Deklamasi Kemerdekaan (#2)

Surat dari Bu Guru

Rumahku tidak jauh dari sekolah hingga kalau aku pulang cukup berjalan kaki. Jika ingin lebih cepat sampai di rumah, aku harus mengambil rute singkat lewat jalan setapak di sebelah rumah besar, dengan resiko dikejar anjing. Lebih baik mengambil jalan agak jauh dan memutar daripada dikejar anjing sampai terkencing bukan?

Dikejauhan, kulihat rumahku yang terbuat dari kayu dan beratap seng, berdiri di atas duabelas batu penyangga. Pintu depan yang berwarna biru muda terletak di tengah-tengah rumah dilengkapi tangga semen. Warna rumahku sudah kecoklatan, dengan atap seng yang bolong-bolong membuat rumah kami lebih terang di siang hari dan lebih sejuk di malam hari, kecuali saat turun hujan yang membuat kami tidak bisa tidur tenang, karena harus menampung tetesan air yang turun dari atap.

Saat aku pulang, biasanya Ema’ – panggilanku kepada ibu – sedang memasak di dapur, sambil mengasuh adik kecilku yang manis, Hindun. Adikku berumur tiga tahun, berbeda dua tahun dari aku dan sering menghisap ibu jari. Ibuku sering memarahinya agar tidak menghisap ibu jari yang kotor itu, tetapi kebiasaan itu tidak mudah dibuangnya. Perawakannya yang gempal dan wajahnya yang menggemaskan membuat Hindun disukai oleh tetangga-tetangga kami, sayangnya kalau tidur selalu ngompol. Saat kami menginap di rumah Nek Dasimah, Hindun tidak diperbolehkan tidur di atas kasur.

“Ma’ aku pulang!”, ucapku ketika masuk ke rumah. Aku langsung berlari ke dapur dan kulihat Ema’ sedang memasak ikan tumis tongkol yang sering jadi menu sehari-hari kami. Ema’ yang cantik hanyalah ibu rumah tangga biasa, menikah ketika umur duabelas tahun dan memiliki aku ketika beliau berumur delapan belas tahun. Wajah beliau seperti wajah orang cina berbentuk bundar dan mata agak sipit. Rambutnya hitam panjang agak ikal dan senyumnya yang tidak lepas dari bibirnya membuatku tenang dan tenteram berada di dekatnya. Mungkin setiap anak akan berpikiran seperti aku. Ema’ jarang sekali marah, dan kalau marah, memukul dengan lembut.

“Ah.. anak Ema’, gimana hari ini?”, ucapnya sambil mencium pipiku.

“Baik saja Ma’, kami bermain kasti dan kelompok kami menang”, ujarku sambil mengambil surat dari tas kecilku dan menyerahkan pada Ema’. “Ma’, ini ada surat dari ibu guru”

“Terima kasih”, Ema’ mengambilnya dari tanganku.

“Ma’ pada acara pentas seni nanti, aku disuruh deklamasi”, ujarku. Ema’ membuka surat pelan-pelan seolah sebuah surat yang sangat berharga. Walaupun termasuk orang tua angkatan orde lama, Ema’ bisa membaca dengan lancar sebab beliau sempat mengenyam pendidikan SR – Sekolah Rakyat. Kata bapak, Ema’ pintar sekali saat di sekolah dulu, sayang beliau tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

“Bagus!, harus berani ya. Sekarang kamu makan dulu ya, lauk udah masak kamu ambil sendiri, Ema’ mau baca surat dari bu guru dulu”

“Baik Ma’”

Aku mengambil nasi yang terletak di meja dan mengambil lauk langsung dari penggorengan. Aku tidak berani mengambil ikan yang banyak, Ema’ sering memarahi aku kalau makan ikan terlalu banyak, “Nanti cacingan”, kata beliau memperingatkanku, walaupun aku tidak tahu apa hubungannya antara makan ikan dengan cacingan. Mungkin karena orang memancing ikan menggunakan umpan cacing, hingga telur cacing nyangkut di tubuh ikan.

Ema’ baru selesai membaca surat dan kulihat beliau menarik nafas panjang. Dengan hati-hati, surat dari bu guru dilipat kembali kemudian disimpan di dalam lemari di bawah pakaian. Kami tidak memiliki tempat penyimpanan lain selain lemari pakaian usang. Uang, akte kelahiran atau surat yang kami anggap penting selalu kami simpan di bawah pakaian dalam lemari.

“Kata ibu guru, kami semua menggunakan seragam baju pelaut Ma’ ”, ucapku sembari mengunyah makanan. Hindun yang hendak menghisap ibu jari, ditepis oleh Ema’. Hindun menangis keras.
“Iya, tentu donk. ‘Kan kalau pakai baju pelaut kamu jadi gagah”, ucap Ema’ sambil berusaha membuat Hindun diam. “sssssss….sssss….sssss”

“Baju pelautnya cepet diambil ya Ma’?”

“Iya. Nanti kita bilang bapak”

“Bener Ma’? Kapan kita ambil? ”

“Nanti, kalau bapak pulang makan siang, Ema’ tanya”

“Masih lama bapak pulang Ma’”

“Sebentar lagi”

Bapak bekerja sebagai petugas keamanan (Polsus) di Perusahaan Tambang Timah Belitung. Sebagai pegawai PT. Timah, kondisi ekonomi kami bisa dikatakan pas-pasan untuk kehidupan sehari-hari. Selain gaji bulanan, setiap pegawai diberi tunjangan sembako, seperti beras, gula, minyak goreng, daging kaleng dan beberapa kebutuhan lainnya yang dibagikan setiap bulan. Ema’ kadang-kadang harus menjual beras dan gula tersebut ke warung untuk mencukupi kebutuhan keuangan kami.

Dalam keadaan pas-pasan seperti itu, kami bertahan dengan makan seadanya. Daging sapi atau ayam adalah menu istimewa yang dihidangkan hanya saat – saat tertentu seperti saat lebaran. Ikan dan nasi putih dan sayuran seadanya adalah makanan harian kami terutama ikan tongkol, itupun aku hanya boleh mengambil seperempat potongan kecil. Pakaian baru hanya dibeli setahun sekali saat lebaran, sedangkan pakaian bermain dan pakaian tidur tidak ada bedanya. Pakaian kami hanya dibedakan dengan kategori pakaian sekolah, pakaian rumah dan pakaian lebaran. Untuk menambah pakaian lain di luar lebaran – seperti baju pelaut – Ema’ dan Bapak harus berjuang mencari tambahan uang, baik dengan cara menjual sembako tunjangan perusahaan atau meminjam uang dari tetangga atau teman dekat mereka.

Setelah dua jam aku menunggu, kulihat bapak pulang dengan mengendarai sepeda. Aku sangat mengagumi bapak karena pergaulan beliau yang luas. Postur tubuh yang tegap dan gagah membuat orang segan dan hormat pada beliau. Selain itu, bapak termasuk orang yang berani disebabkan beliau telah merantau sejak usia belasan tahun. Karena itu pulalah bapak memiliki watak yang keras dan pemarah. Pernah pistol mainanku yang baru dibeli dibanting oleh bapak dan patah karena telah membuat beliau marah.

Sesampai di dalam, dengan sabar ibu menggantungkan baju bapak dan menyiapkan makanan untuk makan siang. Kalau makan, Bapak lahap sekali, jika tidak ada lauk pauk bapak bisa makan hanya dengan air garam sebagai kuah penyedap. Untunglah hari ini ibu sudah memasak tumis ikan tongkol, sehingga bapak istirahat makan dengan kuah air garam.

“Bagaimana sekolahnya hari ini Fi?”, tanya bapak sambil mengambil piring di meja.

“Baik pak. Kami main kasti dan kelompok kami menang”

“Bagus!, hebat”

“Pak, pentas seni nanti saya berdeklamasi”, aku tak sabar ingin memberikan berita bagus ini.

“Hm.. bagus”

“Nanti bapak nonton ya?”, ucapku.

“Iya”, ucap bapak sambil mengunyah.

“Fi!, sudah. Biarkan bapak makan dulu”, ibu melarangku bertanya lebih banyak. Aku mengangguk dan mendekati Hindun mengajaknya bermain didekat meja tamu. Kami bermain kelereng dengan hati-hati kuatir jatuh ke dalam kolong rumah, karena lantai papan rumahku sudah bolong-bolong.

Beberapa saat kemudian bapak selesai makan dan beliau beristirahat dengan merokok dan meminum kopi sementara Ema’ membereskan piring – piring kotor. Sebentar lagi bapak akan berangkat kerja dan pulang sore pukul empat, dan dalam waktu istirahat seperti ini, aku gunakan waktu untuk bercengkrama dengan bapak. Hindun jarang dipangku bapak, bahkan kulihat Hindun agak takut mendekati bapak. Aku tidak tahu mengapa bisa seperti itu, padahal wajah Hindun mirip dengan kakak bapak yang ada di Bawean.

“Bapak Syaifi”, Ema’ memecah kesunyian suasana. Ema’ memanggil bapak dengan sebutan Bapak Syaifi dikarenakan aku anak pertama. Ema’ dan bapak masih ada talian persaudaraan dan sebelum menikah Ema’ memanggil Bapak dengan sebutan Paman. Setelah menikah, Ema’ agak canggung mengganti panggilan sebelumnya sehingga lebih memilih kata Bapak Syaifi. Entah bagaimana cara beliau memanggil sebelum aku lahir.

“Ada apa Ha ?”, tanya bapak kepada Ema’ dengan panggilan nama.

“Ada surat dari ibu guru”, jawab Ema’ sambil menyodorkan surat yang baru diambilnya dari lemari pakaian. Bapak membaca surat sejenak, lalu melipatnya sambil menarik nafas panjang. Suasana hening dan membisu beberapa jenak.

“Jadi bagaimana Pak?”

“Aku masih belum tahu Ha, tapi tetap harus dibayar ‘kan?”

“Ya…h”, Ema menjawab sambil menarik nafas. “Kasihan Syaifi kalau tidak dibayar”

“Ada beras yang bisa dijual?” tanya bapak.

“Hanya cukup sampai akhir bulan saja”, ujar ibu sambl menggeleng-gelengkan kepala. Bapak kembali menarik nafas panjang, kali ini panjang sekali hingga suasana rumah jadi sunyi dan terdiam seperti kuburan. Hanya asap rokok yang menyebar ke seluruh ruangan.

“Baiklah, nanti bapak cari pinjaman dari kawan di Pos”, ucap bapak akhirnya.

“Iya, Ema’ coba lagi mencari apa yang bisa dijual, atau kita hemat”

Suasana sunyi kembali menyengat. Bunyi kelereng yang kumainkan bersama Hindun menambah suasana menjadi lebih sunyi. Sesekali terdengar suara derik kumbang pohon yang sedang mencari sarang. Angin sepoi – sepoi yang bertiup memainkan musik sunyi yang telah kami nyanyikan.

Bersambung

~ oleh syaifi di/pada Juni 28, 2008.

Tinggalkan Balasan