Kisah Adi dan Ayu (#3)

Beberapa saat Adi berada di udara malam yang masih muda, terbang menuju Tiban dengan kecepatan penuh. Mencari Tiban dari udara ternyata sulit sekali, karena patokan yang tidak jelas selain arah mata angin, yang selama ini tidak pernah diperhatikan Adi. Mungkin hanya seorang pilot yang bisa mencari dengan cepat. Pergi ke Nagoya dari Sei Ladi lebih mudah dibandingkan menyusuri Tiban dari Nagoya. Perumahan yang terlihat kecil dan sama dari atas udara, tidak membantu sama sekali. Akhirnya mereka mengambil route sama seperti jalan raya yang ada di bawah mereka. Sesekali Adi mengambil terbang rendah di atas mobil sedan.

Martuani tidak banyak membantu dan hanya mengekor kemana Adi pergi. Dia tidak tahu tempat tinggal Ayu, dan mencoba bertanya kepada Adi. Sayang Adi hanya sibuk dengan pikirannya sendiri dan dengan kesal akhirnya Martuani menyerah. “Hhhh.. ini semua hanya gara-gara si Umar”, pikirnya. Umar adalah adik kecilnya, dan dia sedang berusaha menebus kesalahan Umar terhadap Adi.

Setelah beberapa lama mereka berada di udara malam yang dingin dengan perjalanan yang penuh liku, akhirnya mereka sampai di rumah Ayu. Itupun setelah meneliti satu per satu perumahan yang banyak terdapat di daerah Tiban. Dari atas udara, tempat tinggal Ayu tampak berbeda. Lampu terasnya sudah menyala, dan sepeda Iwan – adik Ayu yang baru kelas 2 SMP – masih tergeletak di luar rumah. Perumahan ini cukup ramai, tetapi walaupun begitu keadaan selalu sepi, terutama ketika magrib tiba. Anak-anak yang biasanya bermain di halaman tidak terlihat, yang ada hanya satu dua orang yang berjalan entah kemana.

Perlahan Adi turun ke teras rumah Ayu, dengan lembut Adi mendarat tepat di depan pintu pagar, di susul Martuani yang memilih bersembunyi di kegelapan. Pelan tapi pasti Adi melangkah ke arah pintu rumah. Masih cerah ingatan Adi ketika mereka berdua bercengkrama di teras cinta ini. Sesekali pak Ridwan – ayah Ayu – mengintip mereka dari dalam, dan membuat mereka berdua tertawa lucu. “Ah.. dimanakah dirimu Ayu?”

Sesampai ke depan pintu Adi mencoba mengetuk, tetapi suara ketukan tak terdengar sama sekali. Segera dia sadar bahwa dia tidak bisa menyentuh benda padat. Ingin rasanya dia menerobos masuk, tetapi rasanya tidak sopan. Dia mencoba mengetuk sekali lagi dan kembali gagal. Martuani yang melihatnya dari kegelapan tidak sabar, dan dengan segera dia mendekat.

“Kenapa tidak langsung masuk aja sih?”, keluh Martuani.

“Jangan ngagetin donk!”, Adi terkejut. “Apa kamu tidak bisa jalan”

“Kamu kan bisa menembus benda keras. Kenapa harus mengetuk pintu?”

“Tidak sopan tahu!”

“Alahhhh… ayo masuk!”

“Gak! Kamu ketuk pintu aja”

“Kalau kita mengetuk pintu orang akan ketakutan”

“Ajarin aku untuk supaya aku bisa mengetuk pintu”, ujar Adi yakin. “Mereka bisa melihatku karena aku masih hidup”

“Kamu harus mengumpulkan butiran air di jarimu dan bekukan agar menjadi es batu kecil-kecil. Kemudian kamu ketukkan ke pintu.”

“Gimana cara mengumpulkan butiran air, Apa aku harus ke kamar mandi?.”

“Udara malam mengandung kadar air lebih padat dibandingkan dengan siang. Karena itulah para roh gentayangan seperti kita lebih menyukai malam dibandingkan siang. Kita bisa mengendalikan air yang ada di udara.”

“Oh…gitu. Caranya?”

“Konsentrasikan kekuatan ke ujung jarimu. Awalnya mungkin sulit tapi setelah latihan lama akan lebih gampang”, ujar Martuani. “Tetapi sekarang biar aku yang mengetuk pintu”

“Tok…tok…tok…”, pintu berbunyi.

“Siapa?”, terdengar suara anak yang baru memasuki masa pubertas dari dalam. Adi tahu bahwa Iwan ada di dalam. Yang lain dimana ya?

“Aku, Adi”, jawab Adi. Martuani tahu bahwa jawaban Adi itu sia-sia karena pendengaran manusia jauh dibawah frekwensi suara roh halus seperti mereka. Hanya hewan seperti anjing yang bisa mendengar suara mereka.

“Siapa?”, pertanyaan yang sama terdengar kembali, kali ini dibarengi dengan langkah ringan menuju ke arah mereka berdua. Martuani segera hilang dan bersembunyi di tempat gelap.

“Ini aku Wan, Adi”

Beberapa saat kemudian, pintu mulai terbuka kecil. Terlihat Iwan mengintip dari sela-sela pintu dan melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak melihat ada orang yang berdiri, kemudian pintu dibukanya lebih lebar.

“Siapa? Hallooo”, Iwan mencoba mencari orang yang mengetuk pintu. Tetapi tak satu batang hidungpun tampak. Udara di teras lebih dingin dibandingkan tempat lainnya. “IIIHHHHHHHH”, Iwan jadi seram sendiri dan dengan tergopoh-gopoh dia lari ke dalam rumah, memperbesar volume suara televisi.

Adi yang sedang memasang wajah termanis yang dimilikinya menjadi heran melihat Iwan tak melihatnya berdiri di depan hidungnya. “Mungkin kemampuan menghilangku memang hebat”, pikirnya. “Aku harus belajar ilmu menampakkan diri”

Dia menoleh ke arah Martuani yang sedang berlindung di kegelapan dan mengajaknya masuk. Martuani mengisyaratkan untuk tetap di luar dan dia menyuruh Adi masuk ke dalam rumah dengan segera.

Adi menerobos masuk, dan dipandangnya suasana rumah yang sepi ini. “Ayu ada dimana ya?”, pikir Adi. “Mungkin ada di kamarnya”, ujar Adi sambil berjalan berjingkrak ke kamar Ayu melewati Iwan yang sedang menonton televisi sambil makan martabak. Iwan merasakan bulu kuduknya merinding dan ruangan tamu menjadi dingin. Ia mengambil remote control dan memperbesar lagi volume televisi sehingga suaranya menyebar ke seluruh ruangan, untuk menghilangkan rasa takut yang menyergapnya. Adi menerobos masuk pintu kamar Ayu, dan berharap wajah sang kekasih ada di sana. Tetapi yang ditemukannya hanyalah keheningan dan suasana dingin yang menyelimuti kamar Ayu. Semerbak wangi bedak dan parfum yang biasa Ayu pakai tercium menerawang. “Ayu, kemanah kamu?”, bisik Adi. Dia melihat sekeliling kamar indah ini. Beberapa hadiah yang diberikan Adi masih tersimpan rapi dan terawat. Terlihat sebuah foto saat mereka berdua berlibur ke Pantai Marina bersama kawan-kawan di atas meja rias. Adi tersenyum mengenang saat itu.

Adi mencoba meraih photo itu tetapi sayang dia tidak bisa mengangkatnya. Dia mencoba ilmu yang diajarkan Martuani dan berkonsentrasi mengumpulkan udara agar lebih padat di sekitar tangannya dan kemudian dia mencoba lagi meraih photo itu, tetap tak berhasil. Sekali lagi dicobanya, kali ini dia berkonsentrasi lebih keras dan mencoba menyentuh photo itu dan “PRANK……”, photo itu jatuh dan pecah.

“BUNDAAAAA….!!! ADA HANTUUUUUUUUUUUU………!!!.”, terdengar Iwan dari luar kamar dan berlari ke halaman rumah sambil berteriak, membuat tetangganya gempar. Adi mencoba menyusul dan mengatakan bahwa dia bukan hantu, tapi Iwan telah sampai di luar rumah, membiarkan televisi menyala dengan nyaring dan pintu terbuka lebar.

“Ada apa Wan?”, tanya salah seorang tetangganya yang sering mereka panggil Tante Rina. Menurut Ayu, Tante Rina adalah orang yang baik terhadap keluarga mereka dan sudah dianggap saudara mereka sendiri. Orangnya memiliki perawakan subur dan pintar memasak.

“DI KAMAR KAK AYU ADA HANTU TANTE”

“Ah kamu ada – ada aja”, celetuk tetangga lainnya.

“BENER!. Tadi ada suara mengetuk pintu, waktu Iwan buka ternyata orangnya tidak ada. Iwan pikir itu cuma suara angin. Tapi Iwan merasa merinding juga. Eh tiba-tiba ada bunyi sesuatu yang jatuh dan pecah di kamar kak Ayu. Iwan takut tante.”

“Sudah. Kalau begitu Iwan di rumah tante aja. Sebelumnya kita matikan televisi dan tutup pintu”, ujar tante Rina bijak sambil menggiring Iwan ke arah rumahnya.

“Temenin ya tante”

“Iya tenang ya. Bunda dan ayah masih di rumah sakit?”

“Iya tante. Nanti pukul sembilan baru pulang”

“Kalau begitu Iwan di rumah tante sampai Bunda dan Ayah datang”

Tante Rina dan Iwan menutup pintu dan mematikan televisi. Tak lupa mereka mengintip ke kamar Ayu, dan terlihat photo Ayu dan Adi jatuh dan pecah di lantai. Wajah Iwan menampakkan rasa takunya, dan Tante Rina pun terkejut, dan berusaha menenangkan hatinya sendiri sambil berkomat-kamit. Para tetangga yang tidak percaya berusaha membuat penilaian lain. “Mungkin karena angin yang bertiup atau karena suara televisi yang telalu besar”, ujar mereka. Mereka kemudian membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing, dengan pertanyaan yang tertinggal di benak mereka.

Sementara itu Adi dan Martuani sedang berlindung di kegelapan. Suasana kembali sunyi hanya nyanyian jangkrik yang mulai terdengar menemani mereka. “Apakah Ayu sedang sakit?”, tanya Adi dalam hati. “Ataukah dia bersama orang tuanya sedang mengunjungi orang sakit? Atau dia sedang keluar bersama kawan-kawannya?” Pertanyaan itu berkecamuk di dalam diri Adi. Adi tidak bisa menjawab semua itu selain menunggu kabar dari orang tuanya. Dia tidak ingin menakuti Iwan, yang dilakukannya hanyalah menunggu sampai kedua orang tua Ayu pulang dan memberikan kabar tentang Ayu pada dia.

“Mar, aku harus menunggu kabar Ayu di sini. Mungkin Ayu sedang sakit”, ujar Adi kepada temannya. Martuani memandang Adi dengan mata iba, karena tahu Ayu memang sedang sakit. Tetapi dia tidak bisa memberi tahukan hal ini kepada Adi, karena itu berarti akan mengungkapkan rahasia Martuani.

“Iya. Aku akan tetap menemani kamu, lagi pula sebagai roh aku tidak memiliki banyak kegiatan. Aku cuma minta kamu jangan membuat orang kaget lagi. Sudah kukatakan kepadamu kalau kamu adalah roh gentayangan bukan manusia super”

“Aku masih hidup Mar. Aku masih belum mati. Cuma karena aku baru memiliki kemampuan ini, aku belum bisa mengendalikan kekuatan ini, itu saja”, ujar Adi keras kepala.

“Terserah kamu deh. Yang penting jangan membuat orang ketakutan lagi. Janji?”

“Oke Guru”, ujar Adi sambil bercanda.

Waktu berjalan bagai kura-kura. Malam mulai mendekati remaja, dan suasana sunyi semakin senyap. Cuaca mulai dingin dan malam gelap tanpa bulan, membuat Adi dan Martuani semakin merasa aman bersembuyi di balik dinding rumah Ayu. Sesekali Adi mengintip ke depan, sayang orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.

“Ayu, dimana kamu?”, Adi mendesah penuh rindu.

Samar-samar suara sepeda motor menggerung mendekat. Adi sangat mengharapkan agar suara itu adalah suara sepeda motor orang tua Ayu sehingga penantian mereka tidak memakan waktu lebih lama lagi. Suara gerungan semakin mendekat dan berhenti tepat di depan rumah. Dengan sigap Adi melompat ke atas atap rumah yang gelap, dan dari atas dilihatnya wajah letih orang tua Ayu yang sedang memasukkan motornya ke dalam teras rumahnya.

“Gimana dengan nasib Ayu ya Yah??, sudah hampir satu minggu dia di rumah sakit. Tidak ada perubahan sama sekali.”, terdengar suara Bunda bernada sedih. Adi terkejut, “Ternyata sudah hampir satu minggu Ayu menginap di rumah sakit. Selama itukah aku tidak menjumpai Ayu? Mengapa aku bisa lalai dan tidak tahu keadaanya?”

“Entahlah Bunda. Dokter sudah berusaha dan mereka tidak memberikan kabar yang menggembirakan. Ayu tetap tidak sadarkan diri”, suara lirih terdengar.

“Bagaimana kalau Ayu kita bawa pulang saja Yah?” tanya Bunda. “Biaya pengobatan semakin membengkak saja, dan pelayanan mereka pun tidak memuaskan. Dasar rumah sakit pemerintah” suara bunda menggerutu.

“RUMAH SAKIT PEMERINTAH?!”, Adi terhenyak. Salah satu genteng berderak ketika Adi meloncat menuju persembunyian Martuani. “Mar, mari kita ke Rumah Sakit Otorita Batam! Ayu ada di sana. Dia sedang dirawat”

“Oke”

“Thanks Mar”

Mereka berdua melompat dan terbang tinggi menuju rumah sakit otorita batam. Terbayang wajah Ayu terbaring lesu di atas dipan. Membayangkan itu, hatinya teriris dan merasa bersalah.

“Maafkan aku sayang, karena telah melalaikanmu”, ujar Adi lirih.

~ oleh syaifi di/pada Juli 26, 2008.

2 Tanggapan to “Kisah Adi dan Ayu (#3)”

  1. Cerita anda menarik perhatian saya. Akan saya siarkan di Google Gadget saya.

    Google Gadget boleh ditempatkan di laman blog. Pelayar internet boleh membaca ringkasan cerita di Google Gadget, namun harus ke laman blog asal untuk membaca cerita penuh.

    Anda juga boleh lihat cerita anda disiarkan dengan menyalin kod Gadget dan tempatkan di blog ini.

    Maklumat lanjut di Sesiar B3Lima

    Teruskan menulis.

  2. Thanks.

Tinggalkan Balasan