Deklamasi Kemerdekaan (#4)
Deklamasi
Saat – saat pementasan sudah di pelupuk mata. Panggung besar dan luas berdiri gagah di depan sekolah, dihiasi dengan spanduk dan backdrop berisi kalimat suka cita menyambut hari kemerdekaan dan doa demi masa depan Indonesia. Sementara itu pohon pinang sudah berdiri tegak agak jauh dari panggung, sayang hadiahnya belum digantung dan lapisan pelicin pun belum dioles. Menurut Pak Udin, pohon itu akan dioles dan dihias hadiah setelah upacara agustusan biar tidak rusak, dan siap sebelum acara pentas seni dimulai. Garis pembatas rute perlombaan balap karung pun sudah dibuat menggunakan tali rapia, demikian pula tali tambang untuk pertandingan tarik tambang pun sudah disiapkan.
Aku grogi dan tidak bisa diam sejak pagi. Puisi yang akan kubawakan nanti sore berkali-kali kubaca dan selalu saja ada yang salah. Memang aku bukan orang yang suka menghapal. Emak mengerti keadaanku, tetapi beliau tidak bisa banyak membantu selain memberikan semangat yang sudah kudengar berulang kali. Sore ini, emak tidak bisa menonton dan kuharap bapak akan melihatku penampilanku, walaupun aku tidak terlalu yakin beliau bisa datang.
Beberapa kali teman sekampungku mengajak bermain sepak bola dan terpaksa kutolak karena aku harus bersiap untuk acara nanti sore. Aku lebih suka di rumah latihan berpuisi supaya tidak ditertawakan penonton dan membuat aku malu. Berkali-kali ku coba mempraktekkan gaya berpuisiku di depan kaca dan menurutku selalu saja ada tidak sempurna.
Pada jam dua sore aku sudah siap dengan pakaian pelautku yang sudah diambil emak beberapa hari lalu. Rambut kucelku di beri minyak supaya rapi dan baunya membuatku mau muntah hanya karena acara pentas seni aku harus rela rambutku diolesi minyak rambut.
“Nanti kalau tampil harus berani ya. Kalau takut jangan lupa baca bismillah”, ujar emak sambil menyisir rambutku.
“Iya mak”, ujarku. “Tapi aku belum hapal”
“Tenang saja. Baca pelan-pelan dan pahami apa yang kamu baca”
“Sudah dicoba mak, tapi tidak ada yang nyangkut di kepala. Lupaaa semua.”
“Nanti juga bisa”, ucap emak sambil merapikan pakaianku dan membuant beberapa benang yang masih menempel. “Nah selesai, kamu segera berangkat.”
“ ‘Kan masih lama mak”
“Satu jam tidak lama. Nanti kamu harus lapor ke ibu guru dulu dan ibu guru akan mempersiapkan pementasannya. Kamu harus melihat kapan kamu tampil”
“Tapi mak…”
“Sekalian kamu menonton orang lain tampil. Biar kamu tahu”, emak memotong apa yang akan kuucapkan. “Pergi sana!”
Dari kaca kulihat rambutku rapi mengkilat seperti orang malam mingguan nonton dangdut. Baju pelaut yang kubanggakan berwarna putih dengan strip hijau di lehernya yang lebar hingga ke belakang mirip dengan baju popeye sudah terpasang rapi. Sepatu lebaran berwarna hitam sudah mengkilat disemir menggunakan semir bapak. Jantungku semakin tegang dan tanganku kembali menjadi dingin.
“I..iya mak”
Aku melangkah ke luar rumah dan berjalan menuju sekolah. Kali ini aku tidak mau lama – lama di jalan, sebab aku harus terus bersiap-siap dan menghapal bait – bait puisi yang akan kubaca nanti, sehingga aku memilih jalur singkat melalui jalan setapak di sebelah kiri rumah besar. Kuharap anjingnya tidak menggongong padaku apalagi mengejarku.
Di perjalanan kulihat Kumang dan Ambo tidak jadi bermain bola. Mereka ingin ikut denganku dan tentu dengan senang hati aku mengabulkannya. Kuharap kalau anjing rumah besar mengejar, anjing itu akan memilih mengejar mereka daripada mengejarku.
Kumang dan Ambo adalah teman baikku yang tinggal di sebelah. Mereka tidak sekolah TK seperti aku, orang tua mereka akan menyekolahkan mereka langsung ke Sekolah Dasar. Menurut ibunya, sekolah TK tidak ada gunanya dan menghabiskan biaya. Kami bertiga adalah sahabat baik dan sering membuat kapal-kapalan dari dahan pohon sagu dan menambatkannya itu di parit belakang rumah.
“Hati-hati, rumah itu ada anjing galak”, ujarku kepada Kumang dan Ambo ketika melewati rumah besar. Mereka terdiam sebentar dan kami melangkah pelan ke arah rumah yang berwarna putih itu. Kumang dan Ambo bersiap mengambil batu-batu kecil di jalanan. Mereka akan melempar batu ke arah anjing itu jika berani mengejar kami. Hal itu cukup menghibur walaupun aku lebih memilih tidak dikejar anjing sama sekali. Di tengah rumputan ilalang pendek kami berjalan pelan-pelan dan berhati-hati. Sebenanya ada orang lain yang berjalan menuju ke sekolah dan mereka tidak takut sama sekali. “Mungkin mereka tidak tahu betapa galaknya anjing itu”, pikirku. Aku yang tahu harus berhati-hati supaya tidak dikejar dan terkencing di celana dan membuat acara deklamasiku bubar dan tidak mendapatkan hadian dari bu Tini.
Dari balik pagar tanaman yang membatasi rumah dengan jalan setapak ini, aku mengintip ke dalam sambil terus berjalan dengan pelan. Langkah kami semakin hati-hati dan pelan sekali, hingga tiba – tiba ”GUK….GUK…GUK”, kami mendengar suara anjing mengonggong. Aku segera berlari sekencang-kencangnya tak menoleh ke kiri atau ke kanan, menyelamatkan diri dari anjing itu. Kumang dan Ambo langsung membuang batu di tangannya ikut berlari bahkan lebih cepat dari aku. “Apa gunanya batu di tangan kalau tidak untuk mengusir anjing”, pikirku. Beberapa kali aku hampir jatuh, tapi untunglah aku bisa menjaga keseimbanganku hingga baju pelautku tidak terlalu kotor. Aku ketinggalan di belakang, sementara suara anjing mengonggong masih terdengar, walaupun sudah mulai samar. Orang-orang melihat kami bertiga berlarian dan menganggap kami bermain kejar-kejaran. Aku terus berlari hingga akhirnya sampai di depan sekolah. Tidak kulihat seekor anjingpun yang mengejar kami, walaupun suara gonggongnya masih terdengar. Rupanya anjing itu hanya menggonggong tidak mengejar kami, karena terikat dengan rantai dekat kandangnya. Untunglah aku tidak terkencing di celana. “Hhhhhhhhhhhhhh…”, aku menarik nafas panjang, demikian pula Kumang dan Ambo. Kami pun tertawa lucu menertawakan kelakuan kami sendiri. Saatnya berkonsentrasi pada acara.
Para penonton dan peserta sudah padat memenuhi lapangan sekolah kami. Orang-orang yang berjualan pun ikut berpesta menjajakan dagangannya. Penjual rokok keliling telah duduk di depan kotak rokoknya, dan tak lupa pedagang bubur tahu nongkrong lebih dekat dari biasanya. Banyak yang mengerubuti penjaja tahu itu, karena tahunya enak sekali.
Aku melapor kepada ibu Tini bahwa aku sudah datang, dan sebuah permen lolipop disodorkan kepadaku. Kami diminta berkumpul di belakang panggung menunggu panggilan pembawa acara yang berarti harus berpisah dengan Kumang dan Ambo. Permen lolipop kuberikan kepada mereka berdua dan mereka pergi menyelinap ke depan panggung.
Acara pentas seni diawali dengan acara seremonial yang membosankan. Pidato pak Lurah diikuti dengan laporan ketua panitia acara dan acara sambutan lainnya. Kami yang ada di belakang panggung menunggu dengan perasaan yang tidak karuan. Jantung berdebar dan tangan yang kembali dingin menjadi bagian dari kami. Aku, Nasri dan Agus berusaha menghilangkan rasa ini dengan cara bercanda.
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba, dan membuat jantungku berdetak lebih kencang dan telapak tanganku menjadi lebih dingin dari biasanya. Acara inti dimulai dengan menampilkan Andri yang membawakan lagu LSD, diteruskan dengan nyanyian anak-anak lainnya yang dikombinasikan dengan tarian.
“Acara berikutnya akan diisi oleh Syaifi yang membawakan Deklamasi Tukang Pos, tepuk tangan”, suara pembawa acara membahana ke seluruh lapangan.
Aku terkejut merasa tidak siap dan langsung melarikan diri ke toilet di belakang sekolah. Aku tidak akan mampu berdiri di atas panggung ditonton puluhan bahkan ratusan pasang mata serta berbuat kesalahan di atas sana. Aku tahu aku sudah mati-matian menghapal isi deklamasi itu, tetapi aku tidak mampu membacakannya di atas panggung. Aku takut dan tidak peduli dengan hadiah. Aku akan bersembunyi di tolet kami yang bau dan tidak pernah disiram.
“Adik Syaifi, silakan naik ke pentas”, kudengar pembawa acara masih memanggilku agar aku berani naik ke atas. Aku terus bersembunyi menunggu panggilan berhenti.
Setelah beberapa kali memanggil dan tidak berhasil, akhirnya merekan menyerah kalah dan melanjutkan ke acara berikutnya yang diisi dengan pembagian hadiah hiburan kepada penonton yang berani tampil ke atas pentas. Aku lega dan keluar dari tempat persembunyianku dengan tenang.
“Aman…”, pikirku.
Aku kembali ke belakang panggung, dan menghirup udara kebebasan. Dari jauh kulihat beberapa temanku memperebutkan hadiah dari bu Tini, aku segera berlari dan ikut dalam perebutan itu. Tiba-tiba bu Tini berkata:
“Nah ini dia Syaifi. Kemana saja kamu ?”, tanya bu Tini. “Sekarang kamu naik pentas ya, nanti baru dikasih hadiah”
Aku terkejut dan merasa tidak aman lagi, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. tanganku ditarik dan dibawa ke atas panggung ketika acara pembagian hadiah selesai. Dari atas pentas, kulihat penonton berdesakan ingin menonton lebih dekat. Kumang dan Ambo temanku berada di barisan paling depan, berdiri sambil tersenyum. Telapak tanganku dingin kembali, jantungku berdetak lebih kencang dan sekujur tubuhku gemetar. Kulihat Bang Latif – abang sepupuku – menontonku dengan senyum mengembang memberi dukungan dan aku sedikit lebih tenang.
“Sekarang mari kita dengarkan adik kita Syaifi membawakan deklamasi yang berjudul Tukang Pos”, ujar pembawa acara diikuti dengan tepuk tangan para penonton.
Aku terdiam, bibirku kelu tak bisa berbicara dan membisu di atas panggung. Orang-orang menungguku membuka mulut, sementara bang Latif memberikan semangat melalui matanya yang hangat. Aku menjadi lebih berani.
“Tukang Pos”, mulutku mulai berbicara
Tukang Pos
Aku tukang pos
Pergi pagi pulang petang
Membawa surat dan juga barang
Bila ku datang banyak yang senang
Namun ada pula yang jadi meradang
Aku tukang pos
Kuantar surat sampai tujuan
Pamrih dan imbalan tak kuharapkan
Senyum dan terima kasih yang kudapatkan
Bagi diriku itu sudah membahagiakan
Selama membaca puisi itu, aku memandang bang Latif yang terus memberikan dukungan dengan sesekali mengacungi jempol. Dukungan itu merupakan obat mujarab bagiku, dan membuatku lancar membaca puisi singkat itu. Setelah selesai, aku segera turun dari panggung tak memperdulikan tepuk tangan penonton. Kini hatiku lega dan gembira membayangkan hadiah yang akan diberikan ibu Tini.
“Ini hadiahnya sayang”, ujarnya sambil menyodorkan sebuah kotak berisi hadiah mainan. Kuambil hadiah itu dengan suka cita. “Aku bisa bermain dengan Hindun”
Aku berjalan ke arah depan panggung mendekati Kumang dan Ambo, rasanya semua mata mengikuti langkahku dan membuatku tersipu malu. Kulihat Kumang dan Ambo masih berdiri di depan panggung, menonton acara selanjutnya, yang sebentar lagi akan berakhir.
“Mang, main bola yuk!”, ujarku.
“Gak nonton yang lain? Panjat pinang ‘kan belum mulai”
“Lomba anak-anak tidak ada. Semuanya untuk orang dewasa. Jadi kita tidak punya kesempatan”
“Ok deh. Yuk kita panggil yang laen. Kulihat Fajar juga ada di sini tadi”
Kami bertiga melangkah ke luar kerumunan dan mencari teman-teman kami untuk diajak bermain bola di lapangan dekat rumah. Acara agustusan makin seru dan beberapa teman kami tidak mau kami ajak pulang. Akhirnya kami bertiga tidak jadi pulang dan ikut terus menikmati acara hingga selesai saat magrib tiba.
The End

Tinggalkan Balasan