Kisah Adi dan Ayu (#7)

“Apa maksud dan tujuan engkau kemari?”

“Saya momohon dengan hormat, sudilah kiranya Romo menolong saya membebaskan kekasih saya Ayu yang diculik oleh Pemangsa Roh”, ujar Adi dengan suara pelan dan penuh kesopanan.

“Apa yang engkau berikan sebagai imbalan jika Romo telah menunaikan janji?”

Adi terdiam sejenak. Setelah melalui jalan yang berputar, melewati hutan yang lebat singgah di beberapa tempat akhirnya tiba di tempat yang tidak tergambarkan dalam peta pulau Batam ini, sendiri tanpa teman. Banteng muda yang menjadi teman seperjalanannya hanya sanggup mengantar hingga gerbang istana. Lalu dua orang pengawal kerajaan yang menggunakan kostum jawa menjemput di depan gerbang dan membawanya ke ruangan mewah ini. Selanjutnya dia ditinggal sendiri beberapa saat menanti sesuatu atau seseorang datang sambil mendengarkan alunan musik jawa dan suara merdu sinden bernyanyi. Saat itulah dia mendengar sebuah suara menggelegar mengisi ruangan.

“Menurut Romo apa yang harus saya persembahkan?”

“Engkau harus menjadi hambaku yang setia dan rela berkorban demi Aku!”, ujar suara itu. “Apakah engkau rela mengorbankan apapun yang engkau miliki dan diserahkan padaku jika aku bersedia membantumu?”

“Saya bersedia Romo, asal Saya bisa menyelamatkan Ayu dari tangan Pemangsa Roh dan mengembalikan ke jazadnya”, ujar Adi dengan penuh hormat.

“Bersediakah engkau menjadikan Romo sebagai sesembahanmu dan membuang sesembahan yang lainnya?”

Adi berpikir sejenak dengan rasa ragu. Sesembahan? Tidak pernah terpikirkan olehnya jika harus menyembah Jin dan membebaskan Ayu. Menyerahkan seluruh jiwa dan raga untuk diperbudak oleh Romo bukanlah masalah bagi Adi, toh dia tidak memiliki urusan lagi di dunia. Ayu memang lebih baik kembali ke dalam tubuhnya dan menjalani hidupnya sendiri. Tetapi semahal itukah Ayu? Apakah dia cukup berharga?

Teringat dengan kata-kata orang tuanya di kampung nun jauh di sana. Bagaimana mereka berpesan agar memegang teguh ajaran agama dan menjauhkan diri dari godaan Setan yang ingin memperdaya manusia. Adi jadi tambah bingung dengan pilihan yang ada. Dia mencintai Ayu dan rela memberikan nyawanya demi kebahagiaan dia. Tetapi apakah dia rela memberikan kepercayaannya?

“Saya minta waktu untuk berpikir Romo. Masalah ini harus saya pikirkan matang-matang, karena ada aspek lain yang harus saya pertimbangkan”, ujar Adi.

“Baiklah. Aku tidak memiliki kekuasaan terhadap hati manusia yang belum menjadi bagian dari ponggawaku. Kamu diterima sebagai tamu di sini. Lagipula, hari hampir pagi dan sudah saatnya kita beristirahat hingga sore tiba”, ujar Romo. “Pengawal, perlakukan anak muda ini dengan baik, berikan tempat beristirahat di salah satu joglo”

“Baik Romo”, ujar suara pengawal yang tiba-tiba saja muncul di belakang Adi. “Mari mas”

Adi berjalan pelan diiringi langkah para pengawal yang berdiri sopan di belakangnya, mengantar keluar gerbang, lalu menempatkannya ke salah satu joglo di luar istana. Memang pagi telah tiba dan matahari terbit di ufuk timur diiringi suara kokok ayam dan sautan burung-burung yang berkicau riang.

“Pagi yang indah”, komentar Adi, sambil melangkah masuk ke pintu joglo.

“Mas tidak diperbolehkan keluar dari dalam joglo, hingga malam nanti”, ujar pengawal.

“Mengapa?”

“Itu perintah dari Romo”

“Oh..”, adi tersenyum pendek. “Baiklah, aku ingin beristirahat saja”

Suara gong, gamelan dan gendang yang mengiringi sinden bernyanyi merdu memperdengarkan lagu jawa yang kental, membangunkan Adi dari tidurnya. Dari jendela joglo dia melihat matahari telah tenggelam dan berganti cahaya obor memenuhi daerah sekitar istana, persis saat dia tiba di kerajaan gaib ini semalam.

Adi melangkah pelan keluar dan memandang kerumunan makhluk berbagai ukuran, usia dan bentuk sedang beraktifitas memenuhi jalanan menuju istana, penuh dengan suka cita. Ada makhluk berkepala kuda dengan tangan manusia, ada pula makhluk kecil berbadan laba-laba dengan kepala manusia dan macam – macam makhluk lain yang tidak pernah dijumpai Adi selama hidupnya. Bagi Adi makhluk itu semua menjijikkan dan mengerikan sekali.

Pengawal istana mendekati Adi yang sedang kebingungan, lengkap dengan pakaian kebesarannya yang berupa pakaian ala jawa lengkap dengan blangkon dan keris kecil di bagian belakang pinggangnya.

“Sedang ada perayaan apa Mas?”, tanya Adi.

“Setiap malam kami mengadakan pesta. Romo menyukai keramaian dan senang sekali memberikan hadiah indah bagi para pemujanya. Romo penuh dengan kasih sayang, dan sangat lemah lembut”

“Oh.. begitu”

“Ya. Bagi para penyembahnya Romo akan memberikan kedudukan yang terbaik dan menjanjikan hidup sejahtera hingga akhir jaman, tak akan berkurang sedikitpun”

Jalanan penuh dengan penduduk kerajaan yang bersuka cita. Minuman yang memabukkan, judi dan bermacam – macam makanan selalu tersedia. Tempat ini bagai sebuah tempat hiburan malam yang ada di dunia manusia. “Bagi makhluk – makhluk halus seperti mereka mungkin waktu bukanlah hambatan, karena usia mereka bisa mencapai ribuan tahun. Untuk menghilangkan kejenuhan, mereka mencoba mencontoh kelakuan manusia”, pikir Adi mencoba menarik kesimpulan sendiri.

“Mas Adi diminta untuk menghadap Romo”.

Mereka berjalan di sela-sela makhluk yang sedang pesta pora menghabiskan waktu malam. Sesekali Adi menghindar dari makhluk yang mulai dihinggapi ketidaksadaran. Beberapa di antaranya melihat dan mengajaknya berpesta, tetapi seketika mengurungkan niatnya setelah melihat pengawal yang membawa Adi.

“Bagaimana dengan tawaran Romo anakku?”, suara Romo terdengar setelah Adi tiba di pertengahan aula istana. Sangat berwibawa.

“Saya sudah memikirkannya matang-matang Romo”, kata Adi santun. ”Saya mencintai Ayu dan tentunya saya sangat mengharapkan Romo dapat membantu Saya membebaskan Ayu dari cengkraman Pemangsa Roh”

“Lalu?”

“Persyaratan yang Romo minta terlalu berat bagi saya. Saya bisa menyerahkan jiwa saya kepada Romo dan dijadikan saya budak dan menghamba pada Romo sampai kapanpun juga. Tetapi saya tidak bisa menyembah Romo”, Adi berkata dengan penuh perhitungan dan kehati-hatian.

“Romo mengerti maksud engkau anakku. Romo sangat mengerti. Tetapi persyaratan Romo sudah bulat dan tidak bisa ditawar lagi. Jika engkau menginginkan Romo membantu melepaskan Ayu kekasihmu dari tangan Pemangsa Roh, hanya sedikit itu yang Romo inginkan. Setelah itu Ayu akan bebas dan engkau boleh menjadi penduduk negeri ini dan berbahagia selamanya, seperti makhluk-makhluk yang ada di luar sana. Suka cita dan pesta pora tiada habisnya”

Adi terdiam sejenak. Dia masih memikirkan cara lain agar Romo bersedia membantunya membebaskan Ayu yang kini entah di mana.

“Adakah pilihan lain Romo yang bijaksana?”, Adi mencoba mengambil hati Romo.

“Tentu saja ada anakku. Engkau memiliki pilihan lain yang lebih ringan daripada yang saya sebutkan semalam”, Romo berhenti sejenak. “Kamu harus membawakan aku satu jiwa manusia sebagai bayaran pertolongan yang Romo berikan. Dan jiwa itu harus bisa menjadikan Romo sesembahannya”

“Hah?!”, Adi terkejut dengan permintaan Romo. “Permintaan sebuah jiwa sebagai pembayaran pertolongan yang diminta. Apakah aku harus mengantarkan Roh anak manusia yang tidak tahu apa-apa agar bisa membebaskan Ayu”, pikir Adi

Ayu memiliki arti yang begitu dalam bagi Adi. Tetapi menghamba pada Jin bukanlah harga yang pas untuk dibayar demi kebebasan itu. Dan kini Romo meminta sebuah jiwa yang tidak berdosa, sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh Adi. “Maafkan aku Ayu, kita tidak berjumpa dalam waktu yang lebih lama. Mas akan mencari cara lain untuk membebaskan dirimu”

“Kalau demikian, Saya tidak sanggup membayarnya Romo. Maafkan Saya telah menghabiskan waktu Romo, dengan permasalahan yang tidak penting ini”

“Baiklah. Kalau begitu Romo pun tidak bisa berbuat banyak”, nada kekecewaan terpancar dari suaranya yang melemah. “Pengawal, bawa anak manusia ini ke kunjara!, huk..huk..”, kini suara gemuruh kemarahan mulai terasa. “Juga Ki Mantra dan Adiknya yang tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik. SEKARANG!”

Adi terkejut dengan perubahan suasana hati Romo yang begitu mendadak. Tak sempat dia berpikir sejenak, tiba-tiba saja dia telah berada di dalam sebuah tempat yang berbau bangkai busuk dan gelap gulita. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tak terlihat satu makhluk pun di tempat ini. Dia terdiam beberapa saat, merasakan kesunyian tempat ini.

“Eh… Halooo…?”, Adi berusaha mencari teman.

“MAS ADI?!”, sebuah suara yang selalu mengisi hatinya terdengar lembut dan ragu. Adi berpikir suara itu adalah suara ilusi dari pikirannya. “Hallooo…”

“MAS ADI!”, suara itu semakin jelas. Dan Adi yakin bahwa suara itu bukan suara hatinya.

“Ayu?”

“Ya. Mas. Di sini Ayu” sebuah tangan memegang wajahnya dan dengan segera Adi memeluknya.

“Ayu, Mas Adimu ada di sini!”, ujar makhluk yang dipeluk Adi. Adi jadi malu sendiri, karena memeluk orang yang salah.

“Mas!”, kini tangan mungil lain telah memeluk Adi. Adi balas memeluknya dengan penuh suka cita dibalik kunjara yang busuk dan menyengsarakan ini. “Ayu tidak menyangka Mas Adi sampai sejauh ini untuk mencari Ayu. Ayu sayang Mas”

“Mas juga mencintai Ayu”

Ayu dan Adi kini telah bersama lagi. Perpisahan mereka yang tidak begitu lama memberikan perasaan saling memiliki yang lebih dalam. Dalam gelap keduanya melepaskan rindu.

“Oh ya Mas”, ujar Ayu tersadar. “Ini adalah Nyai”

“Salam kenal Nyai. Saya Adi”

Adi tidak bisa melihat teman Ayu dengan jelas, tetapi samar-samar dalam keremangan Adi melihat seorang wanita muda yang cantik yang umurnya tidak terlalu jauh dari umur mereka berdua.

“Ada orang di sini?”, ujar satu suara laki-laki yang dikenal Adi, membuat mereka terkejut.

“Mar. Martuani?!”

“Adi? Kamu disini juga?”

“Ya!. Mar ternyata yang menculik Ayu adalah Romo Suryo”

“Hah? Romo Suryo?”

“Ya. Dia ingin kita semuanya menganggapnya sebagai sesembahan”

“Ahhh… begitu..”, ujar sebuah suara lain lebih berat.

“Umar!, adikku Umar!”, kini suara Martuani penuh dengan suka cita. “Maafkan abang telah mengecewakan kamu Mar”

“Tidak perlu meminta maaf abang. Abang telah berbuat maksimal dan beruntunglah abang telah gagal”, ujar Umar bijak. “Karena Umar tidak ingin bebas di atas belenggu orang lain”

Kamu harus membawakan aku satu jiwa manusia sebagai bayaran pertolongan yang Romo berikan”, Adi teringat kata-kata Romo. Adi mulai mengerti. Jadi selama ini Martuani berusaha menolong adiknya dengan mencoba menjebloskan dia ke dalam belenggu Romo.

“MARTUANI. AKU TIDAK MENYANGKA”, nada suara Adi mulai menunjukkan ketidaksenangannya “Kamu berusaha menjadikan aku dan ayu tumbal untuk kebebasan adikmu?”

“Maafkan aku Adi. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin Adikku dijadikan makanan Pemangsa Roh. Yang kuinginkan hanyalah kematian yang tenang bagi adikku dan diriku.”

“APAKAH KAMU TIDAK BERPIKIR KALAU AKU JUGA INGIN MATI DENGAN TENANG?”

“Maafkan Aku Adi, Ayu”

“Enak saja kamu minta maaf setelah kejadian ini”, Suara Adi memenuhi kunjara. “Aku mempercayai kamu dan kamu menghianatiaku. Apakah kamu juga yang membunuhku?”

“NGAKU!”, Ayu menimpali.

“TIDAK!”, ujar Umar membantu. “Bukan Abang Martuani”

“LALU SIAPA?”

“Kecelakaan adalah kecelakaan, dan itu adalah takdir. Tak usah dipikirkan lagi”

~ oleh syaifi di/pada Agustus 10, 2008.

Tinggalkan Balasan