Sulaiman Jatuh Cinta (#4)
Surat Pak Bahtiar
Siang itu, matahari berdiri tegak di atas kepala memancarkan sinar kemarahan pada makhluk dunia. Bayangan hitam terpatri di bawah kaki dan hanya siluet tubuh bulat terpeta di permukaan. Langit biru jernih bermahkota awan putih yang berjalan beriringan mencari teman-temannya yang tak kunjung menjelma menjadi hitam tanda hujan. Nun jauh di sana terlihat pepohonan merintih kehausan dan terpaksa merontokkan rambut demi menghemat air yang diminumnya. Sementara rumput-rumput menguning melambai lesu memohon ampun pada matahari garang . Dalam suasana terik ini, setiap makhluk enggan menantang kekuatan matahari yang sombong, bahkan semutpun lebih memilih tidur di dalam sarangnya yang sejuk dan lembab.
Pak Erwandi baru saja keluar dari kelas kami ketika Awet masuk dengan wajah muram menyimpan kekesalan. Tidak perlu seorang ahli untuk mengetahui apakah Awet sedang kesal atau tidak sebab wajahnya yang tidak seberapa itu memang gampang ditebak. Walaupun usia kemarahannya seperti usia embun di pagi hari, gampang hilang tertelan sinar matahari yang hangat sekalipun. Awet dipanggil salah seorang anak kelas dua biologi untuk menghadap guru ketika Pak Erwandi sedang asyik mengajar, dan kupikir dia dipanggil oleh Pak Sunardi, mengingat hubungan antara Awet sebagai ketua OSIS dan Pak Sunardi sebagai kepala sekolah sangat erat. Bahkan walaupun tidak memiliki SIM A, dia diperbolehkan membawa mobil kesayangan beliau. Ah, Awet emang jagonya kalau merebut hati orang, cuma hati calon mertua saja yang paling sulit dia rebut.
Aku baru saja memasukkan buku Fisika ke dalam tas kainku ketika dia menghentak tempat duduk kami. Mulutnya masih tertekuk dan mata agak nanar. Aku tahu ada masalah yang sedikit rumit – tidak serumit masalah OSIS.
“Kenapa Wet?”, tanyaku sambil mengambil buku Geography. Pak Budi guru funky sedikit sableng sebentar lagi akan mengisi pelajaran itu.
“Habis dipanggil Pak Bahtiar, nanyain Sulai”
“Lho, emang ada apa dengan Sulai?”, tanyaku tidak mengerti. Aku memang jarang melihat Sulai di sekolah dalam beberapa hari ini, tapi aku tidak menyangka bisa sampai seserius itu. Mungkin dia sedang masuk angin (biasalah penyakit anak masjid), lagipula menurut anak-anak, Sulai memang sedang sakit. Aku tahu tak satupun menjenguknya di rumahnya atau di rumah sakit. “Besok juga sembuh sendiri”, pikir mereka, “Lagipula ayahnya yang bekerja di apotek Rumah Sakit Timah, jadi stok obatnya tidak terbatas”
“Dia sudah tidak masuk hampir tiga minggu!”
“Hah?!”, Aku terkejut mendengarnya. “Dia tidak sekolah sudah selama itu? Aku pikir dia cuma sakit beberapa hari saja”
“Tidak kalau melihat absensi”
“Jadi gimana?”
“Aku sebagai ketua kelas harus mencari dan menyampaikan surat dari beliau ke Sulai”
“Mungkin ada anak-anak ada yang tahu dia dimana”, ujarku komentar seadanya. Kalau dipikir-pikir memang berat jadi ketua kelas, apalagi bagi Awet menjadi ketua kelas karena populer. Sebagai seorang selebritis sekolah dia memang luar biasa populer. Masalahnya, dia memimpin kelas yang berisi kaum Adam dan tidak tahu aturan. Ada cewek pun sedang dalam proses mutasi menjadi cowok, untung saja cuma dua tahun, hingga proses mutasi bisa segera terhenti.
“Iya, juga”, dia bergegas menuju ke depan kelas. “mumpung Pak Budi belum masuk”
“PERHATIAN!”, teriaknya. Anak-anak yang sedang asyik bercengkrama sambil menunggu pak Budi masih belum mendengar dan menggubris. Awet mangambil penggaris kayu berwarna kuning dengan panjang satu meter dan memukul-mukulkan ke atas meja seperti Pak Jack sedang mengajar, hingga seluruh mata tertuju ke arahnya di depan.
“Kawan-kawan”, sambungnya. “Teman kita Sulaiman sudah hampir tiga minggu tidak masuk sekolah!”
Suasana riuh membahana ke seluruh kelas. Ada yang kaget ada pula yang tertawa kecil, seolah hal itu memang sudah biasa. “Ada yang tahu keadaannya?”
Anak-anak menggeleng, suara gumam mengisi ruangan bagai suara kumbang yang berjumlah ribuan. Namun semuanya tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan Awet di muka kelas.
“Paling juga dimasjid, udah jadi pak kiyai kali”, celetuk salah satu anak di dekat dinding, disambut tawa kecil beberapa anak di dekatnya. Awet tidak mengindahkannya, demikian juga yang lain. Namun setelah beberapa saat menanti, tiba-tiba pak Budi tampak di depan pintu sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang mulai rontok. Awet mengangguk kecil dan segera kembali ke tempat duduknya di sampingku.
“Fi, kamu harus bantu aku mencari Sulai. Pesan dari pak Bahtiar harus disampaikan hari ini”
“Beres Boss!”, ucapku sambil mulai melihat pak Budi melucu di depan kelas.
“Suratnya harus langsung ke tangan Sulai”, ujar Awet lagi.
“Lho koq mesti gitu?”
“Aku mencium masalah sama anak itu”
“Jadi..kita harus nyari Sulai sampai dapet donk”
“Iya!”
“Wadduh, mudah-mudahan saja masih hidup”, ujarku terkekeh-kekeh.
“Tenang, dia masih idup. Kalau tidak, kita pasti tidak akan dapat masalah”, Awet mulai bisa senyum sedikit.
Sebagai teman baik memang kadang-kadang kami sangat keterlaluan. Lucu memang, teman tidak masuk sekolah selama tiga minggu tidak terasa, namun kalau tidak ada pesta dalam dua minggu sangat terasa. Tapi Sulaiman memang unik, dia bisa rajin sekolah, sering juga hilang seperti hantu kapan dia mau. Yang pantas diacungi jempol dia memang terkenal di masjid Jamik, sebagai markas besarnya. “Jangan-jangan dia diangkat jadi Imam besar di sana”, ujarku ke Awet sambil senyum nakal.
“Imam besar apanya?”
“Emang Sulai besar apanya?”, balik aku yang bertanya ke Awet. Kami berdua menahan tawa kuatir pak Budi yang sedang asyik bercerita di depan mendengar. Sebab walau funky, kalau sudah marah kemarahannya lebih gawat daripada singa marah.
“Udah ah, ntar aja kita cari”
“Oke, abis itu kita makan mie di deket bioskop Gunung Tajam oke?”, tanyaku.
“Beresss”
- – -
Masih ada beberapa anak berseragam putih biru berjalan di bawah terik matahari siang ketika kami sampai di masjid Jami’. Masjid tampak sepi, yang ada hanya segelintir manusia beribadah dan beberapa diantaranya ada yang duduk beristirahat menghilangkan lelah atau menghindar dari panas matahari yang membakar sambil berkipas menggunakan peci lusuhnya. Kuperhatikan satu per satu, tak terlihat sosok Sulai di antara mereka. Lalu kukelilingi tempat wudu di bawah, sekalian mengambil wudu, masih saja batang hidung anak satu itu tidak nampak. Aku kembali ke atas, melakukan sholat sejenak kemudian melangkah naik ke arah balcon. Aku tahu, Sulai seringkali nongkrong di atas dalam mencari inspirasi atau hanya untuk tidur sejenak sebelum sholat jumat tiba, namun sayang sekali, sehelai rambut keriting Sulai yang selalu dibanggakannya karena mirip dengan rambut Rhoma Irama sang pujaan tidak nampak juga.
“Hh… anak itu kemana ya?”, tanyaku pada diri sendiri.
“Wet!, dia gak ada di sini”, ucapku ketika berada di dekat Awet yang menunggu di dekat masjid dibawah pohon yang agak rindang.
“Udah rata semua tempat?”
“Udah. Pengurus masjid nya gak ada”, ujarku. “Gimana kalau kita coba rumahnya saja?”
“Rumahnya?”, tanya Awet ragu. Memang agak riskan kalau menanyakan keberadaan Sulai di rumahnya jam segini. Kalau orang tuanya curiga gimana, kami masih pakai baju seragam sekolah, kan seharusnya bertemu di sekolah.
“Kita bikin alasan lain saja”, ujarku memecah keraguan Awet. “Pokoknya jangan sampai orang tuannya curiga”
“Hm…oke. Kamu yang ngomong”, ujar Awet kepadaku.
“Gak masalah”, jawabku.
Aku meloncat ke atas sepeda motor dan kami berdua terbang ke rumah Sulai yang tidak terlalu jauh dari komplek Masjid Jami’.
“Permisi… ”, ucap kami ketika sampai di rumah Sulai pelan. Rumah terlihat sepi dan yang ada hanya beberapa anak bermain diteras. “Dek, ada bang Sulai?”, tanya Awet ke salah satu anak di sana.
“Barusan keluar bang!”, jawab salah satu anak yang berpakaian coklat kusam sambil terus bermain.
“Aduh! Kita nyari di mana lagi Fi?”, gumam Awet kesal.
Kami berdua diam sejenak berpikir di sela-sela perut yang mulai bernyanyi lagu lama. Aku semakin merasa berdosa sama ketidaktahuan kami. Aku baru sadar tenyata kami tidak banyak mengenal dunia Sulai. Kami hanya tahu dia memiliki dua dunia yakni masjid dan musik dangdut. Mencari Sulai di kala siang seperti ini lebih rumit dibandingkan mencarinya di malam senin – malam pentas dangdut. Tetapi kami tidak mungkin menunda hingga malam senin tiba dan Pak Bahtiar tentu tidak terima jika tugas yang diberikan kepada kami tidak segera terselesaikan. Apa harus kami tunggu sampai malam tiba? Ah, kalau ada pekerjaan yang tidak tuntas masih saja terasa kurang enak menjalani hidup. Tapi kami harus kemana?
Sesosok remaja tanggung keluar dari rumah hanya mengenakan kaos singlet. “Mencari Sulai Wet?”, tanyanya.
“Iya Ded. Ada?”
“Oh!, dia baru keluar pake sepeda”, ujar Deddy . “Katanya dia ke Tanjungpendam”
“Apa?? Panas-panas begini ke Tanjungpendam?”
“Kamu tahu kan Sulai?. Agak aneh, selalu mencari inspirasi”, ujar Deddy sambil tersenyum penuh arti.
“Yah…Oke deh Thanks”, ucap Awet. “Kami akan mencarinya ke sana”
“Oke”
Untung saja Deddy tidak curiga, atau yang memergoki kami bukan orang tua Sulai. Bayangkan apa yang harus kami jawab jika ditanya, tentang Sulai. Bohong sama orang tuanya? Kalau terpaksa gimana lagi?
Kami berdua bergerak menuju ke Tanjungpendam, tempat pengasingan Sulai. Tanjungpendam memang tempat yang cocok untuk mencari inspirasi, atau berduaan dikala dilanda asmara – yang tentu bukan Sulai – daerahnya sepi dan penuh dengan pohon – pohon rindang. Di tanjungpendam ini ada sebuah lapangan luas yang baru saja dibuka dan ditanami pohon-pohon kecil namun sudah cukup untuk tempat nongkrong dan memang kami seringkali bolos ke sana. Kalau sore, aku dan Ivan sering datang ke sini untuk mengabadikan keindahan pantai di saat sore atau saat hujan baru saja reda.
Kami hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk sampai di tanjungpendam, dan kami langsung menuju tempat kami biasa nongkrong. Tapi tidak ada, kami coba mengintari lapangan luas ini di bawah terik matahari dan keadaan lapar namun sesosok manusia tidak nampak. Bahkan orang bugispun tidak ada.
“Dimana lagi ya Fi?”
Aku terdiam sejenak berpikir tempat lain yang cocok untuk orang seperti Sulai. Di tanjungpendam ini banyak tempat nongkrong yang asyik, tapi kalau siang dengan panas terik membakar seperti sekarang ini, tempat nongkrong itu manjadi lebih sedikit. Tempat – tempat seperti pinggiran pantai berpasir akan ramai orang ketika menjelang magrib saja. Tempat lainnya hampir sama, bahkan tempat kami nongkrong pun tak layak menjadi tempat berteduh di siang bolong seperti ini. Namun…
“Aku tahu Wet!”, ujarku semangat. “Dia di depan Wisma Timah!”
“Ya!, bener”, ujar Awet penuh sukacita. “Yuk kita kesana!”
Beberapa menit kemudian kami tiba di tempat sebuah batu setinggi rumah. Di bawah batu besar itu terdapat banyak pohon – pohon rindang bahkan ada pohon tumbang sehingga cocok untuk tempat duduk dan berteduh dikala terik. Dari kejauhan kulihat Sulai sedang duduk tafakur di puncak batu tinggi dan dipayungi oleh pohon berdaun lebat, bertingkah bagai pujangga menanti inspirasi dari sang pencipta.
“Wet! Tuh dia di atas!”, ujarku menunjuk ke arah Sulai yang sedang duduk.
“Iya..yuk kita naik”
“Lai!”, kami naik bebatuan sambil berteriak. Sulai menoleh dengan mata kosong tak bergairah. Awet senang seperti anak yang baru mendapatkan hadiah.
“Kamu kemana aja, udah tiga minggu tidak masuk? Pak Bahtiar nanyain tuh!”, ujar Awet dengan nada kesal sambil duduk di sebelah Sulai. Dia mengambil amplop dan diserahkan ke tangan Sulai.
“Ah… Pak Bahtiar”, ujarnya lirih tak peduli, matanya masih menatap laut di kejauhan. “Aku lagi menunggu jawaban cinta dari Melati, Wet. Waktu sehari serasa telah sewindu, rasa hati penuh dengan rindu, namun…”
“Oops, Oke! Lai. Aku mau cabut dulu bareng Syaifi”, ujar Awet memotong pembicaraan. Dia sudah tahu tanda-tanda Sulai akan mulai membacakan ratusan puisi cinta, dan dia tidak dalam suasana ingin mendengarkan puisi itu di hari yang panas terik seperti ini dengan perut yang keroncongan. “Besok kamu ditunggu di kantor guru”. Awet bangkit, “Yuk Fi, kita cari Mie, laper nih.!”
“Tancap…”
Kami berlari turun dari batu besar itu, dan langsung menaiki sepeda motor hitam menuju ke Bioskop Gunung Tajam. Kami tinggalkan Sulai dalam kesendiriannya memimpikan cinta yang kini berada diambang matanya. Aku tahu dia memang sedang jatuh cinta. Walaupun dalam hidupku hingga kini aku hanya mengenal satu cinta yang telah pergi, namun aku masih bisa membedakan antara mata jatuh cinta atau mata elang seperti Dicky. Diam-diam aku berdoa, “Semoga kali ini kamu beruntung teman…”
bersambung menuju akhir…

Tinggalkan Balasan