Bu Vonny yang Terbuang (#1)

Bu Vonny adalah guru yang manis, cantik, berkulit putih sedikit pucat dengan bentuk wajah mirip pemain utama film Escrava Issaura. Perutnya yang besar berisi janin yang tak sabar ingin merasakan nikmatnya dunia, membuat Bu Vonny melangkah seperti anggota kelompok marching band pembawa bass drum menuju kelas kami sambil mengapit beberapa buah buku mata pelajaran Biology di tangan kanannya. Guru cantik itu momok bagi kelas kami.

Seharusnya kami bangga diajar oleh Bu Vonny, salah seorang guru yang berpendidikan setingkat sarjana di sekolah kami, yang mau mengabdikan dirinya di pulau kecil yang tidak nampak di peta Indonesia, saat TVRI selesai menayangkan berita jam 7 malam. Di sini – SMA Negeri Tanjungpandan – hanya segelintir saja guru yang berpendidikan setinggi Bu Vonny, kebanyakan adalah Diploma 3 baik lulusan jawa maupun Palembang. Tapi sikap kami tidak sebangga itu, karena kami memiliki penilaian sendiri terhadap beliau, dan penilaian itulah yang membuat kami melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.

Seingatku, Bu Vonny hamil setiap tahun, entah karena cantik atau di Belitung tidak ada hiburan lain yang lebih menyenangkan, yang jelas menurutku Ibu Vonny lebih cocok kalau hamil. Aku seringkali terenyuh ketika melihat seorang ibu muda yang cantik seperti Bu Vonny membawa beban di rahimnya sambil mengajar anak-anak yang bandel dan tidak tahu terima kasih seperti kami. Membawa buku tebal, menulis di papan tulis sambil berteriak-teriak menjelaskan ilmu biologi kepada kami, sementara kami tidak peduli dengan ilmu yang penuh dengan tulisan latin yang susah dibaca, apalagi diingat.

Sepuluh Menit Sebelumnya

Hari ini menggembirakan, suasana sejuk dengan tiupan angin sepoi – sepoi dari halaman kelas yang ditumbuhi rerumputan hijau dan pepohonan akasia. Taman kelas pun ditumbuhi bunga-bunga yang cantik menawan, dipelihara oleh tangan-tangan gadis Kelas 1.1 yang masih bersemangat untuk berbakti kepada SMA yang baru mereka nikmati.

Kelas satu adalah kelas siang yang terpaksa berbagi ruangan dengan kelas dua. Jumlah ruangan di sekolah kami hanya sebelas, sementara jumlah kelas yang hanya ada 16, tentu jumlah ruangan kelas tidak mencukupi untuk masuk sekaligus dipagi hari. Dengan adanya pembagian kelas seperti ini, anak-anak kelas dua sering saling berkirim surat dengan kelas satu yang duduk satu bangku dengan mereka. Kebetulan Kelas A1 berbagi kelas dengan Kelas 1.1 dan pemeliharaan taman kelas diserahkan kepada kelas yang lebih junior. Enaknya jadi senior.

Aku duduk bersama Alok, temanku yang kukenal sejak SD Regina Pacis, dan menjadi sahabat sejak aku duduk di bangku SMP. Duduk dekat jendela kaca sangat menyenangkan, jika pelajaran membosankan – seperti pelajaran Ibu Vonny – aku bisa memandang keluar, ke arah bunga-bunga kuning yang cantik di halaman kelas, melihat anak-anak kelas lain yang berolahraga di lapangan sepak bola, atau melihat beberapa anak yang bolos berlarian ke arah kantin sekolah.

Ibu Vonny belum nampak menuju kelas kami. Anak-anak kelas A1 masih saling bercanda, suaranya cukup keras sehingga bisa di dengar hingga ke kelas lain. Untunglah kelas kami berada di sebelah perpustakaan, sehingga tidak terlalu mengganggu kelas tetangga. Dicky – gigolo A1 – sedang bercanda dengan Allyn, Farah, Ninit dan Awet. Masri and the gank – anak penggemar dangdut – sedang berbicara serius, mungkin membicarakan jadwal Musik Group Kencana malam ini. Ema dan Merry sedang diskusi sesuatu yang pasti bukan pelajaran. Semuanya sibuk dengan aktifitas dan pembicaraan masing-masing.

Aku, Ivan dan Alok – Geng dari SMP – sedang berbicara tentang Ibu Vonny, yang menjadi momok di kelas kami sambil sesekali melirik ke arah ruang guru. Kami tidak suka cara ibu Vonny mengajar dan kami sering membuat pertanyaan yang diambil bukan dari buku pegangan, tentu saja ibu Vonny tidak bisa langsung menjawab, dan kami simpulkan beliau tidak bisa apa-apa.

Sebenarnya ketidaksenangan kami pada Bu Vonny didasarkan pada sifat superior beliau seolah – olah kami adalah orang jajahan yang kasar, bodoh dan tidak tahu sopan-santun, sebagai orang Belitung. Dengan mulut cantiknya Ibu Vonny sering mengeluarkan kata-kata yang menyinggung hati, sehingga kami merasa harus berjuang demi kebebasan dari cengkraman Ibu Vonny yang ganas itu. “Kita harus Merdeka!!”, begitulah kira-kira suara hati kami bertiga – terutama aku dan Ivan.

Gimana caranya supaya kita bebas dari Bu Vonny?”, tanya Alok

Tenang!, kita panggil Awet!”, kataku menenangkan Alok, sambil bergerak berjalan menuju Awet dan Allyn.

Awet – ketua kelas kami – adalah sahabat baikku. Orangnya menyenangkan, tajir, supel dan merupakan pujaan para gadis – walaupun menurutku aneh. Dengan wajah pas-pasan seperti Awet, banyak bicara, berani dan sedikit punya otak adalah modal utama menggaet para gadis. Dia termasuk orang yang dewasa prematur, sebab sejak SMP sudah mulai mengincar para gadis, walaupun masih menggunakan celana pendek berwarna biru di sekolah. Namanya ada dua – sebagaimana orang non pribumi jaman Rezim Soeharto – yakni A Kwet disingkat Awet dan Ferry.

Wet!”, kataku sambil memegang pundaknya pelan dan berbisik. “Aku mau bicara, sebentar”.

Ada apa Fi?”, tanya Awet penasaran

Kita bicara di belakang dengan Ivan dan Alok”

Gak bisa di sini?”

Bentar aja!”, kataku memaksa.

Ok!”, jawabnya “Sorry Lyn aku ke Syaifi dulu”, tambahnya berpamitan dengan Allyn dan Farah. Kami menuju ke arah Alok dan Ivan yang sedang menunggu dengan wajah yang serius seperti orang yang menunggu antrian toilet sekolah.

Begini Wet!”, kata Ivan segera setelah Awet duduk di bangku, “Anak-anak tidak menyukai Bu Vonny”

Awet terhenyak sejenak, terkejut atas pernyataan Ivan, dan segera aku tambahkan supaya dia tidak sempat berpikir “Menurut kamu gimana?”

Iya sih. Cara ngajarnya gak enak, bikin ngantuk!”, katanya. Kulihat wajah Ivan tersenyum dan antena di telinganya kembali bergerak-gerak, tanda dia senang akan jawaban yang diberikan oleh Awet.

Gimana kalau kita demo supaya bu Vonny tidak mengajar kita lagi?”, tanyaku. Alok mengangguk – angguk tanda setuju. Dia memang lebih pendiam dibandingkan temanku yang lain.

Coba tanya anak-anak yang lain. Allyn pasti setuju”, Ivan manambahkan. Wajah Awet mulai kelihatan bersemangat ketika kami berlindung dengan nama Allyn yang merupakan panutan di kelas kami. Sorry Lin, kami sering memanfaatkan kamu.

Ok!, aku mau bicara di depan kelas!”, kata Awet, “Kita lihat respon anak-anak”

Dengan tergesa Awet melangkah ke depan kelas, dan segera mengetok papan tulis berwarna hitam dengan penghapus kapur sambil berteriak,“PERHATIAN!”. Awalnya anak-anak tidak menggubris dan terus asyik dengan kegiatan mereka masing-masing kecuali Allyn dan Farah yang duduk paling depan.

PERHATIAN!”, suara Allyn menggelegar memenuhi ruangan kelas. Seperti suara anak ayam lapar yang baru mendapatkan gabah, kelas mendadak sunyi. Setiap wajah menghadap ke depan kelas, melihat Awet yang ingin menyampaikan sesuatu. Sejenak kesunyian menyelimuti, menunggu apa yang akan disampaikan oleh sang ketua kelas, dengan hati penuh tanya.

Kita tidak menginginkan Ibu Vonny masuk ke kelas kita lagi. Setuju?”, ujar Awet seperti seorang politisi sedang rapat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Setuju!!!”, suara koor anak-anak sekelas membahana merdu di telinga kami. Ivan, Alok dan Aku merasa menjadi seorang politisi yang sukses mendapatkan suara di pemilu. Suara kemenangan melawan cengkraman Ibu Vonny. “MERDEKA!”

Ok!”, kata Awet, “Allyn akan menentukan mekanismenya. Silakan Lin”. Dengan ragu Allyn melangkah maju. Wajahnya masih tidak yakin akan tindakan kami yang berani. Mungkin, khawatir nilai biologi-nya turun.

Kami bertiga semakin percaya bisa menyingkirkan Ibu Vonny dari kelas ini. Tugas kami hanya sampai di sini, mempengaruhi anak – anak untuk membebaskan kelas dari jajahan Ibu Vonny. Kami hanyalah pemantik, dan tugas pemantik selesai ketika api telah menyala.

Kita akan kumpulkan tanda tangan, lalu kita serahkan dengan Pak Bahtiar!”, ujar Allyn di depan Kelas, dia mulai yakin akan keputusan anak-anak. Anak – anak makin bergemuruh mendengar perkataan Allyn, juga membicarakan tindakan kami semua.

Dengan sigap, Ninit membuat kertas tanda tangan. Sementara Haryono, berjaga di depan pintu, kalau – kalau Ibu Vonny datang lebih cepat. Kertas berjalan dari satu tangan ke tangan lain hingga akhirnya seluruh kelas telah menandatanganinya kecuali satu orang. Aku tidak tahu apa alasan dia tidak mau tandatangan, walaupun wajahnya mengingatkanku dengan wajah preman pasar, tapi hatinya ternyata penakut. Tapi aku tak perlu berpikir lama, suara yang kami dapatkan, cukup untuk membuat ibu Vonny bertekuk lutut di hadapan kami. Luar Biasa!

Beberapa detik sebelum ibu Vonny masuk, tanda tangan telah terkumpul di dalam genggaman Awet. Anak – anak masih membicarakan tindakan kami barusan, dan apa yang akan dilakukan oleh pak Bahtiar nanti. Proses selanjutnya kami tunda hingga pelajaran biologi selesai hari ini. Detik – detik kematian Ibu Vonny sudah dekat, yang kami perlukan hanyalah sedikit kesabaran untuk menerima pelajaran biologi dari beliau hari ini.

MERDEKA!”

bersambung ke bag 2 – After School

~ oleh syaifi di/pada Juni 12, 2008.

2 Tanggapan to “Bu Vonny yang Terbuang (#1)”

  1. hai Pie,

    cantik sekali ceritanya….:-)
    salut kan kau Pie, nok agik ingat ken detail ttg. problem yg dulu ama bu Vonny, sampe kita mesti raport ke pak kepsek(pak Sunardi).
    teruslah nulis cerita2 nostalgi zaman agik kecik, semoga biak2 isak teman seperjuangan tempoe doeloe, dimana saja, bisa tau dan bace cerite ini….semoga

    salam kangen dari jauh…merdeka
    awet

    p.s. ibu Vonny yg cantik (turunan bule Belanda) itu juga banyak “freckles” (german: sommersprossen), semacam bintik2 diwajah krn. ganguan pigment, terutama pada orang eropa, yg membuat wajahnya tambah menarik, atau..?

  2. Fi….,
    Cerita kita yang nakal-nakal, mirip laskar pelangi kali ya ?
    Emang ide ngumpulin tanda tangan dari aku ?
    (mode ngga percaya)
    Yang aku inget, temen2 bilang : anaknya Bu Vonny atau bu Simarmata bisa-bisa kaya Awet ya ?
    Kalau aku yang paling ingat ttg Bu Vonny, waktu dia usir aku dan Wita gara2 telat masuk waktu kelas 1. Tapi ternyata Kepala Sekolah membela aku. Ngga tau Pak Jahasan bilang apa ke Bu Vonny, eh si Ibu nyemperin aku suruh masuk… he…he..he.. Yessss. BTW, si Ibu benci sama orang jelek kan, katanya kayak monyetnya di pelajaran evolusi teori Darwin…..hi..hi…Salam ye idang semue.

Tinggalkan Balasan