Bu Vonny yang Terbuang (#4 – Tamat)
Kemenangan bagi Semua
Kasak – kusuk penggantian guru Biologi di kelas kami terdengar mulai santer semenjak Pak Dian masuk ke kelas kami beberapa hari lalu. Anak-anak kelas 3 sepertinya mulai khawatir mendapat limpahan Ibu Vonny sebab mereka belum pernah diajar oleh Ibu Vonny sebelumnya, sedangkan kami merasa di atas angin walaupun bagiku hal itu masih terlalu dini. Guru – guru pun mulai membicarakan dengan nada yang kurang enak didengar, mungkin merasa dikalahkan oleh muridnya yang masih belia atau dominasi mereka yang terjaga selama ini merasa terganggu. Anak-anak kelas lainnya memandang kelas kami dengan pandangan iri karena kekompakan kami yang luar biasa.
Cuaca yang sejuk di sabtu ini, membuat kami bersemangat belajar dan sudah tentu menyambut malam minggu. Masri and the gang sudah menandai malam minggu ini dari beberapa hari sebelumnya dengan melihat jadwal pentas musik dangdut Kencana, sedangkan Aku dan kawan-kawan sudah mendapat undangan pesta ulang tahun di rumah salah satu teman kami anak SMA PGRI. Hanya Anton sang professor yang menganggap malam minggu sama seperti malam lainnya, malam belajar.
Tak terasa lonceng tua SMA kami kembali berbunyi merdu dan segera anak-anak berteriak gembira bergegas berjalan ke luar kelas. Dicky berjalan paling di muka, Agus Lempek dengan rambut yang selalu basah dan lepek sibuk mencari orang-orang untuk nebeng pulang. Biasanya Aku diantar Awet ke rumahku untuk berganti pakaian kemudian kami kembali ke rumahnya untuk berkumpul dengan kawan-kawan lainnya, menghabiskan sabtu sambil menunggu malam minggu.
“Wet, kamu dipanggil Pak Sunardi”, kata salah seorang teman kami dari kelas A3.
Awet menoleh ke arahku dengan tatapan penuh tanya, aku pun mengangkat bahu tidak tahu apa sebab dia dipanggil oleh Pak Sunardi kepala sekolah kami. “Ok, thanks”, jawab Awet sambil melambaikan tangannya. Kami terlalu banyak hutang dan janji kepada Pak Sunardi.
“Kamu ikut aku ke ruangan Pak Sunardi, kalau nanyain tentang Ibu Vonny, kamu bisa menjelaskan”, kata Awet kepadaku.
“Kalau nanya soal Taman yang disuruh?”, tanyaku. Pembuatan taman sekolah adalah salah satu janji kami kepada Pak Sunardi yang belum kami penuhi.
“Biar kita cari alasan nanti”
“Ok”
Kami berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Kami masih bertanya-tanya apa gerangan yang akan disampaikan oleh Pak Sunardi kali ini. Perkiraanku Pak Sunardi akan bertanya kepada kami tentang mosi kami terhadap ibu Vonny, karena sudah hampir dua minggu kami tidak melihat Pak Sunardi di Sekolah ini.
“Kalian berdua silakan masuk”, ujar Pak Sunardi hangat, ketika melihat kami di depan pintu kantor beliau.
“Terima kasih pak”, kami masuk dan duduk di depan meja beliau yang terbuat dari kayu dan tertata rapi.
“Baiklah, silakan cerita apa yang telah terjadi”, ujar beliau bijak sambil meletakkan genggaman kedua tangan di depan mulutnya. Kami tahu arah pertanyaan beliau, dan saatnya kami mengulang kembali cerita sepuluh hari lalu.
Menurutku, Pak Sunardi adalah kepala sekolah yang paling ideal yang pernah kami miliki. Selain pintar beliau juga bijak dalam menjalankan managemen sekolah. Kami merasa beruntung memiliki kepada sekolah seperti beliau, sayang beliau hanya singgah sejenak menjadi kepala sekolah setelah ditinggalkan Pak Jahasan. Mungkin untuk memberikan dasar-dasar managemen sekolah yang baik demi kelanjutan sekolah yang lebih baik.
Cerita Awet mengalir seperti air, sementara itu Pak Sunardi mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mengusap wajah. Air muka yang tenang dan teduh membuat kami enak bercerita tentang permasalahan ini. Beberapa kali beliau mengangguk untuk menghibur hati kami, dan kulihat Awet tersenyum puas melihat itu, sampai akhirnya Awet menyelesaikan ceritanya yang penuh semangat.
“Kalian tidak menyukai Ibu Vonny itu terlalu berlebihan”, ujar Pak Sunardi setelah mendengar uraian kami berdua. “Tidak ada kelas lain yang keberatan seperti kelas kalian, itu artinya kelas kalian yang bermasalah”
“Tapi pak, kami sekelas merasakan seperti itu. Kami tidak tahu apakah kelas lain seberani kami dalam menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada Ibu Vonny”
“Bisa jadi, tetapi selama tidak ada bukti dan laporan dari kelas lain, bapak anggap kelas kalian bermasalah. Mungkin tidak seluruh anggota kelas yang memiliki pendapat seperti kalian, tetapi mereka terpaksa memberikan tanda tangan”
“Tidak ada yang memaksa mereka menandatangani petisi ini pak!”
“Saya mengerti, dan saya tahu bagaimana rasanya jadi siswa. Saya bisa merasakan posisi kalian dengan seorang guru yang tidak mengenakkan”
“Saya pernah bertanya pada Ibu Vonny”, tambah beliau. “Dan ibu Vonny menceritakan bagaimana kelakuan kalian yang sering bertanya diluar konteks pelajaran yang diajarkan saat itu. Hal itu tidaklah buruk, tetapi kalian harus fokus pada pengetahuan yang diajarkan dulu, barulah kalian bisa bertanya diluar konteks untuk menambah ilmu. Jika tidak dijawab bisa jadi Ibu Vonny lupa, dan hal itu adalah manusiawi bukan?”
Kami berdua terpaksa mendengarkan ceramah pak Sunardi yang panjang lebar itu, tetapi kami tahu Pak Sunardi tidak marah. Kami sadar bahwa Ibu Vonny tidak akan digantikan dengan orang lain. Seperti yang kuperkirakan sebelumnya, Pak Dian hanyalah angin segar di musim panas yang hanya singgah sementara untuk menyejukkan hati anak-anak kelas A1. Itu berarti aspirasi kami sebagai siswa tidak ditampung oleh Kepala Sekolah yang merupakan pemimpin sekolah kami. Apakah kami harus menyingkirkan kepala sekolah juga agar Ibu Vonny hengkang dari kelas kami? Pak Sunardi merupakan seorang Kepala sekolah yang kami cintai, tidak mungkin kami akan berbuat seperti itu hanya demi Ibu Vonny. Tetapi dengan adanya Ibu Vonny di kelas, semangat anak-anak dalam belajar biologi akan terganggu kembali.
“Jadi keputusan mosi kami bagaimana pak?”
“Masih saya pikirkan. Butuh pemikiran yang panjang untuk membuat penyelesaian ini. Saya sebagai Kepala Sekolah tidak bisa memihak, berarti saya harus mencari solusi yang terbaik agar kalian mendapat belajar dengan baik dan Ibu Vonny tidak kehilangan muka” , ujar Pak Sunardi, “Awet sebagai ketua kelas harus mengerti posisi dan pilihan yang saya miliki. Jika solusi yang ada tidak bisa memenuhi keinginan kalian sepenuhnya, Awet harus memberikan pengertian kepada teman-teman sekelas, jangan sampai mereka berbuat yang kurang terpuji dan gagal hanya karena satu guru yang tidak disukai.”
Pak Sunardi berhenti sejenak dan mengambil air putih yang terletak di depan meja, “Keputusannya akan diumumkan oleh Pak Bahtiar hari senin nanti, dan terima kasih atas informasi yang kalian sampaikan kepada saya selaku kepala sekolah. Selamat bermalam minggu, Have Fun!”
Pak Sunardi mengakhiri pembicaraan kami dengan kalimat yang masih mengambang disertai senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Kami sadar akan posisi Pak Sunardi sebagai kepala sekolah yang mengayomi kepentingan dan keinginan semua pihak serta menjaga salah satu pihak agar tidak merasa dirugikan. Itulah resiko menjadi seorang pemimpin dan aku yakin dengan kebijaksanaan yang dimiliki beliau Pak Sunardi akan menyelesaikan masalah ini dengan baik.
Kami bangkit dari tempat duduk dan bersalaman dengan Pak Sunardi, kemudian melangkah keluar ke arah parkiran pohon kelapa. Sekolah sudah sepi yang ada hanya segelintir anak-anak yang sedang bercengkrama di dekat laboratorium Bahasa.
“Menurut ku Ibu Vonny tidak jadi diganti”, kataku memecah keheningan
“Tidak tahu, bisa jadi”
“Tapi kita lihat saja gimana perubahan yang ditawarkan jika ibu Vonny tidak jadi diganti. Posisi Pak Sunardi memang berat, dan kita harus memahami hal itu. Mudah-mudahan anak-anak mengerti, akan kekalahan kita. Aku sendiri sebagai penggagas, tidak bisa menerima kekalahan ini, tapi kalau itu demi kebaikan sekolah dan ada perubahan positif yang diberikan kepada kita sebaiknya kita setuju”
“Tugas Pak Bahtiar cukup berat untuk menjelaskan anak-anak”
“Sudah ah kita lihat aja nanti, kita pulang dulu. Bersiap untuk pesta ntar malam”
“Ok”
Awet menarik gas motor dan kami melaju ke rumahku membuang masalah Ibu Vonny dari kepalaku dan menyambut malam minggu yang selalu ceria bagi kami. Senyum renyah bersungging di bibir kami, hati ceria pun menyelimuti sabtu ini dan semoga keceriaan itu akan terus terbawa ketika pengumuman hari senin nanti.
—
Setelah upacara rutin hari senin, Aku dan Awet tidak menyempatkan diri pulang sarapan bubur di rumah Awet seperti yang biasa kami lakukan, karena kami tak sabar menunggu pengumuman dari Pak Bahtiar tentang kelanjutan mosi dan perubahan apa yang ditawarkan demi perbaikan kualitas belajar kami. Tadi pagi sebelum upacara dimulai, awet memberikan sedikit petunjuk kepada Allyn, Ivan dan kawan-kawan lainnya tentang pembicaraan kami dengan Pak Sunardi. Dan mereka juga menunggu momen penting ini.
“Menurut kamu apa yang akan diumumkan oleh Pak Bahtiar?”, tanya Alok kepada Ivan.
“Aku harap Ibu Vonny dicopot!”, jawab Ivan.
“Menurutku, Ibu Vonny tidak akan dicopot. ”, ujar Awet
“Trus kalo tidak dicopot, apa yang ditawarkan ke kita? Masak cuma segitu aja?”, tanya Allyn
“Kita lihat saja nanti”
Pak Bahtiar melangkah masuk dengan baju kebanggaan yang berwarna biru lusuh. Senyum yang tersungging menampakkan gigi depannya yang agak gingsul. Rambut keritingnya sudah acak-acakan walaupun baru pukul sembilan pagi, mungkin beliau tidak sempat untuk menyisir tadi pagi.
“Selamat pagi”, kata Pak Bahtiar. Beliau tetap berdiri di depan kelas memandang ke setiap sudut ruangan.
“Pagi Pak”, suara anak-anak menyambut salam Pak Bahtiar.
“Hampir dua minggu lalu, saya menerima kertas yang berisi tanda tangan kalian semua, tentang penolakan kalian terhadap Ibu Vonny”, kata Pak Bahtiar memulai pembicaraan. “Kemudian hal itu bapak bicarakan dengan kepala sekolah kita, dan telah terjadi diskusi yang alot antar guru yang akhirnya memutuskan agar kalian menerima kembali Ibu Vonny untuk mengajar kalian”
Suara kecewa anak-anak terdengar lirih memecah keheningan. Mereka merasa sudah cukup menghadapi Ibu Vonny dan tidak bisa menerima lagi kehadiran Ibu Vonny di depan kelas kami mengajar biologi tidak becus sama sekali. Aku bisa menerima kehadiran ibu Vonny di depan kelas kami, setelah menerima masukan dari Pak Sunardi hari sabtu lalu, tentu dengan beberapa syarat yang bisa kuterima dengan akal sehat, jika tidak kami bersiap pada perjuangan langkah kedua.
“Saya tahu kalian kecewa”, sambung pak Bahtiar. “Sebagai guru kami meminta maaf jika tidak bisa meluluskan keinginan kalian, kami hanya meminta kalian memberikan sedikit ruang bagi Ibu Vonny”.
“Lalu bagaimana dengan kami nanti Pak? Apakah Ibu Vonny bisa bersifat obyektif dan berubah cara mengajar supaya lebih baik”, tanya Allyn. Semua siswa setuju dengan pertanyaan Allyn.
“Hal itu akan diawasi kita semua. Pak Sunardi akan melihat perkembangan kalian, dan mengevaluasi Ibu Vonny secara berkala”, ujar Pak Bahtiar menjawab pertanyaan Allyn. “Dan Pak Sunardi berjanji, Ibu Vonny tidak akan mengajar kalian setelah kalian naik ke kelas 3 nanti”
Kata penutup dari Pak Bahtiar membuat anak-anak berteriak gemuruh gembira tanda menyetujui usulan pak Bahtiar, walaupun menurutku itu hanyalah kompromi yang ditawarkan oleh Pak Sunardi. Senyum kemenangan tampak di wajah Allyn, Ninit, Ivan, Alok dan anak-anak lainnya yang memang menghendaki berakhirnya konflik ini. Awet merasa lega dan aku pun merasa siap menghadapi pelajaran Ibu Vonny dengan arif, tidak seperti dulu lagi. Hari Senin ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan. Pak Bahtiar tersenyum melihat anak-anak didiknya bisa menerima tawaran Pak Sunardi yang bijaksana yang tidak memihak. Kulihat wajah Pak Bahtiar lebih ceria, dan kali ini senyuman beliau bisa kami terjemahkan dengan gamblang.
“I Love This Monday”
The End
catatan penulis
Cerita ini kupersembahkan dengan sisipan maaf kepada Ibu Vonny yang telah mengajarku di kelas satu dan kelas dua. Kelakuan kami selama ini mungkin menjengkelkan ibu dan ketika kami lulus pun kami belum sempat meminta maaf dan berterima kasih, kinilah saatnya melakukannya.
Episode kecil ini hanyalah cerita masa lalu yang tidak perlu diungkit lagi keburukannya dan hanya perlu dipelajari demi kebaikan kita semua di masa depan.

oh iya
Fi, ending-nya adalah nilai biologi semester 2 kelas 2 Fisika, anjlok. He..he..he..
Seingat aku, nilai biologi aku tetep biasa-biasa aja, maklumlah nilai biologi aku dari dulu gak pernah bagus, pas – pasan melulu.
ngomong2 dimana dan apa kabar pak bachtiar,bu vonny dan rekan2 yg lainnya? apa Fi masih ada info?
Fie, cerite nok Awet kan Dicky dihukum lepas sepatu . Agik ingat ke ? Mun ndak Awet dikejar bodyguard Bupati.
Wet, umak-e Anda lah lama meninggal, la tau ke ?
why…
did you fell sins ?
I thought It was great at the time, but now I feel guilty about what we did, that why I need to apologize to her.
Aduh Fie..
Jadi mengingatkan cerita lama yah..
Bu Vonny itu walikelas kami di kelas 1.1.. kelas sore…
Kayak benar kata pak Sunardi.. kelas kalian aja yg bermasalah.. hehehehehehe..
Soalnya di kelas kami, beliau baek2 aja.. justru kelas kami jadi kelas terbaik dari segi kebersihan dan keindahannya waktu itu..hehehehehe..
Cara ngajarnya biasa2 aja tuh..memang sih terlalu kaku terlalu ikut kurikulum..
Tapi dikelas 1 secara umum beliau baik2 aja sikap dan tindakannya..
Dengan aku dia baik2 aja.. malah sayang banget… atau karena aku sudah biasa sekolah keliling kali yah..jadi sikap seperti itu jadi biasa2 aja.. gak aneh… hehehehehe..
Musti minta maaf tuh.. dosa tuh… ntar kalo suatu hari anakmu jadi guru digituin ama muridnya gimana? hukum karma berlaku lho… qeqeqeqeqeqeqe
Yah.. itulah kami di kala itu.
doi jg syng banget ama aq…hi..hi..
yg jd problem kan syaifie and the gang…hayo ngaku…
Kisah nyata nih?
atau semi-fiksi?
Kejadian nyata donk.
Eh..katanya bu Vonny udh meninggal 5 th yang lalu yah…
Bener gak sih..
Duh Fie.. kamu kalo belum sempat minta maaf, dosanya tambah belipat lho..qeqeqe…