Debat ala SMP
Pada suatu siang menjelang pulang sekolah, masih ada satu pelajaran terakhir yang harus diikuti. Udara sangat panas, matahari terik garang menyinari halaman basket di depan sekolah kami. Cahaya panas pantulan lapangan basket menyebar dan menaikkan suhu udara sekitar, sehingga siswa kelas kami kepanasan, haus sekaligus tidak sabar ingin segera pulang ke rumah, mengisi perut yang berteriak-teriak memanggil sahabatnya. Mata dan mulutku pun sepakat menyanyikan lagu kantuk yang menjanjikan kenikmatan jika didengarkan. Kawan-kawan yang lainnya ada yang bercanda dengan suara membahana menyebar ke seluruh ruangan. Aku cuma berharap tidak terdengar sampai ke ruang guru yang jaraknya sekitar 100 meter dari kelas kami.
Saat itu adalah pelajaran terakhir. Kami menunggu Pak Dar guru PSPB – salah satu mata pelajaran yang menurut kami bersinggungan dengan pelajaran sejarah yang diajarkan oleh Pak Salim. Mungkin karena Menteri Pendidikannya adalah ahli sejarah, pelajaran sejarah ditambah jam tayangnya, dengan nama berbeda tentu -. Beliau memang biasanya terlambat sedikit, terutama kalau beliau sedang membawa rombongan perlombaan ke SMP lain atau acara yang diselenggarakan pemerintah. Tapi tidak hari ini. Ketika istirahat siang tadi aku lihat beliau di kantor guru sedang menulis sesuatu entah apa.
Tiba-tiba anak yang duduk di dekat pintu masuk berteriak menandakan dia mendengar suara sepatu Pak Dar menuju ke kelas kami, “PAK DAR DATANG!”. Kontan anak – anak yang tadinya sibuk mengipas sambil bercanda serentak lari bergegas ke tempat duduk masing-masing karena terlambat sedikit saja, Pak Dar dengan senang hati memberikan hadiah push-up di depan kelas atau lari keliling lapangan basket sebanyak 10 kali, walaupun cuaca tidak bersahabat seperti sekarang ini. Kelas mendadak sunyi sesunyi kuburan, sedangkan suara sepatu Pak Dar makin terasa menyakitkan hati seperti ketukan palu pak Hakim dan kami sudah duduk manis di bangku masing-masing, seolah-olah kami adalah anak paling manis di jagad raya.
Pak Dar adalah seorang guru yang baik dengan bahasa jawa yang kental, kalau berbicara persis seperti Presiden Suharto dengan kata ‘KEN’ dan ‘TOH’ menjadi bumbu utama. Tubuhnya yang subur tidak mengakibatkan beliau lamban dalam aktifitasnya, malahan beliau adalah guru yang paling fit yang pernah kami lihat. Beliau juga mengajar pelajaran olah raga. Olah raga yang paling disukai Pak Dar adalah Atletik terutama lari marathon keliling lapangan basket atau lapangan SD. Sering beliau ‘mencuri’ waktu dalam pelajaran lain untuk olahraga, terutama untuk anak-anak yang bandel, tentu.
Beberapa detik kemudian, wajah Pak Dar muncul di pintu kelas sambil tersenyum puas memperlihatkan gigi kelincinya yang tidak dapat ditutupi, melihat anak-anak didiknya yang duduk manis di bangku masing-masing dengan tangan terlipat rapi seperti pakaian yang baru disetrika. “Hari ini kita diskusi masalah perbandingan kemajuan antara Indonesia dan Jepang”, kata beliau sambil duduk di kursi guru seperti seorang raja yang duduk di tahta kerajaan dalam kelas ini.
“Buat kelompok beranggotakan 6 orang, kita akan debat antar kelompok, dan harus ada yang berbeda pendapat”, kata beliau menambahkan. “Kalau semuanya sama pak gimana?”, celetuk Johnny ketua kelas kami yang paling bandel dan lucu di kelas.
“Kita pulang saja, gak jadi diskusi”, kata beliau dengan senyum memperlihatkan gigi kelincinya,”Tapi kamu tidak akan dapat ilmu, karena ilmu didapat dari perbedaan-perbedaan”
Dengan sigap dan sedikit ribut anak-anak berbagi teman. Kelompok yang terbentuk biasanya adalah orang-orang itu juga. Teman main atau tetangga sebelah. Anak-anak yang rada kurang akal biasanya mencari perlindungan dengan anak-anak yang lebih pintar, terutama pintar bicara. Anak-anak opportunist – seperti Winarto (Atuk) – selalu mencari Ivan atau Alok menjadi ‘teman’ kelompoknya, karena Ivan dan Alok adalah anak-anak yang pintar di kelas kami.
Kelompokku beranggotakan geng kami, yakni Ivan, Alok, Bun Chong, The Ceh Yung dan Winarto – sang opportunist yang lebih dulu mendaftarkan diri. Melihat pembagian kelompok yang tidak begitu adil, Pak Dar akhirnya memutuskan untuk memecah kelompok kami dan menukarkan anggotanya ke kelompok lain. “Supaya lebih ballance”, katanya saat itu. Akhirnya Aku, Ivan dan Alok terpisah, Winarto bisa berwajah ceria karena masih sekelompok dengan Ivan, sedangkan aku masih sekelompok dengan Bun Chong.
Setiap Kelompok diberi waktu 5 menit untuk memberikan pemaparan awal, dan yang lainnya harus membantah paparan itu. Aku dan Alok memiliki pandangan yang berbeda dan suara diskusi kami membahana di ruang kelas, seolah-olah ruang kelas kami telah terjadi suatu proses pertengkaran rumah tangga yang menuju ke perceraian. Tak ada yang mau mengalah. Suara keras yang bersemangat dibalas dengan suara yang keras dan bersemangat pula. Suara bel sekolah pun tak terdengar atau diacuhkan lagi, hingga akhinya Pak Dar mengatakan “Cukup untuk hari ini, Kita sambung minggu depan”. Suara keras diskusi berubah menjadi suara keras suka cita mengakhiri kelas hari ini. Kami berdoa dan keluar berlarian menuju rumah masing-masing.
Aku keluar kelas dengan Alok dan Ivan. Sampai di luar gerbang, Alok mengambil sepeda dan Aku meneruskan perjalanan dengan Ivan. Alok naik sepeda bersama Ceh Yung, rumah mereka berdekatan. Suasana panas di kelas tidak kami satukan dengan suasana panas di luar kelas. Kami tetap berjalan bersama hingga kini.

Tinggalkan Balasan