Deklamasi Kemerdekaan (#1)
Sekolah kecil di kampungku
Di tengah kampungku – Kampung Parit, Tanjungpandan – berdirilah sekolah kecil semi permanen berdinding putih kusam terkelupas dimakan cuaca, ditutupi atap kayu sirap yang sudah retak di sana-sini, membuat cahaya masuk dari celah-celahnya dan membentuk bulatan kecil bagai koin emas bertebaran di lantai kasar tak berubin. Dinding semen bagian bawah yang compang – camping dan di beberapa tempat terlihat luka menganga menampakkan bata merah yang sudah kecoklatan, sehingga orang dapat menebak usia bangunan itu sebenarnya. Maklum saja sekolah itu adalah sekolah yang didirikan atas swadaya kelurahan.
Sekolah kecil itu memiliki hanya memiliki dua ruangan ditambah satu ruangan guru, dilengkapi teras bermain yang sempit dengan lantai yang kasar. Orang gila yang bernama Bo’en sering berteduh di teras itu saat hujan dan membuat anak-anak ngeri dengan ocehan-ocehannya yang tidak menentu. Di dalam kelas, terlihat dinding berwarna putih kekuningan dihiasi poster-poster usang yang ternoda oleh kotoran kelelawar yang menempel di sana-sini menyebarkan bau yang tidak sehat. Tulang kayu penyangga bangunan, telah lapuk dimakan rayap dihiasi lobang-lobang kecil tempat kumbang kayu bersarang. Sementara itu meja dan kursi kecil berwarna-warni kusam tertata apik tempat duduk anak-anak TK yang tak mau diam. Letak meja dan kursi itu akan berubah setelah aktifitas berlajar dan ibu guru harus merapikan lagi untuk dirusak lagi keesokan harinya.
Di depan sekolah itu, terdapat sebuah lapangan yang luas, tandus dan berdebu. Saat anak-anak berlarian, debu beterbangan dan menempel di pakaian mereka. Tak ada fasilitas selayaknya sebuah sekolah Taman Kanak-kanak di kota besar. Anak-anak harus memikirkan sendiri permainan yang akan mereka mainkan dan petak umpet, bola kasti dan lompat karet untuk anak perempuan yang menjadi permainan favorit.
Di sebelah kanan sekolah terdapat rumah besar berpagar kayu milik orang Cina yang anjingnya selalu menggonggong dan menakutkan anak-anak. Tak seorang pun berani mendekati rumah besar itu, sejak seorang anak lari tunggang-langgang sambil menangis dan terkencing di celana karena dikejar-kejar anjing pemilik rumah saat mencoba mengambil bola kasti yang nyasar masuk ke halamannya. Di sebelah kanan rumah itu terdapat jalan setapak menuju sekolah arab – istilah madrasah bagi kami – yang dimiliki oleh Pak Dahlan, salah satu tetangga kami yang tinggi hati dan selalu minta dipuji.
Jalan aspal berlobang terletak di sebelah kiri sekolah ini, berjarak lima meter dan dibatasi dengan pagar kayu yang renta menahan usia. Jalan itu sangat sepi kecuali di pagi hari, saat orang-orang berangkat kerja mengendarai sepeda atau jalan kaki. Sedangkan siang hari hanya segelintir orang yang lewat menuju pasar dekat. Sedangkan di belakang sekolah terdapat sebuah rumah permanen yang sejuk berhias bunga-bunga pot di terasnya, ditambah pohon sirsak yang kami sebut nangka belanda di halamannya. Walaupun tidak setinggi dan selebat pohon beringin, pohon itu sering dijadikan tempat bermain dan beraktifitas saat terik matahari menyengat ketika istirahat sekolah.
Di seberang jalan beraspal, terdapat sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggal pemiliknya sehingga rumput liar bebas hidup di halamannya. Orang Cina penjual bubur tahu keliling sering nongkrong di depan rumah kosong itu sambil menunggu anak-anak TK keluar main – istirahat – dan membeli bubur tahu yang nikmat itu. Walaupun sederhana, bubur tahu itu adalah bubur tahu yang paling disukai anak-anak, selain murah juga menyehatkan. Kecuali mangkoknya yang tentu dicuci seadanya, dan anak-anak tentu tidak pedulikan hal itu.
Aku merupakan salah seorang murid di sekolah kecil ini. Rambut kucel, kulit gelap dan tak bisa duduk tenang itulah ciri-ciriku. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku masih kecil baru berumur tiga tahun, namanya Masita dipanggil Hindun. Sahabatku Nasri anak seorang buruh pelabuhan yang tinggal di kampung kumuh dan sering banjir di sebut Amau. Kulit Nasri lebih putih dibandingkan denganku, tetapi dia lebih cengeng terutama kalau berantem dengan Andri anak Ibu Guru yang nakalnya bukan main. Pernah suatu hari Perut Nasri ditendang Andri hanya gara – gara sebuah kelereng untung ada Agus yang membelanya, tetapi tak ayal selama satu minggu Nasri mengeluh sakit perut dan tidak berani mendekati Andri.
Sahabatku yang lain bernama Agus, anaknya juga berkulit gelap seperti aku, perawakannya lebih gempal dibandingkan aku dan lesung pipit pemanis di pipinya. Rambut pendeknya yang hitam berdiri seperti bulu landak. Jalannya sedikit membungkuk, dan jika teman-temannya diganggu, dia yang akan maju segera membela. Rumahnya lebih jauh daripada rumah Nasri, dan kalau pulang dia selalu dijemput orang tuanya, naik sepeda.
Tujuh Belasan
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kelurahan kami akan mengadakan pentas seni dan perlombaan dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pentas drama, tarian, nyanyian dan puisi yang dibawakan oleh anak-anak TK sudah menjadi bagian rutin setiap tahun. “Anak-anak harus berani tampil ya”, ujar pak Lurah lembut beberapa waktu lalu ketika berbicara di depan kelas. Dan kami sepakat menjawab kata ‘Iya Pak…’ dengan suara yang panjang khas anak TK, walaupun kami tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh beliau. Sementara itu, panjat pinang, makan krupuk, lari karung dan perlombaan yang mengasyikkan lainnya hanya untuk orang-orang dewasa. Seingatku, perlombaan itu tidak berubah dari tahun – ketahun, aku yakin sekali tahun-tahun ke depan akan dibuat acara yang sama.
Pada acara pentas seni, Nasri dan Agus mendapat bagian menjadi penari. Awalnya Nasri ngotot menolak menjadi penari, “Itukan untuk anak perempuan!”, katanya bersikeras. Setelah bersusah payah akhirnya Ibu Tini dapat membujuk Nasri, walaupun dari wajahnya, kulihat belum menerima dengan lapang dada. Kasihan dirimu Nasri.
“Fi, Kamu deklamasi ya?”, ujar ibu Tini kepadaku.
“Ha?!”, aku terkejut dan terdiam. Terbayang dibenakku berdiri sendiri di atas panggung di depan penonton yang ramai. Setiap pasang mata menatapku, menertawakanku dan mengadiliku jika aku salah. Mendadak tanganku dingin, jantungku berdetak lebih kencang. “Jangan itu dong Bu, yang lain aja!”, ujarku menolak. Lebih baik menari daripada membaca puisi yang berarti tampil di panggung sendirian tanpa kawan.
“Kamu ‘kan suaranya lantang, jadi kamu cocok membaca puisi”, ujar Ibu Tini memuji dengan lembut, “Abis deklamasi, nanti dikasih hadiah mainan deh”
“Mainan?!”, aku mulai berubah, terbayang sebuah mainan mengasyikkan yang jarang kudapat dari orang tuaku, “I…iya deh bu”
Anak-anak lainnya mendapat perannya masing-masing. Kelas kami menjadi lebih heboh dari hari biasanya. Anak-anak bercerita sendiri-sendiri apa yang akan mereka gunakan saat acara pentas seni. Ada yang akan menggunakan sepatu baru, ada mau mengajak orang tua, bahkan ada yang mau membeli baju pada acara itu. Nasri masih terduduk lesu, sepertinya belum puas dengan tugasnya sebagai penari, kudekati dia dan menghiburnya.
”Nanti kita akan dapat hadiah dari Ibu Tini” ujarku riang dan menghibur.
“Bener nih?”, tanyanya dan kujawab dengan mengangguk. Airmukanya berubah menjadi senang. “Mudah-mudahan saat acara tiba, Nasri tidak ngambek”, pikirku.
“Perhatian anak-anak!”, tiba-tiba kudengar ibu Tini berbicara. Anak-anak masih berbicara sendiri hingga, Ibu Tini terpaksa memukul meja dengan penghapus.
“ssst…ssttt… diam…diam”, Andri keras memperingatkan teman-temannya untuk diam, dan mendengarkan ibu guru berbicara. Anak-anak lebih takut terhadap ancaman Andri daripada ibu guru.
“Terima kasih Andri”
“Acara pentas seni nanti, kita semua harus menggunakan baju pelaut”
“Yahhhh……..”, gemuruh suara anak-anak tidak setuju.
“Koq begitu bu?”
“Supaya kalian seragam, sama semuanya!” ujar Ibu Tini, “Baju pelautnya harus dibayar sebelum pentas seni ya. Tolong diberikan surat ini kepada orang tua kalian ya”. Bu Tini meminta Andri yang duduk di depan untuk membagikan surat yang ditujukan kepada orang tua kepada kami.
“Baik Ibu Guru”
“Sebelum pulang, kita bernyanyi lagu Hymne LSD – Lembaga Sosial Desa, kemudian kita akan menyenyikan lagu sepatu gelang”, ujar Bu Tini sambil bertepuk tangan mengiringi kami bernyanyi. Andri masih terus membagikan surat kepada anak-anak yang sedang bersemangat bernyanyi. Lagu itu menandakan kelas segera usai, dan kami bisa pulang ke rumah dan bermain bersama teman-teman di sebelah rumah. Temanku, Ambo dan Kumang pasti sudah menunggu.
“Hore!”
Bersambung ke Bag. 2 – Baju Pelautku

Tinggalkan Balasan