Kisah Adi dan Ayu (#6)

Sejak terpisah dengan Adi, Ayu dibawa berputar – putar ke sana kemari oleh penculik bermata merah menyeramkan ini. Lidahnya yang bercabang menambah deretan kengerian yang terpatri di wajahnya. Ayu memohon kepada makhluk aneh ini agar dilepaskan, tetapi permohonannya sia-sia, sepertinya makhluk ini tidak mengerti kata – kata kasihan. Kadang-kadang dia menjerit sekeras – kerasnya meminta pertolongan, tetapi tak seorangpun yang datang memberikan pertolongan yang diharapkannya. Malahan belalai makhluk mengeratkan pegangannya.

Beberapa jam kemudian mereka terbang menuju ke suatu tempat yang jauh dari perkotaan. Daerah yang dingin dan sepi, dan bertaburan makhluk halus seperti hantu, Jin dan roh – roh yang begentayangan. Mungkin daerah ini adalah daerah khusus yang ditempati para dedemit.

Di atas langit, ayu masih tidak berdaya dililit dengan tangan berbentuk belalai gajah. Beberapa kali Ayu mencoba meronta, tetapi pegangan makhluk ini semakin kencang saja, dan akhirnya Ayu menyerah dan terdiam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tanda – tanda pertolongan Mas Adi tidak terlihat, dan Ayu semakin ragu ketika jejak mereka semakin jauh tak terlacak. Harapan pertolongan cuma tinggal setitik, dan Ayu kini semakin tenggelam di dalam keputusasaan. Ayu kembali merenungi nasibnya yang malang sejak kejadian di Sei Ladi. “Andaikan aku tidak egois dan memilih menyatu dengan tubuhku, mungkin aku tidak akan mendapatkan masalah besar seperti ini“, kata Ayu pelan dan lesu.

Beberapa saat kemudian, makhluk mengerikan ini menukik bagai elang melihat ayam di daratan menyambar ke arah hutan lebat di bawahnya. Melalui hutan lebat dan semak belukar mereka terbang tidak tentu arah. Ayu menoleh ke kiri dan ke kanan, terlihat makhluk – makhluk halus bermain di dalam hutan dengan riang. Ada beberapa yang menyendiri di pohon-pohon dan ada pula yang bermain dan bercengkrama dengan bebasnya. Mereka tinggal di atas pohon – pohon rindang dan bermain berlompatan seperti monyet dari pohon yang satu ke pohon lainnya, banyak pula yang bersembuyi di balik dedaunan dan pohon-pohon kecil.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua berhenti di sebuah pohon besar dengan daun yang lebat, mirip seperti pohon beringin. Juntaian pohon – pohon yang merambat, tempat para kuntilanak bermain tali menghiasi dahan-dahannya yang rindang. Tetapi Ayu tidak melihat satu makhluk halus pun di sekitar pohon ini. Bahkan roh gentayang yang bermain-main pun tidak kelihatan sama sekali. Hanya ada dua makhluk halus berjaga di pohon ini, dan keduanya nampak tak peduli dengan kahadiran mereka. Tampaknya mereka adalah penjaga pohon besar ini. Tapi Ayu yakin keduanya mengawasi dengan seksama apa yang mereka lakukan.

Makhluk penculik Ayu mengendorkan pegangannya. Tangannya yang berbentuk belalai tidak lagi melilit erat, mungkin dia menganggap Ayu tidak akan bisa melepaskan diri lagi. Lagipula, Ayu tidak tahu arah mana yang harus ditempuh jika melarikan diri. Mereka berdua melayang tidak peduli dengan pohon besar yang menghadang. Bahkan makhluk ini pun seolah tidak melihat adanya pohon yang besar dan keras ini dan dia terus menarik Ayu hingga mereka menabrak pohon keramat ini. Ayu menurup mata sejenak seolah bisa menghindar dari pohon, walaupun dia tahu bahwa dia tidak akan merasakan sakitnya.

Ketika Ayu membuka mata, terlihat sebuah pedesaan yang damai dan tenteram berhias obor di pinggir – pinggir jalannya. Rumah – rumah joglo kecil di sepanjang jalan yang dibuat dengan ukiran indah ala jawa dan terbuat dari kayu jati yang tentu mahal harganya. Di depan joglo ada sebuah patung penjaga berbentuk raksasa melotot dengan gigi taring yang keluar sambil membawa obor. Kali ini obornya adalah obor sungguhan yang menerangi jalan. Ayu merasa patung raksasa itu mengawasinya dengan seksama. Ayu bergidik ngeri.

Tak berapa lama kemudian, samar – samar Ayu mendengar musik jawa mengalum sederhana menghiasi malam. Suara merdu sinden bernyanyi meninabobokkan pendengarnya di malam yang semakin renta. Ayu kebingungan menghadapi situasi seperti ini. “Apakah aku berada di sisi lain dunia?”, pikirnya. Dia hanya bisa membisu melihat makhluk berekor masih juga mengapitnya, sambil menggeretnya mengikuti jalan yang lurus ini, entah menuju kemana.

Makin lama suara indah sinden makin dekat, hingga akhirnya mereka berdua berhenti di depan sebuah istana megah berbentuk istana raja-raja jawa. Ayu dihempaskan ke lantai yang mengkilat yang terbuat dari marmer putih, lalu makhluk itu pergi meninggalkan Ayu begitu saja di depan gerbang istana. Terhempas, merasa sangat direndahkan dan terhina Ayu menanti apa yang akan terjadi. Suara sinden semakin jelas terdengar. Sepertinya dari balik gerbang ini.

“Apakah yang akan terjadi pada aku selanjutnya? Aku tak mampu pulang dan tak tahu dimana berada”, ayu berpikir lirih. “Mas Adi tidak akan bisa menemui aku”

Istana jawa ini dikelilingi dengan patung-patung berbentuk singa yang sedang mengaum garang dan dinding berhiaskan gambar wayang yang indah sekali. Pintu depan berukir cantik dan terbuat dari kayu jati yang kokoh dihiasi emas-emas berukir indah di pinggirnya.

Selang beberapa saat kemudian, dua orang penjaga berpakaian ala jawa lengkap dengan blangkon dan keris di pinggang bagian belakangnya datang tergesa menjemput Ayu. Kedua orang itu mengangkat dan menyeret Ayu dengan kasar membawanya masuk ke dalam ruangan melewati pintu berukir emas. Di balik pintu jati yang indah ini, terdapat ruangan yang lebih megah dan dihiasi dengan lampu kristal indah dan cantik. Kanan kirinya berdiri tiang-tiang penyangga yang terukir indah terbuat dari beton berkualitas tinggi dan juga dilapisi ukiran emas yang bertahta mutiara cantik. Ayu dihempaskan dan duduk di tengah ruangan besar, sementara para penjaga berdiri tegak di belakangnya. Suara nyanyian Sinden makin terasa nuansa magisnya tetapi Ayu tidak melihat satupun alat musik di ruangan ini.

“Romo, manusia ini merupakan persembahan dari Ki Mantra”, ujar salah seorang pengawal dengan santun. Ayu tidak melihat adanya orang lain selain mereka bertiga.

“Apakah dia sudah jinak?”, sebuah suara wibawa terdengar memecah kesunyian ruangan. Kini tembang sinden menyurut dan kesunyian menyelimuti ruangan. Ayu tidak melihat adanya makhluk yang bersuara seperti itu.

“Menurut Pemangsa Roh yang menjemputnya, dia belum dijinakkan Romo, tetapi sepertinya dia sudah tidak terlalu liar”

“Hm… kalau begitu kita akan menjinakkannya nanti. Kita harus menunggu pasangannya, agar bisa lebih mudah.”

“Baik Romo”

“Sekarang bawa manusia ini ke dalam kunjara”

“Baik Romo”, ujar pengawal sambil kembali menarik Ayu menjauh dari ruangan suci ini.

“ROMO SAYA TIDAK BERSALAH”, teriak Ayu keras. “Bebaskanlah Saya Romo, Saya mohon dengan sangat”

“Manusia tidak luput dari kesalahan”, suara Romo kembali mengisi ruangan. “Bawa manusia ini ke tempatnya”

Tiba-tiba saja Ayu telah berada di tempat yang berbau busuk bangkai dan daging terpanggang dengan sedikit cahaya api merah dari puncaknya. Perubahan secara tiba-tiba seperti ini bukan hal yang aneh lagi bagi Ayu, tetapi berada di kegelapan dengan bau busuk menerpa seperti ini sungguh mengejutkan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri yang terlihat hanyalah dinding batu yang berlumut basah yang menyebarkan bau bangkai busuk.

“Selamat datang di dunia persinggahan menuju neraka”, sebuah suara berbisik halus menyeramkan. Ayu ngeri dan berusaha mencari sumber suara, tetapi tak satupun terlihat olehnya, yang ada hanyalah kegelapan dan kesuraman ruangan kunjara ini.

“Nyai di sini!”, suara itu kembali berbisik tajam semakin dekat. Ayu masih belum yakin apakah itu suara hatinya atau suaranya seseorang lain yang tinggal di kunjara ini. Dia kembali menoleh ke belakang dan dia tetap tidak melihat satu makhluk pun.

“DI SINI!”

“AHHHH…..”, Ayu terkejut karena merasakan hawa dingin di wajahnya. Samar – samar dilihatnya seorang nenek renta di depan matanya, dengan uban yang sudah tak terkira. Giginya yang sudah ompong, mata menonjol dan rambut yang awut-awutan, mirip dengan nenek sihir dari negeri dongeng, hanya ini lebih kotor lagi. Andaikan Ayu bukan Roh, pastilah dia sudah jantungan dan mati mendadak melihatnya.

“Maafkan Nyai cucuku, telah membuatmu terkejut. Hehehe…hehehehe…hehehe…”, ujar nenek seram itu sambil terkekeh.

“Ah… ee… maaf Nyai. Saya sangat terkejut melihat Nyai berada di sini. Nama Saya Ayu, dan saya tidak mengerti mengapa saya ada di sini”

“Semua orang tidak akan mengerti mengapa ada di sini, karena kematian datang selalu tiba-tiba. Nyai bahkan sudah tidak bisa menghitung berapa lama Nyai di sini dengan alasan yang masih belum jelas”, ujar Nyai. “Beberapa waktu yang lalu ada yang masuk ke penjara ini, dan kini sepertinya telah menjadi salah satu dari mereka”

“Salah satu dari mereka??”, tanya Ayu heran.

“Yah, cucu akan dijadikan bagian dari mereka”, ujar Nyai sudah agak lebih baik daripada sebelumnya, tetapi tetap dengan suara serak menyeramkan.

Ayu terdiam sejenak dan memikirkan rasa nyaman yang dirasakannya ketika memasuki gerbang istana tadi. Mungkinkah itu yang akan dirasakannya jika dia menjadi salah satu anggota dari kerajaan ajaib ini?. Suasana damai, tenteram dan alunan lembut para sinden menyanyikan lagu akan menjadi bagian dari hari-harinya. “Tidak perlu menyiksa sampai parah begini kalau hanya membuatku menjadi salah satu penduduk di kerajaan yang penuh damai ini”, ujarnya lirih.

“Saat kita memasuki dunia gaib ini, semuanya serba Indah. Damai, sejahtera, musik yang indah dll. Semuanya keindahan itu hanyalah godaan agar menjadi salah satu dari penduduk dunia gaib”, ujar Nyai seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Ayu. “Tetapi, kamu harus menghamba pada Jin yang dipanggil Romo hingga kiamat, yang berarti harus mengingkari seluruh kehidupan yang telah kamu jalani dan meninggalkan apapun yang kamu percaya. Kamu akan diminta mengorbankan salah satu orang yang kamu cintai sebagai bukti bahwa dirimu adalah seorang hamba yang taat”

“Jika orang – orang yang kamu cintai telah tiada – seperti Nyai – mereka meminta agar mencari manusia untuk dikorbankan. Kamu diperbolehkan keluar dari lobang busuk ini sejenak untuk mencari mangsa, dibawah pengawasan dua Pemangsa Roh”

“Bagaimana kalau kita menolak?”

“Kamu akan menjadi makanan pemangsa Roh yang suka menyiksa manusia hingga titik penderitaan tertinggi” Nyai terdiam sejenak. “Dan setiap aliran darah di nadi derita manusia, kekuatan pemangsa Roh akan bertambah. Hingga akhirnya menua hanya dalam satu malam. Hal itu akan terus dilalui hingga kiamat tiba”

Ayu tentu tidak ingin menjadi bagian dari Romo yang haus akan pujian dan ingin menjadi Tuhan. Apalagi harus mengorbankan orang – orang yang dikasihinya. Ayu kembali mengingat ayahnya yang sudah mulai beruban dimakan usia, bunda dengan kasih sayang yang tulus dan Iwan walaupun seringkali menyebalkan tetapi dia tetap menyayanginya. Bagaimana pun mereka adalah keluarganya. Tetapi Ayu tidak ingin menghabiskan waktu dalam siksaan dan penjara seperti ini. “Aku harus keluar dari sini”, pikirnya.

“Setiap kenikmatan harganya, yang jadi pertanyaan adalah sejauh apa kamu akan mengejar kenikmatan ini”, Nyai menjauh dari Ayu. Dari atas terlihat cahaya pagi memasuki lubang tempat mereka dipenjara. Nyala lampu mulai meredup.

Penjara ini adalah sebuah lubang sumur tua yang sudah lama tidak terurus. Umur lubang ini mungkin sudah puluhan tahun dan sudah lama tidak digunakan manusia. Di atas sumur terlihat cahaya matahari pagi masuk dan menerangi dasar sumur yang airnya tidak terlalu dalam. Ayu berusaha terbang ke arah puncak sumur tapi dia tidak mampu.

“Sumur ini adalah penjara, yang telah dijaga menggunakan mantera yang sangat kuat, hingga kita tak akan mampu menembusnya. Nikmati saja sisa kehidupanmu sebagai manusia”, Nyai berkata lirih.

“Bagaimana caranya keluar dari sini Nyai”

“Andai Nyai tahu, Nyai sudah lebih dulu kabur dari sumur ini. Hhhh… Andai Nyai tidak keras kepala..” Nyai menatap dinding kosong, mengingat masa lalu ketika masih hidup. “Sudahlah, saatnya kita tidur dan menanti malam yang kembali panjang”

Ayu terdiam tak tahu akan berbuat apa. Semuanya kini gelap gulita, nasibnya semakin tidak jelas dan Adi entah dimana. Ayu semakin bergolak dan hanya bisa menunggu suratan takdir terhadap dirinya. Samar – samar terdengar suara burung bernyanyi menyambut pagi bersahut-sahutan di atas sana, menyambut pagi dengan suka cita.

~ oleh syaifi di/pada Agustus 9, 2008.

Tinggalkan Balasan