Kisah Adi dan Ayu (#5)
Sepasang mata merah mengintip liar dari tengah kegelapan hutan mengawasi mereka bertiga yang sedang berjalan santai. Mulutnya menyeringai ngeri menampakkan taring buasnya. Sesekali mata merah itu berpindah tempat lebih mendekat. Malam kelam, gelap dan pekat menyelubungi tubuh sang pengintai dengan sempurna membuat mangsa tidak menyadari bahaya yang akan menerpa.
“Adi, aku duluan ke Sei Ladi ya. Nikmati saja malam minggu kalian”, ujar Martuani setelah diperkenalkan dengan Ayu oleh Adi. “Lagipula aku tidak ingin menjadi kambing congek di sini”, ujarnya sambil mengerjapkan sebelah mata ke arah Ayu. Ayu dan Adi tersenyum. Martuani memang seorang sahabat yang sangat mengerti. Bagi seorang sahabat baru, Martuani memang pantas mendapatkan acungan jempol.
“Ok, thanks ya. Sampai jumpa di Sei Ladi”, ujar Adi. Martuani melesat cepat ke angkasa dan beberapa detik kemudian hilang di telan kegelapan malam.
“Mas, Ayu kira kita tidak akan berjumpa lagi.”, ujar Ayu memecah kesunyian sambil berjalan di trotoat pinggiran jalan yang gelap.
“Mas Adi tidak tahu kalau Ayu sedang sakit. Andai Mas tahu, Mas akan langsung ke sini dan menunggu Ayu sampai kapanpun juga.”
Terlihat beberapa pasangan duduk di kegelapan malam menikmati malam panjang. Mereka memilih berduaan di tempat yang remang-remang, tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya. Memang kalau sudah cinta, gelap terasa terang semuanya. Adi memperhatikan pasangan-pasangan itu, dan tersenyum sendiri mengingat ketika mereka berdua masih hidup dan sering menghabiskan waktu bersama seperti ini ketika uang menipis di tanggal tua.
“Bahkan, Mas Adi tidak menyangka kalau Mas Adi sudah mati. Mas Adi mengira mendapatkan anugrah menjadi manusia super yang bisa terbang, tembus dinding dan …” Adi berkata menambahkan.
“Mas Adi terlalu banyak nonton film”, Ayu tersenyum. Dia sangat mengerti karakter Adi yang suka sekali nonton film – film futuristik dan manusia super.
“Hehehe… Martuani juga ngomong seperti itu”, ujar Adi. “Yuk kita terbang melihat bumi dari atas!?”
“Nanti saja deh Mas. Aku pernah juga terbang bersama Arini beberapa waktu lalu, saat kami ke rumah Wahyu”
“Wahyu?”
“Ya. Wahyu adalah pacar Arini. Dia sekarang masih hidup”
“Ooh..gitu. Trus gimana rasanya?”
“Awalnya takut juga. Takut jatuh..”, ujar Ayu yang disambut dengan tawa Adi yang menggelegar. Beberapa pasangan yang sedang merajut asmara tiba-tiba berdiri dan menjauh dengan terburu-buru, ketakutan.
“Mas, menakutkan orang saja nih. Kalo tertawa jangan keras-keras donk”
“Kirain gak ada yang akan denger”
“Kita gak tahu mas”, kata Rini lembut. “Pendengaran orang beda-beda”
“Iya juga. Tapi paling tidak di sini cuma tinggal kita berdua. Tidak ada yang mengganggu”
“Dari tadi juga berdua. Orang-orang itu kan tidak melihat kita di sini. Mari kita duduk di sini saja Mas”, ujar Ayu ketika mereka mendapatkan tempat yang cocok untuk menikmati malam. Gelap, kelam dan dinginnya malam merupakan nuansa yang sempurna bagi mereka berdua, tanpa menyadari bahaya yang terkandung di dalamnya.
Adi mengambil tempat duduk di sebelah kanan Ayu, melingkarkan tangannya di pinggang Ayu. Ayu tersenyum bahagia, merasakan keadaan yang tidak akan berubah selamanya. Menatap bintang yang ada di langit tanpa perlu berpikir hari esok atau nanti.
Mata merah sang pemangsa semakin mendekat. Seringai taring tajam yang tertutupi gelapnya malam semakin menyeramkan. Kedua insan yang sedang memadu kasih di kegelapan yang menjadi incarannya, terutama roh kedua insan manusia yang baru keluar dari rumah sakit tadi. Kini mangsa sudah tepat duduk di tempat yang diinginkannya. Waktu yang dinanti sejak sore sudah diambang mata.
“Swoooopppppp!”, mata merah itu terbang pesat ke arah Adi dan Ayu yang tidak menyadari bahaya yang mengancam. Menyambar ke arah Ayu bagai elang menangkap anak Ayam dan terbang cepat ke atas angkasa. Ayu tak sadar jika dia telah terbawa ke angkasa.
“Mas Adiiiiiiiiiiiiiii…………………..!”, suara Ayu melengking membelah kegelapan malam.
“Ayuu…….!”, Adi mengejar makhluk mengerikan itu dengan cepat. Suara tawa makhluk menyeramkan itu membahana di seluruh angkasa, membuat suara Ayu tidak terdengar sama sekali. Adi melompat dan mengejar makhluk sialan itu, dan dengan cepat dia mengambil kecepatan penuh.
Kejar – kejaran di angkasa pun menjadi seru. Dari jauh Adi bisa melihat sebuah makhluk berekor panjang dengan taring mencuap tajam dan tangan yang seperti belalai. “Apakah itu Romo Suryo?”, tanya adi dalam hati. “Ah!, Aku tidak peduli, aku harus mendapatkan Ayu kembali bagaimanapun keadaannya” Makhluk itu semakin menjauh, Adi tidak bisa mengimbangi kemampaun terbang makhluk berwujud setan itu.
“Wuuuuuuuuuuuuuushhhhhhhh”, tiba-tiba seekor makhluk yang mirip seperti penculik Ayu kini menerjang Adi dari atas ke arah lehernya. Adi terjatuh hingga ke jalan raya, dan meninggalkan lobang yang besar di jalanan. Untunglah Adi cuma Roh gentayangan yang tidak memiliki tulang. Beberapa orang yang sedang berjalan terkejut dan merasakan adanya gempa dan sebuah lobang besar menganga di tengah jalan. Adi bangkit dan terbang ke arah hutan yang terletak tak jauh dari tempat mereka sekarang. Dilihatnya makhluk bertaring itu mengejar dan berusaha menyemburkan api ke arah Adi. Adi menghindar dan api mengenai sebuah ruko tua yang tidak terawat. Ruko itu terbakar hebat. Adi merasa bersalah dan dengan cepat dia melarikan diri ke arah Sei Ladi, mencari teman baiknya yang mau membantu.
Makhluk itu terus mengejar dan menembakkan api – api panasnya. Beberapa orang menatap ke atas dan menganggap hanyalah beberapa meteor jatuh dari langit. Tetapi bagi Adi ‘meteor’ itu sangat berbahaya dan patut di hindari. Beberapa kali api terbang itu hampir mengenainya, tetapi untunglah dia masih mampu menghindar dengan tangkas. Hingga akhirnya Adi sampai di atas Sungai Sei Ladi, dia menukik tajam ke bawah hingga masuk ke dalam sungai. Makhluk Api itu masih terus mengejar, tetapi ketika beberapa meter di atas permukaan air dia berhenti, lalu Adi mengumpulkan Air dan menyemburkannya ke arah pemangsa itu. Pemangsa itu terkejut dan terbang terbirit-birit pergi entah kemana.
Adi sedikit lega dan muncul di permukaan, karena terhindar dari ancaman makhluk aneh itu. Tetapi Ayu kini menjadi tawanannya dan Adi harus menolongnya dengan segera. Adi bingung harus kemana, dan meminta tolong kepada siapa. Dia baru sore tadi masuk dalam kelompok roh gentayangan dan harus merasakan kembali pahitnya kehilangan Ayu.
“Aku harus mencari Martuani”, ujarnya lirih. “Heran, mengapa orang-orang gentayangan itu tidak berusaha menolongku ya?”, Adi terdiam sejenak. “Apakah makhluk itu begitu menakutkan?” Adi terbang mendekat ke arah jembatan Sei Ladi. Roh gentayangan semakin ramai, tetapi tak satupun peduli dengan kejadian yang baru terjadi. Lagipula Adi memang anak baru. Adi mendarat di pinggir jembatan dan duduk terdiam. Untuk sesaat dia tidak tahu harus berbuat apa. “Hhhhhhh….”
“Adi?!”, sebuah suara yang sangat dikenal menyapanya lembut dengan nada heran. “Koq kamu di sini? Bukankah kamu akan menghabiskan malam bersama Ayu? Mana dia?”
“Martuani!”, Adi berdiri gembira. Mendengar suara sahabat barunya ini membuat beban di pundaknya sedikit ringan. “Aku senang sekali melihatmu. Kami berdua tertimpa musibah”
“Ha?? Musibah apaan?”
“Ayu diculik seekor makhluk menyeramkan bermata merah dan memiliki ekor yang panjang.”
“APA??”, Martuani terkejut dan shock mendengar hal itu. “Ayu diculik?” Martuani terdiam sejenak berpikir. “Kita harus membebaskan dia sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan”, ujarnya cepat.
Adi tidak bisa berpikir jernih. Terbayang kekasihnya di siksa oleh makhluk berwajah setan itu dan dijadikan budak. “Ayuuu…Maafkah aku”
“Sepertinya kita harus menghadap Romo Suryo”, ujar Martuani lemah. “Dia adalah penguasa paling kuat dan berpengaruh di sini. Pasukannya banyak dan dengan segera dapat melepaskan Ayu dari genggaman makhluk buas itu”
“Buas????”, tanya Adi ngeri sambil membayangkan kekasihnya dalam cengkraman makhluk itu.
“Ya!!!. Makhluk yang menculik Ayu adalah Jin yang memiliki kekuatan menaklukkan Roh dan suka menyiksa Roh manusia gentayangan. Makhluk itu dikenal dengan Pemangsa Roh”
“Pemangsa Roh?”, suara Adi berdenyit dengan nada tinggi.
“Ya. Roh yang ditangkap oleh Pemangsa Roh itu akan terus disiksa dengan cambuk api yang menyala-nyala hingga berteriak pilu tak terkira oleh manusia biasa. Kekuatan Pemangsa Roh di dapat dari jeritan roh manusia. Makin tinggi jeritan roh, kekuatan sang Pemangsa Roh akan bertambah”
“Kalau begitu, kita harus segera meminta pertolongan Romo Suryo. Aku tidak ingin Ayu tersiksa selamanya. SEKARANG KITA PERGI.”
“Tunggu dulu!”, kata Martuani. “Menghadap Romo tidaklah gampang. Romo tidak tersentuh oleh roh seperti kita, kita tidak akan bisa menghadapnya tanpa restu dari Romo sendiri”
“Jadi apa yang harus kita lakukan?”
“Aku tidak tahu!”, ujar Martuani.
Otak Adi buntu. Dia tidak mengenali dunia tempatnya bernaung sekarang. Aturan dan tatakrama dunia gaib ini tidak diketahuinya sama sekali. “Ah… tak usah berpikir banyak lah. Aku melangkah ke tempat kekuasaan Romo. Biar mereka menangkapku dan aku meminta mereka agar memberikan kesempatan menghadapi Romo”. Adi bangkit, diikuti oleh Martuani. “Kamu tidak usah ikutan. Biar aku yang menanganinya. Aku tidak ingin sahabat baikku menjadi korban Pemangsa Roh lainnya”
“Tapi… aku ingin membantu”, ujar Martuani memaksa.
“Tidak usah”, Adi menepuk bahu Martuani. “Kamu tunggu saja di sini dan mudah-mudahan kami berdua tidak apa-apa”, kata Adi sambil terbang ke arah Nagoya. Martuani memandang lesu dan lirih dari jauh, hingga Adi hilang di kegelapan malam yang menua.
Adi berputar – putar mengelilingi daerah sekitar Nagoya dan Jodoh. Malam semakin larut dan waktu telah menunjukkan pukul dua pagi. Beberapa orang sudah mulai keluar dari tempat hiburan malam yang banyak terhampar di daerah ini. Segelintir wanita penghibur murahan menjajakan diri di tempat sepi, dengan dandanan menor ala bintang film. Jalan terlihat hening, hanya sedikit kendaraan taksi yang mencoba mengais rejeki.
Suara sirene pemadam kebakaran memecah malam. Adi menoleh dan dilihatnya ruko yang terbakar akibat perbuatan Pemangsa Roh saat menembakkan bola api ke arahnya. Adi hanya bisa melihat dengan rasa bersalah yang dalam. Namun tak ada yang mampu dilakukannya. Dia hanyalah sebuah Roh yang tak berdaya.
Adi kini telah berada di atas hutan bukit senyum. Sebuah bukit tempat manusia malam berkeliaran di tempat hiburan murahan. Musik dangdut membahana membelah malam larut memekakkan telinga orang-orang yang mencoba tidur. Untuk wilayah bukit senyum dunia malam sudah menjadi dunia keseharian dan hal di atas tidak mengganggu sama sekali.
“BERHENTI!!!!”, sebuah suara terdengar mengancam. Adi membeku dan menoleh ke arah suara itu. Terlihat dua makhluk yang merah, besar dan gagah dengan dua tanduk kecil di kepalanya. Cukup menyeramkan bagi orang-orang yang memandangnya. Wajahnya seperti seekor banteng muda.
“Bapak bicara dengan saya?”, tanya Adi dengan suara yang kelu.
“YA!”, ujar salah satu dari makhluk itu. “Ada keperluan apa kamu ke sini? Kami adalah pasukan Romo Suryo dan di sini adalah daerah beliau. Di sini adalah posko kami” kedua makhluk itu menunjuk semak-semak di belakangnya.
“Saya…”, Adi berkata ragu.
“APAAAAAAAAAAA……….? SINI KAMU!”, suara kembali menggelegar seperti suara polisi. Adi melangkah mendekat. Mereka bertiga masuk ke dalam semak-semak.
“Saya ingin berjumpa dengan Romo Suryo!”, ujar Adi dengan nyali yang ciut.
“Hahahaha…..hahahaha….”, kedua makhluk benteng itu tertawa terbahak-bahak dengan nada penuh ejekan. “Kamu mau bertemu dengan Romo?”
“Saya tidak bisa menjelaskan kepada anda berdua. Saya harus bertemu Romo!”
“TIDAK BISA!”. Ujar benteng kedua. “Kamu harus menjelaskan apa keperluan kamu bertemu Romo” benteng pertama melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
“Baiklah. Saya ingin meminta pertolongan dengan Romo dan hanya Romo yang bisa menolongku”, ujar Adi dengan nada putus asa.
“Kamu pikir Romo adalah budakmu!”
“Saya tidak berpikir seperti itu. Tetapi mendapat masalah besar dan hanya Romo lah yang dapat membantu. Saya dengar Romo orang yang kuat dan sangat berpengaruh di sini. Tak satupun kejadian di Batam yang tidak diketahuinya” Adi menambahkan sambil memuji.
“Ya, tepat sekali. Karena itulah dia tidak akan mau bertemu dengan kamu. PULANGLAH!”, benteng itu mengusir Adi. Adi putus asa. Makhluk – makhluk ini kerjanya seperti polisi. Untuk bertemu dengan sang pemimpin besar tidak bisa sembarangan. Benteng pertama datang dan memanggil benteng kedua. Mereka berbisik – bisik sebentar dan keduanya mendekati Adi.
“Romo berbaik hati padamu. Dia dengan senang hati akan menerima kamu di dalam istananya yang agung. Mari aku antar”, ujar benteng pertama. Mereka berdua pergi dan terbang melayang menjauh dari bukit senyum.
Adi merasa lega, karena bisa menghadap Romo dan dia berharap dengan bantuan Romo dia bisa membebaskan Ayu dari Pemangsa Roh.
“Jangan takut sayang, tabahkan dirimu. Akan kucari engkau walaupun sampai ke ujung samudra”. Mereka menjauh dari kota menuju suatu tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Adi sebelumnya. Adi hanya mengikuti sang banteng muda.

Wah… Udah Bag 5??? ketinggalan cerita aku/…………….