Sulaiman Jatuh Cinta (#3)

Pertemuan Kedua

Sulai duduk termangu di balkon masjid, menanti sang dambaan hati dengan sebuah amplop merah muda di tangan. Sudah beberapa hari dia duduk sendiri berteman sunyi bersama buku tulis dan beberapa majalah sebagai penghilang rasa jenuh di hati. Sesekali dia turun ke ruangan masjid untuk berbincang dengan orang-orang yang singgah dan akan kembali ke peraduannya di lantai II jika saat break belajar tiba. Selama pengintaian ini, dahaga kerinduannya beberapa kali terpuaskan walau sejenak saat Melati berjalan menuju perpustakaan bersama beberapa temanya. “Dia memang sempurna, cantik dan cerdas”, puji Sulai. “Cara berjalan seperti puteri raja, dan saat rambutnya berkibar keharuman rambutnya semerbak hingga tercium dari sini”

“Kemarin dia sempat melemparkan senyum terindahnya padaku. Dan kini kunanti senyum itu merekah kembali hanya untukku seorang. Kutunggu dirinya, berharap bibir dan mata mendendangkan lagu yang indah sebagai tanda hari baru bagiku yang akan kuisi dengan kebahagiaan di setiap waktunya”

Sebagai salah seorang siswa terbaik yang pernah singgah di SMP satu, Sulai tentu mengenal seluk beluk almamaternya itu. Waktu masuk, istirahat dan pulang sekolah sudah menjadi bagian dari nadinya dan setiap aliran darahnya menjadi penunjuk waktu yang lebih tepat daripada arloji di tangannya. Tempat-tempat berkumpul pada saat-saat tertentu – seperti perpustakaan dan kantin Bu Roso, sudah dikenal seperti dia mengenal ruangan di rumahnya. Sayang kantin bu Roso tidak dapat terlihat dari arah balkon masjid karena terhalang oleh perpustakaan. “Ingin kunantikan Melati di sana, tetapi tentu akan menjadi pertanyaan yang besar mengapa aku berada di sana saat-saat belajar seperti ini”, Sulai menarik nafas panjang. Dia berpikir tentang hutang yang belum terbayar walau sudah dua tahun tidak duduk di sekolah itu, hal itu membuatnya ngeri dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk nongkrong di sana.

Sejak bolos bersama Dicky beberapa hari yang lalu, Sulai tidak pernah menginjakkan kakinya di sekolah. Dia tidak peduli dengan pelajaran sekolah yang akan terus melangkah maju meninggalkannya, dia tak lagi peduli dengan absensi yang akan menumpuk dan jadi bahan evaluasi Pak Bahtiar. “Semoga Pak Bahtiar mengerti arti cinta yang kini melanda diriku. Tak mungkin aku bisa belajar jika cinta ini terus merenggut kesadaranku. Diriku tidak jauh berbeda dengan kondisi Dicky yang tidak pernah memperhatikan pelajaran. Hanya saja Dicky memelihara begitu banyak cinta di hatinya, sedangkan aku hanya satu saja”

Kini, hari – hari Sulai terisi dengan jantung yang berdetak riang. Setiap waktu mendekati pukul tujuh pagi, Sulai mendatangi masjid sambil membawa atribut sekolahnya, lalu duduk tenang di balkon. Pada saat-saat tertentu dia akan turun sebentar dan akan kembali ke tempat peraduannya ketika waktu yang dinanti telah tiba. Dia berkelakuan seperti seorang sufi yang duduk tenang mengharap setetes cinta Ilahi, hanya saja Sulai mengharapkan setitik cinta dari Melati.

Sudah berlembar-lembar puisi yang digubahnya, semuanya berisi nada-nada cinta semerbak wangi bunga – mengingat Melati adalah nama bunga. Begitulah memang, cinta adalah suatu anugerah yang membuat orang bisa melakukan apapun untuk meraihnya, menjadi apapun yang diinginkannya. “Akan kuberikan segalanya padanya, sebagai tanda begitu besar cintaku untuknya”, gumamnya suatu kali.

Dibukanya amplop wangi berisi lembaran surat cinta yang telah dipersiapkan tadi malam. Ditulis di atas kertas aroma strowberry berwarna pink – terpaksa dibelinya di Toko Ramai – dan berhiaskan tinta biru pena parker palsu miliknya. Semuanya dalam bahasa sajak yang menggambarkan perasaan cinta yang demikian dalam – setidaknya begitulah menurut dia.

Sulai membaca surat itu untuk ke sekian kalinya, agar tidak ada tulisan yang salah atau kurang tepat yang akan membuat cintanya ditampik, dan berharap ada kata-kata di dalamnya bisa meluluhkan hati sang bidadari. Kemudian diciumnya keharuman kertas itu seperti seorang ibu mencium kening anaknya, meresapi dan membayangkan sebuah tangan halus memegang lalu membaca dengan penuh rasa cinta. Perasaan damai kembali menyelimuti hatinya. “Semoga dia mengerti segala yang tertuang di lembaran cinta ini”

“Namun…”, Sulai berhenti sejenak dan berpikir keras. ”Bagaimana caraku menyerahkan surat ini? Aku ingin surat ini langsung jatuh di tangan Melati. Aku tidak bisa menitipkan lewat salah seorang temannya, karena bagiku itu akan berbahaya dan dia akan jadi bahan olok-olok. Lagipula tidak ada rahasia antar teman ‘kan?”

“Apakah aku harus mengirimkah lewat POS? Ahh… Surat yang masuk biasanya akan diumumkan dan belum tentu surat akan langsung sampai ke tangan Melati. Masalah yang sama akan terjadi jika bukan Melati yang mengambilnya”, Sulai menarik nafas panjang…panjang sekali. Alisnya menyatu dan beberapa kali dia mengusap hidung dan mulutnya menandakan dia sedang berpikir.

Tiba – tiba lonceng break berbunyi, telinga Sulai meninggi dan lehernya memanjang seperti leher kura – kura menjulur keluar dari cangkang. Detak jantung bertambah kencang, semangat meningkat dan mata berbinar mengiringi seringai kecil saat mendengar nada indah lonceng tanda istirahat itu. Terlihat anak-anak SMP berhamburan keluar kelas dengan tingkah beragam, ada yang memilih hanya duduk di depan kelas sambil melihat tanaman hijau, menuju kantin Bu Roso dan ada pula yang memilih perpustakaan sebagai tempat melepas kejenuhan belajar. Semua wajah mereka menyiratkan rasa lega dan menggambarkan keceriaan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Sesosok tubuh mungil dengan rambut sebahu dan berjalan ringan bagai peri terlihat melenggak menuju ke perpustaan sekolah bersama seorang temannya sambil berkelakar tentang sesuatu dan sesekali tertawa renyah. Sulai memperhatikan anak yang sedang berbicara dengan Melati, dan dia yakin mengenal anak itu. “Mungkin aku bisa meminta tolong padanya”, pikirnya “tapi…tak ada rahasia antar teman?. Ahhh….”

“Andai aku masuk ke perpustakaan”, ujarnya pada diri sendiri, “Mungkin aku bisa menyerahkan surat ini langsung kepadanya”. Wajah Sulai menampakkan keceriaan seperti ketika archimedes menemukan hukum fluida– eureka! – dan mulai bergerak bangun dari peraduannya. Dia sangat yakin telah menemukan cara terbaik memberikan surat kepada sang terkasih, “Deddy?….Ahh sudahlah apapun katanya aku tidak akan menyurutkan langkah hari ini, dan ini cara yang terbaik”

Diambilnya sebuah buku tulis kumal dan amplop yang sedari tadi dipegangnya, diselipkan di dalamnya. Sulai tersenyum dan dunia terasa berada di pihaknya kini. Dengan langkah gagah bagai seorang tentara yang akan berperang, Sulai berjalan menuju sekolah paling top di kota Tanjungpandan itu. Dia merasa mendengar musik mars mengiringi langkahnya, dan senyum tak lepas dari bibirnya yang tipis. Namun, tak urung detak jantungnya semakin kencang dan lututnya agak gemetar tak beraturan walaupun sudah ditutupi dengan langkah yang dibuat seolah-olah tegap. Perjalanan ke gerbang SMP seperti perjalanan ke tiang gantungan para terpidana, dan waktu bergerak serasa sangat lambat dan jarak yang ditempuh serasa jauh sekali. “Seharusnya aku masuk ketika belum istirahat seperti ini”, Dia menyesali tidak bertindak lebih dulu. “Kadang-kadang ide hebat datangnya terlambat”

Sesampai di gerbang, wajah Sulai serasa bertambah tebal 3 sentimeter, dan senyum sumringah berubah menjadi senyum kecut, mengingat perjalanan dari gerbang menuju perpustakaan membutuhkan mental baja. Memang perjalanan hanya tinggal beberapa meter saja, tetapi tantangan lebih berat daripada langkah awal menuju gerbang tadi. Melewati sebelah kelas 3 adalah tantangan terberatnya – Deddy kelas 3 – dan semua anak – anak kelas tiga mengenalnya dengan baik. Bagaimanapun dia adalah ketua OSIS saat anak – anak itu kelas satu. “Deddy, semoga dia berada di kantin bu Roso”, ujarnya berharap.

Langkah gagah berubah langkah cepat setengah berlari. Keringat dingin menetes di keningnya dan mata Sulai jelalatan kuatir Deddy atau guru yang memergokinya sedang menuju perpustakaan. Dia takut bertemu Bu Mala yang cantik, manis dan judes – rasa sakit cubitannya seperti sengatan kalajengking dan akan terus bertahan selama beberapa minggu – yang akan mencegahnya masuk.

“Lai!, ngapain kamu ke Sini?”, tanya Ali, salah seorang adek Awet. Sulai kaget. “Ini nih yang seharusnya dia hindari”

“Mau ke perpustakaan Li, ada tugas”, jawab Sulai cepat, merasa terganggu. “Lagi ngapain?”

“Biasa istirahat. Lai, Ngomong-ngomong…”

“Aku duluan ya!”, potong Sulai segera.

“Oke deh”, kata Ali menjauh dan kembali ke teman – temannya. Sulai lega dan berharap Ali tidak melaporkan kejadian ini kepada Deddy.

Jarak perpustakaan hanya tinggal beberapa meter saja. Sulai merasa seperti seorang Atlit yang hendak sampai di garis finish, matanya berbinar melihat pintu perpustakaan yang terbuka seakan – akan di sanalah segala kehidupannya bermula. Dia melangkah lebih lebar lagi, mengharap tiba di perpustakaan hanya beberapa langkah saja.

Seperti di SMA Negeri, nasib perpustakaan di sini tidaklah berbeda jauh. Pengunjungnya selalu saja lebih sedikit dibandingkan dengan pengunjung kantin, dan isinya orang-orang tertentu yang mungkin tidak punya uang untuk berbelanja di kantin sekolah. Sulai lebih sering menghindar dari perpustakaan daripada berteman dengannya, karena bau buku perpustakaan membuatnya pusing apalagi membaca isinya, dan kini dia harus sedikit toleransi dengan aturannya sendiri, demi seutas tali cinta yang akan dijalinnya.

Sulai melangkah pelan masuk menghampiri penjaga yang duduk di sebelah kiri pintu. Matanya menerawang ke seluruh ruangan terutama ruangan Ibu Atik – salah seorang guru penjaga perpustakaan – yang dikhawatirkan melihatnya lalu mengajaknya ngobrol. Bu Atik memang salah satu guru yang menjadi penggemarnya, dulu.

“Bang Rahman”, ujar Sulai menyapa penjaga pintu masuk perpustakaan ramah. “Apa kabar bang?”

“Ahh…Sulai. Baik Lai”, jawab Bang Rahman tak kalah ramah. Beliau mengenal Sulai dengan baik dan baginya Sulai adalah seorang anak yang sangat menyenangkan. “Gimana kabarnya Lai?”

“Biasalah bang”, jawab Sulai. “Banyak tugas dari sekolah”

“Namanya juga sekolah Lai. Apalagi kalau bukan tugas dan PR. he…he…he…”

“Ya gitu deh bang. Saya mau lihat – lihat buku di sini boleh kan?”

“Oh… Silakan, Orang luar saja boleh apalagi kamu yang lulusan sini. Tapi sayang tidak bisa minjem”

“Tidak apa – apa. Terima kasih bang”, ucap Sulai. “Kalau begitu, saya masuk ya bang. Maaf bang, kita belum bisa ngobrol lama. Lain kali ya”

Bang Rahman mengangguk tersenyum dan Sulai melangkah mendekati barisan buku – buku yang terletak di rak-rak berwarna coklat. Suara degub jantung yang bertambah keras sekeras suara gendang orkes melayu. Rasanya setiap orang di perpustaakan melihatnya dan memandangnya dengan ganjil, seolah – olah dia seekor makhluk yang bermata satu dan mengeluarkan asap dari mulutnya. Sulai menerawang seluruh ruangan sambil menjaga jarak dari ruangan guru yang hanya dibatasi dengan kaca.

Ruangan perpustakaan tidak terlalu besar, seluruh dindingnya berisi rak-rak buku dan di tengahnya terletak meja-meja panjang tempat anak – anak membaca. Beberapa siswa telah duduk dengan tenang asik membolak-balik halaman buku yang ada di depannya. Sebuah rak buku menyisip di tengah di antara meja membelah ruang baca menjadi dua bagian. Sulai melangkah, menerawang dan mencari sesosok wajah yang amat dinantinya, dengan hati penuh harap dan jantung bergemuruh.

Sinar cerah matahari yang menyilaukan seolah bersumber dari sudut ruangan perpustakaan saat Sulai menemukan satu wajah yang dirindukannya. Detak jantungnya serasa seperti deburan ombak malam di pantai tanjung tinggi dan kakinya serasa menginjak perahu oleng yang terbawa arus. Keringat dingin menetes bagaikan tetesan air di dahan sehabis hujan dan sejenak kesadarannya hilang terbawa angin dan ruangan serasa sepi tanpa manusia selain dirinya dan sang bidadari.

Tanpa sadar Sulai mengambil sebuah buku terdekat yang bisa diraihnya tanpa melihat judul ataupun warna, lalu menyisipkan amplop pink ke dalamnya – terlebih dahulu mengambil dari dalam buku tulisnya. Dia berjalan pelan mendekat sang mentari yang sedang melihat buku. Deburan ombak di jantungnya kini semakin ketara dan perahu di kakinya serasa semakin oleng disebabkan oleh ombak itu.

“Hai…”, sapa Sulai gemetar lemah dengan senyum yang paling manis yang dimilikinya sambil berusaha menutupi detak jantungnya.

“Oh, bang Sulai!”, ujar Melati terkejut melihat Sulai di perpustakaan yang dikhususkan untuk anak-anak SMP satu. “Mencari buku bang?”

“Yah…gitu deh. Ada tugas dari sekolah”, katanya sambil pura-pura memilih-milih buku di rak. “Aku dulu pernah melihat salah satu buku bagus di sini”, ujarnya dengan sedikit bumbu kebohongan. “Kamu lagi mencari buku apaan?”

“Cari buku untuk baca-baca aja bang. Tidak ada yang spesial”

“Sukanya buku apa?”

“Macem – macem”

“Novel, Sastra, majalah, atau…?”

“Ya…kalau ada yang menarik. Kenapa tidak?”, Melati tersenyum sambil melirik ke arah Sulai.

Sulai merasa berada di atas angin. Senyum menyejukkan itu kini berada dekat denganya dan dia bisa melihat gigi – gigi putihnya yang berderet rapi. Matanya berbinar seperti sinar bulan purnama. Sempurna!.

“Coba saja buku yang ini”, ujar Sulai sambil menjulurkan buku di tangannya. Dadanya seolah membengkak dan kakinya serasa berpijak pada angin dan kulit wajah bertambah tebal.

“Pengantar Elektronika?!”, ujar Melati dengan mata penuh tanda tanya. Sulai terkejut melihat buku yang tidak sengaja diambilnya.

“Sial!, mengapa aku tidak melihat judulnya?. Mati aku”, pikirnya.

“Ini yang abang cari?”, tanya Melati kembali.

“eh…eh…”, Sulai gugup. “Yah…ya…e…tugas dari Pak Jack. Lihat aja isinya”

“hm…?”, Melati membuka buku elektronika itu dengan setengah hati. “Laki – laki seperti bang Sulai mungkin menganggap buku ini menarik”

Tiba – tiba amplop yang terselip di dalamnya jatuh, serta – merta Melati mengambilnya dari lantai. Jantung Sulai seolah berhenti berdetak, bumi serasa berhenti berputar dan waktu berhenti berjalan. Kini kakinya serasa hilang separoh dan kesunyian perpustakaan seperti kesunyian kuburan di waktu malam.

Kini, surat cinta itu telah berada di jari-jari mungil Melati yang memandang dengan curiga. Dia membalik surat itu, mencari alamat sang pemilik surat itu, dan dengan mata terbelalak tak percaya Dia membaca setengah berbisik:

Untukmu
Bunga tercantik yang pernah kujumpa – Melati

Wajah Melati memerah dan secara tak sadar dia menoleh ke arah Sulai dengan sinar mata curiga, dan Sulai hanya bias berdiri tegak bagai patung mannequin di pertokoan. Mulutnya terkunci rapat, kakinya kaku tak dapat bergerak, pikirannya buntu tak tahu akan berbuat apa. Seluruh raganya serasa beku dan semua orang seolah – olah memandang dan rasa malu tak tertahankan menerpa bagai angin ribut dikala hujan.

“Jadi…”, Melati memecah kesunyian di antara mereka – dengan gemetar pula dan bertanya. “Surat ini untuk Melati, Bang?”

“Yah…”, jawab Sulai terbebas dari rasa beku dengan suara lemah. Wajahnya masih setebal dinding perpustakaan dan matanya berair menahan malu. “Itu memang untuk kamu. Maaf”

“Terima kasih bang Sulai, dan…maaf saya harus segera masuk kelas”, Melati berlalu sambil tertunduk tak berani menatap. Dia memasukkan surat itu ke dalam kantong depan roknya yang berwarna biru tua. Suara lonceng memang telah memanggil siswa untuk kembali ke kelas, dan seperti anak ayam yang dipanggil induknya, mereka berkelompok menuju kelas masing-masing.

Kini, kesunyian menyelimuti perpustakaan. Sulai tercenung sendiri memandang melati yang lenyap di balik pintu bersama siswa yang lain. Ada rasa lega yang menghias hatinya, setelah suara hatinya telah tersampaikan. “Paling tidak, dia telah mengetahui semuanya”, ujarnya. “Semoga dia mengerti dan membalas perasaanku itu”.

Tak berapa lama kemudian, Sulai keluar menuju masjid dengan perasaan yang bercampur aduk antara rasa suka cita dan takut. Suka cita karena semua ganjalan di hati telah terangkat, takut sebab mungkin cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.

Maaf nyambung lagi…

~ oleh syaifi pada Desember 21, 2008.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.