Kisah Adi dan Ayu (#1)
Hari menunjukkan pukul 12 malam, Kota Batam mulai sepi kecuali tempat hiburan yang masih dikunjungi oleh para penikmat malam. Pedagang asongan menjajakan dagangannya hingga pagi mengais rejeki yang tak seberapa demi hidup di esok hari. Sebuah discotique terkenal di daerah jodoh mulai dialiri darah segar dan tak ketinggalan pengunjung Pub dan Cafe sekitar Nagoya pun meramaikan suasana romantis malam minggu. Hanya bioskop yang mulai tampak sepi ditinggal penonton film terakhir.
Dua anak manusia – Adi dan Ayu – baru saja pulang dari bioskop. Dikeremangan lampu jalan, mereka mengendarai sepeda motor merah membelah malam. Jalanan terlihat sepi, hanya segelintir orang beraktifitas di persimpangan lampu merah, menjajakan dagangan. Tak lupa pula waria nakal menggoda para lelaki yang sedang menunggu lampu hijau.
“Aku mencintai kamu Ayu”, ujar Adi ketika mereka berhenti di lampu merah Simpang Jam. Adi sengaja mengambil jalan memutar agar bisa lebih lama sampai di rumah Ayu. Sejak pertemuan pertama dengan Ayu, Adi sudah merasakan getar kasih sayang dan cinta yang tidak terbendung hingga kini. Kunjungan Adi ke rumah Donny saat itu ternyata membawa berkah pertemuan dengan Ayu yang berwajah bagai putri khayangan sesuai dengan nama yang disandangnya. Sesaat Adi terpesona dan membeku ketika melihat sosok sempurna yang ada di hadapannya.
“Aku juga sayang kamu Adi”, jawab Ayu dengan rona yang bahagia yang tak ketara tertutup gelapnya malam. Ayu merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia saat ini. Walaupun pertemuan pertama mereka tidak terlalu mengesankan, pertemuan – pertemuan selanjutnya merupakan momen yang tidak terlupakan, hingga mereka sepakat merajut tali kasih di antara mereka setahun lalu. Ayu sudah bulat akan menjadikan Adi lelaki terakhir dalam hidupnya, dan dia sangat yakin jika Adi akan menjadikannya wanita terakhir dalam hidup Adi.
“Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa kamu”, Adi berkata jujur. Setiap langkah yang diambil oleh Adi selalu membayangkan langkah yang seiring dengan Ayu. Dalam tidur, Ayu selalu berada di dalam kisah episode mimpi Adi. Mereka berdua memang tidak terpisahkan.
“Aku bahkan membayangkan kamu di setiap kedipan mataku”
“Aku lebih memilih mati daripada berpisah dengan kamu, sayang”
“Kematian tidak akan memisahkan kita”
“Ya!, kematian akan menjadi awal keabadian kita bersama”
“Sayang, lampu sudah hijau”
Adi menjalankan sepeda motornya dengan santai. Dia tidak ingin cepat berpisah dengan Ayu, apalagi malam ini adalah malam panjang. Sayang waktu tidak berpihak pada mereka berdua, janji mengantar Ayu setelah nonton film harus ditepati. Walaupun orang tua Ayu sudah mempercayai mereka bisa menjaga diri, mereka tetap harus mengikuti aturan umum berhubungan yang tidak melangkah terlalu jauh sebelum waktunya dan menghianati kepercayaan yang telah terbina.
Motor melaju dengan lambat menuju perumahan Tiban, yang terletak di sisi lain dari pulau kecil ini. Untuk menuju ke perumahan tersebut, Adi dan Ayu harus melewati sebuah jembatan yang membelah Sungai Ladi. Jembatan itu tidak terlalu panjang, untuk melewatinya hanya dibutuhkan waktu satu menit. Hanya saja, pada malam hari jembatan itu agak gelap. Lampu jalan di kedua sisi jembatan tidak dapat menghapus kelamnya malam.
Banyak cerita misteri yang menyelimuti jembatan Sei Ladi ini. Mulai dari kisah orang membuang bayi, membuang mayat bahkan bunuh diri. Kata salah seorang polisi tetangga Adi, Sei Ladi memang tempat membuang mayat ketika masih belum digunakan dulu. Bahkan mobil salah satu teman Adi pernah mogok di tengah jembatan angker ini tanpa sebab apapun.
Adi tidak mempercayai hal-hal yang demikian, dia lebih suka berpikir realistis. Yang namanya angker hanyalah ilusi manusia yang sedang dilanda ketakutan atau sejenisnya. Tetapi tak urung ketika mereka sampai di jembatan ini, rasa takut pun singgah dan membuat bulu kuduknya berdiri. Andi tak mampu menghilangkan pikiran buruk mengenai jembatan ini, sehingga dia mulai menjalankan sepeda motor lebih kencang.
“Hati-hati Mas”, ujar Ayu ketakutan.
“Tenang saja. Mas agak serem kalau lewat sini tengah malam gini”
“Adduhhh mas. Pelan-pelan saja”
“Iya”
Ucapan Ayu tidak digubris Adi, sepeda motornya berlari lebih kencang lagi. Ayu memeluk erat pinggang Adi, kuatir melayang di terpa angin. Angin malam yang dingin, menusuk kulit hingga ke tulang, dan Adi terus melarikan sepeda motor dengan kencang.
“Sebentar lagi sampai di seberang”, pikir Adi. Waktu satu menit tidak lama kalau dalam kondisi biasa, tetapi dalam kondisi malam yang gelap seperti ini satu menit serasa satu hari.
Tiba-tiba, Adi melihat seorang kakek renta melintas di depan sepeda motornya. Adi langsung membanting roda ke kanan.
“AAAAAHHHHHHHHHHHHHHHH…………….”
Sepeda motor berguling-guling di jembatan sepi itu hingga beberapa meter, Adi terlempar dari motor dan mendarat telentang di aspal hitam dengan kepala menghamtam trotoar dan mengeluarkan darah yang banyak, sementara Ayu jatuh berguling-guling di tengah jalan, hingga tubuh halusnya menyentuh trotoar, matanya tak terbuka, mulut mengeluarkan darah.
Adi masih bisa melihat langit yang makin lama makin redup di matanya. Dia berusaha bangkit ingin menolong kekasihnya tetapi tak kuasa.
“Ayu..”
Pelan tapi pasti kesadaran Adi mulai tenggelam ditutupi oleh kelamnya kegelapan yang menyatu dengan malam. Menutup mata adalah pilihan bijak menyambut gelap, hingga kesadaran perlahan hilang. Kengerian di tengah jembatan terjadi hanya dalam hitungan detik saja, menyisakan raungan suara sepeda motor yang masih menyala, menunggu para penolong tiba.
“Kakek tua itu dimana ?” itulah pertanyaan Adi sebelum menutup mata.

Tinggalkan Balasan