Kisah Adi dan Ayu (#9)
Malam yang dinanti oleh seluruh komunitas roh gentayangan tawanan Romo akhirnya tiba. Langit berawan sedikit sehingga diperlukan upaya keras untuk mengumpulkannya dan membuat hujan lebat. Hal tersebut juga menguntungkan, karena para penghuni kerajaan gaib bisa meramal keadaan cuaca secara alami, persis seperti hewan-hewan yang mampu mendeteksi kebakaran di hutan. Jika mereka merasakan hal akan turunnya hujan, mereka tidak akan mengadakan pesta malam ini, dan rencana para roh akan tertunda.
Menurut Adi, perjuangan roh manusia melawan Jin seharusnya telah dilakukan sejak dulu. Mereka memiliki kelebihan dibandingkan dengan pasukan Romo Suryo. Pembangkangan manusia akan melemahkan posisi Romo di mata Jin lainnya, karena Romo Suryo mendapatkan kekuatan dari roh manusia yang takut padanya dan rela menyembahnya, sedangkan manusia hidup masih menghamba pada Jin lain selain Romo. Bagi manusia yang masih hidup Romo hanyalah salah satu Dewa yang memiliki kedudukan yang sama dengan Dewa lainnya.
“Tawa bahagia roh gentayangan akan kebebasan mereka juga akan melemahkan para pemangsa roh yang kekuatannya di dapat dari kemarahan manusia. Dalam pemberontakan ini, para tawanan tidak boleh membenci dan mengungkapkan emosi”, kata Adi. Dia menyadari hal ini sangatlah sulit, setelah bertahun – tahun mereka disiksa menggunakan cambuk api yang menyala oleh para pemangsa roh.
Semua roh manusia telah terkumpul seperti malam-malam sebelumnya. Jiwa – jiwa yang baru ditangkap dan enggan menghamba kembali dipertontonkan oleh Romo. Mereka akan menerima cambukan pembukaan yang sangat dinanti oleh para penduduk tanah gaib ini. Sedangkan ratusan jiwa lainnya dengan harap-harap cemas menanti cambukan yang mereka rasakan setiap malam. Hanya sebagian kecil roh yang menyadari bahwa malam ini adalah malam yang bersejaran bagi mereka, malam yang mereka nanti selama bertahun – tahun. Sementara itu roh tawanan yang sadar akan hal ini, menanti cemas kuatir akan terjadinya kegagalan mereka. Tetapi Adi mengatakan, setiap perjuangan mesti diawali dengan usaha.
Kini para roh mulai menunggu aba-aba Romo. Adi mengatakan ketika Romo mengatakan aba-aba itu, mereka akan memulai pemberontakan, diawali dengan pengumpulan kabut yang ada disekitar mereka dan memadamkan belenggu rantai api yang ada ditangan mereka secara sembunyi – sembunyi dan pelan-pelan agar perubahan tidak terasa oleh para jin.
“MULAI!”, dengan suara yang menggelegar Romo memberikan aba-aba. Jiwa – jiwa yang terikat mulai terlihat ngeri dan meringis menanti siksaan.
“Splash…”, satu persatu pukulan cambuk menyalak dijawab dengan lolongan sedih dan panjang dari jiwa yang tak berdosa dan kemudian disambut dengan sorak sorai suka cita para penduduk negeri gaib.
Di sela sorak sorai itu, dengan pelan para tahanan mulai mengumpulkan uap air dan membasahi rantai api hingga padam. Hal itu kemudian diikuti oleh beberapa roh lainnya, dan mereka rupanya tahu diri untuk tidak melakukan tindakan bodoh. Akhirnya sebagian besar roh telah bebas tanpa disadari oleh para jin yang sedang berpesta pora.
Roh yang telah terbebas dari rantai api, kini makin giat mengumpulkan kabut dan membuat suhu bertambah dingin. Para jin dan pengikutnya mulai gelisah akan perubahan cuaca yang secara tiba-tiba ini. Mereka tahu Romo Suryo tidak akan gegabah menyelenggarakan pesta di hari hujan dan itu sedikit menenangkan mereka.
Tak berapa lama kemudian di sekeliling mereka telah berkumpul kabut yang sangat tebal. Romo mulai menyadari apa yang terjadi. Dia memanggil beberapa anak buahnya untuk memperbesar kobaran api di beberapa tempat untuk mengusir kabut. Tetapi hal itu tidak berhasil. Roh yang mendapat instruksi untuk menguasai awan kini terbang ke atas dan mengumpulkan awan guna menurunkan hujan. Kepanikan melanda kerajaan jin. Sebagian besar tidak bisa melewati kabut yang padat dan dingin ini, mereka memilih menunggu hingga kabut menipis. Suara – suara pesta pora kini berubah menjadi suara jeritan takut para jin dan pemangsa roh. Bahkan suara cambuk api pun tidak terdengar lagi.
“Rakyat kerajaan gaib, harap tenang. Keadaan yang tidak terkendalikan ini akan segera berakhir dan kita akan melanjutkan pesta kita”, Romo berusaha menenangkan mereka, tetapi hal itu sia – sia belaka. Penduduk menjerit panik. Beberapa diantara mereka bahkan saling bertengkar dan membuat keributan sendiri.
Tetes – tetes air hujan mulai turun. Kepanikan berubah menjadi kekacauan yang tidak terbayangkan. Para jin berlarian mencari perlindungan dengan pandangan yang terbatas. Mereka tabrakan satu sama lain yang berakhir dengan pertengkaran dan bentrok. Makin lama – tetes hujan semakin besar, tanda hujan akan lebat.
Romo yang duduk di pendopo mulai merasakan lemah. Dia sadar bahwa para tawanan telah menentangnya dan itu merupakan pertanda yang tidak baik. Untung dia masih di atas kerajaannya sehingga terlindung dari kabut dan air yang menjadi kelemahan mereka. Adi melihat kesempatan itu dan mulai mendekati Romo.
Sementara itu, tawa bahagia sang tawanan mulai terdengar membahana membelah hujan yang deras. Penduduk tanah gaib mulai tersungkur satu persatu di tanah yang basah. Beberapa dari mereka tertembus oleh bongkahan es yang dibuat oleh roh gentayangan dan menjadikannya seperti sebuah panah atau peluru. Kematian telah menjemput mereka. Para pemangsa roh yang lemah tidak bisa berbuat banyak dan menerima kematian mereka dengan mata yang tidak percaya.
“Kerajaanmu sudah musnah hai Raja Jin”, ujar Adi menahan. “Kini hanya dirimu yang tersisa mengais kejayaan yang tertinggal”
Ayu, Nyai, Martuani, Umar dan beberapa roh lainnya mendekat di belakang, melihat Romo sang raja jin mulai tua dan terbatuk – batuk tak berdaya ditinggal oleh para ponggawa.
“Aku belum kalah. Akan kubangun kembali kerajaanku dan kembali menggoda dan menyiksa manusia agar tersesat dan sudi menjadi pasukanku”, ujar Romo.
“Tetapi kami kini telah menang, dan sampai kapanpun manusia akan selalu menang”, kata Adi dengan senyum kemenangan. “Kami tidak akan membunuhmu, kami akan pergi”
“Sebelum pergi, terimalah pembalasanku!”, ujar Romo mengeluarkan api besar dari tangannya, Adi mengelak dengan cepat.
“Ahhh…”, Ayu menjerit keras dan terjatuh. Dadanya terbakar akibat api dari Romo. Tiba-tiba bongkahan es berbentuk anak panah mengenai tubuh Romo yang renta. Romo mati seketika.
“Ayuuuuuu!”, Adi mendekati Ayu dengan hati pedih. “Maafkan mas”. Dengan segera diambil air dan diusapkan di dada sang kekasih, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Adi melolong sedih. Perlahan Ayu membuka mata dan berkata lemah, “Mas kita berhasil. Kini bawa Ayu pulang, Ayu masih ingin hidup. Maafkan Ayu tidak bisa mendampingimu”
Adi menangis sedih dan langsung terbang tinggi meninggalkan kerajaan gaib sambil membawa Ayu di tangannya. Dia memandang kekasihnya yang lemah sambil mengeluarkan air mata yang tak terbendung. Ayu tersenyum bahagia. Mereka menjauh hingga kerajaan gaib tidak tampak lagi.
—
Atas bantuan Martuani dan Umar yang menyusul kemudian Adi dan Ayu tiba di rumah sakit Otorita Batam. Malam sudah larut, terlihat Arini masih sabar menanti jazad Ayu yang terbaring lemah dengan luka yang sudah mengering.
“Apa yang terjadi dengan Ayu Di?”, tanya Arini cemas.
“Nanti akan aku ceritakan Ar”, jawab Adi. “Yang penting, Ayu kini harus disatukan dengan tubuh kasarnya. Dia masih ingin hidup”
Dengan hati-hati Ayu dibaringkan di dekat jazadnya. Adi memandang Ayu dengan penuh cinta, tetapi dia harus rela berpisah dan berkorban demi masa depan Ayu yang masih panjang. Dia sudah mati dan saatnya bagi Adi mati dengan tenang, tanpa memikirkan Ayu lagi. Melupakan Ayu adalah hal yang terbaik yang harus dilakukannya. Adi meneteskan air mata perpisahan.
“Aku mencintai kamu sayang. Kutunggu engkau di pintu akhirat”
“Mas Adi sayang. Ayu juga mencintai Mas Adi. Perpisahan ini harus kita jalani. Ayu tidak ingin Mas Adi memikirkan Ayu lagi. Setelah ini, dunia kita berbeda dan tidak ada satupun yang akan mempertemukan kita’, Ayu berkata lemah dan sedih. “Kepergian Mas Adi akan Ayu relakan, demikian juga kepergian Ayu harus Mas Adi relakan. Tidak baik Mas Adi bergentayangan seperti ini’.
Adi mengangguk menahan air mata. Arini haru dan Martuani terlihat sedih akan perpisahan ini. Ayu memandang mereka satu persatu. “Aku tidak akan melupakan kalian”, katanya. “Arini, akan kucari jawaban orang tuamu, terima kasih telah menjaga jazadku”
Ayu menoleh kepada Martuani dan Umar. “Pertemuan singkat kita penuh dengan kenangan yang tidak dapat kulupakan. Terima kasih pada kalian berdua Martuani dan Umar. Maafkan kami berdua jika ada hal yang tidak mengenakkan hati”
Martuani dan Umar mengangguk. Perkenalan singkat mereka telah membawa mereka ke dalam kisah yang tidak mungkin dapat dilupakan. Walaupun diawali dengan niat yang buruk, tetapi toh akhir yang baik telah dicapai.
“Mas, Ayu pulang”, itulah kata-kata terakhir Ayu sebelum menyatu dengan jazadnya. Adi tersenyum sedih. Kini dia sendiri menanti hari akhir tiba. Sudah saatnya dia juga pulang.
“Selamat tinggal sayangku”
- Selesai -

Aku baru saja membaca sebuah situs yang bener-bener menjiplak situs ini. Mudah-mudahan maksudnya baik dan membuat karya ku ini lebih luas. Terima kasih, teman.
Situs tersebut adalah: http://anjaa.friendlinkup.com/
Catatan:
Kalo njiplak, mbok ya memberikan link awal begitu!