Deklamasi Kemerdekaan (#3)
Emas untuk baju pelautku
Dua minggu sudah sejak surat ibu guru kuberikan pada Emak. Anak-anak sudah banyak yang telah mengambil baju pelaut yang kemudian menggunakannya ke sekolah sehingga membuat aku iri dan malu. Agus pun pernah menggunakan baju itu dan membanggakannya di depan kami. Hanya aku dan Nasri yang belum bisa menggunakan baju pelaut, karena orang tua kami belum bisa mengambil baju pelaut itu.
“Kapan baju kalian akan diambil?”, tanya bu guru.
“Nanti bu”, jawabku sekenanya. Aku tidak tahu apakah baju pelaut bisa diambil sebelum pentas seni atau tidak. Aku hanya bisa menjawab seperti itu.
Beberapa kali Andri membuat kami cemburu dengan baju pelaut itu, dan mengejek kami karena belum mengambilnya hingga membuat Nasri menangis karena tak berdaya. Aku jadi geram sekali tetapi aku tidak berani memukul Andri. Hanya Agus yang membela kami saat Andri mengejek kami berdua.
“Kapan diambil baju pelaut nya mak ?”, hampir setiap hari pertanyaan itu kusampaikan pada emak. Dan dengan senyum dipaksa emak menjawab, “Nanti ya sayang, emak belum sempat”. Dan itulah jawaban yang selalu kudengar setiap kutanyakan, hingga kini.
“Teman-teman sudah memakainya semuanya Ma’”, ujarku. “Aku ‘kan malu diejek Andri”
“Iya sayang, sabar ya.. nanti kalau emak sempat emak pasti ambil. Sebelum pentas seni kan?”
“Iya mak jangan lupa ya”
Tetapi emak tidak pernah sempat mengambil baju pelautku. Aku hanya bisa menunggu dengan harapan yang makin lama semakin kosong. Ketika Andri dan yang lainnya mengenakan pakaian pelaut, aku hanya bisa menangis menahan dengki dan malu di hatiku. Untunglah anak-anak tidak menggunakan saat bersamaan, sehingga aku tidak terlalu merasa kecil.
Aku tidak berani bertanya kepada bapak karena takut dimarahi. Bapak mudah sekali marah karena hal-hal sepele, apalagi hal yang menyangkut uang. Jadi yang kurongrong hanyalah emak dan semakin hari jawaban emak makin tak pasti. Aku bertambah khawatir baju pelautku tidak akan pernah terbeli.
Aku mengisi hari-hari penantian ini dengan menghafal puisi yang akan kubawakan dengan bimbingan ibu Tini agar bisa melupakan baju pelaut. Nasri dan Agus pun sibuk dengan latihan mereka. Mereka menari tarian hasil kreasi ibu guru yang bertemakan tentang pelaut diiringi dengan tape recorder. Demikian pula teman-teman yang lainnya, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Sementara itu panggung di depan sekolah sudah mulai berdiri. Panggungnya luas dan tinggi sekali tetapi masih belum dihias dengan kertas berwarna-warni. Tenda yang terbuat dari kayu sudah pula didirikan sedangkan lapangan permainan dewasa mulai disiapkan. Pohon pinang sudah dirikan hanya menunggu hadiah yang akan digantung dan lumuran pelumas agar sebagai pelicin. Hatiku semakin menkhawatirkan baju pelautku yang belum juga diambil hingga beberapa hari sebelum acara pentas seni.
Hingga suatu hari emak berkata padaku, “Fi, hari ini kamu ikut emak, ya”
Aku baru saja sampai ke rumah dan berganti pakaian. Aku tahu emak akan pergi karena beliau sudah berdandan rapi hingga memancarkan aura kecantikannya. Adikku, Hindun sudah dititipkan beliau ke rumah Nek Dasimah. Emak menggunakan baju hitam bergaris-garis kecil memanjang ke bawah yang merupakan satu-satunya baju terbaik yang emak miliki. Setiap keluar rumah menghadiri acara penting atau berfoto, emak selalu menggunakan pakaian tersebut.
“Mau ke mana mak?”, tanyaku
“Sudah ikut saja. Hindun sudah di rumah nenek”
“Ke mana sih mak? Ke pasar?”
“Ke gedung nasional!”
“Hore…”, aku berteriak gembira. Gedung nasional adalah gedung tempat acara yang mengasyikkan di kota kami. Letaknya sangat jauh dari rumahku dan aku tidak mungkin ke gedung nasional sendirian.
Sebenarnya gedung nasional itu hanyalah gedung pemerintah tempat pameran atau acara – acara tertentu berlangsung. Letak gedung itu untuk anak seusiaku sangat jauh dari rumah, walaupun bagi orang dewasa dekat.
“Udah, ganti baju sana. Pakai baju lebaran!”
“Iya mak”, aku berjingkrak-jingkrak kegirangan karena diajak emak jalan-jalan. Hindun tidak diajak karena seringkali rewel dalam perjalanan. Aku mengambil baju lebaran dua tahun lalu yang berwarna hijau dan masih bagus dengan bahan yang tebal dan kerah yang lebar.
“Udah mak. Kita berangkat sekarang?” tanyaku. Kulihat emak juga sudah siap membawa dompet butut kecil di tangannya dan botol minuman yang berisi air putih di tangannya.
“Ayo, sebelum keburu siang. Ini kamu yang bawa” ujar beliau sambil menyodorkan botol minuman itu padaku.
“Jangan lupa pakai sepatu”
Aku dan emak keluar rumah, menuruni tangga batu dengan hati-hati. Sebelum berangkat emak mengunci pintu walaupun rasanya itu tak perlu karena penduduk kampung kami sering berjaga satu sama lain. Mereka akan segera mengetahui jika ada penduduk baru, apalagi kalau ada pendatang yang tidak diinginkan.
Kami berjalan kaki pergi ke gedung nasional. Emak hanya mengunakan slop biasa dan bukan hak tinggi seperti ibu-ibu gedongan, dan itu menguntungkan beliau karena tidak perlu sakit kakinya. Aku menggunakan sepatu sekolah dan berjalan lambat. Siang itu agak panas, walaupun waktu baru menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Matahari memancarkan sinarnya dengan garang hingga peluh mengucur di seluruh tubuh. Kulihat emak beberapa kali mengelap keringat yang ada di dahinya menggunakan sapu tangan. Pakaianku yang agak tebal dan tidak menyerap keringat karena terbuat dari bahan murahan, membuatku tambah panas.
Dua puluh menit perjalanan menuju gedung nasional, rasanya seperti seharian. Sesekali kubuka minuman yang dibawa dari rumah dan meminumnya sambil jalan. Hingga akhirnya perjalanan yang melelahkan itu berakhir dan sampai di wilayah sekitar gedung nasional. Kuliat dari jauh gedung nasional sangat sepi. “mungkin acaranya ada di dalam”, pikirku.
“Kita belok sini” ujar emak di pembelokan terakhir menuju sebelum sampai di gedung nasional yang tampak sepi itu. Jalan itu menurun landai.
“Koq belok sini mak?, katanya ke gedung nasional”
“Nanti, kita harus ke kantor pegadaian dulu”
“Pegadaian?”
“Iya. ‘kan kamu mau ngambil baju pelaut bukan?”
“Tentu dong mak. Kapan? ”
“Nanti sore emak baru sempat. Hari ini kita ke pegadaian dulu ngambil uangnya.”
“Jadi uang emak ada di sini?”
“Iya. Ayo!”
Kami masuk ke dalam lingkungan kantor pegadaian yang di halamannya penuh bunga melati kecil. Kulihat sudah banyak orang yang antri mengambil uang di kantor ini. “Jadi di sinilah emak menyimpan uangnya”, pikirku, “Pantas emak tidak pernah sempat mengambil baju pelaut soalnya tempat mengambil uangnya jauh”
Kantor pegadaian berawarna putih kusam dengan dilengkapi beberapa counter pelayanan. Satu persatu orang yang datang untuk mengambil uang dilayani dengan baik. Pegawainya yang ramah dan sopan – bagiku – membuatku betah dan senang melihat mereka, dan menunggu bukanlah sebuah pekerjaan yang membosankan.
Tak lama kemudian giliran emak tiba. Emak mengeluarkan sebuah amplop putih bergaris-garis merah biru di pinggirnya dan disodorkan kepada petugas pegadaian. Aku berdiri di atas kursi panjang di depan counter itu.
“Mau menggadaikan apa ibu?”
“Ini pak. Kalung emas”, emak menyerahkan amplop itu kepada petugas.
“Berapa gram bu”, petugas mengambil dan mengeluarkan isinya. Kulihat kilauan kalung emas yang diwariskan oleh Nenek Rudiah sedang dipegang oleh petugas pegadaian.
“Lima gram pak”
“Ini emas asli ya bu?”
“Iya dong pak. Bapak bisa memeriksanya. Saya sudah menggadaikan kalung ini beberapa kali di sini.”
“Baiklah ibu, saya periksa dulu. Kami harus hati-hati siapa tahu sepuhan” petugas kemudian memeriksa buah kalung emak dengan cara mengikis menggunakan alat kecil seperti kikir.
Dikejauhan kulihat seekor capung sedang hinggap di bunga melati di halaman pegadaian. Aku sangat menyukai capung dan biasanya aku menangkap capung bersama teman-teman sekampung. Kata mereka capung adalah obat mujarab untuk orang yang suka ngompol dengan cara membuat capung mengigit udel orang itu. Aku ingin sekali adikku mencoba obat mujarab ini, supaya dia tidak ngompol lagi. Aku turun pelan-pelan dari bangku panjang dan mendekati capung itu untuk mencoba menangkapnya. Mengendap-endap kucoba dekati capung itu, kemudian kujulurkan tanganku dengan hati-hati, dan hop!… tertangkaplah capung malang berekor merah itu.
“Horeeeee!!!”, aku berteriak-teriak kegirangan. “Aku dapat capung…aku dapat capung”. Hari ini akan kupaksa Hindun berobat menggunakan capung supaya tidak ngompol lagi.
“Fi… kita pulang!”, ujar emak. Sepertinya emak telah selesai mengambil uang untuk baju pelaut. “Buang capung itu. Kasihan”
“Tapi mak, ini untuk obat Hindun”
“Nanti kita cari lagi di dekat rumah. Sekarang kita pulang saja”
“Tidak jadi ke gedung nasional? Katanya mau ke gedung nasional”
“Gedung nasional nya sedang tutup, kata bapak yang tadi. Jadi lain kali saja kita ke sana”
“Ahhhhh…”, aku kecewa tidak bisa ke gedung nasional. Kulepaskan capung yang ada di tanganku dan dengan cepat terbang menjauh. Lain kali akan kudapatkan obat untuk Hindun.
“Katanya mau beli baju pelaut”, ujar emak menghiburku.
“Sekarang Mak?”
“Nanti sore ‘kan kita ke tempat ibu guru untuk mengambilnya”
“Horeeeee… baju pelautku jadi diambil… hore!”
Aku senang sekali akhirnya baju pelaut yang jadi impianku akhirnya bisa diambil. Aku tidak perlu malu lagi dengan teman-teman yang lain. Besok akan kupakai langsung, biar Andri tahu kalau aku sudah punya baju pelaut, “Horeee!”
Bersambung ke bag. 4
