Sulaiman Jatuh Cinta (#2)

Balkon Masjid Jami’

“Wet!, kamu kenal Melati anak baru SMP satu?”, tanya Sulai ketika kami sedang break pertama sambil melahap tempe goreng Bu Darno yang masih panas.

Saat – saat break seperti ini merupakan saat yang selalu dinanti oleh anak – anak, karena mereka dapat bercengkrama, bercanda dan melupakan pelajaran yang berat di kelas. Bagi yang memiliki pasangan, mereka akan mencari tempat yang teduh seperti di bawah rindahnya pohon kelapa untuk memadu kasih – walaupun cuma beberapa menit saja. Untuk yang bokek, terpaksa harus gigit jari atau minta traktir temannya yang tajir, dan…Sulai sepertinya cocok untuk kategori ini.

“Nggak, aku gak kenal Lai. Emangnya kenapa? ”, jawab Awet sambil mengunyah bakwan.

“Gak apa-apa. Cuma nanya aja”, ujar Sulai tanpa bisa menyembunyikan nada lega. Setidaknya satu saingan berat sudah tersingkirkan, dan Sulai berharap akan tetap seperti itu. Dia heran juga kalau Awet tidak mengenal gadis secantik Melati, karena Awet dikenal sebagai seorang yang memiliki reputasi luar biasa dalam menaklukkan bunga-bunga belia.

“Cewek baru ya Lai?”, tanya Awet penuh curiga. Awet mengenal Sulai sejak duduk di bangku SMP kelas I, dan mengetahui setiap langkah perjalanan romantismenya. Awet masih ingat ketika Sulai menaruh hati pada Netty dan membuat Awet pusing mendengar syair dunia masih berputar yang diulang-ulang dengan suara seperti kaset rusak – karena Sulai tidak bisa memainkan gitar. Masih tergambar jelas di kepalanya ketika Sulai menuliskan ratusan puisi hanya karena dia naksir Widya, dan diam selama dua minggu saat dia tidak diajak mencari kijing ketika dia naksir Ame. Belum lagi gadis – gadis lain, seperti Yanti, Vista, Ayu, Noni yang selalu saja pada akhirnya akan menyisakan kepedihan yang dituangkan ke dalam syair puisi atau nyanyian lagu yang memilukan – bukan karena putus tetapi karena ditolak atau terlambat. Dan itu semua terpaksa dinikmati Awet sebagai sahabatnya.

“Yah… begitu deh”, Sulai tersenyum sumringah dan membuat kumisnya sedikit terangkat serta hidungnya mengembang, terlihat bulu hidungnya sedikit berkibar. Dia paling suka kalau teman-temannya menggapnya sudah memiliki pacar. Apalagi seorang cowok keren seperti dirinya, rasanya tidak mungkin ada cewek mampu menolak pesonanya. Ditambah suaranya yang merdu semerdu suara Mansyus S, saat menyanyikan lagu irama padang pasir. Sulai merasa lebih berhak menjadi penyanyi utama group musik dangdut idolanya – Orkes Melayu Kencana.

“Kenal di mana Lai?”, tanya Dicky

“Dia temennya Deddy. Ceweknya manis banget. Sempurna buat aku”, ujar Sulai dengan semangat membara.

“Ceweknya Deddy kali?”, celetuk Atuk yang sedang melahap bakso pedasnya sambil mendesis.

“BUKAN!. Beberapa hari yang lalu, dia ke rumahku mau pinjem buku Deddy, dan yah…kita ngobrol banyak”, ujar Sulai bercerita dengan wajah penuh sinar kebahagiaan, “dan aku yakin sekali dia belahan jiwaku”

“Udah ngomong belum?”

“Rencanaku, besok mau mengajak dia jalan dan ngomong”

Mudah – mudahan kali ini nasib Sulai berubah, pikir Awet pesimis. Siapa tahu, kali ini akan berakhir dengan bahagia dan Sulai tidak akan mengganggunya lagi. Tapi Awet merasa tetap harus mempersiapkan diri untuk menjadi tumpahan kesedihan Sulai saat merana kembali mendera hatinya. Memikirkan hal itu, Awet bergidik sendiri. “Hh….”, Awet menarik nafas panjang.

Suara bell masuk berbunyi memekakkan telinga dan semua siswa terpaksa berhamburan keluar kantin kecil yang sempit itu. Beberapa diantaranya segera membayar makanan yang telah dilahapnya dan Sulai dengan cepat menghilang seperti hantu– Sulai tidak pernah merasa memesan makanan dan apa yang dimakannya pasti milik temannya. Atuk, seperti biasa selalu terlambat menyelesaikan santapan bakso yang menjadi makanan favoritnya, dan selalu menjadi orang yang terakhir keluar dari kantin.

Selama pelajaran sejarah, Sulai lebih banyak melamun daripada mendengarkan apa yang diajarkan hari itu. Syukurlah Pak Amran tidak terlalu memperdulikannya. Toh memang hampir semua anak-anak tidak memperhatikan dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Sejarah memang tidak pernah menjadi pelajaran favorit di Kelas II Fisik dan Pak Amran juga bukan merupakan guru yang dipuja. Sesekali Sulai menarik nafas panjang membayangkan Melati bersamanya menghabiskan waktu di Tanjungpendam dan berjalan-jalan sore mengelilingi kota Tanjungpandan.

Pertemuan pertama telah membuat Sulai tidak berdaya melupakan bidadari itu. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak bahkan di toilet pun tidak tuntas, well walaupun tidak pantas rasanya mengingat wajah seseorang ketika di toilet. Yang diingatnya hanyalah sebuah wajah mungil dengan rambut sebahu yang beberapa waktu lalu mulai mengisi kekosongan hatinya. Bahkan Wangi tangannya pun masih terasa hingga saat ini. Hhhh…., sekali lagi Sulai menarik nafas panjang.

“Kalau saja aku bisa melihat nya sekali saja”, pikirnya dengan kalimat yang puitis. “Cukup kiranya untuk mengobati penyakit rindu yang kuderita”

Masalahnya, hingga kini wajah itu tak pernah muncul lagi di pintu rumahnya, walaupun setiap sore Sulai menanti penuh harap dengan berdebar di teras rumah. Alamat rumahnya, hobby, warna kesukaannya, semua tentang Melati, Sulai tidak tahu. Ingin rasanya dia bertanya kepada Deddy tetapi perlu pemikiran yang lebih matang cara bertanya, karena Deddy selalu mengejek jika tahu dia naksir salah seorang temannya. Ingin rasanya dia langsung masuk ke SMP I dan menatapnya walau hanya sedetik saja, namun dia sadar, hal itu akan membuat Melati menjauhinya. Haruskah dia menantinya di gerbang hingga sang pujaan keluar? Akankah itu akan membuat Melati malu di antara kawan-kawannya?

“Andai ada sebuah tempat yang sangat strategis” pikirnya lama. ”Mungkin aku harus menunggunya di dekat Masjid Jami’ sambil menunggunya pulang. Tidak ada seorangpun tahu dan akan menertawakanku”

“Aha! Aku akan mengamatinya dari balkon masjid yang tidak pernah ada orang. Ya, ide yang brilliant. Setiap saat aku bisa mencari dan walaupun cuma sedetik sehari aku akan melihatnya dan melepaskan rasa rindu”, wajah suram Sulai berubah menjadi ceria seperti matahari yang bersinar setelah hujan yang panjang. Kerinduan tak tertahan akan terobati. Wajah manis Melati kini menari – nari di pelupuk mata, menggoda.

Tak berapa lama kemudian, suara lonceng mengisi siang yang panas terik, tanda istirahat kedua telah tiba. Mata – mata ngantuk kembali terang seterang mentari di pagi hari. Suara – suara lega dan canda segera menggantikan suasana sunyi, sepi dan rasa bosan. Anak-anak segera berhamburan keluar menuju kantin Bu Darno, mengkhawatirkan tempe dan bakwan enak buatan Bu Darno yang biasanya ludes dengan cepat oleh mulut-mulut rakus yang kelaparan.

“Dick, pulang yuk!”, Sulai mengajak Dicky bolos pelajaran terakhir sesaat sebelum Dicky keluar kelas. Dia harus bisa membujuk Dicky untuk bolos agar bisa sampai di masjid dengan cepat. Sulai tidak pernah merasakan kemewahan dengan memiliki kendaraan sendiri, selalu saja ada teman yang baik yang menjemput atau mengantarnya pulang. Namun kali ini, memiliki kendaraan sendiri rasanya merupakan ide yang terbaik agar dia bisa pulang kapan saja dia mau.

“Hmm…”, Dicky berpikir sejenak. Sebenarnya tidak sulit membujuk Dicky untuk membolos, toh di kelas Dicky tidak pernah memperhatikan pelajaran apapun juga. Sulai kadang-kadang bingung dengan sikap Dicky yang tak acuh pada pelajaran dan entah apa jadinya dia nanti.

“Ayo dong. Kamu tahu Pak Jack yang super cuek. Pelajarannya ngabisin waktu saja”

“Tapi.. aku udah beberapa kali bolos pelajaran Pak Jack”

“Alah… nanti kita urus itu. Cuma Pak Jack. Gampang dah”, ujar Sulai memaksa.

“Iya juga ya. Oke deh”, ujar Dicky luluh. Dia mengulurkan tasnya ke arah Sulai, ”Kamu tunggu aku di seberang lapangan bola, nanti kujemput di sana. Jangan lupa bawa tasku”

Cahaya kemenangan terpancar di wajah Sulai ketika bujukan mautnya mengena. Senyum sumringah kembali menghiasi wajahnya dan kini terasa semua beban telah terangkat dari dadanya. Memang, kalau ada niat selalu saja ada jalan, pikirnya.

Sulai harus menunggu beberapa saat sampai semua guru masuk ke ruangan guru, untuk memulai dosanya di siang itu. Dengan mengendap – endap sambil membawa tas Dicky, Sulai berlari menuju seberang lapangan sepak bola, yang berbatasan dengan rumah-rumah penduduk. Siang yang terik seperti ini, tak seorang guru pun yang rela berpatroli mengintai anak – anak liar seperti Sulai. Terlihat dari balik pagar, Awet, Allyn dan kawan – kawannya baru saja masuk ke kantin Bu Darno. Beberapa anak kelas 3 melihat ke arahnya, tak peduli dan lalu meneruskan aktifitasnya masing-masing. Panas terik terasa menyejukkan bagi Sulai, mengingat beberapa saat lagi dia akan mengobati rasa rindu yang begitu dalam.

Beberapa saat kemudian, Dicky muncul dengan sepeda motornya yang gagah. Sepeda motor Dicky memang paling bagus di antara seluruh sepeda motor yang dikendarai anak-anak. Dicky selalu bersikap seperti film Catatan Si Boy dan menganggap dirinya adalah pemeran utama film itu di kehidupan nyata.

“Ayo Lai!”, teriak Dicky dan serta merta Sulai melompat ke belakang Dicky yang langsung tancap gas menuju ke jalan pulang.
Perjalanan yang ditempuh terasa lama dan melelahkan. Panas terik tak kunjung berbelas kasihan dan perjalanan menjadi sangat menyiksa. Beberapa kali Sulai melirik ke speedometer dan Sulai tidak bisa melakukan protes karena Dicky mengendarai motor sudah seperti di arena balap motor. Hanya saja, setiap putaran roda, serasa seperti putaran roda sepeda atau langkah kaki kakek – kakek tua. Dan jarak yang ditempuh serasa seperti menuju ke Desa Sijuk yang berjarak 40 kilometer.

“Dick, Aku diantar ke Masjid Jami’ aja yah. Ada perlu nih”, ujar Sulai setelah melihat sosok kokoh bangunan masjid dari jauh. Dicky mengangguk dibalik helmnya.

Senyum Sulai semakin mengembang sejalan dengan makin dekatnya jarak masjid. Nyanyian hatinya semakin riang sejalan dengan gambar masjid yang semakin terang. Jantungnya semakin berdegub sejalan dengan niatnya yang akan terwujud. Matanya semakin cerah secerah mentari sinar mentari yang menuju tengah hari.

“Thanks ya Dick”, ujar Sulai setelah turun dari sepeda motor, sambil mengulurkan tas ke arah Dicky.

“Oke Lai, aku cabut”, Dicky mengambil tasnya dan langsung kabur entah kemana dengan kecepatan penuh.

Sulai melirik jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul dua belas kurang beberapa menit saja. “Masih cukup banyak waktu”, pikirnya girang. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju tangga naik ke lantai II masjid yang disebutnya balkon. Sebuah tempat yang cukup sempurna untuk mengamati tingkah laku anak – anak SMP Negeri satu. Dari balkon ini, seluruh lapangan bisa terpantau walaupun beberapa tempat ditutupi oleh pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan raya.

Sulai segera memandang ke arah SMP Negeri satu. Terlihat beberapa guru dan siswa SMP yang sedang di luar dan berjalan terburu – buru masuk ke kelas. Tetapi kesunyian menyelimuti almamaternya itu. Hanya suara angin dan beberapa kendaraan yang lalu lalang menandakan hari masih siang.

“Ah.. anak-anak masih belajar di kelas”, ujarnya sambil melirik arloji di tangannya. “Aku akan menunggu hingga mereka bubar sekolah”

Sesekali Sulai berteduh di dalam mesjid menghindari panas yang menyerang, tanpa melepaskan pandangan dari lapangan SMP satu, berharap sang kupu-kupu keluar dari sarangnya. Sayang hanya beberapa gelintir manusia lain yang selalu muncul, dan bukan sang pujaan. Kebosanan menanti tidak terasa, yang ada hanyalah rasa rindu yang harus diobati di hatinya.

Samar-samar terdengar suara radio korpri menyanykan lagu I Just Can’t Stop Loving You yang dinyanyikan Michael Jackson. Sulai merasa lagu itu lebih buruk dibandingkan dengan lagu Ani yang dibawakan Oma Irama. Oma Irama lebih mengerti dengan suasana hatiku sekarang ini dibandingkan dengan Michael Jackson, pikirnya sambil bersenandung – yang tentu saja nama Ani diubah jadi Mlati.

Mlati..Mlati…
Kucinta padamu…
Kusayang padamu…

Sesekali diliriknya Arloji dan waktu berjalan sangat lambat. Satu detik seperti satu hari lamanya dan setiap menit serasa seperti berminggu-minggu. Siksaan rindu telah memuncak. Dan tiada jawaban lain selain menunggu di sini. Sulai menanti…, menanti…, dan menanti… hingga akhirnya Adzan menggema memekakkan telinga. Saatnya sholat dhuhur dan penantiannya pun harus berhenti sejenak.

Sesaat Sulai berada di ambang keraguan, antara menanti sang pujaan atau segera manghadap sang Kuasa. Menanti, berarti dia harus menunda urusan pada yang kuasa dan itu sangat riskan, karena kini dia berada di rumahNya dan semuanya berada di bawah kekuasaannya. Bisa – bisa aku tidak akan dijodohkan dengan Melati kalau begini, ujarnya. Memilih mengikuti panggilan, bearti harus mengorbankan penantian yang tinggal selangkah lagi. Ah… suatu pilihan yang sulit sekali, antara idealisme dan rindu.

“Ya, udah deh. Aku sholat aja dulu”, ujarnya mengalah pada panggilan sholat dengan lesu. “Yah.. Kuharap SMP belum bubar setelah aku selesai sholat”

Bersambung lagi

~ oleh syaifi di/pada Desember 13, 2008.

Tinggalkan Balasan