Kisah Adi dan Ayu (#2)

“Ayu!”

Adi terbangun dari tidurnya, dan mendapatkan dirinya sedang berdiri di pinggir jembatan Sei Ladi menikmati senja. Dengan penuh tanda tanya, dia menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan, dan dia tetap tidak mengerti mengapa bisa sampai di tempat ini secara tiba-tiba. Adi menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dirinya tidak berada dalam dunia mimpi, tetapi pemandangan di hadapannya tetap sama. Di sebelah kanan dan kirinya banyak orang berkumpul melihat pemandangan Sei Ladi yang disinari matahari kuning keemasan di sebelah barat.

“Ayu…”

Adi mencari-cari sebuah wajah yang selalu menghiasi mimpinya selama ini, tapi sayang wajah itu tidak ada di kerumunan orang – orang ini. Dia tidak habis pikir mengapa bisa sampai di tempat ini tanpa Ayu. Adi berjalan menyusuri jembatan Sei Ladi dari ujung yang satu ke ujung dengan perlahan mencari wajah kekasihnya itu, namun tetap tak ditemukan. “Mungkin aku memang tidak bersamanya hari ini”, guman Adi menyerah. “Aku nikmati saja senja bersama orang-orang asing ini dan akan kuajak Ayu suatu saat nanti. Pasti!”

Adi memandang matahari yang memerah di sebelah barat. Sungai tenang memantulkan cahaya indah matahari senja membuat orang terbawa keindahan anugrah yang kuasa. Di kejauhan terlihat beberapa orang memancing ikan sambil bercanda. Sementara di pinggir jembatan ini, beberapa pasangan sedang bercengkrama dihiasi siraman cahaya cinta di antara mereka yang membuat Adi menyesal tidak membawa serta Ayu menikmati suasana romantis ini. Hanya segelintir orang yang datang dalam kesendiriannya, seperti Adi saat ini yang membuat Adi tambah menyadari bahwa Ayu adalah belahan jiwanya.

“Selamat bergabung, Mas”, sebuah suara menyapanya dengan sopan dari belakang Adi. Adi segera menoleh dan dilihatnya seorang pemuda sebaya dengan dirinya. Pakaiannya bersih berwarna putih tanpa noda seperti terlihat pada iklan detergen yang ditayangkan di televisi. Adi membalas senyum lelaki itu.

“I…iya”, ujar Adi. “Terima kasih, Mas…?”

“Martuani”, jawab lelaki itu memperkenalkan diri, “panggil saja begitu”

“Namaku Adi. Sore yang indah”, tambah Adi mencairkan suasana sambil berjabat tangan. “Aku tidak pernah menyadadri keindahan senja jembatan Sei Ladi seperti ini.”

“Hari ini memang indah sekali. Udara sejuk dan matahari senja adalah pasangan serasi yang serasi untuk dinikmati”

“Mungkin saya harus lebih sering ke sini. Memang kadang-kadang kita tidak bisa menikmati keindahan yang telah ada di sekitar kita. Kerap kita mencari sesuatu yang jauh padahal di pelupuk mata ada yang lebih Indah”

“Ya, bener sekali. Ngomong-ngomong kamu ke sini sendirian?”

“Iya begitulah kira-kira, aku pun bingung mengapa bisa ada di sini.”

“Oh itu biasa, bagi orang-orang baru seperti kamu. Aku ketika pertama kali sampai ke dunia bagian ini bingung juga, seperti meloncat dari suatu tempat yang jauh dan berakhir di sini.”

“Tepat Sekali. Aku merasakan hal itu sekarang. Bahkan aku tidak tahu dimana saya parkirkan kendaraan saya”

“Kamu tidak memarkirkan kendaraan Adi, kamu adalah orang yang baru saja meninggal Adi”

“Hah! Apa maksudnya Mar?”

“Ya! Kamu adalah roh yang gentayangan Adi”

“Ah! Tidak mungkin Mar. TIDAK MUNGKIN!”, Adi bersikeras.

“Perhatikan sekeliling kamu”, ujar Martuani dan Adi memandang sekelilingnya, menurutnya tidak ada suatu pun yang aneh.

“Pakaian yang kita gunakan hanya berwarna hitam dan putih bukan?”

Memang benar kata Martuani, pakaian mereka berwarna hitam atau putih. Adi pun mengenakan pakaian berwarna putih, yang tidak pernah dimiliki oleh nya. “Mungkin aku pernah memberli baju putih ini dan lupa mengenakannya”

“Coba kamu lihat ke ujung jembatan, kamu akan lihat perlahan-lahan orang akan hilang dari pandangan”, Martuani menambahkan sambil menunjuk ujung jembatan.

Adi memperhatikan ujung jembatan, dan dilihatnya beberapa orang meninggalkan jembatan ini hingga menghilang di kejauhan. Tidak ada yang aneh, dan Adi menggelengkan kepalanya karena hal itu merupakan hal biasa. Pandangan manusia memang ada batasnya karena jalan raya setelah jembatan ini tidak rata, dan tentulah orang tidak akan kelihatan dari kejauhan.

“Coba kamu pegang jantungmu, rasakan detaknya”

Adi meletakkan telapak tangannya di dadanya dan membiarkannya sejenak untuk mencari detak tanda kehidupan. Tapi Adi tidak bisa merasakan detak itu, Adi mulai merasakan hal yang tidak biasa dan mencoba memegang urat nadi di tangannya di sana pun tidak dirasakan aliran darah. Adi mulai cemas kuatir perkataan Martuani adalah kenyataan yang dihadapinya sekarang ini.

“Ada detaknya?”, tanya Martuani, Adi mengggelengkan kepala dengan mata tak percaya.

“Itu tandanya kamu sudah mati”

“Tidak…tidak…tidak mungkin”, Adi tidak percaya. “TIDAK MUNGKIN!”

“Terimalah kenyataan. Kamu sudah meninggal”

“Tidak….!”, Adi berlari menjauh dari Martuani dan menyeberang jembatan. Sebuah mobil sedan melaju dengan kencang dan Adi terjebak di tengahnya. Adi berusaha menghindar tapi tidak sempat karena sedan itu terlalu dekat. “Kali ini aku benar-benar mati”, pikirnya. Sedan pun menabrak Adi, tetapi Adi sama sekali tidak merasakan apa-apa kecuali angin lalu yang terasa menandakan sedan sudah melewatinya. Adi jadi terkejut, matanya melotot dan mulutnya ternganga tak percaya. “Aku masih hidup dan aku memiliki bakat baru, Hebat!” Adi melompat-lompat kegirangan. Dia yakin dia masih hidup dan memiliki kemampuan di luar batas manusia biasa. “HEBAT!”

“Kamu sudah meninggal Adi”, ujar Martuani lagi mendekati Adi yang sudah sampai di seberang jembatan.

“Jangan katakan itu lagi. Aku masih hidup, aku memiliki kemampuan baru. Dengan kemampuan ini aku akan mencari Ayu”

“Kamu terlalu banyak menonton Film. Aku juga memiliki kemampuan yang sama dengan kamu karena kita sudah mati. Bahkan orang-orang yang dipinggir jembatan itu juga”, Martuani menunjuk orang-orang yang berdiri di sekeliling mereka.

“Dengan kemampuan ini, aku bisa pergi kemana saja tanpa takut celaka. Aku mau mencoba terbang seperti Superman”, Adi tidak mendengarkan ucapan Martuani dan dia meloncat dan … dia terbang ke angkasa. “Aku bisa terbang!”

Adi berputar-putar di atas Sei Ladi memandang ke bawah. Dia sangat menyukai kemampuan super yang baru saja dimilikinya. “Aku manusia super! Cihuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…”

“Adi!”, Martuani menyusul terbang. “Kamu bukan manusia super, tapi manusia yang sudah mati!”

“Kalau mati seperti ini enaknya, aku memilih mati saja!”, Adi terbang menjauh dari Sei Ladi menuju Nagoya. Ia ingin melihat Nagoya dari atas. Martuani menyusul dengan cepat, dia mengkuatirkan Adi.
“Ngaco kamu!. Adi! Kita tidak boleh ke daerah Nagoya dan Jodoh”

“Kenapa? Kita manusia super, tidak perlu takut apapun”

“Ini wilayah Romo Suryo, Raja Jin yang menguasai perjudian, pelacuran dan preman di daerah ini”

“Kamu kalau jadi orang jangan percaya sama Jin. Kita adalah manusia yang memiliki kemampuan luar biasa. Kita tidak akan celaka di sini, tidak ada yang bisa menyakiti kita”, mereka berputar-putar di atas Nagoya dan Jodoh. Adi tidak peduli dengan apa yang dikatakan Martuani.

“Hhhhh…”, hampir putus asa Martuani menjelaskan. Kalau saja dia bukan karena adiknya, dia tidak akan ambil peduli dengan pemimpi keras kepala yang satu ini. Dikejarnya Adi dan ditariknya untuk menjauh dari darah Nagoya dan Jodoh.

“Kamu tidak mengerti! Kamu sudah mati dan roh kamu gentayangan. Kalau kamu bertemu dengan Romo Suryo, kamu akan dibuat menjadi salah satu anak buahnya. Kamu akan gentayangan hingga akhir jaman nanti. Dan itu menyakitkan!”

“Aku suka jika seperti sampai akhir jaman. Aku Immortal”

“Sembarangan kamu”

“Memang Romo Suryo sejahat apa sih sampai kamu takut seperti itu”

“Dia adalah Raja Jin yang datang dari Jawa dan menguasai lokasi kekuatan jahat di daerah sini. Daerah Nagoya dan Jodoh merupakan sarang Komplotan Romo Suryo, tidak seorangpun berani menentangnya”

“Emang bentuknya seperti apa sih?”

“Romo Suryo memiliki dua tanduk di kepalanya, wajahnya berbentuk banteng bermata merah dengan dengusan nafas panas yang selalu menghembus dari hidungnya. Badannya tinggi dan kekar dan tangannya yang memiliki tentakel seperti tentakel gurita”

“Hah?!”, ucap Adi. ”“Memang kita tidak bisa melawannya?”

“Romo Suryo adalah jin yang dipuja oleh manusia – manusia sesat. Kehidupannya tergantung pada puji-pujian dari manusia sesat itu”, ujar Martuani. “Semakin banyak orang yang memujinya, semakin kuat posisinya di kalangan Jin”

“Aku tidak takut!”

“Kamu harus takut. Jin itu bisa memaksamu menjadi hambanya seumur hidup, sama seperti manusia yang menghambanya. Manusia yang selama ini menghamba Romo Suryo dan kemudian mati, akan langsung menjadi budaknya hingga kiamat tiba”

“Bukankah kita harus melawan Romo Suryo?”

“Tidak bisa!”

“Kenapa?”

“Sebagai roh yang gentayangan, kamu tidak memiliki waktu banyak di dunia persinggahan ini. Nikmatilah, jangan sampai kamu menjadi salah seorang pasukan kejahatan Romo Suryo”, Martuani menasehati, “Lagipula, kamu harus berpamitan dengan kekasihmu”

“Ayu?!”, Adi tersentak sebentar, tersadar bahwa dia harus mencari Ayu dengan segera. Dengan kemampuan seperti ini dia bisa terbang langsung ke rumah Ayu. Tanpa pikir panjang Adi melaju ke rumah Ayu di Tiban. Martuani mengiringinya, sementara itu malam mulai tiba.

Sebagai manusia yang memiliki kemampuan khusus seperti ini, Adi merasa bebas untuk pergi kemana saja dan kapan saja. Martuani, teman barunya yang sudah memiliki kemampuan yang sama lebih dulu akan menjadi pembimbingnya dalam mempelajari anugrah yang diberikan padanya. Adi memikirkan proses mendapatkan kekuatan seperti ini, tapi tak satupun yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Ah andaikan Ayu tahu dia memiliki kekuatan seperti ini, akan dibawanya Ayu terbang tinggi melihat kota dari atas awan, tentu menggunakan mantel tebal supaya tidak masuk angin. Alangkah indahnya…

~ oleh syaifi di/pada Juli 23, 2008.

Tinggalkan Balasan