Sulaiman Jatuh Cinta (#1)

Pertemuan Pertama

Senja memerah, angin sejuk menerpa menjadikan suasana penuh kedamaian, hingga ketenangan pun menyelimuti hati orang – orang yang sedang duduk santai menanti magrib tiba. Suara ramai cicit anak ayam yang mengikuti induknya ke kandang mengalun indah di sore itu. Tawa canda anak – anak yang kembali segar, menyiapkan diri untuk mengaji di masjid. Ah.. masa kanak-kanak memang masa yang tidak mengenal beban kecuali kesenangan.

Di suasana sore seperti ini, tegil pabrik es – begitu orang menyebutnya – ramai dengan anak-anak SMA yang tertatih mengayuh sepeda di tanjakan curam itu. Kadang-kadang ada yang terpaksa turun dan menarik sepedanya hingga tanjakan habis, tentu sambil bercanda dengan kawan-kawan satu sekolah. Tak sedikit pula anak-anak SMA yang mengendarai motor lalu lalang sambil menggoda gadis – gadis belia yang tengah kesusahan. Berharap salah satu dari mereka ada yang mengajaknya bercengkrama dan bercanda.

Beberapa meter dari jalan raya menanjak itu, ada sebuah rumah sederhana berwarna putih kusam dimakan cuaca dengan cat yang telah terkelupas di sana-sini. Rumah itu memiliki teras yang luas hingga sering digunakan untuk bersantai keluarga atau arena bermain bagi anak-anak. Kadang-kadang digunakan untuk pertemuan kecil warga sekitar. Dipinggir teras itu berdiri batas yang dibuat dari beton setinggi pinggang orang dewasa yang diatasnya dibuat sedemikian rupa supaya dapat diduduki.

Sulaiman – temanku – tinggal di rumah sederhana berteras luas itu. Di sore indah seperti ini, biasanya dia sudah mulai menyiapkan diri untuk ke mesjid jami’ yang letaknya memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sulai – panggilan keren Sulaiman- salah seorang yang aktif di kegiatan remaja mesjid terbesar di kota Tanjungpandan itu, yang diresmikan oleh Pak Sudarsono saat menjabat wakil presiden. Berbekal ajaran yand didapat di pengajian mesjid, Sulai acapkali berceramah di depan kami, hingga aku merasa Sulai melebihi usia yang seharusnya dia miliki. Dengan bakat juara pidato ketika masih SMP, sulai memang seorang orator yang unggul di antara kami semua, yah.. cocok jadi seorang politikus atau ustadz.

Sore ini, Sulai mengenakan baju muslim hijau kusam karena sering dipakai dengan peci hitam kecoklatan kebanggaan di kepalanya. Kesegaran sore terpancar di wajahnya yang tampak selalu tersenyum sore yang sejuk ini. Beberapa kali dia mencoba memperindah kumis tipis yang hanya mengandung beberapa lembar bulu dengan menarik-nariknya ke arah mulutnya dan sesekali di sisir jenggotnya yang hanya selembar itu, berharap tumbuh banyak seperti jenggot Oma Irama penyanyi kesayangannya. Rambutnya yang ikal hitam tertutup oleh peci kusam kecoklatan, menambah kesan sifat kesalehan yang dimiliki oleh Sulai, mirip seperti film si Pitung atau Jaka Sembung. Kembali Sulai tersenyum puas sendiri, menatap dirinya di cermin. “Aku memang Oke juga”, katanya memuji dirinya sendiri.

“Permisi…”, sebuah suara merdu memecah konsentrasi Sulai saat mengagumi dirinya sendiri. “Ah.. selalu saja ada yang mengganggu. Waktu sudah menuju magrib seperti ini, masih ada saja tamu yang berkunjung. Apakah mereka tidak mengerti bahwa kita semua harus sholat saat magrib tiba? Yang sering lupa waktu seperti ini biasanya adalah teman-teman Deddy!”, gerutu Sulai dalam hati sambil melangkah ke arah pintu. Deddy adalah adik laki-laki Sulai yang sekolah kini duduk di SMP kelas 3.

“Maaf bang… Deddy ada?”, suara manis itu kembali mengisi telinga Sulai. Namun kali ini suara itu menjadi lebih merdu daripada kicau burung di pagi hari dan lebih merdu dari gemercik air di gunung tajam, bahkan lebih sejuk daripada angin sore ini. Sesosok gadis cantik yang mungil sedang memegang sepedanya, sambil menarik nafas kelelahan karena harus mengayuh melawan tanjakan.

Sulai terpana, dan merasakan adanya sesuatu yang ingin segera meloncat dari dadanya. Matanya tak bisa lepas dari gadis berwajah bidadari yang berdiri kelelahan di depannya. Dengan rambut hitam sebahu, kulit putih dan mata jernih bercahaya bagai mata bayi. Bibir mungil dihiasi dengan gigi-gigi putih berderet rapi seperti untaian mutiara. Hidungnya bangir menyempurnakan seluruh sosok cantik di depan rumahnya.

“Bidadari ternyata memang ada”, batin Sulai.

“Bang?… Deddy ada di rumah”, suara sehalus sutera kembali meluncur dari bibir mungil di depannya. Sulai tersadar dari lamunannya dan dia melepas peci yang baru saja dikenakannya. Dia tidak ingin gadis di depannya ini menganggapnya seumur dengan ayahnya. Lagipula peci itu sudah kusam sehingga akan memperburuk penampilannya.

“Oh…. mm… Ada”, ujar Sulai gagap. “Tunggu sebentar ya, Deddy lagi di kamar mandi”.

“Baik bang”

“Mari masuk”, Sulai mempersilakan sang dewi untuk masuk dan duduk di kursi teras.

“Terima kasih” gadis itu melangkah masuk ke teras setelah terlebih dahulu menambatkan sepedanya. Dengan gugup Sulai masuk dan menuju kamar Deddy.

“Ded!”, panggil Sulai pelan, saat melihat adiknya Deddy baru saja berganti pakaian. Deddy menoleh. “Ada cewek tuch diluar nyari kamu. Cakep banget Ded!. Kalo ada temen cakap, bagi-bagi donk”

Deddy melangkah ke arah jendela dan mengintip dari jendela,“Oh.. cewek itu namanya Melati”, ujarnya. Namanya sesuai dengan keindahan melati yang mungil dan putih, pikir Sulai. “Ntar aku kenalin deh”. Deddy segera masuk ke dalam kamarnya, dan Sulai segera keluar tanpa menunggu Deddy.

“Tu..Tunggu bentar ya”, ujar Sulai segera mengambil duduk. “Saya Sulaiman, abangnya Deddy. Panggil saja Sulai”, ujarnya sambil mengulurkan tangan, tanpa menunggu ijin dari Deddy. Tak peduli dengan Wudlu yang akan batal jika menyentuh wanita. Ah Wudlu bisa diambil lagi saat mau sholat sedangkan kesempatan bersalaman dengan cewek cakep seperti yang di depannya ini sangat langka. Semoga Tuhan mengampuninya atas kelancangannya saat ini.

“Melati”, sang bidadari pun mengulurkan tangannya. Dengan segera Sulai menyalaminya dan merasakan kehalusan tangan seorang gadis belia. Diresapinya kehalusan kulit itu dan kini Sulai tenggelam ke dalam ketenangan jiwa yang selama ini selalu dicarinya. Segera Melati menarik tangannya, wajahnya memerah malu.

“Sekelas sama Deddy ya?”, tanya Sulai sekenanya. Dia sudah tahu jawabannya, tapi yang penting saat ini dia harus mulai membuka pembicaraan. Bagaimanapun komunikasi awal dari hubungan yang lebih jauh.

“Iya. Bang Sulai di SMA Negeri ya? Deddy sedikit cerita”, ujar Melati.

“Sialan! Deddy udah cerita apa saja? Jangan-jangan dia cerita yang bukan – bukan tentang Aku”, kembali Sulai berbicara dalam harinya.

“Ya. Abang di SMA Negeri kebetulan sekarang masuk kelas Fisik”, kata Sulai dengan menekankan kata Fisik. Memang di kelas Fisik berkumpul orang-orang yang pintar walaupun tidak semuanya. Paling tidak bagi orang umum, Kelas Fisik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki otak cemerlang. Mudah – mudahan Melati mengetahui hal itu.

“Kalo begitu, sekelas dengan Bang Awet donk”, ujar Melati menarik kesimpulan. Awet! Memang nama itu sudah menjadi legenda di kalangan civitas SMP satu, padahal sudah hampir dua tahun mereka tidak lagi sekolah di SMP itu, sisa-sisa kejayaannya masih saja dikenang. Jangan-jangan Awet…

“Ya!. Dia temen baik abang di SMA”, Sulai berusaha membuang jauh pikiran buruk itu dan berusaha memanfaatkan situasi yang ada. “Kayaknya kamu baru di sini ya?”

“Iya bang”, ujar Melati. “Kami baru saja pindah ke sini. Biasalah Ayah kerjaannya pindah-pindah terus”

“Oh.. begitu. Enak donk ya, bisa mengenal daerah – daerah yang ada”, ujar Sulai berusaha menangkap pembicaraan biar nyambung. “Kalau dia masih baru di sini, berarti dia belum punya cowok donk. hm.. masih ada kesempatan nih, sebelum di ambil si Awet atau si Deddy. Tidak terbayang kalau Melati jadian dengan Deddy, Aku cuma bisa gigit jari sambil menangis menyesali diri”

“Nggak jugalah bang. Kalo kita sering pindah-pindah begini, mata pelajaran seringkali ketinggalan. Apalagi kita susah mendapatkan teman baik atau sahabat”

“Iya juga sih. Tapi kita lihat sisi baiknya saja. Kalau begitu, sebentar lagi ujian donk ya”

“Begitulah kira-kira. Makanya Melati mau pinjem catetan sama Deddy, biar nggak ketinggalan dan mampu ngerjain soal ujian nanti”

“Bang Sulai bisa membantu kalo Melati mau”, ujar Sulai mencoba memancing lebih jauh. Yang namanya usaha harus dilaksanakan segera sebelum diambil orang lain. Sulai tidak mau mengulang kesalahan yang sama ketika dia naksir Netty dulu, hingga sempat merana sebulan penuh dengan menyanyikan lagu ‘dunia masih berputar’ hanya untuk menghibur dan menyadarkan dirinya bahwa dunia itu masih berrotasi.

“Ah.. bang Sulai baik sekali”, ujar Melati. Sulai merasa sangat tersanjung hingga hidung berserta bulunya melambai-lambai karena bangga. “Tapi.. terima kasih deh Bang. Melati tidak mau merepotkan”. Bulu hidung yang berkibar kembali melemah mendengar penolakan halus itu.

“Ah.. nggak juga koq. Tapi… oke deh. Bang Sulai siap membantu kapan saja Melati mau. Lagipula abang Sulai sudah SMA kelas dua, mungkin bisa membantu lebih banyak dibandingkan dengan kawan-kawan sekelas Melati”, Sulai berusaha main halus supaya tidak ketara bahwa dia sangat menyukai gadis di depan matanya ini. Cewek biasanya tidak suka kalau cowok main terlalu kasar. Dan niat membantu menjadi alasan yang tepat untuk saat ini.

“Terima kasih banyak deh bang Sulai”, ujar Melati. “Nanti kalau Melati butuh bantuan abang, Melati akan titip pesan ke Deddy”

“Ini abangku Mel”, ujar Deddy tiba-tiba, dia membawa sebuah buku tulis. “Sialan!, aku belum apa-apa sudah main potong aja si Deddy” gumam Sulai.

“Udah kenal kan?”, tambah Deddy.

“Ya! Barusan saja”, Melati bangun dari tempat duduknya. “Jadi mana catatannya?”

“Nih!”, Deddy menyerahkan catatannya yang disambut antusias oleh Melati. “Catatan ini dulu ya!. Yang lainnya nanti aja, pas di sekolah”

“Thanks Ded”, ujar Melati. “Kalo gitu aku pulang dulu ya! Udah mau magrib nih”

“Iya…deh, mau dianter?”, ujar Deddy.

“Gak deh. Thanks atas bukunya. Aku balikin di kelas besok lusa ya?”

“Oke!”

“Bang Sulai Melati pamit dulu. Sampai jumpa lagi”, Melati melangkah ke luar teras dan mengambil sepedanya. Sulai mengikuti seluruh gerakan gemulai Melati tak melepaskan sedetikpun. Kata Pak Ustadz kalau memandang wanita cukup pada pandangan pertamanya saja, karena itu adalah rejeki. Kalau yang kedua sudah berupa nafsu. Karena itulah Sulai tidak pernah melepaskan pandangan pertamanya, setidaknya begitu.

Sulai masuk ke dalam rumah mengulang Wudlunya yang sudah batal karena bersalaman dengan Melati. Pikirannya berkecamuk dalam merasakan gejolak yang ada di hatinya. Tidak pernah dia merasakan seperti ini, jatuh cinta pada pandangan pertama. Perjumpaan pertama ini telah meyisakan kesan yang dalam yang patut dipertahankan. Wajah Melati dengan mata bagai bayi dan gigi berderet rapi masih terbayang hingga Adzan magrib memanggil.

“Melati…”, sekali lagi Sulai berucap dengan kata dan pandangan kosong.

Bersambung…

~ oleh syaifi di/pada Desember 10, 2008.

2 Tanggapan to “Sulaiman Jatuh Cinta (#1)”

  1. nice story…jd kangen ama bang sulai…hiks..hiks..
    kita tunggu sambungannya ja fie…

  2. Ha..ha.. lucu. Koq Syaifie tau kalau Sulai jatuh cinta sama Bu Net ?

Tinggalkan Balasan