Bu Vonny yang Terbuang (#3)

Interrogasi

Sejak melakukan penolakan terhadap Ibu Vonny dengan cara mengumpulkan tanda tangan, kelas kami mendapat sorotan tajam baik dari siswa kelas lain maupun guru-guru. Sikap guru pun terpecah menjadi dua, ada yang mendukung terutama guru – guru yang sudah makan asam garam di sekolah ini dan ada pula yang mendukung Ibu Vonny terutama guru satu almamater dengan beliau. Hampir seluruh siswa di SMA ini mendukung kami, mereka menganggap kami sebagai pejuang dalam mendobrak dominasi guru terhadap murid. Tapi tak sedikit pula mencemooh kelas kami sebagai kelas yang tidak tahu diuntung, dan tidak bisa diatur. Kami memiliki alasan sendiri, sedangkan pendapat orang lain kami anggap hanyalan angin sepoi yang baik untuk dinikmati dan dibuang.

Setelah membuat tandatangan mosi tak percaya tersebut, kelas kami semakin kompak. Mungkin karena anak-anak merasa nasib mereka sama, sehingga mereka harus bersatu dalam menghadapi konsekwensi yang akan terjadi akibat dari perbuatan kami. Guru – guru yang mendukung kami tidak perlu kami takuti, tetapi guru – guru yang mengambil sikap sebaliknya sangat kami kuatirkan, terutama terhadap nilai yang akan kami terima dalam pembagian rapor nanti.

“Kalian berhak memilih pengajar yang lebih baik”, begitulah salah satu guru yang memilih sikap pro terhadap kami.

Hari ini, seminggu sudah waktu berlalu, sejak kami melakukan mosi tak percaya pada Ibu Vonny. Keputusan yang kami tunggu tidak kunjung tiba, apakah memihak kepada kami atau Ibu Vonny, bahkan kami belum mendapatkan bocoran sama sekali. Sikap Ibu Vonny terhadap kami berubah total, walaupun sikap itu bagi kami sama saja dengan sebelumnya. Tapi kini kami merasa tegang ketika melihat Ibu Vonny, terutama ketika berpapasan di koridor sekolah atau tempat lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana detak jantung kami berdegub saat pelajaran Ibu Vonny akan berlangsung sebentar lagi. Kuharap Ibu Vonny tidak masuk kelas hari ini, dan berharap beliau tidak punya nyali untuk mengajar hari ini. Untuk menghilangkan rasa tegang, anak – anak bercengkrama dan sesekali melihat ke arah pintu, dengan harapan Ibu Vonny tidak muncul.

“Aku bingung, berapa lama lagi kita mesti menunggu?”, Kata Dicky yang kemampuan otaknya sedikit di atas monyet dan setingkat dibawah chimpanze.

“Gak tahu nih. Pak Bahtiar tadi pagi mengatakan menunggu dari Pak Sunardi, Hhh”, jawab Awet menarik nafas panjang lalu tertunduk lesu dengan hati kecewa bercampur takut.

“Trus ntar gimana?”, Allyn menimpali. Sudah bukan hal yang aneh kalau Allyn paling takut nilainya turun. Kalau perjuangan kita kalah, berarti Allyn akan terpuruk. Allyn lebih takut nilainya jatuh daripada ketemu Hantu. Mungkin karena Hantu sering lari lebih dulu kalau melihatnya.

“Udah, kita liat aja nanti”, ujarku. “Toh kita sudah menentukan sikap. Kebersamaan kita tidak akan tergoyahkan oleh sikap Ibu Vonny nanti”

“Iya sih, abis bagaimana lagi?”

“Kalo gitu aku bolos ah”, ujar Dicky. “Biar gak diomelin!”

“Alah itu memang maunya kamu. Tante mana lagi yang manggil?”, tanya Allyn.

“Diem Ah!”, ujar Dicky cepat. “Aku lagi tegang nih”

“Udah kalo mau bolos, keluar sana”, ujar Awet. “Lewat belakang aja, biar gak ketahuan”

“Aku tahu! Motor ku udah di sono koq”

“Dasar Niat!”

Dengan tersenyum nakal penuh kemenangan Dicky segera meninggalkan kami, dan segera lari ke arah belakang sekolah dengan mengendap-endap kuatir ketahuan guru. Keluar dari belakang berarti melompati pagar pembatas sekolah. Dan hal itu sudah lumrah bagi siswa yang doyan membolos seperti Dicky.

“Sikap kita ntar gimana?”, tanya Ninit, mengulangi pertanyaan Allyn.

“Biasa aja. Kita anggap tidak ada. Kalau diminta untuk bertanya, jangan merespon”, jawabku.

“Kamu sih enak jarang ditanya, lha Aku?”, kata Allyn.

“hehehehe…”, aku tersenyum.

Pembicaraan dengan tema yang sama juga terjadi pada kelompok – kelompok lainnya. Wajah tegang, bingung dan takut bercampur baur seolah menyesali perbuatan mereka minggu lalu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, bagiku perjuangan untuk bebas dari Ibu Vonny sudah dimulai dan membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya. Sikapku terhadap Ibu Vonny tidak berubah. Apalagi beberapa hari lalu, kami sempat dipanggil oleh Ibu Vonny berkaitan dengan masalah kami.

Waktu itu aku, Awet, Allyn dan Ninit ke sekolah di sore hari dalam rangka kegiatan ekstrakurikuler yang bejibun.Selain belajar, kami juga menjadi anggota PMR, pengurus OSIS, pengurus majalah sekolah, dan segudang kegiatan lainnya. Apalagi kami sekarang sudah kelas II yang merupakan kelas paling diandalkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan kami adalah biangnya. Awet merupakan ketua OSIS dan aku sendiri ketua editor majalah sekolah monumen. Baru saja kami melangkah dari pintu sekolah, kami bertemu Ibu Vonny.

“Kalian berempat menghadap saya dulu!”, ujar beliau saat itu, ketika melihat kami masuk. “SEMUA! Mulai dari Jenita, yang lainnya menunggu di luar”

Kami saling menoleh dengan hati gundah. Wajah Allyn makin tidak karuan, terbayang diwajahnya nilai biologi yang menodai rapor semester nanti. Aku sendiri bingung dengan permainan Ibu Vonny yang seperti ini. Bermain dengan Intimidasi yang menurut aku tidak terhormat. Sama seperti para politikus yang kalah, kemudian melakukan intimidasi terhadap lawan, agar mundur. Wajah Ninit yang berwarna gelap terlihat memutih sedikit karena pucat. Matanya berputar ke arah kami meminta dukungan moril, sayang kami tak bisa memberikan dukungan yang dibutuhkannya.

“Baik bu!”, jawab Ninit dengan suara yang agak serak. Dengan ragu dia melangkah mengikuti Ibu Vonny. Kami memilih duduk di teras sekolah seperti pasien menunggu panggilan dokter, sesekali kami mencuri dengar dengan menempelkan telinga di dinding kantor guru.

“Duduk!”, dinginnya suara Ibu Vonny menusuk seperti pisau tajam. Ninit duduk dengan rapi di kursi yang terletak di depan Ibu Vonny.

“Kamu orang dari suku mana?”, tanya Ibu Vonny lebih dingin lagi.

“Orang Asli Belitung Ibu, saya lahir di sini”

“Pantas!”, ujar beliau sengit. “Kalian semuanya manusia tidak tahu sopan santun, tak berguna!”

“Apa alasan kamu dengan tanda tangan itu?”, tambah beliau

Ninit terdiam tak bisa menjawab. Dia hanya bisa tertunduk bingung tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia tidak menyangka akan mengalami situasi seperti ini. Kasihan dirimu Jenita.

“Kamu pikir saya suka mengajar kalian?”, lanjut Ibu Vonny. Selanjutnya kata – kata yang dikeluarkan oleh Ibu Vonny sudah mulai kabur, tak terdengar oleh Ninit. Baginya dalam posisi seperti ini sangat menyulitkan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi seorang siswa kelas 2, walaupun badannya termasuk bongsor, Ninit bukanlah orang yang berani. Ninit hanya bisa menunduk lesu seperti seorang anak dimarahin oleh orang tuanya.

Sepuluh menit kemudian, dengan langkah gontai dengan wajah tersenyum getir keluar dari ruangan guru. Kami bertiga mulai gemetar, menunggu giliran dipanggil. Panggilan selanjutnya jatuh pada Allyn, lalu Awet dan tentu akhirnya giliranku akan tiba menghadap interrogasi bu Vonny.

Mendengar cerita Ninit dan Allyn – bagaimana interrogasi Ibu Vonny berjalan – aku memikirkan strategi yang tepat untuk menghindar dari cercaan Ibu Vonny. Siapa yang dikagumi Ibu Vonny bahkan siapa dihormati Ibu Vonny aku harus mengetahui dan berpikir keras untuk itu. Aku bisa membaca bahwa Ibu Vonny tidak terlalu menghina Allyn, mungkin dikarenakan Allyn adalah anak yang pintar di kelas kami, atau bisa jadi karena dia bukan asli orang Belitung. Belum sempat saya berpikir mendapatkan cara yang tepat dalam menghadapi Ibu Vonny, Awet sudah muncul di pintu dengan wajah yang tersenyum pahit.

“Fi, kamu dipanggil”, katanya, sebenarnya tidak perlu karena aku tahu bahwa masa persidanganku telah tiba. Dengan lesu dan takut aku masuk ke dalam ruangan guru, tanganku terasa dingin, wajahku pucat dan jantungku terasa berdetak lebih cepat. Kulihat ibu Vonny duduk sendirian di ruangan ini seperti seorang eksekutor yang mengerikan. Guru-guru lainnya sedang mengajar sehingga ruangan menjadi sepi, sesuai dengan tempat interrogasi seperti yang kulihat di film-film detektif.

“Duduk!”, suara dingin ibu Vonny menusuk jantungku. Ingin rasanya kuberlari dari depan Ibu Vonny. Aku lebih memilih soal ulangan yang berat daripada bertemu Ibu Vonny seperti ini. Aku duduk di depan Ibu Vonny dengan santun, mudah-mudahan beliau tidak terlalu marah padaku.

“Saya lihat, kamu salah seorang yang menandatangani”, ujar beliau “Kenapa?”

“Tanda tangan itu adalah kesepakatan kami satu kelas ibu”, kataku memberanikan diri dengan suara bergetar “Tidak bisa kita lihat secara perorangan, tetapi satu kelas”

“Mengapa tidak dibicarakan dulu dengan Ibu tentang sikap kalian itu? Ibu tahu beberapa dari kalian tidak menyukai ibu, mungkin dari cara mengajar atau yang lainnya. Ibu tahu kalau ibu sering dipermainkan dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang bertujuan menyudutkan. Termasuk pertanyaan dari kamu. Padahal ibu hanya ingin membatasi tema pelajaran jangan sampai keluar dari batas, sebab kalau keluar dari batas, kalian semua nanti tidak akan belajar dengan benar sesuai dengan kurikulum”, ucapan Ibu Vonny. Astaga!, Ibu Vonny tahu kalau sering kupermainkan dengan pertanyaan konyol. “Gawat! Aku harus membela diri”, pikirku.

“Tapi bu, jika kita hanya mengikuti kurikulum pelajaran Ibu jadi tidak menarik, tidak ada tantangan dan menurut saya pelajaran tersebut bahkan tidak akan menunjang masa depan saya nanti. Saya bersumpah tidak akan mengambil pekerjaan yang berkaitan dengan biologi”

“Fi, kita harus mengikuti kurikulum yang diberikan pemerintah, supaya kalian lulus. Kita tahu bahwa kurikulum memang tidak menarik, tetapi yang penting semua itu adalah dasar dari pelajaran berikutnya. Kalau kamu nanti mau mengambil kedokteran, kamu harus mempelajari struktur sel. Jika kamu mau mengambil pertanian pun kamu harus mempelajari biologi tanaman”

“Masalahnya bu kami…”

“Satu hal lagi!”, Ibu Vonny memotong dingin. “Pelajaran Ibu akan mendukung kenaikan kelas bagi kamu. Jika kamu gagal, maka kamu akan tinggal kelas, sepintar apapun kamu”

Aku sudah tidak bisa berbicara lagi. Kata – kata terakhir merupakan ultimatum dan secara tidak langsung beliau menyatakan bahwa pelajaran yang diajarkannya sama pentingnya dengan pelajaran yang lainnya, seperti matematika, fisika atau bahkan kimia. Ceramah Ibu Vonny yang lainnya tidak kudengar lagi. Aku sudah tahu bahwa ibu Vonny tidak akan menyerahkan kekuasaannya kepada guru lain. Dan jika hal itu terjadi, aku bersumpah tidak akan mengalah. Aku akan terus memperjuankan supaya ibu Vonny tidak berdiri dengan gagah lagi di depan kelas kami. Aku harus mencari cara lain lagi agar tujuan kami tercapai. Aku tidak perduli dengan kurikulum yang harus diikuti oleh Ibu Vonny, yang penting bagi kami adalah bebas dari Ibu Vonny.

“Katanya kalian ke rumah Ibu Taty kemaren, Ada apa?”, tanya Alok membuyarkan lamunanku.

Ibu Taty adalah salah satu guru yang mendukung terhadap perjuangan kami. Beliau juga merupakan guru senior yang dikagumi oleh anak-anak kelas kami, walaupun kadang-kadang menyebalkan terutama jika sudah menyangkut kedisiplinan.

“Biasa saja beliau bertanya dengan kita, alasan apa yang membuat kita melakukan hal itu”, jawab Awet, “Kita ceritakan apa adanya saja”

“Menurut beliau, Ibu Vonny memang memiliki sikap dan kelakuan yang tidak terpuji dari hari pertama masuk ke SMA ini. Menurut bu Taty – ibu Vonny sudah menanyakan meja kerjanya dengan cara yang angkuh, sejak pertama kali masuk ke kantor guru”

“Siapa saja yang ikut ke sana?”

“Ivan, Ninit, Aku, Syaifi, Fara, Allyn dan Adi”

“Tapi beliau masih mendukung ‘kan?”

Tanpa kami sadari, Pak Dian masuk kelas dengan wajah senyum dan bersahabat, aku terhenyak gembira, doaku terkabul agar ibu Vonny tidak mengajar kami hari ini. Pak Dian adalah guru Biologi kelas 3 dan merupakan salah seorang guru senior di SMA ini. Aku dan Alok segera bergerak ke arah tempat dudukku sambil tersenyum hormat kepada Pak Dian. Kulihat wajah anak-anak sumringah menunjukkan kemenangan akan perjuangan kami. Aku sendiri belum yakin jika belum mendapat kabar dari Pak Bahtiar secara langsung nasib petisi kami, dan aku tahu bahwa Pak Dian masuk kelas ini hanya sementara waktu saja. Bisa jadi hari ini Ibu Vonny ada halangan, atau melahirkan lagi – kuharap beliau segera melahirkan – atau bisa jadi telah terjadi pembicaraan yang alot di ruangan kepala sekolah mengenai nasib Ibu Vonny selanjutnya. Yang jelas bagiku, masuknya Pak Dian bukan berarti perjuangan telah selesai. Yang kutahu, kabar yang jelas belum ada dari Pak Bahtiar, berita tentang penggantian Ibu Vonny masih gelap gulita.

“Hari ini kita tidak bisa belajar banyak, karena ibu Vonny tidak memberikan bahan terakhir yang akan dibahas, atau ada masukan?”, kata Pak Dian, setelah basa-basi dengan percakapan ringan. Tidak ada sedikitpun menyinggung tentang penggantian Ibu Vonny, walaupun secara implisit beliau mengatakan hal seperti itu.

“Kita ulangi pelajaran yang lalu aja pak”, ujar Allyn seperti biasa untuk mengambil hati guru.

“Boleh, mulai dari bab berapa Allyn”

“Bab 4, pak”, ujar Allyn cepat. Allyn memang seorang siswa yang pintar, menurutku lebih pintar lagi mengambil hati guru.

“Baiklah, kita mulai dari bab 4, silakan buka buku bab 4 dan ajukan pertanyaan jika belum mengerti”

Pelajaran hari ini lebih baik daripada sebelumnya ketika diberikan Ibu Vonny, semangat belajar biologi anak-anak lebih terasa. Mungkin karena Pak Dian lebih memahami jiwa remaja seperti kami, atau bisa jadi Pak Dian adalah seorang guru yang pengalaman, atau karena hanya karena perubahan yang baru terjadi. Aku masih membawa buku dari perpustakaan umum, tapi tidak berusaha membuat pertanyaan di luar konteks pelajaran. Pertanyaan yang memojokkan sudah tidak perlu bagi saya, lagi pula yang memegang kelas hari ini adalah Pak Dian, seorang guru yang kuhormati. Anak-anak memberikan pertanyaan yang segera dijawab dengan baik oleh Pak Dian sebagai bukti bahwa beliau sangat menguasai bahan pelajaran. Dengan memberikan contoh dan analog pak Dian memberikan pemahaman yang sangat kami dambakan dari seorang guru. Aku sadar bahwa Ibu Vonny sebenarnya menguasai pelajaran yang dia ajarkan kepada kami, hanya cara mengajar yang membosankan dan seringkali sikap sombong beliau yang membuat kami muak terhadap ibu Vonny. Kami semua berharap Pak Dian akan menggantikan Ibu Vonny secara permanen, yang menunjukkan kemenangan kami melawan Dominasi Ibu Vonny.

Bersambung Bag. 4 Kemenangan Bagi Semua

~ oleh syaifi di/pada Juni 18, 2008.

Satu Tanggapan to “Bu Vonny yang Terbuang (#3)”

  1. kemudian
    semua sesuai rencana

Tinggalkan Balasan