Kisah Adi dan Ayu (#4)
Ayu duduk termenung dengan tatapan hampa bersandar pada dinding dingin kamar kecil yang berwarna hijau muda tak terawat. Bau obat bercampur keringat pasien yang tidak pernah mandi tercium tajam dalam ruangan sempit ini. Kadang muncul perawat berwajah tak sedap dengan sikap seperti sipir penjara membuat pasien bertambah sengsara. Mungkin karena mereka bekerja seharian dengan gaji mereka tidak cukup. Tetapi menurut Ayah, perlakuan perawat rumah sakit pemerintah memang seperti itu, karena penerimaan pegawai di rumah sakit ini menggunakan rasa kekeluargaan yang kental, sehingga profesionalisme tidak ada sama sekali.
Sudah hampir seminggu Ayu berada di rumah sakit pemerintah ini. Tubuhnya lemas tak bisa bergerak sama sekali, kendati dokter terus berusaha, tetapi belum ada tanda-tanda perbaikan kesehatannya. Ayu kasihan melihat Ayah dan Bunda yang bolak-balik dari rumah hanya untuk menjaganya yang sudah tidak ada harapan hidup lagi. Biaya yang harus ditanggung sangat besar yang harus dipinjam dari sana sini, sementara pelayanan yang didapatkan hanya seadanya.
Ayu memandangi jazadnya yang terbujur lemah di tempat tidur beralas seprei putih. Tarikan nafas satu-satu masih ada dan mata yang tidak terbuka. Ayahnya mengatakan bahwa Ayu terbaring di rumah sakit ini karena kecelakaan sepeda bermotor malam minggu lalu di Sei Ladi, bersama kekasihnya Adi. Nyawa Adi sudah tidak tertolong lagi dan kini tubuhnya telah bersatu dengan tanah di Sei Temiang. Sejak saat itu, Ayu tahu bahwa dia tidak bisa bertemu Adi kembali. Ayu selalu merasakan sesak jika mengingat hal itu.
Kini sebagian jiwa Ayu terasa hilang. Tidak pernah terlintas dibenaknya jika harus berpisah selamanya dengan Adi. Hari-hari kebersamaan yang mereka jalin berdua membuat Ayu lupa rasanya hidup sendiri. Kini Ayu hanya bisa menangis lirih, meratapi nasib yang tidak menentu, melihat tubuhnya yang semakin layu menyongsong maut menjemput dan tanpa Adi yang mendampingi.
“Mengapa aku masih di sini?”, Ayu bertanya lirih pada diri sendiri. “Mengapa aku tidak langsung saja mati lalu dikubur seperti Mas Adi agar kami dapat duduk menunggu pintu akhirat terbuka? MENGAPA AKU TERGANTUNG SEPERTI INI?” Ayu terisak kembali.
“Masih bingung?”, tanya Arini mendekat menyentuh bahu Ayu dengan lembut. Arini seorang gadis manis berhati lembut dengar tutur kata semanis madu. Menurut Arini, dia sudah lama tinggal di rumah sakit ini, akibat penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Kini dia hanya gentayangan berjalan di lorong rumah sakit menghabisi waktu, menunggu kata ampunan dari orang tuanya yang ada di tanah jawa sana.
“Begitulah Ar”, ujar Ayu lemah. “Andaikan aku langsung saja meninggal dunia, aku tidak perlu susah hati menahan rinduku terhadap Mas Adi”
“Sudahlah Ayu, terimalah keadaanmu dengan lapang dada. Selama apapun kamu berkabung, tidak akan mengubah keadaan sama sekali. Tabah saja”
“Ar, kami telah merencanakan pernikahan dan mencoba merajut masa depan kami berdua. Impianku dengan Mas Adi telah bulat terbina”, ujar Ayu terisak. ”Namun, kini mimpiku hancur menjadi kepingan sehalus debu”
“Hhh…”, Arini hanya bisa mendesah mendengar keluh-kesah teman barunya. Arini bisa memahami rasa kehilangan yang dirasakan oleh Ayu. Kesunyian menyelimuti mereka berdua.
Masih terbayang di wajah Ayu, bagaimana mereka berdua perlahan merajut cinta. Tanjungpinang, Pulau Penyengat, Bioskop, Marina telah menjadi saksi akan kekuatan cinta mereka. Adi selalu setia setiap saat. “Ahh alangkah Indahnya”
Di sela isakan tangis, Ayu berdiri lalu melangkah pelan ke luar kamar kamar diikuti Arini. Terlihat makhluk – makhluk gentayangan lain bernaung di kegelapan bayangan benda. Di rumah sakit ini memang bergelimang makhluk gentayangan yang belum bisa meninggalkan segala urusan dunia yang mereka tinggalkan. Mereka yang tidak bisa menerima ajal mereka menjemput dan mati dengan ketenangan. Cinta, bencian, sayang dan banyak hal lain yang menghambat mereka menghadapi kematian dengan lapang. Berbeda dengan Ayu yang belum bisa meninggalkan raganya, karena maut masih enggan singgah di kehidupannya. Dia iri dengan orang-orang yang telah mati ini, karena kematianlah yang dia minta.
“Mari kita jalan ke halaman Ar”, ujar Ayu. Hampir setiap malam mereka berjalan-jalan di taman rumah sakit. Kadang – kadang mereka jalan hingga ke hutan-hutan kecil yang terletak di sekitar penjara ini. Hanya untuk mengilangkan rasa duka yang dalam dan membuang ingatan terhadap kekasihnya walau hanya sesaat saja.
Dengan langkah pelan mereka jalan menuruni tangga, berjalan diantara para arwah yang sedang duduk sedih, diam dan menyendiri. Roh gentayangan di rumah sakit pada dasarnya adalah roh-roh yang penuh dengan kesedihan dan lebih suka menyendiri. Menangis dan meratapi kematian menjadi bagian perjalanan mereka menghabisi hari-hari penantian. Roh-roh ini lebih suka berselindung di tempat remang, gelap dan dingin dalam meratapi nasib mereka. Kasihan…
Kepekatan malam menyambut mereka berdua, dalam kehampaan pikiran. Di halaman dekat tiang bendera, duduk seorang kakek tua yang sedang meratap, menunggu jemputan cucunya tersayang yang tak kunjung datang. Di kegelapan POS kemananan berdiri sesosok gagah seorang mantan anggota keamanan yang sudah meninggal, dan merasa dirinya masih mampu menjaga rumah sakit. Dengan pakaian seragam putih tanpa tanda pangkat berdiri gagah menyapa orang-orang yang lalu-lalang di lingkungan rumah sakit. Yang menyahut tentulah roh halus saja.
“Mau ke mana lagi nich Dek?”, tanya petugas keamanan itu, tersenyum manis. Ayu merasakan kehangatan pada sikapnya. Bapak penjaga ini lebih cocok menjadi perawat daripada perawat yang ada di dalam.
“Biasalah pak, bosan di atas!”, ujar Arini. “Mau jalan-jalan di dekat pepohonan dan jalan setapak yang gelap itu pak”
“Ok. Selamat menikmati dan jangan lupa, hati-hati”
“Terima kasih pak”
Mereka berjalan melangkah keluar halaman rumah sakit yang sempit. Melewati jalan setapak di kegelapan dan sepi, hanya sesekali sepeda motor atau mobil pengunjung rumah sakit melintasi dengan terburu-buru. Keheningan masih menyelimuti mereka berdua. Arini menunggu keheningan di antara mereka berakhir.
“Ar, menurut kamu bagaimana dengan kelanjutan nasib ku? Apakah akan seperti kamu?”
“Aku harap kamu tidak perlu seperti ini Yu. Kasus kita berbeda. Kamu masih ada kesempatan hidup, karena tubuhmu hanyalah mati suri. Sedangkan tubuhku sudah menyatu dengan tanah. Aku tidak punya pilihan lain selain menunggu kata ampunan dari orang tuaku. Entah bagaimana caranya agar aku bisa mendengar suara mereka lagi”
“Tetapi, tanpa Mas Adi hidupku akan terasa seperti hampa. Mati seperti kamu lebih baik daripada hidup tanpa arah yang jelas seperti aku”
“Tidak bisa begitu Yu, aku pun gentayangan dan belum mencapai kedamaian yang kuharapkan. Ketika seperti ini, kita tidak bisa menyentuh orang-orang yang kita cinta tanpa membuat mereka takut. Mendengar suara kita pun mereka akan lari terbirit-birit, apalagi kita menampakkan diri di depan mereka”
“Lalu?”
“Kalau aku menjadi kamu, aku akan memikirkan orang-orang yang kucinta. Ibu, Bapak, Adik bahkan teman-teman lainnya yang telah membuat kita bahagia”, ujar Arini. “Masih banyak limpahan cinta yang akan kamu dapatkan selain dari Mas Adi kamu.” Arini terdiam sejenak. “Kalau aku menjadi dirimu, aku akan melompat ke dalam jasad ku dan memulai hidup yang baru”
“Tapi tanpa Mas Adi, aku tidak bisa melangkah”
“Adi bukanlah jodohmu. Kamu harus mampu menerima hal itu. Lagi pula dengan keadaan yang kita alami sekarang, hidup kita menjadi hampa dan tidak menentu.”
Ayu kembali terdiam. Semua kata-kata yang dikeluarkan oleh Arini banyak benarnya. Dia telah bersikap egois, mengabaikan Ayah, Bunda dan Adiknya hanya karena Mas Adi. Tetapi Ayu tidak dapat membayangkan kehidupan tanpa Adi. Andaikan dia bisa mati sekarang. “Mas Adi, mengapa dirimu tak membawa diriku ?”
“Lalu mengapa Mas Adi tidak seperti kamu? Mati tapi masih bergentayangan di dunia”
“Sudah kujelaskan, roh gentayangan seperti aku adalah roh-roh yang belum bisa menerima kematian. Aku masih memiliki beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Hingga urusanku selesai, aku akan hilang bersama angin, saat itulah kematian yang tenang kumiliki”
“Itu berarti Mas Adi sudah menerima kematiannya dan melupakan aku?”
“Begitulah kira-kira. Adi sudah tenang menunggu waktu akhir tiba”, Arini diam sejenak.
”Kamu sendiri, bagaimana mengakhiri masa penantian ini?”
“Entahlah. Aku pun tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Mau pulang ke Ngunut aku tidak mampu, sebab jalan ke sana sangat jauh dan berbelit. Aku ingin sekali bersimpuh di depan ibu dan ayahku yang telah membenciku selama ini dan meminta ampun kepada mereka selagi mereka hidup di dunia”
“Apakah aku memiliki pilihan?”
“Kamu memiliki pilihan terbaik Ayu. Kembali ke tubuhmu dan jalani hidup berbakti pada orang tua, sebelum terlambat. Jangan gentayangan seperti kami yang sudah tidak memiliki harapan hidup lagi”
Ayu terdiam sejenak, memikirkan perkataan Arini. Bersama Adi, dia memiliki episode yang terindah yang sudah menjadi sejarah indah kehidupan. Tetapi dengan orang tuanya serta adik kecilnya, Ayu memiliki memori yang tidak mungkin terlupakan. Masih segar dalam ingatan Ayu ketika dia mulai masuk sekolah dasar di antar ibunya, saat sekolah SMP dengan kenakalan-kenakalan yang selalu dimaafkan ibunya, bermain dengan adiknya dll. Kenangan indah itu tidak mungkin akan dibuang sia-sia dan akan banyak kenangan terbuat jika dia memilih kehidupan bersama mereka dan tidak seperti sekarang ini.
“Yah.. mungkin aku harus melakukan hal itu”, ujar Ayu. “Aku akan kembali ke keluargaku, toh Mas Adi telah melupakan diriku dan meninggalkan ku serta dunia dengan ketenangan yang abadi”
“Mari kita kembali ke kamarmu”, ujra Arini cepat. “Jangan sampai terlambat”
Mereka berdua bergegas kembali ke rumah sakit. Ayu sudah membulatkan tekad ingin kembali ke jasadnya yang sengsara ditinggal rohnya yang gentayangan tidak karuan menyesali kejadian yang telah lalu dengan sikap egois. Kini dia tahu, orang tuanya lah yang paling berharga dan dijaga selama mereka masih bernafas. “Maafkan aku Ayah dan Bunda”
“Ayu”, ujar Arini setelah mereka berdiri di depan tubuh Ayu yang terbaring pasrah. Ayu sudah siap ingin masuk kembali ke dalam tubunya yang rapuh.
“Iya Rin”
“Setelah ini, kamu tidak akan bisa melihatku lagi. Kamu telah menjadi manusia utuh lagi. Kuharap kamu mengingatku”
“Aku akan selalu mengingatmu, sahabat.”
“Kalau kamu hidup nanti, titip salam untuk orang tuaku di Ngunut, agar aku bisa mati dengan tenang”
“Ya. Aku berjanji”
“Biarkan aku mendengar suara mereka agar aku tahu bahwa mereka telah memaafkan aku. Aku ingin mati dengan ketenangan Yu.”
“Baiklah. Aku akan mencoba menghubungi mereka”
“Tanyakan alamatku dengan Wahyu” ujar Arini. Wahyu adalah kekasih Arini. Mereka berdua pernah ke rumah Wahyu ketika dia tidak ada di rumahnya.
“Ok.”
“Terima kasih”
Ayu mulai duduk di dekat tubunya yang terbaring tak berdaya, menanti roh kembali ke jasad. Tekad Ayu sudah bulat karena mengingat Mas Adi adalah kesia-siaan. Mas Adi tak akan pernah kembali lagi bahkan sudah melupakan dirinya. Ayu akan menuliskan episode baru tanpa Mas Adi. Semoga bisa.
Ayu sudah mulai mengambil posisi sesuai dengan posisi tubuhnya. Perlahan, tapi pasti dia mulai menyatu, dilihat Arini yang menampilkan wajah sedih, melambaikan tangan perpisahan. “Aku tidak akan melupakanmu Arini. Jangan takut. Aku tidak akan melupakanmu”
“AYU!”, tiba-tiba terdengar suara yang amat dirindukannya. Dilihatnya Adi sedang berdiri di depan pintu kamar dengan wajah penuh ceria. Mata kerinduannya yang memuncak menyorot tajam ke arah Ayu yang hampir menyatu dengan tubuh lemasnya.
“Mas!”, dengan segera Ayu turun dari tempat tidur melayang ke arah Adi dan memeluk erat seolah tak mau dilepaskan lagi. “Mas tega sekali meninggalkan Ayu sendiri di sini”
“Maafkan Mas, Ayu. Mas tidak tahu kalau Ayu sedang sakit”, ujar Adi.
“Ayu tidak saja sakit Mas. Ayu sudah mati. Ayu mati suri”
“Hah! Kenapa?”
“Gara-gara kecelakaan di Sei Ladi. Mas Adi sudah mati juga”
“Kecelakaan?”, Adi masih belum bisa mengingat kapan kecelakaan terjadi. “Aku mati?”
“Mas Lupa?”, tanya Ayu. Adi mengangguk lesu penuh tanya. Ternyata dia bukan menjadi manusia super, tetapi roh gentayangan seperti Martuani. Martuani yang ada di dibelakangnya, tersenyum puas.
Ayu menceritakan seluruh kejadian yang menimpa mereka berdua ketika mereka baru pulang dari bioskop. Adi masih belum bisa mengingat kejadiannya tetapi dia percaya apa yang dikatakan oleh Ayu, dan itu tidak perlu dipikirkan lagi. Ayu kini telah berada di sisinya dan mereka berdua tidak akan terpisahkan lagi, bahkan oleh maut sekalipun karena mereka berdua toh telah mati..
“Ayu, mari kita keluar dari rumah sakit ini”, ajak Adi penuh kemesraan. Ayu menoleh ke arah Arini dengan tatapan ajakan, tetapi Arini menolak karena rumah sakit ini telah menjadi bagian dirinya kini. Lagi pula, dia harus mencari orang lain yang akan menyampaikan kata ampun kepada orang tuanya.
“Jaga tubuhku ya Ar”
Arini mengangguk lesu. Kini dia harus menunggu lebih lama agar bisa mati dengan tenang. Kematian yang diidamkannya. Mudah-mudahan suatu saat Ayu sadar bahwa kehidupan lebih baik daripada kematian walaupun berdua bersama kekasih. Sehidup-semati tidak pernah baik bagi kita manusia.
Ayu, Adi dan Martuani melangkah keluar rumah sakit menuju jembatan Sei Ladi, berkumpul dengan roh yang sedang menikmati dinginnya suasana malam dan keindahan Batam di waktu malam.
“Aku sudah mati, dan aku akan menjalani hari berdua dengan Ayu, selamanya”, Adi berkata dalam hati penuh kemenangan.

Tinggalkan Balasan