu, apalagi malam ini adalah malam panjang. Sayang waktu tidak berpihak pada mereka berdua, janji mengantar Ayu setelah nonton film harus ditepati. Walaupun orang tua Ayu sudah mempercayai mereka bisa menjaga diri, mereka tetap harus mengikuti aturan umum berhubungan yang tidak melangkah terlalu jauh sebelum waktunya dan menghianati kepercayaan yang telah terbina.

Motor melaju dengan lambat menuju perumahan Tiban, yang terletak di sisi lain dari pulau kecil ini. Untuk menuju ke perumahan tersebut, Adi dan Ayu harus melewati sebuah jembatan yang membelah Sungai Ladi. Jembatan itu tidak terlalu panjang, untuk melewatinya hanya dibutuhkan waktu satu menit. Hanya saja, pada malam hari jembatan itu agak gelap. Lampu jalan di kedua sisi jembatan tidak dapat menghapus kelamnya malam.

Banyak cerita misteri yang menyelimuti jembatan Sei Ladi ini. Mulai dari kisah orang membuang bayi, membuang mayat bahkan bunuh diri. Kata salah seorang polisi tetangga Adi, Sei Ladi memang tempat membuang mayat ketika masih belum digunakan dulu. Bahkan mobil salah satu teman Adi pernah mogok di tengah jembatan angker ini tanpa sebab apapun.

Adi tidak mempercayai hal-hal yang demikian, dia lebih suka berpikir realistis. Yang namanya angker hanyalah ilusi manusia yang sedang dilanda ketakutan atau sejenisnya. Tetapi tak urung ketika mereka sampai di jembatan ini, rasa takut pun singgah dan membuat bulu kuduknya berdiri. Andi tak mampu menghilangkan pikiran buruk mengenai jembatan ini, sehingga dia mulai menjalankan sepeda motor lebih kencang.

“Hati-hati Mas”, ujar Ayu ketakutan.

“Tenang saja. Mas agak serem kalau lewat sini tengah malam gini”

“Adduhhh mas. Pelan-pelan saja”

“Iya”

Ucapan Ayu tidak digubris Adi, sepeda motornya berlari lebih kencang lagi. Ayu memeluk erat pinggang Adi, kuatir melayang di terpa angin. Angin malam yang dingin, menusuk kulit hingga ke tulang, dan Adi terus melarikan sepeda motor dengan kencang.

“Sebentar lagi sampai di seberang”, pikir Adi. Waktu satu menit tidak lama kalau dalam kondisi biasa, tetapi dalam kondisi malam yang gelap seperti ini satu menit serasa satu hari.

Tiba-tiba, Adi melihat seorang kakek renta melintas di depan sepeda motornya. Adi langsung membanting roda ke kanan.

“AAAAAHHHHHHHHHHHHHHHH…………….”

Sepeda motor berguling-guling di jembatan sepi itu hingga beberapa meter, Adi terlempar dari motor dan mendarat telentang di aspal hitam dengan kepala menghamtam trotoar dan mengeluarkan darah yang banyak, sementara Ayu jatuh berguling-guling di tengah jalan, hingga tubuh halusnya menyentuh trotoar, matanya tak terbuka, mulut mengeluarkan darah.

Adi masih bisa melihat langit yang makin lama makin redup di matanya. Dia berusaha bangkit ingin menolong kekasihnya tetapi tak kuasa.

“Ayu..”

Pelan tapi pasti kesadaran Adi mulai tenggelam ditutupi oleh kelamnya kegelapan yang menyatu dengan malam. Menutup mata adalah pilihan bijak menyambut gelap, hingga kesadaran perlahan hilang. Kengerian di tengah jembatan terjadi hanya dalam hitungan detik saja, menyisakan raungan suara sepeda motor yang masih menyala, menunggu para penolong tiba.

“Kakek tua itu dimana ?” itulah pertanyaan Adi sebelum menutup mata.

Deklamasi Kemerdekaan (#4)

•Juli 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Deklamasi

Saat – saat pementasan sudah di pelupuk mata. Panggung besar dan luas berdiri gagah di depan sekolah, dihiasi dengan spanduk dan backdrop berisi kalimat suka cita menyambut hari kemerdekaan dan doa demi masa depan Indonesia. Sementara itu pohon pinang sudah berdiri tegak agak jauh dari panggung, sayang hadiahnya belum digantung dan lapisan pelicin pun belum dioles. Menurut Pak Udin, pohon itu akan dioles dan dihias hadiah setelah upacara agustusan biar tidak rusak, dan siap sebelum acara pentas seni dimulai. Garis pembatas rute perlombaan balap karung pun sudah dibuat menggunakan tali rapia, demikian pula tali tambang untuk pertandingan tarik tambang pun sudah disiapkan.

Aku grogi dan tidak bisa diam sejak pagi. Puisi yang akan kubawakan nanti sore berkali-kali kubaca dan selalu saja ada yang salah. Memang aku bukan orang yang suka menghapal. Emak mengerti keadaanku, tetapi beliau tidak bisa banyak membantu selain memberikan semangat yang sudah kudengar berulang kali. Sore ini, emak tidak bisa menonton dan kuharap bapak akan melihatku penampilanku, walaupun aku tidak terlalu yakin beliau bisa datang.

Beberapa kali teman sekampungku mengajak bermain sepak bola dan terpaksa kutolak karena aku harus bersiap untuk acara nanti sore. Aku lebih suka di rumah latihan berpuisi supaya tidak ditertawakan penonton dan membuat aku malu. Berkali-kali ku coba mempraktekkan gaya berpuisiku di depan kaca dan menurutku selalu saja ada tidak sempurna.

Pada jam dua sore aku sudah siap dengan pakaian pelautku yang sudah diambil emak beberapa hari lalu. Rambut kucelku di beri minyak supaya rapi dan baunya membuatku mau muntah hanya karena acara pentas seni aku harus rela rambutku diolesi minyak rambut.

“Nanti kalau tampil harus berani ya. Kalau takut jangan lupa baca bismillah”, ujar emak sambil menyisir rambutku.

“Iya mak”, ujarku. “Tapi aku belum hapal”

“Tenang saja. Baca pelan-pelan dan pahami apa yang kamu baca”

“Sudah dicoba mak, tapi tidak ada yang nyangkut di kepala. Lupaaa semua.”

“Nanti juga bisa”, ucap emak sambil merapikan pakaianku dan membuant beberapa benang yang masih menempel. “Nah selesai, kamu segera berangkat.”

“ ‘Kan masih lama mak”

“Satu jam tidak lama. Nanti kamu harus lapor ke ibu guru dulu dan ibu guru akan mempersiapkan pementasannya. Kamu harus melihat kapan kamu tampil”

“Tapi mak…”

“Sekalian kamu menonton orang lain tampil. Biar kamu tahu”, emak memotong apa yang akan kuucapkan. “Pergi sana!”

Dari kaca kulihat rambutku rapi mengkilat seperti orang malam mingguan nonton dangdut. Baju pelaut yang kubanggakan berwarna putih dengan strip hijau di lehernya yang lebar hingga ke belakang mirip dengan baju popeye sudah terpasang rapi. Sepatu lebaran berwarna hitam sudah mengkilat disemir menggunakan semir bapak. Jantungku semakin tegang dan tanganku kembali menjadi dingin.

“I..iya mak”

Aku melangkah ke luar rumah dan berjalan menuju sekolah. Kali ini aku tidak mau lama – lama di jalan, sebab aku harus terus bersiap-siap dan menghapal bait – bait puisi yang akan kubaca nanti, sehingga aku memilih jalur singkat melalui jalan setapak di sebelah kiri rumah besar. Kuharap anjingnya tidak menggongong padaku apalagi mengejarku.

Di perjalanan kulihat Kumang dan Ambo tidak jadi bermain bola. Mereka ingin ikut denganku dan tentu dengan senang hati aku mengabulkannya. Kuharap kalau anjing rumah besar mengejar, anjing itu akan memilih mengejar mereka daripada mengejarku.

Kumang dan Ambo adalah teman baikku yang tinggal di sebelah. Mereka tidak sekolah TK seperti aku, orang tua mereka akan menyekolahkan mereka langsung ke Sekolah Dasar. Menurut ibunya, sekolah TK tidak ada gunanya dan menghabiskan biaya. Kami bertiga adalah sahabat baik dan sering membuat kapal-kapalan dari dahan pohon sagu dan menambatkannya itu di parit belakang rumah.

“Hati-hati, rumah itu ada anjing galak”, ujarku kepada Kumang dan Ambo ketika melewati rumah besar. Mereka terdiam sebentar dan kami melangkah pelan ke arah rumah yang berwarna putih itu. Kumang dan Ambo bersiap mengambil batu-batu kecil di jalanan. Mereka akan melempar batu ke arah anjing itu jika berani mengejar kami. Hal itu cukup menghibur walaupun aku lebih memilih tidak dikejar anjing sama sekali. Di tengah rumputan ilalang pendek kami berjalan pelan-pelan dan berhati-hati. Sebenanya ada orang lain yang berjalan menuju ke sekolah dan mereka tidak takut sama sekali. “Mungkin mereka tidak tahu betapa galaknya anjing itu”, pikirku. Aku yang tahu harus berhati-hati supaya tidak dikejar dan terkencing di celana dan membuat acara deklamasiku bubar dan tidak mendapatkan hadian dari bu Tini.

Dari balik pagar tanaman yang membatasi rumah dengan jalan setapak ini, aku mengintip ke dalam sambil terus berjalan dengan pelan. Langkah kami semakin hati-hati dan pelan sekali, hingga tiba – tiba ”GUK….GUK…GUK”, kami mendengar suara anjing mengonggong. Aku segera berlari sekencang-kencangnya tak menoleh ke kiri atau ke kanan, menyelamatkan diri dari anjing itu. Kumang dan Ambo langsung membuang batu di tangannya ikut berlari bahkan lebih cepat dari aku. “Apa gunanya batu di tangan kalau tidak untuk mengusir anjing”, pikirku. Beberapa kali aku hampir jatuh, tapi untunglah aku bisa menjaga keseimbanganku hingga baju pelautku tidak terlalu kotor. Aku ketinggalan di belakang, sementara suara anjing mengonggong masih terdengar, walaupun sudah mulai samar. Orang-orang melihat kami bertiga berlarian dan menganggap kami bermain kejar-kejaran. Aku terus berlari hingga akhirnya sampai di depan sekolah. Tidak kulihat seekor anjingpun yang mengejar kami, walaupun suara gonggongnya masih terdengar. Rupanya anjing itu hanya menggonggong tidak mengejar kami, karena terikat dengan rantai dekat kandangnya. Untunglah aku tidak terkencing di celana. “Hhhhhhhhhhhhhh…”, aku menarik nafas panjang, demikian pula Kumang dan Ambo. Kami pun tertawa lucu menertawakan kelakuan kami sendiri. Saatnya berkonsentrasi pada acara.

Para penonton dan peserta sudah padat memenuhi lapangan sekolah kami. Orang-orang yang berjualan pun ikut berpesta menjajakan dagangannya. Penjual rokok keliling telah duduk di depan kotak rokoknya, dan tak lupa pedagang bubur tahu nongkrong lebih dekat dari biasanya. Banyak yang mengerubuti penjaja tahu itu, karena tahunya enak sekali.

Aku melapor kepada ibu Tini bahwa aku sudah datang, dan sebuah permen lolipop disodorkan kepadaku. Kami diminta berkumpul di belakang panggung menunggu panggilan pembawa acara yang berarti harus berpisah dengan Kumang dan Ambo. Permen lolipop kuberikan kepada mereka berdua dan mereka pergi menyelinap ke depan panggung.

Acara pentas seni diawali dengan acara seremonial yang membosankan. Pidato pak Lurah diikuti dengan laporan ketua panitia acara dan acara sambutan lainnya. Kami yang ada di belakang panggung menunggu dengan perasaan yang tidak karuan. Jantung berdebar dan tangan yang kembali dingin menjadi bagian dari kami. Aku, Nasri dan Agus berusaha menghilangkan rasa ini dengan cara bercanda.

Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba, dan membuat jantungku berdetak lebih kencang dan telapak tanganku menjadi lebih dingin dari biasanya. Acara inti dimulai dengan menampilkan Andri yang membawakan lagu LSD, diteruskan dengan nyanyian anak-anak lainnya yang dikombinasikan dengan tarian.

“Acara berikutnya akan diisi oleh Syaifi yang membawakan Deklamasi Tukang Pos, tepuk tangan”, suara pembawa acara membahana ke seluruh lapangan.

Aku terkejut merasa tidak siap dan langsung melarikan diri ke toilet di belakang sekolah. Aku tidak akan mampu berdiri di atas panggung ditonton puluhan bahkan ratusan pasang mata serta berbuat kesalahan di atas sana. Aku tahu aku sudah mati-matian menghapal isi deklamasi itu, tetapi aku tidak mampu membacakannya di atas panggung. Aku takut dan tidak peduli dengan hadiah. Aku akan bersembunyi di tolet kami yang bau dan tidak pernah disiram.

“Adik Syaifi, silakan naik ke pentas”, kudengar pembawa acara masih memanggilku agar aku berani naik ke atas. Aku terus bersembunyi menunggu panggilan berhenti.

Setelah beberapa kali memanggil dan tidak berhasil, akhirnya merekan menyerah kalah dan melanjutkan ke acara berikutnya yang diisi dengan pembagian hadiah hiburan kepada penonton yang berani tampil ke atas pentas. Aku lega dan keluar dari tempat persembunyianku dengan tenang.

“Aman…”, pikirku.

Aku kembali ke belakang panggung, dan menghirup udara kebebasan. Dari jauh kulihat beberapa temanku memperebutkan hadiah dari bu Tini, aku segera berlari dan ikut dalam perebutan itu. Tiba-tiba bu Tini berkata:

“Nah ini dia Syaifi. Kemana saja kamu ?”, tanya bu Tini. “Sekarang kamu naik pentas ya, nanti baru dikasih hadiah”

Aku terkejut dan merasa tidak aman lagi, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. tanganku ditarik dan dibawa ke atas panggung ketika acara pembagian hadiah selesai. Dari atas pentas, kulihat penonton berdesakan ingin menonton lebih dekat. Kumang dan Ambo temanku berada di barisan paling depan, berdiri sambil tersenyum. Telapak tanganku dingin kembali, jantungku berdetak lebih kencang dan sekujur tubuhku gemetar. Kulihat Bang Latif – abang sepupuku – menontonku dengan senyum mengembang memberi dukungan dan aku sedikit lebih tenang.

“Sekarang mari kita dengarkan adik kita Syaifi membawakan deklamasi yang berjudul Tukang Pos”, ujar pembawa acara diikuti dengan tepuk tangan para penonton.

Aku terdiam, bibirku kelu tak bisa berbicara dan membisu di atas panggung. Orang-orang menungguku membuka mulut, sementara bang Latif memberikan semangat melalui matanya yang hangat. Aku menjadi lebih berani.

“Tukang Pos”, mulutku mulai berbicara

Tukang Pos
Aku tukang pos
Pergi pagi pulang petang
Membawa surat dan juga barang
Bila ku datang banyak yang senang
Namun ada pula yang jadi meradang

Aku tukang pos
Kuantar surat sampai tujuan
Pamrih dan imbalan tak kuharapkan
Senyum dan terima kasih yang kudapatkan
Bagi diriku itu sudah membahagiakan

Selama membaca puisi itu, aku memandang bang Latif yang terus memberikan dukungan dengan sesekali mengacungi jempol. Dukungan itu merupakan obat mujarab bagiku, dan membuatku lancar membaca puisi singkat itu. Setelah selesai, aku segera turun dari panggung tak memperdulikan tepuk tangan penonton. Kini hatiku lega dan gembira membayangkan hadiah yang akan diberikan ibu Tini.

“Ini hadiahnya sayang”, ujarnya sambil menyodorkan sebuah kotak berisi hadiah mainan. Kuambil hadiah itu dengan suka cita. “Aku bisa bermain dengan Hindun”

Aku berjalan ke arah depan panggung mendekati Kumang dan Ambo, rasanya semua mata mengikuti langkahku dan membuatku tersipu malu. Kulihat Kumang dan Ambo masih berdiri di depan panggung, menonton acara selanjutnya, yang sebentar lagi akan berakhir.

“Mang, main bola yuk!”, ujarku.

“Gak nonton yang lain? Panjat pinang ‘kan belum mulai”

“Lomba anak-anak tidak ada. Semuanya untuk orang dewasa. Jadi kita tidak punya kesempatan”

“Ok deh. Yuk kita panggil yang laen. Kulihat Fajar juga ada di sini tadi”

Kami bertiga melangkah ke luar kerumunan dan mencari teman-teman kami untuk diajak bermain bola di lapangan dekat rumah. Acara agustusan makin seru dan beberapa teman kami tidak mau kami ajak pulang. Akhirnya kami bertiga tidak jadi pulang dan ikut terus menikmati acara hingga selesai saat magrib tiba.

The End

Deklamasi Kemerdekaan (#3)

•Juni 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Emas untuk baju pelautku

Dua minggu sudah sejak surat ibu guru kuberikan pada Emak. Anak-anak sudah banyak yang telah mengambil baju pelaut yang kemudian menggunakannya ke sekolah sehingga membuat aku iri dan malu. Agus pun pernah menggunakan baju itu dan membanggakannya di depan kami. Hanya aku dan Nasri yang belum bisa menggunakan baju pelaut, karena orang tua kami belum bisa mengambil baju pelaut itu.

“Kapan baju kalian akan diambil?”, tanya bu guru.

“Nanti bu”, jawabku sekenanya. Aku tidak tahu apakah baju pelaut bisa diambil sebelum pentas seni atau tidak. Aku hanya bisa menjawab seperti itu.

Beberapa kali Andri membuat kami cemburu dengan baju pelaut itu, dan mengejek kami karena belum mengambilnya hingga membuat Nasri menangis karena tak berdaya. Aku jadi geram sekali tetapi aku tidak berani memukul Andri. Hanya Agus yang membela kami saat Andri mengejek kami berdua.

“Kapan diambil baju pelaut nya mak ?”, hampir setiap hari pertanyaan itu kusampaikan pada emak. Dan dengan senyum dipaksa emak menjawab, “Nanti ya sayang, emak belum sempat”. Dan itulah jawaban yang selalu kudengar setiap kutanyakan, hingga kini.

“Teman-teman sudah memakainya semuanya Ma’”, ujarku. “Aku ‘kan malu diejek Andri”

“Iya sayang, sabar ya.. nanti kalau emak sempat emak pasti ambil. Sebelum pentas seni kan?”

“Iya mak jangan lupa ya”

Tetapi emak tidak pernah sempat mengambil baju pelautku. Aku hanya bisa menunggu dengan harapan yang makin lama semakin kosong. Ketika Andri dan yang lainnya mengenakan pakaian pelaut, aku hanya bisa menangis menahan dengki dan malu di hatiku. Untunglah anak-anak tidak menggunakan saat bersamaan, sehingga aku tidak terlalu merasa kecil.

Aku tidak berani bertanya kepada bapak karena takut dimarahi. Bapak mudah sekali marah karena hal-hal sepele, apalagi hal yang menyangkut uang. Jadi yang kurongrong hanyalah emak dan semakin hari jawaban emak makin tak pasti. Aku bertambah khawatir baju pelautku tidak akan pernah terbeli.

Aku mengisi hari-hari penantian ini dengan menghafal puisi yang akan kubawakan dengan bimbingan ibu Tini agar bisa melupakan baju pelaut. Nasri dan Agus pun sibuk dengan latihan mereka. Mereka menari tarian hasil kreasi ibu guru yang bertemakan tentang pelaut diiringi dengan tape recorder. Demikian pula teman-teman yang lainnya, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Sementara itu panggung di depan sekolah sudah mulai berdiri. Panggungnya luas dan tinggi sekali tetapi masih belum dihias dengan kertas berwarna-warni. Tenda yang terbuat dari kayu sudah pula didirikan sedangkan lapangan permainan dewasa mulai disiapkan. Pohon pinang sudah dirikan hanya menunggu hadiah yang akan digantung dan lumuran pelumas agar sebagai pelicin. Hatiku semakin menkhawatirkan baju pelautku yang belum juga diambil hingga beberapa hari sebelum acara pentas seni.

Hingga suatu hari emak berkata padaku, “Fi, hari ini kamu ikut emak, ya”

Aku baru saja sampai ke rumah dan berganti pakaian. Aku tahu emak akan pergi karena beliau sudah berdandan rapi hingga memancarkan aura kecantikannya. Adikku, Hindun sudah dititipkan beliau ke rumah Nek Dasimah. Emak menggunakan baju hitam bergaris-garis kecil memanjang ke bawah yang merupakan satu-satunya baju terbaik yang emak miliki. Setiap keluar rumah menghadiri acara penting atau berfoto, emak selalu menggunakan pakaian tersebut.

“Mau ke mana mak?”, tanyaku

“Sudah ikut saja. Hindun sudah di rumah nenek”

“Ke mana sih mak? Ke pasar?”

“Ke gedung nasional!”

“Hore…”, aku berteriak gembira. Gedung nasional adalah gedung tempat acara yang mengasyikkan di kota kami. Letaknya sangat jauh dari rumahku dan aku tidak mungkin ke gedung nasional sendirian.

Sebenarnya gedung nasional itu hanyalah gedung pemerintah tempat pameran atau acara – acara tertentu berlangsung. Letak gedung itu untuk anak seusiaku sangat jauh dari rumah, walaupun bagi orang dewasa dekat.

“Udah, ganti baju sana. Pakai baju lebaran!”

“Iya mak”, aku berjingkrak-jingkrak kegirangan karena diajak emak jalan-jalan. Hindun tidak diajak karena seringkali rewel dalam perjalanan. Aku mengambil baju lebaran dua tahun lalu yang berwarna hijau dan masih bagus dengan bahan yang tebal dan kerah yang lebar.

“Udah mak. Kita berangkat sekarang?” tanyaku. Kulihat emak juga sudah siap membawa dompet butut kecil di tangannya dan botol minuman yang berisi air putih di tangannya.

“Ayo, sebelum keburu siang. Ini kamu yang bawa” ujar beliau sambil menyodorkan botol minuman itu padaku.

“Jangan lupa pakai sepatu”

Aku dan emak keluar rumah, menuruni tangga batu dengan hati-hati. Sebelum berangkat emak mengunci pintu walaupun rasanya itu tak perlu karena penduduk kampung kami sering berjaga satu sama lain. Mereka akan segera mengetahui jika ada penduduk baru, apalagi kalau ada pendatang yang tidak diinginkan.

Kami berjalan kaki pergi ke gedung nasional. Emak hanya mengunakan slop biasa dan bukan hak tinggi seperti ibu-ibu gedongan, dan itu menguntungkan beliau karena tidak perlu sakit kakinya. Aku menggunakan sepatu sekolah dan berjalan lambat. Siang itu agak panas, walaupun waktu baru menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Matahari memancarkan sinarnya dengan garang hingga peluh mengucur di seluruh tubuh. Kulihat emak beberapa kali mengelap keringat yang ada di dahinya menggunakan sapu tangan. Pakaianku yang agak tebal dan tidak menyerap keringat karena terbuat dari bahan murahan, membuatku tambah panas.

Dua puluh menit perjalanan menuju gedung nasional, rasanya seperti seharian. Sesekali kubuka minuman yang dibawa dari rumah dan meminumnya sambil jalan. Hingga akhirnya perjalanan yang melelahkan itu berakhir dan sampai di wilayah sekitar gedung nasional. Kuliat dari jauh gedung nasional sangat sepi. “mungkin acaranya ada di dalam”, pikirku.

“Kita belok sini” ujar emak di pembelokan terakhir menuju sebelum sampai di gedung nasional yang tampak sepi itu. Jalan itu menurun landai.

“Koq belok sini mak?, katanya ke gedung nasional”

“Nanti, kita harus ke kantor pegadaian dulu”

“Pegadaian?”

“Iya. ‘kan kamu mau ngambil baju pelaut bukan?”

“Tentu dong mak. Kapan? ”

“Nanti sore emak baru sempat. Hari ini kita ke pegadaian dulu ngambil uangnya.”

“Jadi uang emak ada di sini?”

“Iya. Ayo!”

Kami masuk ke dalam lingkungan kantor pegadaian yang di halamannya penuh bunga melati kecil. Kulihat sudah banyak orang yang antri mengambil uang di kantor ini. “Jadi di sinilah emak menyimpan uangnya”, pikirku, “Pantas emak tidak pernah sempat mengambil baju pelaut soalnya tempat mengambil uangnya jauh”

Kantor pegadaian berawarna putih kusam dengan dilengkapi beberapa counter pelayanan. Satu persatu orang yang datang untuk mengambil uang dilayani dengan baik. Pegawainya yang ramah dan sopan – bagiku – membuatku betah dan senang melihat mereka, dan menunggu bukanlah sebuah pekerjaan yang membosankan.

Tak lama kemudian giliran emak tiba. Emak mengeluarkan sebuah amplop putih bergaris-garis merah biru di pinggirnya dan disodorkan kepada petugas pegadaian. Aku berdiri di atas kursi panjang di depan counter itu.

“Mau menggadaikan apa ibu?”

“Ini pak. Kalung emas”, emak menyerahkan amplop itu kepada petugas.

“Berapa gram bu”, petugas mengambil dan mengeluarkan isinya. Kulihat kilauan kalung emas yang diwariskan oleh Nenek Rudiah sedang dipegang oleh petugas pegadaian.

“Lima gram pak”

“Ini emas asli ya bu?”

“Iya dong pak. Bapak bisa memeriksanya. Saya sudah menggadaikan kalung ini beberapa kali di sini.”

“Baiklah ibu, saya periksa dulu. Kami harus hati-hati siapa tahu sepuhan” petugas kemudian memeriksa buah kalung emak dengan cara mengikis menggunakan alat kecil seperti kikir.

Dikejauhan kulihat seekor capung sedang hinggap di bunga melati di halaman pegadaian. Aku sangat menyukai capung dan biasanya aku menangkap capung bersama teman-teman sekampung. Kata mereka capung adalah obat mujarab untuk orang yang suka ngompol dengan cara membuat capung mengigit udel orang itu. Aku ingin sekali adikku mencoba obat mujarab ini, supaya dia tidak ngompol lagi. Aku turun pelan-pelan dari bangku panjang dan mendekati capung itu untuk mencoba menangkapnya. Mengendap-endap kucoba dekati capung itu, kemudian kujulurkan tanganku dengan hati-hati, dan hop!… tertangkaplah capung malang berekor merah itu.

“Horeeeee!!!”, aku berteriak-teriak kegirangan. “Aku dapat capung…aku dapat capung”. Hari ini akan kupaksa Hindun berobat menggunakan capung supaya tidak ngompol lagi.

“Fi… kita pulang!”, ujar emak. Sepertinya emak telah selesai mengambil uang untuk baju pelaut. “Buang capung itu. Kasihan”

“Tapi mak, ini untuk obat Hindun”

“Nanti kita cari lagi di dekat rumah. Sekarang kita pulang saja”

“Tidak jadi ke gedung nasional? Katanya mau ke gedung nasional”

“Gedung nasional nya sedang tutup, kata bapak yang tadi. Jadi lain kali saja kita ke sana”

“Ahhhhh…”, aku kecewa tidak bisa ke gedung nasional. Kulepaskan capung yang ada di tanganku dan dengan cepat terbang menjauh. Lain kali akan kudapatkan obat untuk Hindun.

“Katanya mau beli baju pelaut”, ujar emak menghiburku.

“Sekarang Mak?”

“Nanti sore ‘kan kita ke tempat ibu guru untuk mengambilnya”

“Horeeeee… baju pelautku jadi diambil… hore!”

Aku senang sekali akhirnya baju pelaut yang jadi impianku akhirnya bisa diambil. Aku tidak perlu malu lagi dengan teman-teman yang lain. Besok akan kupakai langsung, biar Andri tahu kalau aku sudah punya baju pelaut, “Horeee!”

Bersambung ke bag. 4

Deklamasi Kemerdekaan (#2)

•Juni 28, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Surat dari Bu Guru

Rumahku tidak jauh dari sekolah hingga kalau aku pulang cukup berjalan kaki. Jika ingin lebih cepat sampai di rumah, aku harus mengambil rute singkat lewat jalan setapak di sebelah rumah besar, dengan resiko dikejar anjing. Lebih baik mengambil jalan agak jauh dan memutar daripada dikejar anjing sampai terkencing bukan?

Dikejauhan, kulihat rumahku yang terbuat dari kayu dan beratap seng, berdiri di atas duabelas batu penyangga. Pintu depan yang berwarna biru muda terletak di tengah-tengah rumah dilengkapi tangga semen. Warna rumahku sudah kecoklatan, dengan atap seng yang bolong-bolong membuat rumah kami lebih terang di siang hari dan lebih sejuk di malam hari, kecuali saat turun hujan yang membuat kami tidak bisa tidur tenang, karena harus menampung tetesan air yang turun dari atap.

Saat aku pulang, biasanya Ema’ – panggilanku kepada ibu – sedang memasak di dapur, sambil mengasuh adik kecilku yang manis, Hindun. Adikku berumur tiga tahun, berbeda dua tahun dari aku dan sering menghisap ibu jari. Ibuku sering memarahinya agar tidak menghisap ibu jari yang kotor itu, tetapi kebiasaan itu tidak mudah dibuangnya. Perawakannya yang gempal dan wajahnya yang menggemaskan membuat Hindun disukai oleh tetangga-tetangga kami, sayangnya kalau tidur selalu ngompol. Saat kami menginap di rumah Nek Dasimah, Hindun tidak diperbolehkan tidur di atas kasur.

“Ma’ aku pulang!”, ucapku ketika masuk ke rumah. Aku langsung berlari ke dapur dan kulihat Ema’ sedang memasak ikan tumis tongkol yang sering jadi menu sehari-hari kami. Ema’ yang cantik hanyalah ibu rumah tangga biasa, menikah ketika umur duabelas tahun dan memiliki aku ketika beliau berumur delapan belas tahun. Wajah beliau seperti wajah orang cina berbentuk bundar dan mata agak sipit. Rambutnya hitam panjang agak ikal dan senyumnya yang tidak lepas dari bibirnya membuatku tenang dan tenteram berada di dekatnya. Mungkin setiap anak akan berpikiran seperti aku. Ema’ jarang sekali marah, dan kalau marah, memukul dengan lembut.

“Ah.. anak Ema’, gimana hari ini?”, ucapnya sambil mencium pipiku.

“Baik saja Ma’, kami bermain kasti dan kelompok kami menang”, ujarku sambil mengambil surat dari tas kecilku dan menyerahkan pada Ema’. “Ma’, ini ada surat dari ibu guru”

“Terima kasih”, Ema’ mengambilnya dari tanganku.

“Ma’ pada acara pentas seni nanti, aku disuruh deklamasi”, ujarku. Ema’ membuka surat pelan-pelan seolah sebuah surat yang sangat berharga. Walaupun termasuk orang tua angkatan orde lama, Ema’ bisa membaca dengan lancar sebab beliau sempat mengenyam pendidikan SR – Sekolah Rakyat. Kata bapak, Ema’ pintar sekali saat di sekolah dulu, sayang beliau tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

“Bagus!, harus berani ya. Sekarang kamu makan dulu ya, lauk udah masak kamu ambil sendiri, Ema’ mau baca surat dari bu guru dulu”

“Baik Ma’”

Aku mengambil nasi yang terletak di meja dan mengambil lauk langsung dari penggorengan. Aku tidak berani mengambil ikan yang banyak, Ema’ sering memarahi aku kalau makan ikan terlalu banyak, “Nanti cacingan”, kata beliau memperingatkanku, walaupun aku tidak tahu apa hubungannya antara makan ikan dengan cacingan. Mungkin karena orang memancing ikan menggunakan umpan cacing, hingga telur cacing nyangkut di tubuh ikan.

Ema’ baru selesai membaca surat dan kulihat beliau menarik nafas panjang. Dengan hati-hati, surat dari bu guru dilipat kembali kemudian disimpan di dalam lemari di bawah pakaian. Kami tidak memiliki tempat penyimpanan lain selain lemari pakaian usang. Uang, akte kelahiran atau surat yang kami anggap penting selalu kami simpan di bawah pakaian dalam lemari.

“Kata ibu guru, kami semua menggunakan seragam baju pelaut Ma’ ”, ucapku sembari mengunyah makanan. Hindun yang hendak menghisap ibu jari, ditepis oleh Ema’. Hindun menangis keras.
“Iya, tentu donk. ‘Kan kalau pakai baju pelaut kamu jadi gagah”, ucap Ema’ sambil berusaha membuat Hindun diam. “sssssss….sssss….sssss”

“Baju pelautnya cepet diambil ya Ma’?”

“Iya. Nanti kita bilang bapak”

“Bener Ma’? Kapan kita ambil? ”

“Nanti, kalau bapak pulang makan siang, Ema’ tanya”

“Masih lama bapak pulang Ma’”

“Sebentar lagi”

Bapak bekerja sebagai petugas keamanan (Polsus) di Perusahaan Tambang Timah Belitung. Sebagai pegawai PT. Timah, kondisi ekonomi kami bisa dikatakan pas-pasan untuk kehidupan sehari-hari. Selain gaji bulanan, setiap pegawai diberi tunjangan sembako, seperti beras, gula, minyak goreng, daging kaleng dan beberapa kebutuhan lainnya yang dibagikan setiap bulan. Ema’ kadang-kadang harus menjual beras dan gula tersebut ke warung untuk mencukupi kebutuhan keuangan kami.

Dalam keadaan pas-pasan seperti itu, kami bertahan dengan makan seadanya. Daging sapi atau ayam adalah menu istimewa yang dihidangkan hanya saat – saat tertentu seperti saat lebaran. Ikan dan nasi putih dan sayuran seadanya adalah makanan harian kami terutama ikan tongkol, itupun aku hanya boleh mengambil seperempat potongan kecil. Pakaian baru hanya dibeli setahun sekali saat lebaran, sedangkan pakaian bermain dan pakaian tidur tidak ada bedanya. Pakaian kami hanya dibedakan dengan kategori pakaian sekolah, pakaian rumah dan pakaian lebaran. Untuk menambah pakaian lain di luar lebaran – seperti baju pelaut – Ema’ dan Bapak harus berjuang mencari tambahan uang, baik dengan cara menjual sembako tunjangan perusahaan atau meminjam uang dari tetangga atau teman dekat mereka.

Setelah dua jam aku menunggu, kulihat bapak pulang dengan mengendarai sepeda. Aku sangat mengagumi bapak karena pergaulan beliau yang luas. Postur tubuh yang tegap dan gagah membuat orang segan dan hormat pada beliau. Selain itu, bapak termasuk orang yang berani disebabkan beliau telah merantau sejak usia belasan tahun. Karena itu pulalah bapak memiliki watak yang keras dan pemarah. Pernah pistol mainanku yang baru dibeli dibanting oleh bapak dan patah karena telah membuat beliau marah.

Sesampai di dalam, dengan sabar ibu menggantungkan baju bapak dan menyiapkan makanan untuk makan siang. Kalau makan, Bapak lahap sekali, jika tidak ada lauk pauk bapak bisa makan hanya dengan air garam sebagai kuah penyedap. Untunglah hari ini ibu sudah memasak tumis ikan tongkol, sehingga bapak istirahat makan dengan kuah air garam.

“Bagaimana sekolahnya hari ini Fi?”, tanya bapak sambil mengambil piring di meja.

“Baik pak. Kami main kasti dan kelompok kami menang”

“Bagus!, hebat”

“Pak, pentas seni nanti saya berdeklamasi”, aku tak sabar ingin memberikan berita bagus ini.

“Hm.. bagus”

“Nanti bapak nonton ya?”, ucapku.

“Iya”, ucap bapak sambil mengunyah.

“Fi!, sudah. Biarkan bapak makan dulu”, ibu melarangku bertanya lebih banyak. Aku mengangguk dan mendekati Hindun mengajaknya bermain didekat meja tamu. Kami bermain kelereng dengan hati-hati kuatir jatuh ke dalam kolong rumah, karena lantai papan rumahku sudah bolong-bolong.

Beberapa saat kemudian bapak selesai makan dan beliau beristirahat dengan merokok dan meminum kopi sementara Ema’ membereskan piring – piring kotor. Sebentar lagi bapak akan berangkat kerja dan pulang sore pukul empat, dan dalam waktu istirahat seperti ini, aku gunakan waktu untuk bercengkrama dengan bapak. Hindun jarang dipangku bapak, bahkan kulihat Hindun agak takut mendekati bapak. Aku tidak tahu mengapa bisa seperti itu, padahal wajah Hindun mirip dengan kakak bapak yang ada di Bawean.

“Bapak Syaifi”, Ema’ memecah kesunyian suasana. Ema’ memanggil bapak dengan sebutan Bapak Syaifi dikarenakan aku anak pertama. Ema’ dan bapak masih ada talian persaudaraan dan sebelum menikah Ema’ memanggil Bapak dengan sebutan Paman. Setelah menikah, Ema’ agak canggung mengganti panggilan sebelumnya sehingga lebih memilih kata Bapak Syaifi. Entah bagaimana cara beliau memanggil sebelum aku lahir.

“Ada apa Ha ?”, tanya bapak kepada Ema’ dengan panggilan nama.

“Ada surat dari ibu guru”, jawab Ema’ sambil menyodorkan surat yang baru diambilnya dari lemari pakaian. Bapak membaca surat sejenak, lalu melipatnya sambil menarik nafas panjang. Suasana hening dan membisu beberapa jenak.

“Jadi bagaimana Pak?”

“Aku masih belum tahu Ha, tapi tetap harus dibayar ‘kan?”

“Ya…h”, Ema menjawab sambil menarik nafas. “Kasihan Syaifi kalau tidak dibayar”

“Ada beras yang bisa dijual?” tanya bapak.

“Hanya cukup sampai akhir bulan saja”, ujar ibu sambl menggeleng-gelengkan kepala. Bapak kembali menarik nafas panjang, kali ini panjang sekali hingga suasana rumah jadi sunyi dan terdiam seperti kuburan. Hanya asap rokok yang menyebar ke seluruh ruangan.

“Baiklah, nanti bapak cari pinjaman dari kawan di Pos”, ucap bapak akhirnya.

“Iya, Ema’ coba lagi mencari apa yang bisa dijual, atau kita hemat”

Suasana sunyi kembali menyengat. Bunyi kelereng yang kumainkan bersama Hindun menambah suasana menjadi lebih sunyi. Sesekali terdengar suara derik kumbang pohon yang sedang mencari sarang. Angin sepoi – sepoi yang bertiup memainkan musik sunyi yang telah kami nyanyikan.

Bersambung

Deklamasi Kemerdekaan (#1)

•Juni 24, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sekolah kecil di kampungku
Di tengah kampungku – Kampung Parit, Tanjungpandan – berdirilah sekolah kecil semi permanen berdinding putih kusam terkelupas dimakan cuaca, ditutupi atap kayu sirap yang sudah retak di sana-sini, membuat cahaya masuk dari celah-celahnya dan membentuk bulatan kecil bagai koin emas bertebaran di lantai kasar tak berubin. Dinding semen bagian bawah yang compang – camping dan di beberapa tempat terlihat luka menganga menampakkan bata merah yang sudah kecoklatan, sehingga orang dapat menebak usia bangunan itu sebenarnya. Maklum saja sekolah itu adalah sekolah yang didirikan atas swadaya kelurahan.

Sekolah kecil itu memiliki hanya memiliki dua ruangan ditambah satu ruangan guru, dilengkapi teras bermain yang sempit dengan lantai yang kasar. Orang gila yang bernama Bo’en sering berteduh di teras itu saat hujan dan membuat anak-anak ngeri dengan ocehan-ocehannya yang tidak menentu. Di dalam kelas, terlihat dinding berwarna putih kekuningan dihiasi poster-poster usang yang ternoda oleh kotoran kelelawar yang menempel di sana-sini menyebarkan bau yang tidak sehat. Tulang kayu penyangga bangunan, telah lapuk dimakan rayap dihiasi lobang-lobang kecil tempat kumbang kayu bersarang. Sementara itu meja dan kursi kecil berwarna-warni kusam tertata apik tempat duduk anak-anak TK yang tak mau diam. Letak meja dan kursi itu akan berubah setelah aktifitas berlajar dan ibu guru harus merapikan lagi untuk dirusak lagi keesokan harinya.

Di depan sekolah itu, terdapat sebuah lapangan yang luas, tandus dan berdebu. Saat anak-anak berlarian, debu beterbangan dan menempel di pakaian mereka. Tak ada fasilitas selayaknya sebuah sekolah Taman Kanak-kanak di kota besar. Anak-anak harus memikirkan sendiri permainan yang akan mereka mainkan dan petak umpet, bola kasti dan lompat karet untuk anak perempuan yang menjadi permainan favorit.

Di sebelah kanan sekolah terdapat rumah besar berpagar kayu milik orang Cina yang anjingnya selalu menggonggong dan menakutkan anak-anak. Tak seorang pun berani mendekati rumah besar itu, sejak seorang anak lari tunggang-langgang sambil menangis dan terkencing di celana karena dikejar-kejar anjing pemilik rumah saat mencoba mengambil bola kasti yang nyasar masuk ke halamannya. Di sebelah kanan rumah itu terdapat jalan setapak menuju sekolah arab – istilah madrasah bagi kami – yang dimiliki oleh Pak Dahlan, salah satu tetangga kami yang tinggi hati dan selalu minta dipuji.

Jalan aspal berlobang terletak di sebelah kiri sekolah ini, berjarak lima meter dan dibatasi dengan pagar kayu yang renta menahan usia. Jalan itu sangat sepi kecuali di pagi hari, saat orang-orang berangkat kerja mengendarai sepeda atau jalan kaki. Sedangkan siang hari hanya segelintir orang yang lewat menuju pasar dekat. Sedangkan di belakang sekolah terdapat sebuah rumah permanen yang sejuk berhias bunga-bunga pot di terasnya, ditambah pohon sirsak yang kami sebut nangka belanda di halamannya. Walaupun tidak setinggi dan selebat pohon beringin, pohon itu sering dijadikan tempat bermain dan beraktifitas saat terik matahari menyengat ketika istirahat sekolah.

Di seberang jalan beraspal, terdapat sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggal pemiliknya sehingga rumput liar bebas hidup di halamannya. Orang Cina penjual bubur tahu keliling sering nongkrong di depan rumah kosong itu sambil menunggu anak-anak TK keluar main – istirahat – dan membeli bubur tahu yang nikmat itu. Walaupun sederhana, bubur tahu itu adalah bubur tahu yang paling disukai anak-anak, selain murah juga menyehatkan. Kecuali mangkoknya yang tentu dicuci seadanya, dan anak-anak tentu tidak pedulikan hal itu.

Aku merupakan salah seorang murid di sekolah kecil ini. Rambut kucel, kulit gelap dan tak bisa duduk tenang itulah ciri-ciriku. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku masih kecil baru berumur tiga tahun, namanya Masita dipanggil Hindun. Sahabatku Nasri anak seorang buruh pelabuhan yang tinggal di kampung kumuh dan sering banjir di sebut Amau. Kulit Nasri lebih putih dibandingkan denganku, tetapi dia lebih cengeng terutama kalau berantem dengan Andri anak Ibu Guru yang nakalnya bukan main. Pernah suatu hari Perut Nasri ditendang Andri hanya gara – gara sebuah kelereng untung ada Agus yang membelanya, tetapi tak ayal selama satu minggu Nasri mengeluh sakit perut dan tidak berani mendekati Andri.

Sahabatku yang lain bernama Agus, anaknya juga berkulit gelap seperti aku, perawakannya lebih gempal dibandingkan aku dan lesung pipit pemanis di pipinya. Rambut pendeknya yang hitam berdiri seperti bulu landak. Jalannya sedikit membungkuk, dan jika teman-temannya diganggu, dia yang akan maju segera membela. Rumahnya lebih jauh daripada rumah Nasri, dan kalau pulang dia selalu dijemput orang tuanya, naik sepeda.

Tujuh Belasan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kelurahan kami akan mengadakan pentas seni dan perlombaan dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pentas drama, tarian, nyanyian dan puisi yang dibawakan oleh anak-anak TK sudah menjadi bagian rutin setiap tahun. “Anak-anak harus berani tampil ya”, ujar pak Lurah lembut beberapa waktu lalu ketika berbicara di depan kelas. Dan kami sepakat menjawab kata ‘Iya Pak…’ dengan suara yang panjang khas anak TK, walaupun kami tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh beliau. Sementara itu, panjat pinang, makan krupuk, lari karung dan perlombaan yang mengasyikkan lainnya hanya untuk orang-orang dewasa. Seingatku, perlombaan itu tidak berubah dari tahun – ketahun, aku yakin sekali tahun-tahun ke depan akan dibuat acara yang sama.

Pada acara pentas seni, Nasri dan Agus mendapat bagian menjadi penari. Awalnya Nasri ngotot menolak menjadi penari, “Itukan untuk anak perempuan!”, katanya bersikeras. Setelah bersusah payah akhirnya Ibu Tini dapat membujuk Nasri, walaupun dari wajahnya, kulihat belum menerima dengan lapang dada. Kasihan dirimu Nasri.

“Fi, Kamu deklamasi ya?”, ujar ibu Tini kepadaku.

“Ha?!”, aku terkejut dan terdiam. Terbayang dibenakku berdiri sendiri di atas panggung di depan penonton yang ramai. Setiap pasang mata menatapku, menertawakanku dan mengadiliku jika aku salah. Mendadak tanganku dingin, jantungku berdetak lebih kencang. “Jangan itu dong Bu, yang lain aja!”, ujarku menolak. Lebih baik menari daripada membaca puisi yang berarti tampil di panggung sendirian tanpa kawan.

“Kamu ‘kan suaranya lantang, jadi kamu cocok membaca puisi”, ujar Ibu Tini memuji dengan lembut, “Abis deklamasi, nanti dikasih hadiah mainan deh”

“Mainan?!”, aku mulai berubah, terbayang sebuah mainan mengasyikkan yang jarang kudapat dari orang tuaku, “I…iya deh bu”

Anak-anak lainnya mendapat perannya masing-masing. Kelas kami menjadi lebih heboh dari hari biasanya. Anak-anak bercerita sendiri-sendiri apa yang akan mereka gunakan saat acara pentas seni. Ada yang akan menggunakan sepatu baru, ada mau mengajak orang tua, bahkan ada yang mau membeli baju pada acara itu. Nasri masih terduduk lesu, sepertinya belum puas dengan tugasnya sebagai penari, kudekati dia dan menghiburnya.

”Nanti kita akan dapat hadiah dari Ibu Tini” ujarku riang dan menghibur.

“Bener nih?”, tanyanya dan kujawab dengan mengangguk. Airmukanya berubah menjadi senang. “Mudah-mudahan saat acara tiba, Nasri tidak ngambek”, pikirku.

“Perhatian anak-anak!”, tiba-tiba kudengar ibu Tini berbicara. Anak-anak masih berbicara sendiri hingga, Ibu Tini terpaksa memukul meja dengan penghapus.

“ssst…ssttt… diam…diam”, Andri keras memperingatkan teman-temannya untuk diam, dan mendengarkan ibu guru berbicara. Anak-anak lebih takut terhadap ancaman Andri daripada ibu guru.

“Terima kasih Andri”

“Acara pentas seni nanti, kita semua harus menggunakan baju pelaut”

“Yahhhh……..”, gemuruh suara anak-anak tidak setuju.

“Koq begitu bu?”

“Supaya kalian seragam, sama semuanya!” ujar Ibu Tini, “Baju pelautnya harus dibayar sebelum pentas seni ya. Tolong diberikan surat ini kepada orang tua kalian ya”. Bu Tini meminta Andri yang duduk di depan untuk membagikan surat yang ditujukan kepada orang tua kepada kami.

“Baik Ibu Guru”

“Sebelum pulang, kita bernyanyi lagu Hymne LSD – Lembaga Sosial Desa, kemudian kita akan menyenyikan lagu sepatu gelang”, ujar Bu Tini sambil bertepuk tangan mengiringi kami bernyanyi. Andri masih terus membagikan surat kepada anak-anak yang sedang bersemangat bernyanyi. Lagu itu menandakan kelas segera usai, dan kami bisa pulang ke rumah dan bermain bersama teman-teman di sebelah rumah. Temanku, Ambo dan Kumang pasti sudah menunggu.

“Hore!”
Bersambung ke Bag. 2 – Baju Pelautku

Bu Vonny yang Terbuang (#4 – Tamat)

•Juni 19, 2008 • & Komentar

Kemenangan bagi Semua

Kasak – kusuk penggantian guru Biologi di kelas kami terdengar mulai santer semenjak Pak Dian masuk ke kelas kami beberapa hari lalu. Anak-anak kelas 3 sepertinya mulai khawatir mendapat limpahan Ibu Vonny sebab mereka belum pernah diajar oleh Ibu Vonny sebelumnya, sedangkan kami merasa di atas angin walaupun bagiku hal itu masih terlalu dini. Guru – guru pun mulai membicarakan dengan nada yang kurang enak didengar, mungkin merasa dikalahkan oleh muridnya yang masih belia atau dominasi mereka yang terjaga selama ini merasa terganggu. Anak-anak kelas lainnya memandang kelas kami dengan pandangan iri karena kekompakan kami yang luar biasa.

Cuaca yang sejuk di sabtu ini, membuat kami bersemangat belajar dan sudah tentu menyambut malam minggu. Masri and the gang sudah menandai malam minggu ini dari beberapa hari sebelumnya dengan melihat jadwal pentas musik dangdut Kencana, sedangkan Aku dan kawan-kawan sudah mendapat undangan pesta ulang tahun di rumah salah satu teman kami anak SMA PGRI. Hanya Anton sang professor yang menganggap malam minggu sama seperti malam lainnya, malam belajar.

Tak terasa lonceng tua SMA kami kembali berbunyi merdu dan segera anak-anak berteriak gembira bergegas berjalan ke luar kelas. Dicky berjalan paling di muka, Agus Lempek dengan rambut yang selalu basah dan lepek sibuk mencari orang-orang untuk nebeng pulang. Biasanya Aku diantar Awet ke rumahku untuk berganti pakaian kemudian kami kembali ke rumahnya untuk berkumpul dengan kawan-kawan lainnya, menghabiskan sabtu sambil menunggu malam minggu.

Wet, kamu dipanggil Pak Sunardi”, kata salah seorang teman kami dari kelas A3.

Awet menoleh ke arahku dengan tatapan penuh tanya, aku pun mengangkat bahu tidak tahu apa sebab dia dipanggil oleh Pak Sunardi kepala sekolah kami. “Ok, thanks”, jawab Awet sambil melambaikan tangannya. Kami terlalu banyak hutang dan janji kepada Pak Sunardi.

Kamu ikut aku ke ruangan Pak Sunardi, kalau nanyain tentang Ibu Vonny, kamu bisa menjelaskan”, kata Awet kepadaku.

Kalau nanya soal Taman yang disuruh?”, tanyaku. Pembuatan taman sekolah adalah salah satu janji kami kepada Pak Sunardi yang belum kami penuhi.

Biar kita cari alasan nanti”

Ok”

Kami berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Kami masih bertanya-tanya apa gerangan yang akan disampaikan oleh Pak Sunardi kali ini. Perkiraanku Pak Sunardi akan bertanya kepada kami tentang mosi kami terhadap ibu Vonny, karena sudah hampir dua minggu kami tidak melihat Pak Sunardi di Sekolah ini.

Kalian berdua silakan masuk”, ujar Pak Sunardi hangat, ketika melihat kami di depan pintu kantor beliau.

Terima kasih pak”, kami masuk dan duduk di depan meja beliau yang terbuat dari kayu dan tertata rapi.

Baiklah, silakan cerita apa yang telah terjadi”, ujar beliau bijak sambil meletakkan genggaman kedua tangan di depan mulutnya. Kami tahu arah pertanyaan beliau, dan saatnya kami mengulang kembali cerita sepuluh hari lalu.

Menurutku, Pak Sunardi adalah kepala sekolah yang paling ideal yang pernah kami miliki. Selain pintar beliau juga bijak dalam menjalankan managemen sekolah. Kami merasa beruntung memiliki kepada sekolah seperti beliau, sayang beliau hanya singgah sejenak menjadi kepala sekolah setelah ditinggalkan Pak Jahasan. Mungkin untuk memberikan dasar-dasar managemen sekolah yang baik demi kelanjutan sekolah yang lebih baik.

Cerita Awet mengalir seperti air, sementara itu Pak Sunardi mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mengusap wajah. Air muka yang tenang dan teduh membuat kami enak bercerita tentang permasalahan ini. Beberapa kali beliau mengangguk untuk menghibur hati kami, dan kulihat Awet tersenyum puas melihat itu, sampai akhirnya Awet menyelesaikan ceritanya yang penuh semangat.

Kalian tidak menyukai Ibu Vonny itu terlalu berlebihan”, ujar Pak Sunardi setelah mendengar uraian kami berdua. “Tidak ada kelas lain yang keberatan seperti kelas kalian, itu artinya kelas kalian yang bermasalah”

Tapi pak, kami sekelas merasakan seperti itu. Kami tidak tahu apakah kelas lain seberani kami dalam menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada Ibu Vonny”

Bisa jadi, tetapi selama tidak ada bukti dan laporan dari kelas lain, bapak anggap kelas kalian bermasalah. Mungkin tidak seluruh anggota kelas yang memiliki pendapat seperti kalian, tetapi mereka terpaksa memberikan tanda tangan”

Tidak ada yang memaksa mereka menandatangani petisi ini pak!”

Saya mengerti, dan saya tahu bagaimana rasanya jadi siswa. Saya bisa merasakan posisi kalian dengan seorang guru yang tidak mengenakkan”

Saya pernah bertanya pada Ibu Vonny”, tambah beliau. “Dan ibu Vonny menceritakan bagaimana kelakuan kalian yang sering bertanya diluar konteks pelajaran yang diajarkan saat itu. Hal itu tidaklah buruk, tetapi kalian harus fokus pada pengetahuan yang diajarkan dulu, barulah kalian bisa bertanya diluar konteks untuk menambah ilmu. Jika tidak dijawab bisa jadi Ibu Vonny lupa, dan hal itu adalah manusiawi bukan?”

Kami berdua terpaksa mendengarkan ceramah pak Sunardi yang panjang lebar itu, tetapi kami tahu Pak Sunardi tidak marah. Kami sadar bahwa Ibu Vonny tidak akan digantikan dengan orang lain. Seperti yang kuperkirakan sebelumnya, Pak Dian hanyalah angin segar di musim panas yang hanya singgah sementara untuk menyejukkan hati anak-anak kelas A1. Itu berarti aspirasi kami sebagai siswa tidak ditampung oleh Kepala Sekolah yang merupakan pemimpin sekolah kami. Apakah kami harus menyingkirkan kepala sekolah juga agar Ibu Vonny hengkang dari kelas kami? Pak Sunardi merupakan seorang Kepala sekolah yang kami cintai, tidak mungkin kami akan berbuat seperti itu hanya demi Ibu Vonny. Tetapi dengan adanya Ibu Vonny di kelas, semangat anak-anak dalam belajar biologi akan terganggu kembali.

Jadi keputusan mosi kami bagaimana pak?”

Masih saya pikirkan. Butuh pemikiran yang panjang untuk membuat penyelesaian ini. Saya sebagai Kepala Sekolah tidak bisa memihak, berarti saya harus mencari solusi yang terbaik agar kalian mendapat belajar dengan baik dan Ibu Vonny tidak kehilangan muka” , ujar Pak Sunardi, “Awet sebagai ketua kelas harus mengerti posisi dan pilihan yang saya miliki. Jika solusi yang ada tidak bisa memenuhi keinginan kalian sepenuhnya, Awet harus memberikan pengertian kepada teman-teman sekelas, jangan sampai mereka berbuat yang kurang terpuji dan gagal hanya karena satu guru yang tidak disukai.”

Pak Sunardi berhenti sejenak dan mengambil air putih yang terletak di depan meja, “Keputusannya akan diumumkan oleh Pak Bahtiar hari senin nanti, dan terima kasih atas informasi yang kalian sampaikan kepada saya selaku kepala sekolah. Selamat bermalam minggu, Have Fun!”

Pak Sunardi mengakhiri pembicaraan kami dengan kalimat yang masih mengambang disertai senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Kami sadar akan posisi Pak Sunardi sebagai kepala sekolah yang mengayomi kepentingan dan keinginan semua pihak serta menjaga salah satu pihak agar tidak merasa dirugikan. Itulah resiko menjadi seorang pemimpin dan aku yakin dengan kebijaksanaan yang dimiliki beliau Pak Sunardi akan menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Kami bangkit dari tempat duduk dan bersalaman dengan Pak Sunardi, kemudian melangkah keluar ke arah parkiran pohon kelapa. Sekolah sudah sepi yang ada hanya segelintir anak-anak yang sedang bercengkrama di dekat laboratorium Bahasa.

Menurut ku Ibu Vonny tidak jadi diganti”, kataku memecah keheningan

Tidak tahu, bisa jadi”

Tapi kita lihat saja gimana perubahan yang ditawarkan jika ibu Vonny tidak jadi diganti. Posisi Pak Sunardi memang berat, dan kita harus memahami hal itu. Mudah-mudahan anak-anak mengerti, akan kekalahan kita. Aku sendiri sebagai penggagas, tidak bisa menerima kekalahan ini, tapi kalau itu demi kebaikan sekolah dan ada perubahan positif yang diberikan kepada kita sebaiknya kita setuju”

Tugas Pak Bahtiar cukup berat untuk menjelaskan anak-anak”

Sudah ah kita lihat aja nanti, kita pulang dulu. Bersiap untuk pesta ntar malam”

Ok”

Awet menarik gas motor dan kami melaju ke rumahku membuang masalah Ibu Vonny dari kepalaku dan menyambut malam minggu yang selalu ceria bagi kami. Senyum renyah bersungging di bibir kami, hati ceria pun menyelimuti sabtu ini dan semoga keceriaan itu akan terus terbawa ketika pengumuman hari senin nanti.

Setelah upacara rutin hari senin, Aku dan Awet tidak menyempatkan diri pulang sarapan bubur di rumah Awet seperti yang biasa kami lakukan, karena kami tak sabar menunggu pengumuman dari Pak Bahtiar tentang kelanjutan mosi dan perubahan apa yang ditawarkan demi perbaikan kualitas belajar kami. Tadi pagi sebelum upacara dimulai, awet memberikan sedikit petunjuk kepada Allyn, Ivan dan kawan-kawan lainnya tentang pembicaraan kami dengan Pak Sunardi. Dan mereka juga menunggu momen penting ini.

Menurut kamu apa yang akan diumumkan oleh Pak Bahtiar?”, tanya Alok kepada Ivan.

Aku harap Ibu Vonny dicopot!”, jawab Ivan.

Menurutku, Ibu Vonny tidak akan dicopot. ”, ujar Awet

Trus kalo tidak dicopot, apa yang ditawarkan ke kita? Masak cuma segitu aja?”, tanya Allyn

Kita lihat saja nanti”

Pak Bahtiar melangkah masuk dengan baju kebanggaan yang berwarna biru lusuh. Senyum yang tersungging menampakkan gigi depannya yang agak gingsul. Rambut keritingnya sudah acak-acakan walaupun baru pukul sembilan pagi, mungkin beliau tidak sempat untuk menyisir tadi pagi.

Selamat pagi”, kata Pak Bahtiar. Beliau tetap berdiri di depan kelas memandang ke setiap sudut ruangan.

Pagi Pak”, suara anak-anak menyambut salam Pak Bahtiar.

Hampir dua minggu lalu, saya menerima kertas yang berisi tanda tangan kalian semua, tentang penolakan kalian terhadap Ibu Vonny”, kata Pak Bahtiar memulai pembicaraan. “Kemudian hal itu bapak bicarakan dengan kepala sekolah kita, dan telah terjadi diskusi yang alot antar guru yang akhirnya memutuskan agar kalian menerima kembali Ibu Vonny untuk mengajar kalian”

Suara kecewa anak-anak terdengar lirih memecah keheningan. Mereka merasa sudah cukup menghadapi Ibu Vonny dan tidak bisa menerima lagi kehadiran Ibu Vonny di depan kelas kami mengajar biologi tidak becus sama sekali. Aku bisa menerima kehadiran ibu Vonny di depan kelas kami, setelah menerima masukan dari Pak Sunardi hari sabtu lalu, tentu dengan beberapa syarat yang bisa kuterima dengan akal sehat, jika tidak kami bersiap pada perjuangan langkah kedua.

Saya tahu kalian kecewa”, sambung pak Bahtiar. “Sebagai guru kami meminta maaf jika tidak bisa meluluskan keinginan kalian, kami hanya meminta kalian memberikan sedikit ruang bagi Ibu Vonny”.

Lalu bagaimana dengan kami nanti Pak? Apakah Ibu Vonny bisa bersifat obyektif dan berubah cara mengajar supaya lebih baik”, tanya Allyn. Semua siswa setuju dengan pertanyaan Allyn.

Hal itu akan diawasi kita semua. Pak Sunardi akan melihat perkembangan kalian, dan mengevaluasi Ibu Vonny secara berkala”, ujar Pak Bahtiar menjawab pertanyaan Allyn. “Dan Pak Sunardi berjanji, Ibu Vonny tidak akan mengajar kalian setelah kalian naik ke kelas 3 nanti”

Kata penutup dari Pak Bahtiar membuat anak-anak berteriak gemuruh gembira tanda menyetujui usulan pak Bahtiar, walaupun menurutku itu hanyalah kompromi yang ditawarkan oleh Pak Sunardi. Senyum kemenangan tampak di wajah Allyn, Ninit, Ivan, Alok dan anak-anak lainnya yang memang menghendaki berakhirnya konflik ini. Awet merasa lega dan aku pun merasa siap menghadapi pelajaran Ibu Vonny dengan arif, tidak seperti dulu lagi. Hari Senin ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan. Pak Bahtiar tersenyum melihat anak-anak didiknya bisa menerima tawaran Pak Sunardi yang bijaksana yang tidak memihak. Kulihat wajah Pak Bahtiar lebih ceria, dan kali ini senyuman beliau bisa kami terjemahkan dengan gamblang.

I Love This Monday”

The End

catatan penulis

Cerita ini kupersembahkan dengan sisipan maaf kepada Ibu Vonny yang telah mengajarku di kelas satu dan kelas dua. Kelakuan kami selama ini mungkin menjengkelkan ibu dan ketika kami lulus pun kami belum sempat meminta maaf dan berterima kasih, kinilah saatnya melakukannya.

Episode kecil ini hanyalah cerita masa lalu yang tidak perlu diungkit lagi keburukannya dan hanya perlu dipelajari demi kebaikan kita semua di masa depan.

Bu Vonny yang Terbuang (#3)

•Juni 18, 2008 • 1 Komentar

Interrogasi

Sejak melakukan penolakan terhadap Ibu Vonny dengan cara mengumpulkan tanda tangan, kelas kami mendapat sorotan tajam baik dari siswa kelas lain maupun guru-guru. Sikap guru pun terpecah menjadi dua, ada yang mendukung terutama guru – guru yang sudah makan asam garam di sekolah ini dan ada pula yang mendukung Ibu Vonny terutama guru satu almamater dengan beliau. Hampir seluruh siswa di SMA ini mendukung kami, mereka menganggap kami sebagai pejuang dalam mendobrak dominasi guru terhadap murid. Tapi tak sedikit pula mencemooh kelas kami sebagai kelas yang tidak tahu diuntung, dan tidak bisa diatur. Kami memiliki alasan sendiri, sedangkan pendapat orang lain kami anggap hanyalan angin sepoi yang baik untuk dinikmati dan dibuang.

Setelah membuat tandatangan mosi tak percaya tersebut, kelas kami semakin kompak. Mungkin karena anak-anak merasa nasib mereka sama, sehingga mereka harus bersatu dalam menghadapi konsekwensi yang akan terjadi akibat dari perbuatan kami. Guru – guru yang mendukung kami tidak perlu kami takuti, tetapi guru – guru yang mengambil sikap sebaliknya sangat kami kuatirkan, terutama terhadap nilai yang akan kami terima dalam pembagian rapor nanti.

“Kalian berhak memilih pengajar yang lebih baik”, begitulah salah satu guru yang memilih sikap pro terhadap kami.

Hari ini, seminggu sudah waktu berlalu, sejak kami melakukan mosi tak percaya pada Ibu Vonny. Keputusan yang kami tunggu tidak kunjung tiba, apakah memihak kepada kami atau Ibu Vonny, bahkan kami belum mendapatkan bocoran sama sekali. Sikap Ibu Vonny terhadap kami berubah total, walaupun sikap itu bagi kami sama saja dengan sebelumnya. Tapi kini kami merasa tegang ketika melihat Ibu Vonny, terutama ketika berpapasan di koridor sekolah atau tempat lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana detak jantung kami berdegub saat pelajaran Ibu Vonny akan berlangsung sebentar lagi. Kuharap Ibu Vonny tidak masuk kelas hari ini, dan berharap beliau tidak punya nyali untuk mengajar hari ini. Untuk menghilangkan rasa tegang, anak – anak bercengkrama dan sesekali melihat ke arah pintu, dengan harapan Ibu Vonny tidak muncul.

“Aku bingung, berapa lama lagi kita mesti menunggu?”, Kata Dicky yang kemampuan otaknya sedikit di atas monyet dan setingkat dibawah chimpanze.

“Gak tahu nih. Pak Bahtiar tadi pagi mengatakan menunggu dari Pak Sunardi, Hhh”, jawab Awet menarik nafas panjang lalu tertunduk lesu dengan hati kecewa bercampur takut.

“Trus ntar gimana?”, Allyn menimpali. Sudah bukan hal yang aneh kalau Allyn paling takut nilainya turun. Kalau perjuangan kita kalah, berarti Allyn akan terpuruk. Allyn lebih takut nilainya jatuh daripada ketemu Hantu. Mungkin karena Hantu sering lari lebih dulu kalau melihatnya.

“Udah, kita liat aja nanti”, ujarku. “Toh kita sudah menentukan sikap. Kebersamaan kita tidak akan tergoyahkan oleh sikap Ibu Vonny nanti”

“Iya sih, abis bagaimana lagi?”

“Kalo gitu aku bolos ah”, ujar Dicky. “Biar gak diomelin!”

“Alah itu memang maunya kamu. Tante mana lagi yang manggil?”, tanya Allyn.

“Diem Ah!”, ujar Dicky cepat. “Aku lagi tegang nih”

“Udah kalo mau bolos, keluar sana”, ujar Awet. “Lewat belakang aja, biar gak ketahuan”

“Aku tahu! Motor ku udah di sono koq”

“Dasar Niat!”

Dengan tersenyum nakal penuh kemenangan Dicky segera meninggalkan kami, dan segera lari ke arah belakang sekolah dengan mengendap-endap kuatir ketahuan guru. Keluar dari belakang berarti melompati pagar pembatas sekolah. Dan hal itu sudah lumrah bagi siswa yang doyan membolos seperti Dicky.

“Sikap kita ntar gimana?”, tanya Ninit, mengulangi pertanyaan Allyn.

“Biasa aja. Kita anggap tidak ada. Kalau diminta untuk bertanya, jangan merespon”, jawabku.

“Kamu sih enak jarang ditanya, lha Aku?”, kata Allyn.

“hehehehe…”, aku tersenyum.

Pembicaraan dengan tema yang sama juga terjadi pada kelompok – kelompok lainnya. Wajah tegang, bingung dan takut bercampur baur seolah menyesali perbuatan mereka minggu lalu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, bagiku perjuangan untuk bebas dari Ibu Vonny sudah dimulai dan membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya. Sikapku terhadap Ibu Vonny tidak berubah. Apalagi beberapa hari lalu, kami sempat dipanggil oleh Ibu Vonny berkaitan dengan masalah kami.

Waktu itu aku, Awet, Allyn dan Ninit ke sekolah di sore hari dalam rangka kegiatan ekstrakurikuler yang bejibun.Selain belajar, kami juga menjadi anggota PMR, pengurus OSIS, pengurus majalah sekolah, dan segudang kegiatan lainnya. Apalagi kami sekarang sudah kelas II yang merupakan kelas paling diandalkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan kami adalah biangnya. Awet merupakan ketua OSIS dan aku sendiri ketua editor majalah sekolah monumen. Baru saja kami melangkah dari pintu sekolah, kami bertemu Ibu Vonny.

“Kalian berempat menghadap saya dulu!”, ujar beliau saat itu, ketika melihat kami masuk. “SEMUA! Mulai dari Jenita, yang lainnya menunggu di luar”

Kami saling menoleh dengan hati gundah. Wajah Allyn makin tidak karuan, terbayang diwajahnya nilai biologi yang menodai rapor semester nanti. Aku sendiri bingung dengan permainan Ibu Vonny yang seperti ini. Bermain dengan Intimidasi yang menurut aku tidak terhormat. Sama seperti para politikus yang kalah, kemudian melakukan intimidasi terhadap lawan, agar mundur. Wajah Ninit yang berwarna gelap terlihat memutih sedikit karena pucat. Matanya berputar ke arah kami meminta dukungan moril, sayang kami tak bisa memberikan dukungan yang dibutuhkannya.

“Baik bu!”, jawab Ninit dengan suara yang agak serak. Dengan ragu dia melangkah mengikuti Ibu Vonny. Kami memilih duduk di teras sekolah seperti pasien menunggu panggilan dokter, sesekali kami mencuri dengar dengan menempelkan telinga di dinding kantor guru.

“Duduk!”, dinginnya suara Ibu Vonny menusuk seperti pisau tajam. Ninit duduk dengan rapi di kursi yang terletak di depan Ibu Vonny.

“Kamu orang dari suku mana?”, tanya Ibu Vonny lebih dingin lagi.

“Orang Asli Belitung Ibu, saya lahir di sini”

“Pantas!”, ujar beliau sengit. “Kalian semuanya manusia tidak tahu sopan santun, tak berguna!”

“Apa alasan kamu dengan tanda tangan itu?”, tambah beliau

Ninit terdiam tak bisa menjawab. Dia hanya bisa tertunduk bingung tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia tidak menyangka akan mengalami situasi seperti ini. Kasihan dirimu Jenita.

“Kamu pikir saya suka mengajar kalian?”, lanjut Ibu Vonny. Selanjutnya kata – kata yang dikeluarkan oleh Ibu Vonny sudah mulai kabur, tak terdengar oleh Ninit. Baginya dalam posisi seperti ini sangat menyulitkan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi seorang siswa kelas 2, walaupun badannya termasuk bongsor, Ninit bukanlah orang yang berani. Ninit hanya bisa menunduk lesu seperti seorang anak dimarahin oleh orang tuanya.

Sepuluh menit kemudian, dengan langkah gontai dengan wajah tersenyum getir keluar dari ruangan guru. Kami bertiga mulai gemetar, menunggu giliran dipanggil. Panggilan selanjutnya jatuh pada Allyn, lalu Awet dan tentu akhirnya giliranku akan tiba menghadap interrogasi bu Vonny.

Mendengar cerita Ninit dan Allyn – bagaimana interrogasi Ibu Vonny berjalan – aku memikirkan strategi yang tepat untuk menghindar dari cercaan Ibu Vonny. Siapa yang dikagumi Ibu Vonny bahkan siapa dihormati Ibu Vonny aku harus mengetahui dan berpikir keras untuk itu. Aku bisa membaca bahwa Ibu Vonny tidak terlalu menghina Allyn, mungkin dikarenakan Allyn adalah anak yang pintar di kelas kami, atau bisa jadi karena dia bukan asli orang Belitung. Belum sempat saya berpikir mendapatkan cara yang tepat dalam menghadapi Ibu Vonny, Awet sudah muncul di pintu dengan wajah yang tersenyum pahit.

“Fi, kamu dipanggil”, katanya, sebenarnya tidak perlu karena aku tahu bahwa masa persidanganku telah tiba. Dengan lesu dan takut aku masuk ke dalam ruangan guru, tanganku terasa dingin, wajahku pucat dan jantungku terasa berdetak lebih cepat. Kulihat ibu Vonny duduk sendirian di ruangan ini seperti seorang eksekutor yang mengerikan. Guru-guru lainnya sedang mengajar sehingga ruangan menjadi sepi, sesuai dengan tempat interrogasi seperti yang kulihat di film-film detektif.

“Duduk!”, suara dingin ibu Vonny menusuk jantungku. Ingin rasanya kuberlari dari depan Ibu Vonny. Aku lebih memilih soal ulangan yang berat daripada bertemu Ibu Vonny seperti ini. Aku duduk di depan Ibu Vonny dengan santun, mudah-mudahan beliau tidak terlalu marah padaku.

“Saya lihat, kamu salah seorang yang menandatangani”, ujar beliau “Kenapa?”

“Tanda tangan itu adalah kesepakatan kami satu kelas ibu”, kataku memberanikan diri dengan suara bergetar “Tidak bisa kita lihat secara perorangan, tetapi satu kelas”

“Mengapa tidak dibicarakan dulu dengan Ibu tentang sikap kalian itu? Ibu tahu beberapa dari kalian tidak menyukai ibu, mungkin dari cara mengajar atau yang lainnya. Ibu tahu kalau ibu sering dipermainkan dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang bertujuan menyudutkan. Termasuk pertanyaan dari kamu. Padahal ibu hanya ingin membatasi tema pelajaran jangan sampai keluar dari batas, sebab kalau keluar dari batas, kalian semua nanti tidak akan belajar dengan benar sesuai dengan kurikulum”, ucapan Ibu Vonny. Astaga!, Ibu Vonny tahu kalau sering kupermainkan dengan pertanyaan konyol. “Gawat! Aku harus membela diri”, pikirku.

“Tapi bu, jika kita hanya mengikuti kurikulum pelajaran Ibu jadi tidak menarik, tidak ada tantangan dan menurut saya pelajaran tersebut bahkan tidak akan menunjang masa depan saya nanti. Saya bersumpah tidak akan mengambil pekerjaan yang berkaitan dengan biologi”

“Fi, kita harus mengikuti kurikulum yang diberikan pemerintah, supaya kalian lulus. Kita tahu bahwa kurikulum memang tidak menarik, tetapi yang penting semua itu adalah dasar dari pelajaran berikutnya. Kalau kamu nanti mau mengambil kedokteran, kamu harus mempelajari struktur sel. Jika kamu mau mengambil pertanian pun kamu harus mempelajari biologi tanaman”

“Masalahnya bu kami…”

“Satu hal lagi!”, Ibu Vonny memotong dingin. “Pelajaran Ibu akan mendukung kenaikan kelas bagi kamu. Jika kamu gagal, maka kamu akan tinggal kelas, sepintar apapun kamu”

Aku sudah tidak bisa berbicara lagi. Kata – kata terakhir merupakan ultimatum dan secara tidak langsung beliau menyatakan bahwa pelajaran yang diajarkannya sama pentingnya dengan pelajaran yang lainnya, seperti matematika, fisika atau bahkan kimia. Ceramah Ibu Vonny yang lainnya tidak kudengar lagi. Aku sudah tahu bahwa ibu Vonny tidak akan menyerahkan kekuasaannya kepada guru lain. Dan jika hal itu terjadi, aku bersumpah tidak akan mengalah. Aku akan terus memperjuankan supaya ibu Vonny tidak berdiri dengan gagah lagi di depan kelas kami. Aku harus mencari cara lain lagi agar tujuan kami tercapai. Aku tidak perduli dengan kurikulum yang harus diikuti oleh Ibu Vonny, yang penting bagi kami adalah bebas dari Ibu Vonny.

“Katanya kalian ke rumah Ibu Taty kemaren, Ada apa?”, tanya Alok membuyarkan lamunanku.

Ibu Taty adalah salah satu guru yang mendukung terhadap perjuangan kami. Beliau juga merupakan guru senior yang dikagumi oleh anak-anak kelas kami, walaupun kadang-kadang menyebalkan terutama jika sudah menyangkut kedisiplinan.

“Biasa saja beliau bertanya dengan kita, alasan apa yang membuat kita melakukan hal itu”, jawab Awet, “Kita ceritakan apa adanya saja”

“Menurut beliau, Ibu Vonny memang memiliki sikap dan kelakuan yang tidak terpuji dari hari pertama masuk ke SMA ini. Menurut bu Taty – ibu Vonny sudah menanyakan meja kerjanya dengan cara yang angkuh, sejak pertama kali masuk ke kantor guru”

“Siapa saja yang ikut ke sana?”

“Ivan, Ninit, Aku, Syaifi, Fara, Allyn dan Adi”

“Tapi beliau masih mendukung ‘kan?”

Tanpa kami sadari, Pak Dian masuk kelas dengan wajah senyum dan bersahabat, aku terhenyak gembira, doaku terkabul agar ibu Vonny tidak mengajar kami hari ini. Pak Dian adalah guru Biologi kelas 3 dan merupakan salah seorang guru senior di SMA ini. Aku dan Alok segera bergerak ke arah tempat dudukku sambil tersenyum hormat kepada Pak Dian. Kulihat wajah anak-anak sumringah menunjukkan kemenangan akan perjuangan kami. Aku sendiri belum yakin jika belum mendapat kabar dari Pak Bahtiar secara langsung nasib petisi kami, dan aku tahu bahwa Pak Dian masuk kelas ini hanya sementara waktu saja. Bisa jadi hari ini Ibu Vonny ada halangan, atau melahirkan lagi – kuharap beliau segera melahirkan – atau bisa jadi telah terjadi pembicaraan yang alot di ruangan kepala sekolah mengenai nasib Ibu Vonny selanjutnya. Yang jelas bagiku, masuknya Pak Dian bukan berarti perjuangan telah selesai. Yang kutahu, kabar yang jelas belum ada dari Pak Bahtiar, berita tentang penggantian Ibu Vonny masih gelap gulita.

“Hari ini kita tidak bisa belajar banyak, karena ibu Vonny tidak memberikan bahan terakhir yang akan dibahas, atau ada masukan?”, kata Pak Dian, setelah basa-basi dengan percakapan ringan. Tidak ada sedikitpun menyinggung tentang penggantian Ibu Vonny, walaupun secara implisit beliau mengatakan hal seperti itu.

“Kita ulangi pelajaran yang lalu aja pak”, ujar Allyn seperti biasa untuk mengambil hati guru.

“Boleh, mulai dari bab berapa Allyn”

“Bab 4, pak”, ujar Allyn cepat. Allyn memang seorang siswa yang pintar, menurutku lebih pintar lagi mengambil hati guru.

“Baiklah, kita mulai dari bab 4, silakan buka buku bab 4 dan ajukan pertanyaan jika belum mengerti”

Pelajaran hari ini lebih baik daripada sebelumnya ketika diberikan Ibu Vonny, semangat belajar biologi anak-anak lebih terasa. Mungkin karena Pak Dian lebih memahami jiwa remaja seperti kami, atau bisa jadi Pak Dian adalah seorang guru yang pengalaman, atau karena hanya karena perubahan yang baru terjadi. Aku masih membawa buku dari perpustakaan umum, tapi tidak berusaha membuat pertanyaan di luar konteks pelajaran. Pertanyaan yang memojokkan sudah tidak perlu bagi saya, lagi pula yang memegang kelas hari ini adalah Pak Dian, seorang guru yang kuhormati. Anak-anak memberikan pertanyaan yang segera dijawab dengan baik oleh Pak Dian sebagai bukti bahwa beliau sangat menguasai bahan pelajaran. Dengan memberikan contoh dan analog pak Dian memberikan pemahaman yang sangat kami dambakan dari seorang guru. Aku sadar bahwa Ibu Vonny sebenarnya menguasai pelajaran yang dia ajarkan kepada kami, hanya cara mengajar yang membosankan dan seringkali sikap sombong beliau yang membuat kami muak terhadap ibu Vonny. Kami semua berharap Pak Dian akan menggantikan Ibu Vonny secara permanen, yang menunjukkan kemenangan kami melawan Dominasi Ibu Vonny.

Bersambung Bag. 4 Kemenangan Bagi Semua

Bu Vonny yang Terbuang (#2)

•Juni 15, 2008 • 1 Komentar

After School

Setiap pelajaran Biologi aku selalu membawa buku referensi diluar buku pelajaran yang kupinjam dari perpustakaan umum milik pemerintah. Tujuanku hanya satu, mempermalukan Ibu Vonny dengan memberikan pertanyaan yang tidak ada di buku pelajaran. Dengan begitu, aku bisa memberikan bukti pada anak – anak bahwa Ibu Vonny pada dasarnya adalah sarjana yang tidak tahu apa-apa dan membuatku puas telah mempermalukan beliau di depan kelas.

Hari ini, ada lima pertanyaanku di bidang biology pertanian yang tak terjawab. Ibu Vonny tidak merasa bodoh, karena pertanyaan kami memang tidak ada di buku pegangan biology kelas dua. Tapi aku merasa menang mutlak, karena anak – anak semakin yakin akan kualitas seorang guru bernama Ibu Vonny. Seorang sarjana dengan pengetahuan sebatas buku pelajaran SMA

Selama dua jam pelajaran Ibu Vonny menjadi bulan – bulanan kami. Penjelasannya tidak kami dengarkan, tetapi ketika diberi kesempatan bertanya, kami bertanya hal – hal di luar konteks yang diajarkan, yang membuat Ibu Vonny gelagapan dalam menjawab. Kami hanya tersenyum sinis melihatnya di depan dan menjadi permainan kami semua walaupun beliau tidak menyadarinya. “Sebentar lagi Ibu, dirimu akan hilang dari kelasku. Kemerdekaan kami sudah diambang mata, tinggal menunggu satu fajar lagi”, pikirku dengan seyum kemenangan.

Lonceng tua sekolah kami tiba – tiba berbunyi tanda sekolah selesai hari ini. Anak-anak dengan riang berlarian keluar kelas, tidak peduli dengan Ibu Vonny yang masih berbicara menutup pelajaran. Memang, bagi kami Ibu Vonny tidak pernah ada. Sikap beliau selama inilah yang membuat kami muak. Wajah cantik berkulit putih pucat itu tampak seperti nenek sihir yang harus kami hindari. Aku, Ivan, Alok, Awet, Allyn, dan beberapa anak lain yang peduli tetap dikelas dan mulai menyusun rencana. Kami menunda kepulangan kami demi kebebasan yang sebentar lagi kami nikmati.

Siapa yang menghadap Pak Bahtiar!”, tanya Allyn dengan wajah memelas supaya tidak ditunjuk. Dia paling kuatir kalau disuruh menghadap Guru membawa permasalahan seperti ini, Allyn lebih senang menjaga image di depan para guru. “Penyakit murid teladan”, pikirku.

“Awet!”, kataku menoleh ke arah Awet,“Kamu ketua kelas”. Awet melotot, tapi dia tahu bahwa aku benar, sebab dia dipilih jadi ketua kelas bukan untuk senang-senang saja.

“Kita menghadap berdua Fi!”, katanya, membalasku sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku terkejut sejenak.

“Ok deh”

Kami berjalan ke ruang guru dan melihat Pak Bahtiar sedang duduk di meja beliau yang terletak di tengah, membelakangi jendela. Beberapa guru nampak masih sibuk merapikan meja mereka masing-masing, Ibu Vonny masih ada di tempat duduknya sambil membereskan buku-bukunya. Beberapa guru berjalan keluar untuk makan siang sebelum memulai aktifitas pekerjaan rutin mereka, mengajar pada sesi kedua nanti. Kami menunggu Bu Vonny keluar ruangan, karena kami tidak ingin kehebohan terjadi ketika kami masih di dalam ruangan. Kami ingin Pak Bahtiar melakukannya dengan kepala dingin dan berpikir untuk masa depan anak didiknya. Kami mengerti jika beliau membutuhkan waktu yang cukup untuk melaporkan ke Pak Sunardi, kepala sekolah kami.

Beberapa saat kemudian, kami lihat Ibu Vonny keluar dari ruangan guru. Jantungku seperti meloncat melihat beliau, karena saat yang kutunggu telah tiba. Suasana menegangkan terasa seperti suasana menunggu hasil ujian akhir. Allyn gelisah, Awet apa lagi, Aku sendiri khawatir Pak Bahtiar akan menolak tandatangan kami, yang akan menyebabkan langkah awal perjuangan kami akan mengalami hambatan serius, di lain pihak kebencian kami terhadap Ibu Vonny sudah memuncak hingga di ubun-ubun.

Pak Bahtiar adalah guru wali kelas kami sekaligus guru matematika. Berpenampilan sederhana tidak banyak maunya dan seingatku bajunya selalu berwarna biru kehijauan sedikit putih lusuh karena sering dicuci pake deterjen. Rambutnya yang kriting tidak pernah disisir apalagi menggunakan minyak rambut dan sehingga tampak seperti rambut Albert Einstein, dan kupikir pak Bahtiar memang jenius seperti professor pencipta teori relativitas itu. Sebagaimana kebanyakan orang jenius, saat mengajar pak Bahtiar sering tersenyum dan tertawa sendiri walaupun kami tidak mengerti apa yang ditertawakannya. Mungkin lelucon beliau adalah lelucon orang brilliant, sehingga otak kami tidak mampu mencerna lelucon yang membuat beliau tertawa.

Aku dan Awet masuk ke ruangan guru dan pelan-pelan kami mengetuk pintu. “Permisi pak”, kata awet ketika pak Bahtiar memandang kami berdua.

“Masuk Ferry”

“Terima kasih pak”

Kami berdua melangkah ke arah pak Bahtiar. Sementara Allyn, Ivan dan yang lainnya mengintip dari Jendela, dengan jantung yang bergemuruh.

“Bisa minta waktu sebentar, pak ?” tanya Awet.

“Ya, silakan”

“Begini pak, tadi siang kami mengadakan rapat kecil mengenai Ibu Vonny. Rapat tersebut dimulai dengan adanya usulan salah seorang anak dan kemudian kami membicarakannya. Usulan tersebut adalah…”, awet menceritakan kronologi kejadian hingga kami mengumpulkan tandatangan anak-anak kelas A1 untuk mempertegas niat kami. Kulihat sedikit perubahan expresi pak Bahtiar yang berusaha ditutupi untuk menjaga wibawa. Rambutnya yang kriting semakin acak-acakan ketika mendengar cerita Awet yang baru kali ini dihadapinya sebagai seorang wali kelas. Selama mengajar di SMA ini, tidak pernah terjadi hal yang memusingkan seperti masalah yang diceritakan Awet.

“Baiklah, bapak terima laporan kalian, akan bapak bicarakan dengan kepala sekolah”, ujar beliau penuh diplomatis, setelah mendengar penjelasan Awet dan sedikit tambahan sana-sini dariku. Aku sendiri tidak puas akan ucapan pak Bahtiar, apa daya begitulah aturan yang ada. Aku menginginkan hasil yang segera dapat dirasakan untuk seluruh kelas. Yang membuat kami sedikit lega hanyalah diterimanya kertas ‘mosi tak percaya’ yang berisi tandatangan seluruh siswa kelas A1. Bola tersebut telah berada ditangan pak Bahtiar, kami hanya bisa menunggu perkembangan selanjutnya.

“Terima kasih pak”, ujar Awet lagi. “Kalau begitu, kami permisi pulang pak”

Dengan wajah lega bercampur lapar kami melangkan keluar dari ruangan guru. Demikian pula anak-anak yang menunggu di luar dengan pertanyaan yang masih berkecamuk di benak mereka. Tentu mereka ingin mendengar respon apa yang diberikan oleh Pak Batiar. Segera setelah kami melangkah keluar dari pintu ruangan, kami langsung dihadang, seperti anak ayam yang menghadang induknya.

“Kita menunggu kabar selanjutnya dari Pak Batiar, beliau akan membicarakan dengan Kepala Sekolah”, Awet berbicara seperti seorang politisi. Wajah anak-anak sedikit kurang puas dengan jawaban itu, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, sebab keputusan besar memang harus dipikirkan matang-matang.

Kami bersama melangkah ke tempat parkiran motor di bawah pohon kelapa sebelah kiri sekolah. Kulihat hanya kendaraan kami yang ada menunggu dengan sabar, sedangkan kendaraan lainnya telah pulang bersama tuannya masing-masing. Dengan pikiran yang penuh dengan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, kami pulang dan menutup hari melelahkan ini. Memang, hari ini sangat melelahkan.

Bersambung Bag. 3 Interrogasi