Bu Vonny yang Terbuang (#2)

After School

Setiap pelajaran Biologi aku selalu membawa buku referensi diluar buku pelajaran yang kupinjam dari perpustakaan umum milik pemerintah. Tujuanku hanya satu, mempermalukan Ibu Vonny dengan memberikan pertanyaan yang tidak ada di buku pelajaran. Dengan begitu, aku bisa memberikan bukti pada anak – anak bahwa Ibu Vonny pada dasarnya adalah sarjana yang tidak tahu apa-apa dan membuatku puas telah mempermalukan beliau di depan kelas.

Hari ini, ada lima pertanyaanku di bidang biology pertanian yang tak terjawab. Ibu Vonny tidak merasa bodoh, karena pertanyaan kami memang tidak ada di buku pegangan biology kelas dua. Tapi aku merasa menang mutlak, karena anak – anak semakin yakin akan kualitas seorang guru bernama Ibu Vonny. Seorang sarjana dengan pengetahuan sebatas buku pelajaran SMA

Selama dua jam pelajaran Ibu Vonny menjadi bulan – bulanan kami. Penjelasannya tidak kami dengarkan, tetapi ketika diberi kesempatan bertanya, kami bertanya hal – hal di luar konteks yang diajarkan, yang membuat Ibu Vonny gelagapan dalam menjawab. Kami hanya tersenyum sinis melihatnya di depan dan menjadi permainan kami semua walaupun beliau tidak menyadarinya. “Sebentar lagi Ibu, dirimu akan hilang dari kelasku. Kemerdekaan kami sudah diambang mata, tinggal menunggu satu fajar lagi”, pikirku dengan seyum kemenangan.

Lonceng tua sekolah kami tiba – tiba berbunyi tanda sekolah selesai hari ini. Anak-anak dengan riang berlarian keluar kelas, tidak peduli dengan Ibu Vonny yang masih berbicara menutup pelajaran. Memang, bagi kami Ibu Vonny tidak pernah ada. Sikap beliau selama inilah yang membuat kami muak. Wajah cantik berkulit putih pucat itu tampak seperti nenek sihir yang harus kami hindari. Aku, Ivan, Alok, Awet, Allyn, dan beberapa anak lain yang peduli tetap dikelas dan mulai menyusun rencana. Kami menunda kepulangan kami demi kebebasan yang sebentar lagi kami nikmati.

Siapa yang menghadap Pak Bahtiar!”, tanya Allyn dengan wajah memelas supaya tidak ditunjuk. Dia paling kuatir kalau disuruh menghadap Guru membawa permasalahan seperti ini, Allyn lebih senang menjaga image di depan para guru. “Penyakit murid teladan”, pikirku.

“Awet!”, kataku menoleh ke arah Awet,“Kamu ketua kelas”. Awet melotot, tapi dia tahu bahwa aku benar, sebab dia dipilih jadi ketua kelas bukan untuk senang-senang saja.

“Kita menghadap berdua Fi!”, katanya, membalasku sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku terkejut sejenak.

“Ok deh”

Kami berjalan ke ruang guru dan melihat Pak Bahtiar sedang duduk di meja beliau yang terletak di tengah, membelakangi jendela. Beberapa guru nampak masih sibuk merapikan meja mereka masing-masing, Ibu Vonny masih ada di tempat duduknya sambil membereskan buku-bukunya. Beberapa guru berjalan keluar untuk makan siang sebelum memulai aktifitas pekerjaan rutin mereka, mengajar pada sesi kedua nanti. Kami menunggu Bu Vonny keluar ruangan, karena kami tidak ingin kehebohan terjadi ketika kami masih di dalam ruangan. Kami ingin Pak Bahtiar melakukannya dengan kepala dingin dan berpikir untuk masa depan anak didiknya. Kami mengerti jika beliau membutuhkan waktu yang cukup untuk melaporkan ke Pak Sunardi, kepala sekolah kami.

Beberapa saat kemudian, kami lihat Ibu Vonny keluar dari ruangan guru. Jantungku seperti meloncat melihat beliau, karena saat yang kutunggu telah tiba. Suasana menegangkan terasa seperti suasana menunggu hasil ujian akhir. Allyn gelisah, Awet apa lagi, Aku sendiri khawatir Pak Bahtiar akan menolak tandatangan kami, yang akan menyebabkan langkah awal perjuangan kami akan mengalami hambatan serius, di lain pihak kebencian kami terhadap Ibu Vonny sudah memuncak hingga di ubun-ubun.

Pak Bahtiar adalah guru wali kelas kami sekaligus guru matematika. Berpenampilan sederhana tidak banyak maunya dan seingatku bajunya selalu berwarna biru kehijauan sedikit putih lusuh karena sering dicuci pake deterjen. Rambutnya yang kriting tidak pernah disisir apalagi menggunakan minyak rambut dan sehingga tampak seperti rambut Albert Einstein, dan kupikir pak Bahtiar memang jenius seperti professor pencipta teori relativitas itu. Sebagaimana kebanyakan orang jenius, saat mengajar pak Bahtiar sering tersenyum dan tertawa sendiri walaupun kami tidak mengerti apa yang ditertawakannya. Mungkin lelucon beliau adalah lelucon orang brilliant, sehingga otak kami tidak mampu mencerna lelucon yang membuat beliau tertawa.

Aku dan Awet masuk ke ruangan guru dan pelan-pelan kami mengetuk pintu. “Permisi pak”, kata awet ketika pak Bahtiar memandang kami berdua.

“Masuk Ferry”

“Terima kasih pak”

Kami berdua melangkah ke arah pak Bahtiar. Sementara Allyn, Ivan dan yang lainnya mengintip dari Jendela, dengan jantung yang bergemuruh.

“Bisa minta waktu sebentar, pak ?” tanya Awet.

“Ya, silakan”

“Begini pak, tadi siang kami mengadakan rapat kecil mengenai Ibu Vonny. Rapat tersebut dimulai dengan adanya usulan salah seorang anak dan kemudian kami membicarakannya. Usulan tersebut adalah…”, awet menceritakan kronologi kejadian hingga kami mengumpulkan tandatangan anak-anak kelas A1 untuk mempertegas niat kami. Kulihat sedikit perubahan expresi pak Bahtiar yang berusaha ditutupi untuk menjaga wibawa. Rambutnya yang kriting semakin acak-acakan ketika mendengar cerita Awet yang baru kali ini dihadapinya sebagai seorang wali kelas. Selama mengajar di SMA ini, tidak pernah terjadi hal yang memusingkan seperti masalah yang diceritakan Awet.

“Baiklah, bapak terima laporan kalian, akan bapak bicarakan dengan kepala sekolah”, ujar beliau penuh diplomatis, setelah mendengar penjelasan Awet dan sedikit tambahan sana-sini dariku. Aku sendiri tidak puas akan ucapan pak Bahtiar, apa daya begitulah aturan yang ada. Aku menginginkan hasil yang segera dapat dirasakan untuk seluruh kelas. Yang membuat kami sedikit lega hanyalah diterimanya kertas ‘mosi tak percaya’ yang berisi tandatangan seluruh siswa kelas A1. Bola tersebut telah berada ditangan pak Bahtiar, kami hanya bisa menunggu perkembangan selanjutnya.

“Terima kasih pak”, ujar Awet lagi. “Kalau begitu, kami permisi pulang pak”

Dengan wajah lega bercampur lapar kami melangkan keluar dari ruangan guru. Demikian pula anak-anak yang menunggu di luar dengan pertanyaan yang masih berkecamuk di benak mereka. Tentu mereka ingin mendengar respon apa yang diberikan oleh Pak Batiar. Segera setelah kami melangkah keluar dari pintu ruangan, kami langsung dihadang, seperti anak ayam yang menghadang induknya.

“Kita menunggu kabar selanjutnya dari Pak Batiar, beliau akan membicarakan dengan Kepala Sekolah”, Awet berbicara seperti seorang politisi. Wajah anak-anak sedikit kurang puas dengan jawaban itu, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, sebab keputusan besar memang harus dipikirkan matang-matang.

Kami bersama melangkah ke tempat parkiran motor di bawah pohon kelapa sebelah kiri sekolah. Kulihat hanya kendaraan kami yang ada menunggu dengan sabar, sedangkan kendaraan lainnya telah pulang bersama tuannya masing-masing. Dengan pikiran yang penuh dengan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, kami pulang dan menutup hari melelahkan ini. Memang, hari ini sangat melelahkan.

Bersambung Bag. 3 Interrogasi

~ oleh syaifi di/pada Juni 15, 2008.

Satu Tanggapan to “Bu Vonny yang Terbuang (#2)”

  1. banggakah

Tinggalkan Balasan