Kisah Adi dan Ayu (#8)

Tiba – tiba mereka berlima telah berada di suatu tempat yang luas dan dipenuhi dengan orang – orang yang sedang berkumpul seperti menonton suatu acara. Bau kemenyan dan wangi dupa menyatu dengan bau bangkai yang busuk dan wangi hutan yang dingin. Cahaya obor terang benderang menerangi lapangan. Adi memandang pada teman-temannya satu persatu, terutama Ayu. Suara sorak – sorai para penghuni dunia gaib mengisi malam.

Ayu memandang Adi dengan penuh cinta dan kengerian karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Dengan mata dia berbicara meminta perlindungan dan dukungan, tetapi Adi merasa tak berdaya karena dia juga tak tahu apa – apa. Rasa sesal terlihat jelas pada wajah dan matanya. Bagi Ayu walau kesusahan yang mereka hadapi kini tidak berujung, masih tidak sebanding dengan suka cita berdampingan dengan sang kekasih hati, dan itu cukup membuatnya sedikit tenang.

Ayu menoleh ke arah seorang wanita yang cantik, muda dan segar yang diyakininya adalah Nyai. Ayu bertanya – tanya mengapa penampilan Nyai jauh berbeda dengan seseorang yang dia jumpai tadi pagi, seolah – olah dua orang yang berbeda. Wajah tua renta dan beruban kini berubah menjadi muda dan cantik.

Selanjutnya Ayu menoleh melihat seorang lelaki yang baru dikenalnya – Umar. Dia adalah seorang lelaki yang tegap, berkulit putih lebih dan rambut sedikit ikal dan berwarna coklat tua, perawakannya yang lebih pendek daripada abangnya Martuani membuatnya seperti orang kerdil.

Sementara itu Martuani hanya bisa tertunduk lesu dan tidak berani memandang Adi dan Ayu. Rasa bersalah menggerogoti hatinya kini, dan dia tidak peduli apapun yang akan terjadi pada dirinya. Bagaimanapun dia telah gagal melaksanakan tugas yang diberikan Romo. Dan dia bisa mengerti jika Adi akan membencinya sampai kapanpun jua.

Beberapa makhluk Pemangsa Roh datang dan memisahkan mereka masing – masing. Nyai dibawa menjauh dan dikumpulkan dengan roh tawanan lainnya, sedangkan mereka berempat masing-masing dibawa ke sebuah batu yang besar yang bentuknya seperti batu persembahan orang-orang primitif, yang permukaannya datar. Kemudian mereka dibaringkan di atas batu dan diikat menggunakan rantai berbahan inti api yang panas. Jeritan tawanan saat diikat terdengar memilukan mengisi malam. Kini wajah mereka berempat menyiratkan kengerian dan ketakutan yang amat mendalam.

Adi merasa berdosa membiarkan hal ini terjadi pada Ayu. Tidak pernah sama sekali terlintas di benaknya jika harus membuat Ayu tersiksa begini. Gadis secantik Ayu tidak tepat jika menderita, dan Adi rela mengorbankan apapun juga demi Ayu, tetapi sayang pengorbanan yang diminta oleh Romo terlalu mahal. “Maafkan aku sayang”, adi berbisik sendiri. “Tahan sayang, kita akan mencari cara agar bisa terbebas dari belenggu ini”

Hingga beberapa saat waktu serasa berhenti. Penantian mereka terasa lama, dan ikatan rantai di kaki dan tangan mereka semakin menyiksa. Ayu terlihat meringis dan mengigit bibirnya, sementara Umar dan Martuani mulai menjerit kesakitan, minta pengampunan yang tidak mungkin diberikan. Adi merasa kasihan melihat mereka berdua. Memang Martuani mencoba menjebaknya, tetapi bagaimanapun juga banyak membantu. Lagipula hukuman ini mereka jalankan bersama-sama. Semoga tersedia waktu untuk bermaafan.

Satu makhluk berbadan tegap berwajah banteng lengkap dengan tanduk kekar di kepalanya berdiri di atas sebuah panggung dekat pendopo istana yang letaknya cukup jauh dari batu persembahan. Matanya merah menyala dan tentakel yang tidak pernah diam, sesekali dia mendengus dan mengeluarkan api dari hidungnya. Dia mengangkat tangannya, dan serentak seluruh pesta berhenti yang ada hanyalah keheningan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Sang Pemimpin.

“Wahai penghuni kerajaan gaib”, makhluk itu mulai angkat suara. Adi mengenali benar suara itu, suara yang sempat beridalog dengannya ketika dia meminta pertolongan Romo. Dia ingat ciri – ciri Romo seperti yang diceritakan oleh Martuani dan kesemuanya persis seperti yang dilihatnya di atas panggung kecil itu.

“Malam ini, kita akan menikmati daging manusia yang masih segar”, ujar Romo yang disambut sorak-sorai suka cita para penghuni kerajaan gaib ini. “Lolongan mereka akan menjadi santapan utama dan jeritan akan menjadi lauknya”, Romo mengangkat tangannya kembali sambil mendengus sejenak. “Kita membutuhkan pengakuan manusia agar mengakui bahwa kita lebih baik dalam mengelola dunia, dan kita sadari selama ini manusia selalu menolak dan menganggap kita adalah makhluk – makhluk yang membawa kepada kesesatan”, Romo diam sejenak melihat reaksi rakyatnya. “Kita akan memberikan pelajaran bagaimana kesesatan itu. SEKARANG!”

Suara hiruk – pikuk dan sorak tanda setuju menghiasi malam yang diterangi cahaya obor dari patung – patung raksasa berperut buncit dan mata melotot. Makin malam, cahaya obor semakin terang.

“Dan sekarang, silakan nikmati raungan derita anak manusia hina ini, hingga mereka mengakui kita – penghuni kerajaan gaib – sebagai pemenang yang wajib menjadi junjungan mereka”

Romo turun dari panggung dan kembali ke kursi kebesarannya. Tingkahnya bagai seorang raja yang bijaksana dan berwibawa. Para Pemangsa Roh mengambil tempat di dekat batu persembahan dengan cambuk api di tangan. Ayu bergidik ngeri membayangkan apa yang akan diterimanya. Dia belum pernah dipukul oleh Ayah selama hidup, sementara ini, dia harus menghadapi lecutan cambuk api yang dia yakin rasanya jauh lebih sakit dibandingkan luka terkena pisau. Adi memandang Ayu dan berusaha menenangkannya tetapi tidak berhasil. Dia lebih mengkhawatirkan Ayu dibandingkan dirinya sendiri dan bersumpah akan mencoba mencari cara agar keluar dari belenggu Romo Suryo. Belum saatnya Ayu menghadapi kematian, dan Adi akan mewujudkan hal itu.

“MULAI!”

“Splash……..!”, suara cambuk api dipukulkan ke para tahanan.

“AAHHHHH………”, suara jeritan pilu setiap tawanan mengisi malam yang diterangi obor. Sorak – sorak kemenangan membahana ke seluruh negeri.

“Splash………”

“AHHH……”

Pasangan suara itu selalu diakhiri dengan sorakan kemenangan para penghuni kerajaan gaib. Adi melihat Romo tersenyum mengejek ke arahnya. Dendam Adi semakin mengental, dan dia akan mencari jalan untuk membalasnya. Bukan hanya terhadap Romo, tetapi semua komunitas kerajaan gaib yang telah menyiksa mereka, manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dari bangsa Jin, karena manusia memiliki kewajiban menjaga dan mengeloa dunia.

“Splash….AHHH….Horeeee….Lagi….”, suara – suara itu bersahut – sahutan. Suara sorak – sorai penghuni kerajaan gaib penuh suka cita ditambah dengan kata – kata peghinaan yang tak senonoh membuat para tahanan tambah tersiksa.

Wajah – wajah menderita para tawanan membuat mereka semakin tua. Rambut hitam kini telah menjadi putih, kulit kencang menjadi keriput seperti pakaian yang belum disetrika. Inilah makanan para pemangsa Roh, derita dan jeritan tangis para Roh, hingga tidak tersisa apapun juga.

Selama setengah jam mereka disiksa dan selama itu pula mereka dihisap hingga ke tulang. Akhirnya mereka dilepaskan dari atas batu penyiksaan dan dikembalikan ke dalam kunjara yang berbau busuk bangkai. Kelegaan membuat rasa sakit tidak terasa. Mereka kini telah menjadi renta dan tidak bisa berbuat banyak lagi. Mungkinkah ini akhir penderitaan mereka?.

“Maafkan Aku telah membuatmu tersiksa Adi”, ujar Martuani dengan suara tua dan lelah penuh dengan nada penyesalan yang mendalam. “Aku menyesal melibatkan kalian dengan permasalahan kami”

“Sudahlah Martuani, memang sudah nasib mempertemukan kita begini”, Adi tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya. “Yang penting adalah bagaimana supaya kita bisa keluar dari penyiksaan Romo Suryo dan penduduk negeri gaib ini. Satu kali saja sudah cukup bagiku. Aku tidak kuat lagi, dan aku tidak ingin menjadi budaknya”

“Kita tidak akan bisa keluar dari sini Di. Usia muda kita telah dihisap oleh para Pemangsa Roh, dan kini kita menanti saat – saat kita menjadi salah satu dari mereka”

“Tidak harus seperti itu!”, ujar Ayu dengan nada yang lemah. “Tadi pagi, ketika aku berjumpa dengan Nyai, usianya sudah seperti ratusan tahun. Rambut beruban dan gigi ompong. Tetapi bisa kalian lihat sore tadi. Dia menjadi muda kembali”

“Ya! Itu dia”, terdengar Adi dengan suara sedikit bersemangat. “Apakah yang menyebabkan Nyai kembali muda?”

“Istirahat?”

“Istirahat bisa jadi. Tetapi kita harus melihat kemungkinan adanya faktor lain yang membuatnya menjadi muda dalam satu hari saja”

Mereka terdiam tidak tahu apa jawabannya. Di dalam sumur busuk ini, mereka merasa lebih segar dan bertenaga dibandingkan ketika mereka berada di luar sana. “Mungkinkah sumur in memiliki khasiat yang belum diketahui?”, guman Adi. “Udara dan kelembaban sumur ini memberikan nuansa energi yang menyegarkan bagi kami. Romo mengetahui hal ini, karenanya dia memenjarakan kami di sini”
“Martuani!, Roh gentayangan lainnya di sekap dimana?”

“Ada banyak tempat yang menjadi penjara bagi para Roh. Di sumur ini, di pohon kayu tua yang lembab dan bebebrapa lobang kecil, jumlah tahanannya hampir mencapai seribu. Dan setiap malam mereka dikumpulkan dan diberikan hadiah siksaan untuk memberikan kepuasan bagi para pemangsa Roh dan rakyat kerajaan gaib. Tujuan akhirnya adalah pengakuan manusia terhadap superioritas bangsa Jin”, ujar Martuani panjang.

“Kalau begitu banyak tahanan, maka kita bisa bersatu melawan tirani yang ditebarkan oleh Romo”

“Gimana cara kita menghubungi yang lainnya?”, tanya Martuani. “Masing – masing penjara diikat dengan suatu medan energi yang kuat hingga makhluk seperti kita tidak dapat menembus atau berkomunikasi dengan tawanan lainnya di luar sumur ini”

Semuanya terdiam tenggelam dalam pikiran mereka masing – masing. Menerawang jauh mencoba mencari setitik keajaiban yang ada di luar sana. Kelelahan akibat siksaan kini telah hilang, tetapi kejenuhan mulai menghinggap. Martuani memilih untuk meringkuk di dekat dinding sumur yang berlumut dan Umar bermain – main dengan air yang diambilnya dari udara lembab, dan membentuknya menjadi berbagai benda, seperti balon, kuda – kudaan dan lain-lain.

Adi menceburkan diri ke dalam air sumur yang tidak terlalu dalam. Rasanya sejuk dan menyegarkan menambah kekuatan yang telah dihisap oleh Pemangsa Roh. Ayu menyusul dan mereka akhirnya berenang berdua saja, berenang dan bersenang – senang sambil bercanda dan tertawa. Resah dan susah yang barusan mereka terima kini hilang sudah.

Perlahan-lahan, Adi melihat perubahan pada penampilan Ayu. Rambutnya yang putih berubah menjadi hitam dan kulitnya yang keriput menjadi lebih kencang. Adi melihat tangannya, dan dengan sedikit – sedikit tangannya yang kurus dan renta kini berisi lagi. Adi sangat gembira dengan perubahan yang mereka dapatkan, kini dia terus bermain air dengan riang.

“MARTUANI!”, panggilnya keras. “Turun!, kamu harus merasakan ini!”

“Apaan Di?”, ujarnya tak kalah keras. Beberapa roh yang bergayut di bawah daun liar cemberut dengan wajah yang semakin tua. Martuani turun ke dasar sumur dan melihat Adi dengan penuh keheranan. Dengan penuh tawa dia menceburkan diri ke dalam air. Martuani mengumpulkan air dari udara dan menjatuhkannya ke dalam sumur hingga terkesan hujan turun rintik – rintik.

“HEI!”, tiba-tiba Adi berteriak. Dia mendapat ide yang menurutnya cemerlang. Ayu dan Umar terdiam ingin mendengar apa yang dipikirkan oleh Adi. “Manusia terbuat dari lumpur yang mengandung tanah dan air. Kekuatan manusia juga bersandar pada kekuatan tanah dan air pula, karena itulah kita merasa segar di dalam air sumur ini. Air di dalam sumur ini mengandung mineral yang tinggi yang membuat kita manusia menjadi berenergi kembali”

“Bagaimana dengan roh di tempat lain?”

“Mereka mendapatkan kekuatan dari pohon dan kelembaban udara. Karena itulah mereka menjadi berenergi kembali ketika sore tiba dan energi itu dihisap oleh para pemangsa roh. Begitulah siklus yang terjadi”

“Lalu?”

“Mengacu pada asal kejadiannya, maka makhluk sebangsa Jin tercipta dari elemen Api. Untuk memadamkan api, maka dibutuhkan air dengan volume yang besar”

“Bagaimana dengan Pemangsa Roh? Mereka membutuhkan jeritan dan lolongan kita untuk bertahan hidup”

“Bukan jeritan dan lolongan yang dibutuhkan mereka, tetapi kemarahan dan emosi yang mereka cari. Emosi manusia membuat mereka merasakan adanya api di dalam diri manusia. Air bagaimanapun juga bisa membuat api menyala lebih besar, dan bisa pula membuat api padam seketika. Proses kemarahan dan emosi seolah – olah air menyalakan api”, ujar Adi. “Kita akan melawan mereka dengan memberikan air yang besar hingga membanjiri kerajaan ini. Manusia akan bertahan dan jin akan tenggelam. Tetapi tidak boleh ada dendam dan marah kepada makhluk itu, karena akan membuat mereka kembali kuat”, Adi kembali ke peraduannya.

“Martuani!”, panggil Adi setelah mereka kembali ke sarang mereka. Kini Nyai telah bergabung kembali. Wajahnya telah muda kembali setelah mencoba menceburkan diri ke dalam air dangkal di dalam sumur ini, bersama mereka.

“Ada apa Di”

“Apakah setiap roh mampu mengendalikan air, walaupun dari udara?”

“Ya. Kecuali udara yang sangat panas, karena kandungan airnya sangat sedikit”

“Sepertinya besok malam kita akan bebas”, ujar Adi bersemangat. Dia bangkit dan kembali turun ke dasar sumur.

“Wahai Roh manusia yang bergentayangan”, Adi berteriak lantang. “Telah tiba saatnya kita bebas dari cengkraman si Raja Jin. Kita lebih baik dari mereka semua” Suara berguman semangat terdengar di sana-sini. Tetapi tak sedikit pula yang mencemooh.

“Kita tidak akan bisa bebas dari cengkraman bangsa Jin”, ujar salah satu roh. “Kami sudah mencoba beberapa kali dan selalu gagal”

“Saya yakin kita akan berhasil jika besok kita bisa bersatu melawannya”, ujar Adi.

“Caranya?”, ujar salah satu Roh yang berada di puncak sumur.

“Bersama, kita akan menurunkan hujan yang lebat hingga membanjiri kerajaan Jin”, Adi berkata lantang. “Gunakan kemampuan khusus kalian”

“Kemampuan seperti apa?”

“Kemampuan mengendalikan air”, kata Adi. Beberapa Roh turun dari sarangnya, ingin mendengarkan lebih jelas. “Bersatulah dan gunakan kemampuan kalian dalam mengumpulkan elemen air dari udara. Jika kita bersama – sama mengumpulkan air dan melemparkan ke pasukan serta penduduk kerajaan gaib ini, saya yakin mereka akan ketakutan dan berlari tunggang langgang. Kekuatan api mereka akan segera hilang sebagaimana air memadamkan api dan kita akan menang”. Adi diam sejenak menunggu reaksi para penghuni sumur. “Bagaimana?”

“Setuju!!!!”, sebuah suara lantang berteriak dan diikuti oleh suara lain yang meneriakkan perkataan yang sama.

“Kini sudah saatnya kita menyusun strategi, saya meminta kalian semua turun dan kita akan memusyawarahkan strategi penyerangan, dan menyebarkan berita ini ke teman-teman yang berada di tempat lainnya”. Beberapa Roh gentayangan turun, dan mereka berembuk membuat strategi. Kini semua roh memiliki semangat baru, dan menanti hari esok dengan penuh percaya diri.

“Semoga besok tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu lembab, agar kita bisa bertindak dengan segera”, ujar Adi setelah bermusyawarah. “Mari kita laksanakan!”

~ oleh syaifi di/pada Agustus 12, 2008.

Tinggalkan Balasan